One More Chance

One More Chance
Baik Jahat


__ADS_3

Ruang rapat 1 dilantai yang sama dengan ruangan Direktur, Chief Executive Officer (CEO), dan ruang para petinggi perusahaan lainnya sedang dipakai rapat mendadakan oleh Abra untuk mengumpulkan Malvin, Sam dan Sari bersama dengan Gea dan Zahra yang memaksa ingi ikut.


Malvin melirik pada Zahra yang duduk dengan perut besarnya sejak datang tidak mau melepaskan genggaman tangan Abra sejak mereka masuk.


"Jadi bagaimana dengan kandidat yang gue kirim kekalian?, atau mungkin kalian ada kandidat lain yang lebih pantas?" tanya Abra menatap Malvin dan Sam bergantian.


Semalam tanpa sepengetahuan Zahra, Abra mengirim pesan pada Malvin dan Sam menceritakan semua yang telah Pak Jaya ceritakan padanya, dan Fani adalah pengawal yang direkomendasikan Malvin sebagai Direktur ASG Scurity untuk melindungi Zahra.


"Dari dua kandidat yang lo sebutkan semalem, gue merekomendasikan Pandu Wisama, Asisten direktur marketing kita" Sam memberikan suaran.


"Meski dia masih muda tetapi sudah memiliki pengalaman memimpin" Malvin menimpali.


Abra melirik Gea yang masih membaca profil dua kandidat yang Abra berikan, "menurut Gea bagaimana?" tanya Abra.


Gea menutup map yang dia pegang, "Gea terserah keputusan Ayah, Gea ikut kumpul disini hanya sekedar ingin tahu."


Sam yang mendengarnya mengerutkan kening, dia menegakkan posisi duduknya dan menatap Gea dengan tatapan serius. "Jika kita menyetujui tawaran untuk mengakuisisi perusahaan Kakek kamu, apa tanggapanmu?."


"Tidak masalah" jawab Gea santai, "yang menawarkan Opa sendiri, posisi Gea sekarang hanya sebagai cucu kandung bukan sebagai pewaris perusahaan Jaya Indah lagi."


"Ayah tetap pada pendirian Ayah, tidak mau mengakuisisi perusahaan mereka" dengan tegas Abra mengucapkannya. "Yang tersebar diluaran nanti Pandu akan menjadi orang yang mengakuisisi, Malvin mohon bantuannya." Abra menatap Malvin sejenak setalah mendapatkan anggukan dari Malvin, Abra kembali menatap Gea. "Tetapi sebenarnya dia hanya menjabat sebagai CEO di Jaya Indah, dan pak Jaya tetap sebagai Owner bertugas memantau keuangan dan perkembangan perusahaannya sendiri."


"Kenapa harus disebarkan berita Pandu sebagai orang yang mengakuisisi?, apa tidak cukup langsung mengangkat Pandu saja yang menjadi CEO?." Sari mulai membuka suara.


Dia todak setuju dengan apa yanh direncanakan Abra karena menurutnya itu terlalu berlebihan bagi perusahaan kecil seperti Jaya Indah.


"Tidak" tolak Abra tanpa menatap Sari karena masih menatap Gea, memperhatikan setiap perubahan yang Gea tunjukkan. "Gue ingin beritanya menyebar hingga kemedia sosial yang memungkinkan Luis tahu, sehingga membuat dia berfikir dua kali untuk ke Indonesia."


"Ya, dengan begitu dia akan berfikir sia-sia datang ke Indonesia jika sumber keuangannya saja sudah gulung tikar" Sam mengucapkannya dengan penuh kesenangan.


Posisi Malvin yang duduk disamping Sam memudahkan kaki Malvin langsung menendang kaki Sam dibawah meja.


Sam mendelik hendak marah sebelum mendapat isyarat mata Malvin yang melirik Gea membuat Sam berderham dan kembali duduk dengan tenang mengerti apa yang Malvin maksudkan.


Gea sendiri hanya menghela nafas pasrah, dia menunduk menatap jarinya yang memainkan kertas dalam map didepannya.


Tangan Zahra menggenggam tangan Gea melepaskan genggaman tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Abra. "Gea" panggil Zahra membuat Gea mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk. "Bukannya kita mau menghalangi Gea bertemu Papi Gea," ucap Zahra dengan penuh kelembutan, "Bunda harap kamu mengerti."


