
"Benar mau kita bercerai?"
Niat Aslan, Gea dan Javir akan mengagetkan Regan yang sedang berdiri menghimpit tembok seperti sedang menguping dibalik tembok ruang makan dengan dua orang lainnya.
"Ulangi satu kali saja aku akan benar-benar mengabulkannya."
Semua tersentak, Regan berdiri tegak menatap kearah Zahra dan Abra dengan tatapan dinginnya.
Ayah dan Ibu Zahra menatap mereka cemas, sedangkan mata Gea mulai berkaca-kaca akan menangis membuat Javir mengelus puncak kepalanya.
Aslan menepuk-nepuk pundak Regan menenangkan membuat Regan menoleh padanya. Aslan melirih pada Ayah dan Ibu Zahra bertanya secara tidak langsung siapa mereka.
Bukan menjawab pertanyaan Yang dia tangkap darinlirikan mata Aslan, Regan malah tersenyum lebar, menarik tangan Ayah Zahra dan membawanya melangkah menghampiri Zahra dan Abra yang masih terdiam.
"Kita mau melangsungkan dimana?" tanya Regan sambil melangkahkan kaki berdiri ditengah-tengah mereka dengan Ayah Zahra.
Zahra melirik pada Ayahnya takut, Abra menundukkan kepala menghela nafas pasrah sebelum menatap Regan meminta penjelasan.
"Wali sudah ada" Regan berdiri dibelakang tubuh Ayah Zahra menyentuh kedua pundaknya. "Dua saksi laki-laki juga sudah ada" kali ini Regan menunjuk kearah pintu masuk ruang makan. "Kak Jav As kalian berakal kan?" teriak Regan.
Kehebohan terjadi seketika, bahkan Ibu Zahra dan Gea sontak tertawa mendengar teriakan Regan barusan.
"Ya iya lah emangnya kita orang gila gak berakal?," suara Aslan meninggi kesal mendengar pertanyaan Regan.
Regan menatap Zahra dengan mata berbinar. "Mereka berakal Bun" ucap Regan memberitahu dan kembali berteriak pada Javir dan Aslan "Udah baligh kan?."
"Udah punya KTP" kali ini Javir yang menjawab sebelum Aslan memarahi Regan.
Regan kembali berdiri ditengah-tengan Zahra dan Abra, tangannya menyentuh tangan Zahra dan menggenggamnya lembut.
"Persyaratan udah lengkap Bun. Dua mempelai, wali dari mempelai wanita, dua saksi berakal dan baligh selesai." Regan mengatakannya dengan senyum terukir dibibirnya.
Senyum yang Regan tunjukkan seakan menghipnotis Zahra sehingga ikut tersenyum lebar menatap wajah Regan.
"Jangan lupa" suara berat Abra membuat Regan menoleh. "Dalam pernikahan tidak ada paksaan dari pihak manapun."
Wajah Regan kembali dingin menatap Abra. "Gak ada yang dipaksa, kalian hanya terlalu gengsi buat bilang ayo nikah, dan ujung-ujungnya kami yang pusing."
Dua wajah yang hampir mirip seperti pinang dibelah dua itu saling tatap tajam dengan wajah datar menunjukkan sisi ketegasan dan ketangguhan mereka.
__ADS_1
"Bukannya Bundamu jatuh cinta pada seseorang?," tanya Abra dengan nada dingin.
Regan mengangguk membenarkan "Yupz."
Tangan Abra mengepal mendengarnya, semalam dia sudah terlanjur percaya diri jika Zahra kembali jatuh cinta padanya, tetapi tadi saat dia bertanya pada Regan, anak itu mengatakan Ya jatuh cintanpada seseorang membuat Abra seakan terhempas dari ketinggian.
Dan itu salah satu alasan dia ingin berlama-mala dengan Zahra agar mengetahui siapa seseorang yang Regan maksud. Abra ingin marah dan bertanya langsung pada Zahra tetapi dia memilih diam mencoba tenang.
Tetapi pada akhirnya kata cerai yang Zahra lontarkan sukses memancing emosi yang sejak tadi dia pendam, meski sebisa mungkin masih dia tahan.
"Kata Mila begitu Bunda jatuh cinta sama seseorang, aku tidak paham cinta itu apa dan bagaimana, yang penting kalian sama-sama masih sayang, peduli dan perhatian ya udah nikah."
Otak Abra berputar seketika, bahkan keningnya sampai mengerut mencerna setiap kata yang diucapkan Regan.
Jangan katakan seberapa bodohnya Abra, tetapi salahkan kepolosan Regan yang membuatnya pusing.
*-*
Entah bagaimana cara Gea dan Javir mengumpulkan orang-orang terdekat mereka, kue dan segala hal dalam waktunkurang lebih tiga jam.
