
"Jangan lupa sholatnya sayang."
Sejak sebelum mereka berangkat Zahra sudah berkali-kali mengingatkan Regan, dan sekarang setelah mereka berjahuan masih saja Zahra mengulangnya membuat Regan tersenyum menanggapinya.
Mereka sedang melakukan Video call sekarang sebelum mengantar Abra dan Sam kebandar. Regan menunggu mereka didalam mobil sendirian.
"Jangan sampai kurus, kulkasnya udah Ayahmu isi penuh kan?, sudah tahu toko yang...."
"Bunda" panggil Regan memotong ucapan Zahra sebelum muncul pertanyaan-pertanyaan yang sekamin beruntutan. "Semua ada, Ar dan As akan baik-baik saja. Ada banyak teman Ayah disini, Bunda tenang saja sehat-sehat disana."
Mata Zahra berkaca-kaca. "Yang harus sehat-sehat itu kalian, kalian masih kecil siapa yang gurus kalau sakit." Suara Zahra semakin serak akan kembali menangis.
Regan tertawa mencoba mencairkan suasana agar Zahra tidak menangis dan membuat kepalanya berdenyut.
"Kami sudah besar Bun."
Seakan tertular tawa Regan, disebrang sana terlihat Zahra juga ikut tertawa kecil.
"Abi Putra."
Terdengar seseorang menyebut nama Aslan didunia fotografer. Ternyata Alaric memanggil Aslan yang berjalan keluar dari dalam rumah.
"Pantas aku seperti mengenalmu."
Regan tersenyum menatap layar hpnya yang masih menampilkan wajah Zahra. "Kita lanjut nanti Bun, Assalamu'alaikum." Regan mengatakannya dengan berbisik lirih.
"Kamu fotografer yang kena tusuk waktu di Bali karena nyelametin patner modelku" ucap Alaric.
Mereka berdua sudah berdiri tidak jauh dari mobil membuat Regan dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kamu seorang model?" tanya Aslan memastikan.
Kepala Alaric mengangguk. "Aku parner model yang kamu selamatkan waktu itu. Melihat kamu dengan berani mengorbankan diri sepertinya kalian cukup dekat."
Aslan hanya menanggapinya dengan senyum kecil.
"Nama model itu em ..."
"Zia Valery."
Regan menurunkan kaca pintu mobil disampingnya. "Namanya Zia Valery, keponakan dia."
"Oh ya... pantas kamu ...."
"Ayo berangkat" Abra keluar dari dalam rumah dengan Sam. "Alaric bisa satu jam sampai dibandara?, karena sekretaris Mr William sudah menunggu."
Alaric mengacungkan dua jempolnya. "ok" ucapnyanpenuh percaya diri dan berjalan masuk kedalam mobil.
Aslan dan Regan saling tatap sejenak sebelum Regan membukakan Aslan pintu mobil.
"Akhirnya aku tahu kenapa kamu berubah jadi orang bodoh sampai kena tusuk."
*-*
Abra menatap Alaric dengan tatapan tajamnya mengintimidasi pria itu.
Entah siapa yang menyebarkan kabar bahwa dia akan kembali ke Indonesia hari ini dan banyak orang yang memenuhi Bandara.
__ADS_1
Alaric hanya mengangkat bahunya benar-benar tidak tahu. Aslan turun dari dalam mobil, dengan cepat Abra menutupi kepala Aslan dengan tudung hoddie yang Aslan kenakan. Regan yang baru akan keluar dari mobil Abra tahan, Abra melepas jaket parkanya membantu Regan mengenakannya dan memasang tudung berbulunya menutupi kepala Regan.
"Aku benci begini" gerutu Abra kesal.
Memperhatikan Aslan dan Regan bergan tian lalu tangan Abra menarik syal yang dipakai Sam dan melilitkannya pada leher Aslan, memasang zipper jaket yang dikenakan Regan hingga mentok ke atas sampai menutupi dagu Regan.
"Lebih baik" Abra menghela nafas. "Jangan dibuka sampai kalian dirumah, mengerti?."
Regan dan Aslan mengangguk bersama.
Meski akhir-akhir ini Abra sering memerintah dan membuat Regan kesal karenanya, tetapi Regan hanya diam menurutinya tidak membantah seperti sebelumnya, karena dia tahu Abra melakukan semua demi dia.
Enzo yang pertama kali menghampiri mereka lalu diikuti semua anak buahnya, jika beberapa hari lalu yang saat kerumah Enzo hanya da limabelas sampai dua puluh orang, kali ini lebih dari itu, bahkan arak-arakan penjemput orang pulang dari hajian kalah banyak.
"Kamu membawa berpa pasukan?" tanya Abra dengan tatapan dinginnya.
Bukan tersinggung Enzo malah tertawa menanggapinya. "Hahaha... aku dan Hana hanya mengajak Mr Salvator, tapi yang datang diluar tanggung jawabku."
"Aku tidak mengajak mereka" Mr Salvator membela diri.
"Kami temanmu, bertahun-tahun tidak kesini tidak menemui kami." Salah satu dari mereka bersuara.
"Setidaknya kita bertemu meski sebentar."
"Penasaran saudara kami sesukses apa sekarang.
"Tidak mau kedunia kami setidaknya jangan memutuskan persaudaraan."
Semua mulai sahut-sahutan mengatakan apa yang ada dibenak mereka membuat Abra tersenyum masih merasakan hubungan persaudaraan mereka dulu.
