
Perjalanan kebandara
Abra memilih duduk di samping supir Enzo, sedangkan Zahra duduk di jok belakang dengan Regan, Bilqis dan Chaka.
Tidak ada satu katapun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing, suasana seakan dingin hanya terdengar celotehan Bilqis dan Chaka.
Saat sampai di bandara, Abra langsung turun berjalan menghampiri Enzo dan Hanna. Terlihat Abra tersenyum, tertawa, bercanda dengan mereka, Malvin dan Sam entah apa yang mereka bicarakan.
Tetapi tawa itu palsu dapat Zahra sadarinya, membuat Zahra menghela nafas.
"Bunda janji jangan pergi dari Ayah ya Bun"
Zahra menoleh pada Regan yang berdiri disampingnya sambil menatap kearah Abra juga. "Ya" ucap Zahra lalu kembali menatap Abra, "Bunda tidak akan pergi."
"Ar lebih suka Ayah bisa diajak debat tentang segala hal, pada hal belum sehari Ar sudah tidak suka kalian begini" Regan menghela nafas menyerahkan Bilqis pada Fani, "titip si kembar ya mbak."
"Iya mas" ucap Fani.
"Jangan panggil Mas, panggil Abang. Kalau ke As gak masalah panggil Mas" ucap Regan dengan nada bercanda membuat Fani tertawa kecil.
Kembali Regan menatap Abra dengan Aslan yang berdiri didekatnya dan Zahra, mereka bertiga hanya menatap kesatu arah, Abra.
Terlihat melihat jam tangannya sejenak lalu Abra memeluk Hanna dan Enzo bergantian, lalu menangkup puncak kepala Emma dan menatap Alaric dan Emma bergantian.
"Terima kasih atas bantuannya" Abra mengucapkannya dengan tulus. "Al, jika karirmu disini meredup baru kami akan menerimamu dengan tangan terbuka."
Alaric tersenyum dan mengangguk.
Abra berjalan kearah mereka, Regan pikir Abra ingin mengatakan sesuatu padanya atau Aslan, tetapi Abra hanya mengambil empat koper didekat Regan lalu berjalan menghampiri Javir.
"Terima kasih atas bantuannya" Abra menjulurkan tangannya pada Javir.
"Sama-sama" Javir menyambut uluran tangan Abra.
"Pulanglah jika mereka pergi, ASG akan tetap menerimamu kapanpun."
Javir menoleh pada Regan dan Aslan, yang dimaksud mereka oleh Abra pasti Regan dan Aslan.
Apa yang dikatakan Abra pada Javir dapat didengar Regan, Aslan dan Zahra.
Tangan Regan mengepal saat melihat Zahra yang diam-diam menghela nafas dengan tatapan sendunya masih tertuju pada Abra.
Regan melangkahkan kakinya, dia benci situasi sekarang. Langkah Regan berhenti tepat ditengah-tengah antara Javir dan Abra, membuat Javir melangkah mundur.
"Apa mau pulang hanya main diem-dieman gini?" tanya Regan menatap Abra laku Zahra.
Abra hanya diam menatap Regan.
Tatapan mereka bertautan, tangan Regan mengepal menahan diri agar tidak menundukkan kepala.
"Maaf" ucap Regan lirih.
Abra masih terdiam tidak bereaksi sedikit pun.
"Ar minta maaf sudah berbicara kasar pada Ayah" Regan mengucapkannya secara jelas kali ini, "Ar dan As tidak akan pergi, Bunda juga sudah berjanji."
Kali ini sebelah sudut bibir Abra terangkat terkekeh kecil, tangannya menyentuh puncak kepala Regan. "Jangan memaksa orang, biarkan saja pergi. Semua kebutuhan kalian tetap akan Ayah penuhi, terima kasih sudah ada dalam kehidupan Ayah meski hanya sebentar. Nanti kamu ..."
__ADS_1
Tak ...
Regan menepis tangan Abra, air mata Regan langsung mengalir sambil menatap Abra.
Ini pertama kali Zahra melihat Regan menangis, Zahra hendak menghampiri Regan tetapi Aslan menahannya.
