One More Chance

One More Chance
Zahra's Chance


__ADS_3

Zahra prov


Sejak tadi dia menggenggam tanganku, membelai kepalaku, terkadang mencium keningku berkali-kali sambil berbisik kata Terimakasih. Senyumnya tidak pernah hilang darinya, sebegitu bahagianyakah?, apa hanya aku yang merasakan ketakutan?.


Aku takut, jujur aku takut.


Pendarahan saat mengandung Ar masih aku ingat dengan jelas. dan sekarang aku memengandung dua anak kembar, yang membuatku semakin ketakutan sejak lima hari lalu aku periksa kedokter kandungan.


Sejak tadi aku hanya membalasnya dengan senyum semampuku. Aku tidak bisa mengatakan ketakutanku, aku tidak bisa membuatnya kehilangan kebahagiaan.


Kami berlibur diBali, saat tahu aku hamil dia memaksaku untuk mengecek ke dokter, bertanya ini itu dan bermacam hal pada dokter. Aku tidak tega menghancurkannya kebahagiaannya hanya karena ketakutanku yang tidak jelas.


"Ara!"


Aku tersentak, kudongakkan kepalaku menatapnya dengan senyum yang dipaksakan.


Dia diam di luar mobil menatapku membuka pintu disebelahku, ada sesuatu yang membuatku tersadar, aku menoleh kekanan dan kiri, kami sudah didepan rumah, setelah periksa kehamilan Abra langsung mengurus kepulangan kami ke Jakarta, lagi pula aku tidak boleh kecapeaan karena masih tremester awal jadi Abra memutuskan semua jadwal jalan-jalan kami di batalkan dan langsung pulang.


Brak ...


Kembali aku tersentak menatap keasal suara benda jatu barusan.


Ternyata tas yang Abra bawa jatuh dilantai, kami sudah berada di dalam kamar, aku hendak mengambil tas yang terjatuh itu didekat Abra tetapi Abra menendangnya menjauh.


Kutatap wajahnya yang ternyata menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tersenyum, matanya berkaca-kaca tapi memancarkan kesedihan membuatku tertegun didepannya.


"Apa kamu tidak menginginkan anak-anak itu?" tanyanya dingin melirik perutku.


Apa maksudnya?, aku tidak bisa mengatakannya jika aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Nafasnya terdengar memburu, dia tertawa terdengar pilu.


"Jangan diam saja."


Aku berdiri didepannya menatanya dalam. "Apa maksudmu bertanya seperti itu?."


"Menurutmu?" dia balik bertanya. "Pantas beberapa hari ini kamu banyak diam, menghindari tatapanku. Apa sebenarnya kamu mau menggugurkan anak itu tanpa sepengetahuanku?."


"Abra!" tegurku.

__ADS_1


Dia memalingkan muka, perlahan melangkah melewatiku, kuraih tangannya membuatnya berhenti melangkah tetapi tidak berbalik badan.


"Kenapa berfikir seperti itu?, tidak pernah terlintas diotakku mau menggugurkan mereka. Aku ...."


"Siapa tahu kamu berfikir mereka menghalangimu untuk kembali pergi dariku?," dia memotong ucapanku dengan nada dinginnya.


Kutautkan jemari kami "apa aku pernah mengatakan akan pergi?."


Akhirnya dia berbalik badan menatapku lekat, begitu dalam. "Apa kamu mencintaiku?, apa kamu kembali kepadaku hanya karena kasihan?. Atau kamu mau balas dendam dengan cara kembali padaku dan akan kembali meninggalkanku setelah ...."


"Hei!" potongku.


Aku melangkah semakin mendekatinya, melepas genggaman tangan kami, meraih kedua pipinya memaksanya menatapku.


"Sudah aku katakan jangan banyak berfikir, aku disini. Aku memutuskan untuk kembali, yang berarti aku siap menerima konsekuensi apapun kedepannya. Jangan berbicara tentang cinta sekarang, kita sama-sama dewasa bukan. Dalam pernikahan cinta tidak bisa diandalkan lagi, kita hanya bisa mengandalkan Tuhan sama komitmen. Jika boleh jujur aku memang tidak mencintaimu sebesar saat dulu awal kita menikah, aku memang kasihan padamu setelah Opa pergi kamu tidak memiliki keluarga lain, Tapi aku kembali padamu bukan karena itu atau dendam yang kamu katakan tadi."