Dibelakangnya Regan menatap Abra semakin kagum, jika Abra mempunyai kenalan mafia seharusnya dia mudah menemukan Bundanya, terbukti dari bagaimana mereka tahu kapan Abra kenegara ini dan kembali ke Indonesia.
"Gue gak nyangka lo masih saja disenangi mereka" celetuk Sam melirik Abra yang berjalan di sampingnya.
"Pasti karena Mr Remano dan Enzo yang menambah-nambahkan cerita" Abra melirik pada Enzo.
Merasa dibicarakan Enzo menoleh, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Sam dan Abra karena mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
"Kalian kembali saja" Abra dan Sam menghentikan langkah mereka. "cukup mengantar sampai sini" Abra menatap Enzo.
"Ok, kita tunggu kedatanganmu lain kali" Enzo mengulurkan tangan menjabat tangan Abra.
"Tanpa sambutan ataunapapun seperti barusan" tekan Abra.
Enzo dan Mr Salvator tertawa.
"Aku titip Regan dan Aslan, terima kasih atas bantuannya." Mereka berpelukan sebentar, Abra menghampiri Alarik yang berdiri disamping Aslan. "Bisakah aku meminta bantuanmu menemani mereka selama kamu tidak sibuk sebagai seorang model, karena sepertinya Emma tidak adakan mau."
Alaric mengangguk "Ok Mr Adam."
Abra berdecak menepuk pundak Alaric dan berdiri diantara Aslan dan Regan. "Jaga diri baik-baik, jika ada kesulitan hubungi Alaric atau Enzo. Jangan mau kemanapun kecuali dengan mereka berdua, karna ...."
"Kami sudah tahu situasinya" potong Aslan.
"Lebih baik Ayah pulang jaga Bunda, kalau ada sesuatu yang terjadi pada Bubda aku akan pulang dan Bawa Bunda pergi."
Regan mengatakannya penuh dengan kesungguhan membuat Abra tersenyum menganggukkan kepala menepuk pundak Regan.
__ADS_1
"Aslan meski dia terlihat dewasa dia masih anak-anak"
"Ayah" keluh Regan.
Abra tertawa kecil. "Kamu adalah kakaknya, kalian harus saling jaga."
Aslan tersenyum lebar menganggukkan kepala.
"Ayah pergi, jangan nakal, jangan lupa pesan Ayah, yang paling penting jangan kalian ...."
"Ih... cerewet" Regan tidak bisa menahan diri. "Apa anda tidak sadar selama disini selalu Bossy?, sudahlah pulang. Kami masih ingat pesan anda."
Abra tertawa kecil, Regan meraih tangan Abra dan bersalaman setelah itu mrmalingkan muka membuat Abra tertegun. Aslan melakukan hal yang sama bersalaman pada Abra dan meninggalkan mereka berdua untuk bersalaman pasa Sam.
"Ada yang ..."
"Kalau punya teman mafia kenapa sulit mencari Bunda dan aku?" Regan memotong ucapan Abra.
Abra tersanyum simpul. "Masih ingat didalam bisnis ada untung dan rugi?" Regan mengangguk. "Dan selain itu, sebesar apa kamu menawarkan ke untungan pada klienmu, sebesar itu juga yang akan kamu dapatkan, bahkan kamu bisa melebihi dari yang mereka dapatkan.
Saat itu penukaran untuk menemukan Bundamu Ayah harus mengorbankan keluarga ratusan bahkan ribuan karyawan ...." suara diakhir kalimat mengambang. "Ayah tidak mampu melakukannya, maaf" lanjutnya tegas.
Abra menatap wajah Regan menunggu ekpresi apa yang akan anaknya berikan dengan dada berdebar karena gugup.
Terdengar helaan nafas Regan yang seketika membuat Abra pasrah jika Regan akan kecewa padanya, tetapi jika seandainya dia tetap harus memilih, dia tidak akan mengorbankan kehidupan ribuan orang demi dirinya sendiri.
"Jika itu aku, aku akan melakukan hal yang sama" Regan mengatakannya sambil melangkah menghampiri Sam.
Lega, bahagian dan penuh syukur Abra rasakan, bahkan saat kakinya memasuki pesawatpun dia tetap tersenyum bahagia.
Keuntungan yang dia dapatkan begitu besar, tetapi kerugiannya juga sebanding dengan itu, dia harus kembali berpisah dengan Regan padahal baru beberapa minggu mereka tinggal bersama dibawah satu atap yang sama.
"Kamu gak bilangkan kalau ASG terkadang kerja sama dengan mereka" tanya Sam setelah mereka duduk.
"Tidak ja ...."
Abra meraba tubuhnya, tersadar jika dia tidak lagi mengenakan jaket parkanya.
Didalam mobil, Regan melepas jaket parka milik Abra karena dia merasa pengap, sesuatu terjatuh dipangluan Aslan.
Tangan Aslan membukanya dan ternyata hanya beberapa lembar kertas yang dilipat, Aslan menciba membaca tulisan di salah satu kertas lalu tersenyum menyodorkannya pada Regan.
"Sepertinya untukmu Ar."
Regan melirik kertas yang disodorkan Aslan, mengambilnya, memastikan jika itu untuknya dan memasukkannya kedalam saku celana bertepatan notifikasi pesan di hpnya berbunyi.
Dia
Sepertinya sesuatu tertinggal
๐a secret๐
*-*
.
.
__ADS_1
.
Unik_Muaaa