"Apa kalian akan pisah lagi?," tanya Regan dengan suara serak. "Apa hal yang sama pada Ar akan terjadi juga pada si kembar?, apa kalian akan melakukan kesalahan yang sama membiarkan mereka tidak merasakan kasih sayang orang tua yang utuh?."
Regan menatap Zahra tajam, "apa Ar harus mengungkapkan apa yang Ar rasakan sejak kecil sekarang?." Tangan Regan menghapus air mata yang jatuh dipipinya dengan kasar, "Ar kurang setuju saat kalian bilang ingin punya anak lagi karena Ar takut kalian kembali egois. Apa kalian akan menjadikan apa yang Ar takutkan jadi kenyataan?, tidak bisakah Bunda bilang maaf pada Ayah dan Ayah juga bilang maaf pada Bunda?. Kalian sama-sama salah disini, Ayah hanya berani minta maaf pada kami tetapi kenapa pada Bunda tidak?."
Enzo yang melihat Abra dimarahi Regan tersenyum, ini pertama kali dia melihat Abra hanya diam dimarahi seseorang dimuka umum.
Tangan Hanna memukul lengan Enzo dan memelototinya tajam, membuat Enzo menyengir dan menghilangkan senyumnya.
Aslan mengambil Chaka dari gendongan Zahra, ragu Zahra melangkah mendekati Abra yang masih diam menatap Regan didepannya.
"Aku hanya butuh waktu untuk menerima masa lalu kamu" ucap Zahra lirih, "tetapi kamu terus saja mengajakku bicara seakan tidak ada sesuatu terjadi membuatku tambah kesal dan memilih diam dari pada kita bertengkar."
Abra menoleh pada Zahra, "kamu mau pergi, dan aku berusaha membujukmu tapi kamu terus mendiamkanku."
"Bagaimana aku tidak diam kalau kamu selalu memanggil namaku saja dan mengikutiku kemanapun."
"Benar" tiba-tiba terdengar suara Vira nyaring, "dan telingaku pengang."
Abra dan Zahra bersamaan menatap Vira dan memelototinya, Gea yang melihatnya mengulum senyum, meski sedang marahan mereka semua tetap saja kompak dalam suatu hal.
kembali Zahra menatap Abra lalu mendengus kesal, seperti yang dikatakan Aslan benar, ternyata Abra memang mendengatkan pembicaraan mereka malam itu.
"Kamu mendengarkanku saat mengatakan pada Ar dan As ingin membawa mereka pergi bukan?" tanya Zahra dan Abra hanya diam. "Itu maksudnya pergi dari negara ini bukan darimu, tidak bisakah kamu tidak berfikir negatif dan bertanya langsung?."
Lagi-lagi Abra mengatakan mendiamkanku sepertinya Abra benar-benar marah sudah Zahra diamkan.
"Kamu sadar gak sih kamu hanya memanggil-manggil aku terus, Vira saja dan yang lainnya pengang loh Ayah. Saat kita ada waktu berdua kamu hanya bicara yang tidak penting bukannya langsung bertanya kenapa aku mengajak mereka pergi."
"Aku ingin tanya langsung tapi kamu ..."
Regan menggaruk kepalanya, karena Zahra dan Abra malah berdebat didepan umum menjadi tontonan orang-orang disekitar mereka.
Pada hal Regan hanya ingin mendamaikan mereka, bukan malah berdebat seperti sekarang.
"Ok stop!" seru Regan menengahi, "kalian tambah membuatku pusing" keluh Regan.
Sam dan Malvin yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya tertawa, suasana langsung mencair seketika.
"Kehidupan keluarga yang penuh drama" ucap Sam menghampiri Zahra dan Abra menatap mereka bergantian.
"Lebih baik kita masuk, lanjutkan perdebatan kalian di Indonesia" Malvin mengambil dua koper ditangan Abra yang terluka.
Sam berjalan terlebih dahulu masuk kedalam bandara bersama Malvin yang mengikutinya dari belakang.
"Seorang anak memang selalu berhasil untuk menyatukan orang tua" Gea menghampiri Regan dan memeluknya, "terima kasih sudah meluruskan kesalah pahaman diantara mereka, kalau tidak kepalaku akan pecah sesampai di Indonesia" ucap Gea sebelum melangkah pergi menarik tangan Vira.
