One More Chance

One More Chance
Berubah


__ADS_3

"Kenapa nama gue jelek?" protes Vira.


Pintu ruangan Malvin terbuka lebar, sekretarisnya mentap Malvin dengan wajah meminta maaf.


Tidak ada yang bisa menghentikan Vira, terlebih baju yang Vira kenakan begitu terbuka datang ke perusahaan keamanan ASG yang sembilan puluh persen adalah pria semua, membuat mereka kebingungan bagaimana mencegah Vira yang terus berjalan dengan tegap menuju ruangan Malvin.


Tangan Malvin mengibas meminta dia untuk pergi, duduk dengan santai menatap Vira yang menatapnya dengan wajah memerah.


"Nama apa?" tanya Malvin santai.


"Nama samaran gue, ada yang lebih bagus lagi?"


"Udah bagus kok, yang penting bisa dipanggil Vira."


"Tri Virastuti?" tanya Vira dengan nada tinggi, "lo pikir nama itu bagus, buat nama kira-kira dong jangan kampungan."


"Alamat di KTP yang gue kasih lo memang dari kampung"


"Tapi namanya jangan kampungan juga dong, jaman sekarang tuh orang-orang kampung namanya keren ngalin orang kota."


"Jaman sekarang, jaman waktu kita lahir?"


Kesal Vira mengangkat papan nama meja Malvin yang diatas meja, ingin melemparnya.


"Lempar" tantang Malvin.


Vira meletakkannya dengan sedikit membanting lalu duduk dikursi tepat didepan Malvin, mengeluarkan kartu dari dalam tasnya dan meletakkannya tepat didepan Malvin.


Sebelah alis Malvin terangkat.


"Apa lagi?, ganti lah namanya" Vira duduk menyandar dan menyilangkan kakinya dengan anggun.


Malavin menatap Vira lekat sebelum menghela nafas berat, "lo udah gak ikutan kerja, gak bilang terima kasih malah protes. Urat malu lo udah hilang?, sama kayak harga diri lo?" datar tanpa emosi namun berhasil menyentak Vira.


Dari Abra, Sam dan Malvin, kata-kata Malvin yang selalu tajam. Jika Sam berbicara ceplas ceplos kita yang mendengar sakit hati itu sudah menjadi hal yangwajar. Tetapi gaya bicara Malvin yang datar seakan tak berperasaan mampu membuat orang tersinggung, dan berkali-kali lipat lebih menyakitkan.


"Lo kira gampang buat data yang lo pakai sekarang?, jangan banyak protes atau lo gue paksa tinggak dengan Pak Jaya biar lo gak bisa kemanapun" ancam Malvin. "Kalau gue mendingan lo tinggal dengan Bokap lo, karena kita sudah muak dngan tingkah lo, apa lagi ngeliat wajah lo" santai dan bahkan menunjukkan senyum tipisnya.


Bukannya marah, wajah Vira menatap Malvin dengan mata mulai memerah berkaca-kaca.


"Gue bukan Abra yang bakalan mempan liat lo nangis" mengucapkannya sambil tertawa kecil.


Vira menggigit bibir bawah bagian dalamnya, tersenyum lebar mengerjab-ngerjabkan mata lalu menghela nafas .


"Kalian benar-benar benci gue ya?" tanya Vira dengan suara mencicit.


"Sangat ... amat ... terutama gue" jawab Malvin penuh penekanan setiapa katanya.


"Gue ingin kalian ngertiin gue kayak ..."


"Gak bisa" potong Malvin.


Kepala Vira mendongak menahan diria agar air matanya tidak mengalir, berkali-kali menghela nafas.


"Karena lo bukan Savira yang dulu kita kenal."


Diam, Vira memilih diam tidak menyahuti perkataan Malvin. Jika dia membuka mulut satu kali saja Virabyakin dia akan menangis didepan Malvin.


Tercipta sebuah keheningan yang cukup lama diantara mereka hingga Vira akhirnya bisa mengontrol dirinya kembali menatap Malvin dengan senyum.


"Sepertinya udah gak ada lagi orang yang peduli dan mengerti gue" ucap Vira liri.


Tidak berniat menanggapi, Mavin berdiri dari duduknya sehingga Vira ikut berdiri, mengambil kartu yang dia letakkan diatas meja Malvin tadi.


"Terima kasih atas bantuan kalian, salam untuk Sam dan Abra" ucap Vira lirih.