Setelah Abra kembali mengucapkan ijab qobul ada beberapa ojek online yang terus berdatangan membawa segala macam makanan, kue bahkan segala hal hingga memenuhi meja ruang tamu meja makan dan meja temsofa ruang keluarga.
Demi menghindari Abra, Zahra pamit kekamarnya untuh sholat duluan.
Didepan westafel Zahra mematap jemarinya, masih terasa dinginnya tangan Abra saat pertama kali mereka kembali bersentuhan tangan, kala Zahra dipaksa untuk bersalaman setelah Abra mengucapkan ijab qobul.
Zahra menatap pantulan wajahnya di cermin perlahan disentuhnya keningnya, dadanya berdebar kembali mengingat Abra mencium keningnya dan setetes air mata Abra yang menetes dikeningnya.
Buk....
Terdengar suara bantingan pintu membuat Zahra keluar dari kamar mandi.
"Sam buka, lo mau gue bunuh?. Sam!"
Abra berdiri membelakanginya menggedor pintu kamar Zahra yang terkunci dari luar.
Zahra diam menatap Abra seakan terpaku ditempatnya karena gugup, dia seakan tidak mampu menggerakkan tubuhnya seincipun dari tempatnya berdiri.
Kesal, Abra menendang pintu kamar mengacak-acak rambutnya, berbalik dan terdiam menatap Zahra yang berdiri menatap kearahnya. Rambut hitam pekat panjang hampir selutut terurai indah membuat Abra tanpa sadar melangkahkan kakinya mendekat.
__ADS_1
Mereka berdiri begitu dekat, saling tatap satu seakan menyelami perasaan satu sama lain. Tangan Abra menyentuh puncak kepala Zahra dan mengelus rambut Zahra dengan mata berkaca-kaca.
"Hal yang ingin aku lakukan saat kita pertama kali melihatmu" Abra mengucapkannya dengan senyum lebarnya. "Mengelus rambut Ara" begitu lebut dan penuh perasaan.
Zahra tersenyum canggung, kebiasaan Abra dari dulu memang selalu mengelus dan menciumi rambutnya, bahkan Abra juga membeli bermacam-maca perawatan rambut untuk Zahra.
"Aku sudah menebak rambut kamu pasti panjang, dan ternyata benar."
Zahra mendongakkan kepalanya membalas tatapan mata Abra. "Tetapi tidak terawat" ucap Zahra serak dan lirih.
"Tetapi tetap lembut seperti dulu."
"Jika saja Ar tidak sepertimu yang akan mengomel jika aku potong rambut, aku akan memotongnya sebahu."
Abra mengangkat kedua alisnya.
"Rambut panjang ribet, kalian laki-laki tidak tahu bagaimana gerahnya, sudah nyisir dan ngeringin. Apalagi hanya ngabis-ngabisin banyak shampo, rambut panjang itu rawan romtok."
Abra semakin tersenyum lebar. "Tetap saja tidak suka rambut panjang, dasar tomboy." Abra menarik Zahra dalam pelukannya dan membenamkan wajah Abra dalam rambut lebat Zahra, menarik nafas dalam menghirup wangi rambut Zahra. "Wanginya berbeda, tapi aku suka Ara."
Zahra membalas pelukan Abra, dia merasakan kencangnya detak jantung Abra membuatnya semakin mempererat pelukannya.
"Aku merindukan ini Ara" guma Abra lirih namun penuh perasaan. "Memelukmu erat, tenggelam dalam rambutmu, kembali merasaka detakan jantung kita yang bertalu-talu, aku merindukannya Ara. Maaf telah mengecewakanmu, dan terima kasih banyak sudah mau memaafkanku dan kembali mau menerimaku dalam hidupmu. Aku mencintaimu Ara, sangat. Jangan pergi lagi, aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi."
Zahta hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala tidak sanggup mengeluarkan suara.
"Aku yakin aku akan menggila jika kamu pergi lagi, tidak ada yang bisa sepertimu bahkan Reganpun tidak." Abra mulai menggerutu. "Dia ngeselin, dia mempermainkanku, dia membodohiku. Semalam dia bilang kamu jatuh cinta, aku sudah bahagia Ara." Abra merenggangkan pelukan mereka. "Tapi dia tadi bilang kamu jatuh cinta pada seseorang. Aku hampir gila, nangis bahkan hampir membunuh seseorang itu. Dan dengan polosnya dia bilang itu kata Mila, dan dia tidak paham itu apa dan bagaimana. Aku ingin berteriak Ara, aku ... ya Tuhan ...."
Abra kembali merengkuh tubuh Zahra dalam pelukannya, Zahra hanya bisa tertawa kecil mendengar keluhan Abra.
"Terima kasih sudah mau menikah denganku."
*-*
.
.
.
__ADS_1
Unik_Muaaa