Dia menggenggam kedua tanganku menurunkannya dari pipinya, membuatku menggnggam erat tangannya mencegahnya pergi.


"Kita belum selesai bicara" cegahku.


"Selesai" putusnya dingin.


"Aku sudah katakan bukan, anakku duniaku. Sedangkan kesempatan kembali padamu akan menjadi pintu untuk membuka dunia bagi anakku."


Aku mengatakannya sambil menatap setiap gerak geriknya.


"Bukan maksudku membutuhkan uang dari keluargamu, sudah aku katakan aku mampu membiayainya sendiri. Tetapi dia tidak akan percaya itu, dia akan menyerah mengejar mimpinya dan memilih mengejar sesuatu yang dapat menghasilkan uang, tidak mengeluarkan uang banyak dan masih dapat membantuku.


Karena dia anak yang terlalu baik, dan juga sepertimu terlalu overthinking. Dia juga menginginkan aku kembali padamu, dia yang ...."


"Please" potangnya "jangan katakan apapun lagi Ara."


Dia mengatakannya dengan nada penuh penekanan.


Entahlah, aku mulai merasa sesak didadaku dan mulai menangis, ingin rasanya mengeluarkan sesak yang selama ini aku tahan.


Nafasku sampai tersendat-sendat, ini pertama aku menagis meluapkan semua setalah bertahun-tahun tidak pernah merasakan kebebasan menangis seperti sekarang.

__ADS_1


Aku merasakan dia merengkuhku dalam pelukannya, tetapi tangisku tidak bisa berhenti.


"Hai ... suttt jangan menagis, Ara. Kamu sedang hamil Sayang ...."


Aku tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan, aku kesal ingin meluapkan semua. Dia marah?, lalu apa dia pikir selama ini aku tidak marah dan mengutukinya?.


"Aku tidak mencintaimu sebesar dulu, bukan berarti aku tidak cinta." Aku mengucapkannya sambil terputus-putus disela isak tangisku.


Terdengar dia tertawa membuatku menghentakkan kaki dan dia semakin memper erat pelukannya padaku.


"Iya Ara" ucapnya begitu lembut ditelingaku. "Meski kamu kembali padaku karena kasihan dan dendam pun aku tidak masalah."


Aku mendorong tubuhnya tetapi dia kembali menarik tubuhku dalam pelukannya. "Aku tidak dendam" kupukul punggungnya.


Dia kembali tertawa. "Apapun alasanya kamu kembali padaku tidak masalah, apapun aku tidak akan mempermasalahkannya. Sudah aku bilang selesai, yang penting kamu tidak akan pergi lagi itu sudah cukup. Jika kamu mengatakan semua demi Ar, aku malah bahagia karena tebakanku benar, jika kamu akan melakukan segalanya demi anakmu."


Dia mlepas pelukannya, menyentuh perut rataku, menatapku dalam.


"Aku memang menunggu kamu cepat hamil agar semakin mengikatmu, ternyata Tuhan baik memberiku dua sekaligus, sehingga kamu akan berfikir dua kali lipat untuk meninggalkanku."


Kupukul bahunya cukup keras. "Meski dulu aku hamil anak kembar, aku tetap akan pergi. Dari pada aku stres, pendarahan dan kehilangan bayiku. Lebih baik aku meninggalkamu."


Bukannya marah dia malah tertawa senang. "Ya, untukmu anak adalah segalanya, tapi kamu ada disisiku lebih penting dari segalahal."


Bolehkah aku meminta tada Tuhan?, satu kesempatan ini selamanya selalu seperti sekarang?.


Ada pertengkaran, tetapi menciptakan perasaan yang semakin mendalam?.


Sepertinya perasaan takutku selama beberapa hari ini terjawab. Aku tidak boleh takut, karena ada dia disampingku kali ini. Aku percaya dia akan menjagaku, kali ini aku tidak sendiri.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2