"Jangan pernah mencoba bermain dengannya, dia dan keluarga besarnya lebih gila dari lo" ucap Malvin penuh peringatan.


"Terima kasih"


Vira balik badan mulai melangkah pergi, begitu juga dengan Malvin yang melangkahkan kakinya mengambil jaket kulit yang tergantung tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Hei" panggilnya menghentikan langkah Vira.


Senyum Vira yang mulai menghilang kembali terukir lebar, Vira kembali berbalik badan "a ..."


Jaket Malvin berhasil mendarat diwajahnya.


"Kalau berniat dugen jangan kebiasaan pakai baju kurang bahan dari rumah."


Vira bahagia, senyum Vira semakin lebar.


"Gak ada matahari buat jemur gigi"


Mendengarnya Vira mengembungkan pipinya, balik badan kembali melangkahkan kaki keluar dari ruangan Malvin sambil memakai jaket Malvin dengan tersenyum lebar.


Setelah Vira pergi Malvin menghela nafas, jika ditanya benci dengan Vira tanpa pikir panjang Malvin akan menjawab Ya. Sikap egois dan keras kepala Vira semakin menjadi setelah Luis mengenalkan dia dunia malam yang penuh kebebasan.


Mereka berempat dulu pecinta dunia malam, tetapi masih mengenal norma-norma. Bersama sejak Sekolah Menengah Atas sampai kuliah, membuat mereka kecewa dengan keputusan Vira berpacaran dengan orang seperti Luis, dan terus menerus mengecewakan mereka hingga puncaknya merusak rumah tangga Abra dan akan memasukkan Gea kepanti asuhan demi bisa menikmati hidup bebasnya dengan Luis.


*-*


Jari Enzo menghentikan pemutaran video dilayar LCD monitor meeting room, dan menoleh pada Javir yang diduduk di hadapannya. Beberapa hari Javir berhasil menghindar dari Enzo, hingga hari ini dia tidak bosa mengelak lagi.


Mereka berdua berada diruang meeting. Setelah meeting bersama beberapa Manager hotel milik Enzo selesai, Enzo melarang Javir keluar, sebelum ruangan sepi dan Enzo mulai mengatakan apa yang dia ingin katakan Javir diam-diam menghubungi Abra melalui hpnya dan meletakkannya diatas meja tepat didepannya dengan posisi terbalik.


"Mereka berkelahi karena tiga orang itu mengganggu Emma" Javir membuka suara.


Enzo tersenyum kecil, "saya memanggilmu bukan untuk bertanya kenapa mereka berkelahi."


"Lalu?"


"Sehebat apa mereka?" tanya Enzo dengan perasaan penasaran yang tidak bisa ditutupi.


Javir mencoba tenang tak terpancing, "seperti yang anda lihat."


Enzo tertawa mendengarnya, "mereka berkelahi hanya beberapa menit, jadi saya kurang puas."


Javir menatap Enzo dengan tatap tidak suka, orang normal pasti akan bersyukur jika melihat perkelahian yang hanya terjadi sebentar saja, tetapi Enzo malah kebalikannya.


Tangan Enzo melambai pada Abra dengan senyum lebar dibibirnya, berbeda dengan Abra yang berdecak menatap Enzo tajam.


"Aku tidak setuju dengan Returned yang kamu maksud" Abra langsung to the point.


Kepala Enzo manggut-manggut, "jangan sia-siakan bakat mereka."


"Aku tidak masalah menyia-nyiakan bakat mereka demi masa depan mereka" sanggah Abra dengan cepat tanpa berfikir. "Jangan mencoba membuat anak-anak kami masuk dalam dunia kalian, biarkan mereka hidup tenang."


Wajah Enzo berubah datar.


"Alaric saja tidak mau masuk kedalam dunia kalian setelah dia tahu apa yang harus dia korbankan, cukup kita yang tahu dunia mafia. Jika aku boleh memberi saran kamu juga mulailah berhenti."


"Remanov tidak seperti dulu."


"Aku tahu, tetapi aku tetap tidak mau" ucap Abra tegas. "Kalau sampai itu terjadi aku akan kembali memutuskan semua komunikasi dengan kalian, dan aku akan memberi tahu Hanna apa yang telah kamu lakukan pada anak-anak."


"Kamu mengancamku?"