"Yang kami lakukan untuk melindungimu" Sahut Malvin.


"Ya, meski kamu bukan anak kami, tetapi Mami kamu dulu pernah menjadi teman kami sebelum dia menjadi wanita gila karena Luis" ucap Sam.


Plak ...


Kali ini Sari yang memukul lengan Sam karena berbicara tanpa memikirkan perasaan Gea yang berada ditengah-tengah mereka.


Gea menatap Malvin dan Sam bergantian lalu pada Sari yang masih mendelik pada Sam membuat Gea tersenyum kecil. "Terima kasih" ucap Gea lirih lalu menatap tangan Zahra yang masih menggenggam tangannya. "Bunda, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Gea tanyakan" ucap Gea lirih.


Sudah lama Gea ingin bertanya sesuatu yang mengganggunya tetapi dia selalu menahan diri, hingga akhirnya kata-kata Sam yang menyebut dia bukan anak mereka membuat Gea kembali teringat.


"Apa?" tanya Zahra semakin menggenggam erat tangan Gea.


"Karena Gea Bunda dan ayah pisah, dari lahir semua kebutuhan Gea terpenuhi, dari lahir juga Gea sudah menikmati kemewahan. Mungkin selama itu pula kehidupan Regan dan Bunda kebalikan dari apa yang Gea dapatkan, kenapa Bunda malah baik pada Gea, menerima Gea sebagai anak Bunda, dan ..." nada suara Gea seakan mengambang.


Perlahan Gea menatap Zahra dengan mata berkaca-kaca, "Bisa gak sesekali jadi Bunda yang jahat biar Gea gak merasa bersalah."

__ADS_1


Detik itu juga setelah mengatakannya air mata Gea mengalir meski dia menggigit bibirnya menahan diri agar tidak menangis.


Zahra tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca mengelus tangan Gea, "apa itu yang membuat kamu berubah?" tanya Zahra.


Gea diam mematung tetap dengan air mata yang terus mengalir tidak mengerti dengan aoa yang Zahra tanyakan.


"Ayah selalu mengatakan kamu banyak berubah, bahkan Bunda yang baru mengenal Gea beberapa bulan juga merasa Gea tidak seceria dan secerewet saat pertama kali Gea ke Madura." Zahra menatap Abra sejenak dengan senyum.


Akhirnya mereka menemukan salah satu alasan yang membuat Gea berubah, meski Zahra tahu betul alasan utama yang sangat mengubah Gea sebenarnya bukan karena dia merasa bersalah padanya dan Regan.


"Bunda bukan orang baik,Bunda juga mempunyai sisi jahat." Zahra mengucapkannya dengan kesungguhan. "Tapi Gea, berpisahnya Bunda dan Ayah bukan karena Gea jadi jangan pernah merasa bersalah. Baik jahatnya orang tergantung kamu menilainya dari mana,


Bunda hanya selalu mencoba untuk sabar, mengontrol diri, ikhlas menerima semua, pasrah dan menjalani apa yang sudah Allah tetukan. Jika pun Bunda Marah atau bersikap jahat pun itu bukan pada Gea. Kamu tahu?, bulan lalu Mamimu sudah menerima dampak sisi jahat Bunda, jika tidak percaya tanyakan pada Ayah." Zahra mengatakannya penuh dengan kebanggaan.


"Maksud kamu waktu kita diruanganku?" tanya Abra.


Zahra mengangguk dengan penuh semangat dan tersenyum lebar.


"Itu namanya bukan jahat Ara" tubuh Abra sepenuhnya menghadap kearah Zahra, "kalau marah dan membentak itu kejahatan, dari dulu aku sudah keluar masuk penjara karena selalu marah dan membentak karyawan."


"Marah itu perbuatan tidak baik, jahat itu juga tidak baik jadi sama saja."


"Lain sayang gak bisa disa ...."


"Udah ..." seru Malvil melerai Abra dan Zahra, "kalau diterusin kalian pasti akan berdebat, jadi keputusan akhirnya bagaimana?."


Zahra langsung menatap Malvin dengan tatapan tidak suka membuat Abra tergelak mengelus puncak kepalan Zahra menenangkan.


"Urusan berita lo yang tangani" ucap Abra menatap Malvin, "dan Sari, mereka membutuhkan uang untuk melunasi hutang bisnis Vira yang bangkrut tetapi tidak dengan hutang judi Luis, gue siap membantu dengan beberapa persyaratan yang akan gue kirim lewat email, tolong untuk segera disiapkan nanti."