Zahra melirik Abra sejenak, dari wajah Abra dia tahu Abra masih marah padanya, tetapi dia sudah berusaha untuk meluruskan kesalah pahaman Abra untuk saat ini.
Tangan Zahra memeluk Regan dan menciun keningnya, "jaga diri baik-baik, jangan nakal dan jangan lupa selalu telfon Bunda."
"Ya" ucap Regan.
__ADS_1
Zahra tersenyum, mengelus puncak kelapa Regan dan berjalan menghampiri Aslan dan Chaka membiarkan Abra dan Regan.
Tangan Regan menengadah pada Abra, "dua kali aku membantu Ayah, pertama saat kalian gengsi untuk mengatakan ayo menikah dan yang kedua sekarang, jadi mau bayar berapa?."
Abra tertawa kecil mendengarnya, mengacak-acak rambut Regan. "Jika lulus kedokteran hingga spesialis lebih cepat dari orang pada umumnya, dan dapat meyakinkan Ayah kamu adalah pembisnis yang hebat, kita bisa saling tukar kepemimpinan. Kamu yang memimpin rumah sakit milik Nenek yang diwariskan pada Ayah, dan Ayah yang akan memimpin perusahaan GG milikmu."
Mata Regan langsung berbinar, dia sudah tahu jika keluarga Ganendra memiliki rumah sakit yang didirikan atas nama Istri Kakek Arya sehingga tidak termasuk dalam naungan Ganendra Group Comoani. Dia tahu saat mencari latar berlakang Abra dan keluarga Ganendra dulu, "janji ya?."
Regan mengacungkan jari kelingkingnya pada Abra, Abra malah membuat kepala tangan.
"Itu janji perempuan, begini janji laki-laki" ucap Abra dengan suara baritonnya.
Regan tertawa dan melakukan adu kepalan tangan dengan Abra.
"Drama keluarga" ucap Aslan menghampiri mereka berdua.
Abra menepuk pundak Aslan, "kita bertemu empat tahun lagi. Setelah selesai kuliah Ayah beri kamu waktu untuk menggeluti dunia fotografi sebelum bekerja diperusahaan."
Senyum Aslan langsung terbit dibibirnya, "terima kasih" ucap Aslan tulus.
"Jaga diri baik-baik, kami pulang Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam."
Akhirnya Regan bisa bernafas lega melepas kepergian mereka, akhirnya drama keluarga mereka yang diucapkan Malvin selesai.
Javir berdiri disamping Regan menghela nafas menatap Gea yang berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi.
Dunia mereka akan start disejak hari ini, dan semua akan memiliki cerita hidup masing-masing.
*-*
"Lo juga pulang sekarang?" tanya Vira pada Prabu yang berdiri tidak jauh darinya.
Prabu berbalik badan, ternyata Vira, Sam dan yang lainnya sudah berdiri menatap kearahnya. "Karena gue punya perusahaan yang harus diurus" ucap Prabu dengan nada angkuhnya.
Vira mencibir mendengarnya, hatinya sekaan terbakar ingin mengamuk mendengarvnada angkuh Prabu, tetapi mau bagaimana lagi ?, Vira hanya bisa berjalan pergi begitu saja melewati Prabu.
"Mereka sebenarnya ada masalah apa?" tanya Gea pada Malvin yang berdiri disampingnya.
Tangan Malvin menyentuh puncak kepala Gea dan mengacak-acak rambutnya, "urusan orang dewasa, urusi saja urusanmu dan Javir."
Wajah Gea langsung merengut dan menepis tangan Malvin. "Gak ada urusan apapun lagi dengan anak Om" ucap Gea ketus dan menarik kopernya pergi menyusul Vira.
*-*
Udah detik-detik nich ... π
Alhamdulillah π
Terima kasih pada semua Readers atas segala bentuk dukungannya pada Authorπ
Terima kasih udah berkenan menyempatakn diri untuk mampir membaca novel One More Chance yang masih jauh dari kata sempurna π£
Author lagi menyusun cerita si muda mudi Regan, Aslan, Javir dan Alaric Raja Series π semoga kalian juga berkenan mampir.
Salam hangat π Love you π Unik Muaaa
__ADS_1