One More Chance

One More Chance
Kesederhanaan


__ADS_3

Ujian telah selesai.


Abra dan ketiga temannya akhirnya bisa kembali bermain basket dilapangan sekolah bersama setelah selesai ujian.


Dirumah Zahra pasti menunggu mereka membuat sesuatu yang enak seperti biasa setiap kali mereka selesai ujian.


Mereka bermain menggunakan seragam putih abu-abu, kecuali Mila yang mengganti roknya dengan celana olah raga panjang, toh sebentar lagi mereka tidak akan memakai baju seragam putih abu-abu lagi.


Beberapa teman seangkatan mereka juga ikut bermain, bersama melepas kepenatan belajar tanpa henti dua minggu ini. Beberapa guru dan siswa yang tidak bisa bermain basket meonton mereka dari pinggir lapangan.


"Tahun ini kita akan kehilangan murid yang pintar," guma salah satu guru yang berdiri di dekat Malvin.


"Dia tidak mau loncat kelas seperti SMP dulu sudah sukur Bu," sahut guru yang lain.


"Dia sebenarnya bosan berada dikelas," Malvin menoleh pada mereka berdua. "Tetapi dia menahan diri dengan selalu ikut Olimpiade dan segala hal extra maupun intra kegiatan diluar jam belajar."


"Kenapa Pak?."


"Karena dia tidak mau menyusahkan kalian dengan IQnya, terlebih dia mau bersama dengan mereka bertiga lebih lama."


Semua menatap kearah lapangan, Regan tertawa bersama ketiga temannya begitu lepas.


"Setelah semester ini saya juga berhenti."


Ucapan Malvin membuat kedua guru menoleh kepadanya. Malvin tersenyum menaggapi expresi mereka.


"Beneran pak?."


"Jangan bercanda Pak."


Beberapa siswa yang mendengarnya juga ikut menghampiri Malvin.


"Nanti yang ngajarin karate siapa Pak?".


"Bapak jangan ikut-ikutan Regan."


"Karena anak kesayang sudah lulus malah ikut bergenti.".


Malvin menggaruk tengkuknya. Perotesan mereka membuat kepalanya pusing.


Setelah Regan dan Zahra kembali pada Abra, otomatis pekerjaan utamanya di sini sudah tidak ada. Dan dia yakin sebentar lagi mereka akan kembali bersama, karena banyak orang yang akan melakukan segala hal agar mereka kembalai bersama.


Tetapi sepertinya tidak dengan dirinya, nanti saat Zahra dan Regan kembali ke Jakarta, dia harus menetap disini sampai mendapatkan pelatih karate sekaligus guru pengganti oleh raga.


*-*


"Ayahmu udah hampir setengah bulan gak kesini, ngubungi kamu gak?." Gana membuka pembicaraan setelah mereka bermain basket dan istirahat duduk di pinggir lapanga.


"Ayah siapa,?" tanya Regan datar.


Mila memelototi Gana.


"Pak Abra," ucap Gana mau mengoreksi kesalahannya.


Regan menatapnya dingin.


Gana gelagapan, "Si ... si Ganendra."


Tatapan Regan semakin menajam, mengintimidasinya.


"Si dia."


Kali ini Mila yang menegurnya dengan memukul lengannya. "Gak sopan, beliau."


Kesal karena disalahkan terus, Gana duduk di rumput dan menendang-nendang kakinya seperti anak kecil.


"Udah salah melulu gak mau ngomong, mau perhatian salah." Gana merengek kesal.


Regan menatap langit. "Lagi banyak kerjaan," ucapnya lirih.


"Siapa?," tanya Rio.


Regan hanya menatap mereka bergantian, dan mereka paham seketika siapa yang dimaksud oleh Regan.

__ADS_1


Mila menoleh, "Tahu dari mana?."


Regan hanya tersenyum dan mengangkat bahu.


"Gea juga bilang gitu, satu minggu setelah kembali Beliau kerja lembur di kantor, jadi dia harus tinggal dengan Kakek Arya."


Kali ini semua menoleh pada Mila bersamaan.


"Kamu tahu dari mana?," tanya Rio.


Gana mengagguk menyetujui pertanyaan Rio. "Kamu mata-mata ya?," tuduh Gana mendapat pelototan dari Mila.


"Aku kan yang pegang IG Adam Regan ZeG, dia sangka itu Regan."


"Kamu masih aktif posting-posting foto Regan?," tanya Gana tak terima.


"Gak mau tobat jadi stalker?," omel Rio.


Mila mencebik. "Aku memang sering foto Regan diem-diem, tapi sebelum aku posting nanya dulu ke orangnya."


"Jangan lagi buat cewek-cewek zina mata," tegas Gana.