Abra tersenyum lebar, "ya karena hanya Hanna yang bisa mengendalikanmu."


"Aku tidak seperti itu."


"Yes we are, jangan coba-coba mengelak."


Enzo terdiam mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya, kebiasaan jika dia sedang berfikir.


"Ok no Returned"


Abra tersenyum lega, begitu juga dengan Javir yang menghela nafas diam-diam.


Jika sampai Aslan dan Regan masuk kedunia Mafia, mau tidak mau Javir yang ditugaskan untuk memantau mereka akan ikut terseret juga.


*-*

__ADS_1


Sejak liburan Aslan tidak selalu rumah, Alaric malah semakin banyak kerjaan, Javir dirumah hanya saat malam hari. Regan tidak bisa menghubungi Zahra saat ini karena di Indonesia pasti sudah tengah malam.


Iseng Regan membuka IGnya, aplikasi itu hanya dia download tetapi jarang dia buka dan mata Regan berbinar melihat IG Gea bertulisan Active now.


"Kamu kesambet apa?" tanya Gea langsung saat video call mereka tersambung.


Regan menatap Gea datar, menyanggah kepalanya dengan tangan, "lagi bosan dirumah sendirian, ngagetin pizza belum hangat, gak punyakerjaan mangkanya dengan berat hati VC kamu."


Gea mencibir mendengarnya, "As memangnya kemana?."


"Di studio Robet Calter."


Gea mengangguk-anggukkan kepala, layar hp Regan menunjukkan jika hp Gea sedang tidak stabil bergerak-gerak.


"Bisa diem tidak?, mataku pusing" gerutu Regan.


Jari telunjuk Gea memberi isyarat agar Regan tidak berisik, lalu layar hp Regan memperlihatkan kamar si kembar.


Terlihat Bundanya tidur menyamping dengan Chaka, sedangkan Ayahnya tidur dikarpet disamping Bilqis yang sedang tidur dibouncer swing.


"Kamu screenshoot dong" bisik Gea lirih.


Regan hanya bisa mengikuti apa yang di pinta Gea, hitung-hitung dia bisa mengerjai Ayahnya dengan menambah beberapa emoticon atau mengeditnya.


Kembali hp Regan memperlihatkan gambar yang tidak stabil karena Gea sepertinya keluar dari kamar si kembar.


Tepat saat itu bunyi dentingan microwave berbunyi tanda jika pizza yang Regan hangatkan selesai, Regan meletakkan hpnya diatas meja dan pergi kedapur.


Pintu rumah terbuka, Javir masuk membuka sepatu dan meletakkannya dirak sepatu.


"Ar"


Terdengar seseorang memanggil Regan, Javir menoleh kesegala arah mencari sumber suara.


"Ih ... kenapa aku malah diliatin atap rumah."


Mengenali suara itu kaki Javir dengan cepat melangkah mendekati meja ruang tamu, tangannya meraih hp Regan yang tergeletak begitu saja diatas meja.


Tatapan mata mereka bertamu, Gea yang awalnya akan mengomel bungkan seketika menggigit bibir bawah bagian dalamnya.


"Hai" sapa Javir kikuk.


Gea menatanya dalam diam tidak membalas sapaannya.


berubah tatapan mata Gea tidak seperti dulu saat menatap Javir, tidak ada mata yang menatapnya dengan tatapan berbinar lagi.


"Ap ..."


Terputus, layar hp Regan menampilkan gambar wallpaper. Javir menghela nafas, meletakkan hp Regan kembali keatas meja. Javir balik badan dan terkejut melihat Regan berdiri dibelakangnya dengan mulut menggigit Pizza.


"Tumben datang jam segini?" Regan meletakkan Pizza yang digigitnya diatas piring, "biasanya masih jalan sama yang katanya teman kantor."


Javir memicingkan mata menatap Regan penuh curiga.


"Jangan menatapku begitu dan jangan su'uzon, memangnya aku tidak punya kerjaan melaporkan semua yang kamu lakukan?, lagian siapa kamu?."


Berhasil, kata-kata Regan berhasil menyentil Javir. Ya, siapa dia?, dia bukan siapa baginya, begitupun sebaliknya. Tidak ada yang berubah, karena seharusnya memang seperti itu.


*-*



Chaka : Kerjaan Kak Gea


Bilqis : Be malu Kak Gea 😶


.


Love you 😙


Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2