Mata Mila langsung memicing. "Cewek-cewek zina mata, apa kamu yang iri gak punya dasa six pack?."


"A ... ada kok."


"Oh ya ...," goda Mila berdiri menghampiri Gana.


Sontak Gana terbirit-birit berdiri, ditangan Gea ada sebotol air milik Regan.


"Jangan main air Mil...," jerit Gana.


"Kalau gitu buka baju katanya sixpack."


"Gak boleh Mil, nanti Zina mata."


Byur....


Dengan wajah polosnya Regan menyiram Gana, entah sejak kapan Regan sudah berdiri di belakang Gana dengan dua botol air minum sis Mila dan Rio.


Mata Mila langsung memelotinya. "Regan yg nyiran, kenapa meneriakiku?". Nada suara Mila meninggi.


"Gara-gara kamu Regan jadi bantu nyiram."


Tidak mau Tahu Gana mengambil botol airnya, Mila berlari berlindung pada Rio.


Sejak tadi hanya diam duduk memperhatikan mereka, tetapi dia malah kena siraman air dari Gana. Kesal Rio balik badan merebut botol air di tangan Mila.


Byur...


Mila berteriak histeris. Regan diam-diam pergi menjauhi mereka. Karena ....


"Regan!."


"Woy!."


"Mau kemana?."


Merka mulai memburunya secara bersamaan.


Selalu, akhir dari segala kebersamaan mereka adalah kebobrokan yang terpang-pang nyata sebagai kebahagiaan yang sederhana namun selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan.


Sejak mereka duduk istirahat di pinggir lapangan Malvin mulai merekam mereka berempat, dia akan mengirim hasil rekamannya pada Abra dan Kakek Arya.


Ternyata hasil akhir dari rekamannya memuaskan. Mereka bertiga mengejar Regan, mengelilingi lapangan hingga akhirnya Regan menyerah menerima pelukan basah dari ketiga temannya.


*-*


Sesampai dirumah jangan tanyakan bagai mana omelan Zahra yang Regan, Mila, Rio dan Gana terima.


Baju basah dan kotor, begitu juga dengan sepatu dan celana mereka. Zahra mengusir ketiga teman Regan setelah memarahi mereka, Regan bahkan harus mencuci baju, celana dan sepatunya langsung di kamar mandi.


"Bunda."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Bunda, Regan."


Zahra langsung berdecak berjalan dengan langkah lebar membuka pintu rumahnya.


Benar, ketiga teman Regan sudah berdiri didepan rumahnya dengan baju bersih dan terlihat segar, tersenyum lebar menatapnya dengan mata berbinar.


"Pasti gak di cuci?," tabak Zahra.


Gana yang pertama kali tertawa kecil.


Mila dan Rio tetap mempertahankan senyum mereka sambil mengedipkan mata.


"Bunda kan sudah bilang ...."


"Iya tapi kami sudah lapar." Gana memotong omelan Zahra.


"Memangnya Ibumu tidak masak?.".


"Masak kok," jawab Gana polos. "Tapi gak se se-pe-ci-al kayak Bunda."


"Special," koreksi Mila dan Rio bersamaan.


"Masuk," perintah Zahra denga suara dingin.


Mereka kembali tersenyum girang masuk kedalam rumah.


Regan baru saja keluar dari kamarnya, mengibas-ngibaskan rambut basahnya langsung berjalan kearah dapur di ikuti ke tiga temannya yang mengekor.


Zahra duduk di depan tv, membiarkan mereka membawa nasi dan lauk pauk yang akan mereka makan bersama.


Mereka duduk melingkar, membaca do'a bersama dan mulai makan sambil berceloteh riang. Jika dengan orang-orang yang menyukai kesederhanaan, makanan yang disediakan Zahra hari ini sudah tergolong ke istimewaan bagi mereka.


"Bunda kalau kita lulus semua Bunda buat cake ya?," pertanyaan Mila mengembalikan kesadaran Zahra.


"Brownes ya Bun?," celetuk Gana.


"Tramisu," Rio ikut menimbrung.


Regan diam memperhatikan ketiga temannya.


"Kalau Arz mau apa?," tanya Zahra lembut.


"yang sederhana Bun, chicken wings pedas manis."


Serempak dia mendengarkan gerutuhan ketiga temannya.


"Ah ... bosen."


"Ini kita lagi makan sayap ayam."


"sekali-kali makan cake gitu."


Zahra menanggapi dengan senyum celotehan mereka berempat. "Kalau dapat nilai rata-rata delapan puluh Bunda buatkan satu persatu."


"Ok."


"Sip."


"Pasti Bun.".


"Ya Allah ... dapatakan lah hamba nilai delapan puluh. Aamin ...."


Jangan ditanyakan yang terakhir do'a siapa, karena kalian pasti sudah tahu do'a siapa itu.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2