"Gue?" tanya Sam.


Abra terdiam sebentar, menatap Zahra dan perutnya lalu menatap Sam. "Sebenarnya gue mau ngajak lo buat nenganin masalah hutang piutang Vira, secara kita sudah biasa terjun dalam dunia bisnis dan hal seperti itu juga sudah bisa untuk kita, tapi untuk sekarang gue gak bisa ninggalin Zahra karena sudah hampir lahiran, dan mungkin awal-awal Zahra melahirkan gue juga butuh bantuan lo ngurus perusahaan."


"Terus?"


"Ya ... dari pada lo sendirian yang ngurus disana lebih baik lo bantu gue ngurus perusahaan dulu, setelah Zahra lahiran dan bisa ditinggal kita sama-sama kesana."


Sam berdecak meremehkan, "Lo kayaknya gak enak hati gitu nyusahin gue?, dari kapan?, dulu-dulu kemana?" sindir Sam. "Apalagi sejak Zahra hamil, untung gue sama Sari temen lo, kalau orang lain kena marah klien mulu gara-gara lo sering batalin janji, mereka semua pasti udah pada berhenti jadi karyawan lo."


Sari dan Malvin tertawa mendengarnya begitupuna dengan Abra. Zahra tersenyum kecil, menggelengkan kepala memukul lengan Abra pelan.


Persahabatan mereka terlihat begitu erat.


*-*


Javir keluar dari kamarnya dengan malas, saat berjalan melewati kamar Regan kangkahnya terhenti sejenak, pintu kamar Regan tidak tertutup sehingga Javir dapat melihat Regan sedang belajar di beranda kamarnya.


Kembali Javir melangkahkan kakinya dan keningnya mengerut mendapatlan Aslan membaca buku di tengah-tengah anak tangga.


"Ngapain lo belajar disini?" tanya Javir sambil berjalan melewati Aslan.


Aslan melirik pada Emma yang duduk diruang tamu didepan leptopnya dengan buku berserakan dikanan dan kirinya. "Takut dia kembali gila" ucap Aslan.


Teringat saat Regan belajar dan Emma tiba-tiba masuk menggunakan hotpant dan membuka tangtopnya.

__ADS_1


"Regan bukan anak kecil lagi As" tegur Javir menghentikan langkahnya dan balik badan menghadap Aslan, "dia harus belajar ..."


"Aku tahu bang" potong Aslan, "tetapi secara bertahap, Ar masih berumur lima belas tahun dan dia sudah pernah mau ngajarin Ar bobok." Aslan menunjuk Emma dengan dagunya.


Javir tertawa mendengarnya, "ya ... namanya juga negara bebas, tapi jangan selalu melindungi Regan karena sesekali dia harus tahu kebobrokan dan kejahatan dunia luar."


"Pasti Bang, dan itu harus" senyum misterius Aslan membuat Javir tertawa.


Kembali Javir melangkahkan kakinya menuruni tangga, dia haus dan lapar sejak tadi mengerjakan tugas kantor yang dia bawa pulang hingga tidak ikut makan malam bersama mereka.


Javir membuka pintu kulkas melihat bahan-bahan dan apa saja yang berada didalam kulkas mereka.


"Makan?" tanya Alaric yang tiba-tiba masuk ke dapaur.


Javir yang masih diam didepan kulkas berpikir mau memasak apa menjawab dengan malas "rencananya gitu."


Alaris mengambil sekotak susu dikulkas membuat Javir mengalihkan perhatiannya dan menatap pakaian yang dikenakan Alaric malam ini.


"Mau kemana?"


Alaric tersenyum dan melangkah menjauh tidak menjawab pertanyaan Javir.


"Ini sudah jam sembilan" Javir menutup pintu kulkas dan malah mengekori Javir.


"Balapan mobil atau clubing" sahut Emma mengatakannya tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar leptopnya.


"Beneran?" tanya Javir girang.


Alaric balik badan mentap Javir dengan kening mengerut, "kenapa?."


"Ikut"


Alaric menatap Javir tak percaya, "jangan bercanda."


Javir tertawa ngakak, "jangan samakan dengan dua anak kutu buku itu" Javir menepuk dadanya, "bukan anak baik seperti mereka, tunggu mau ganti baju."


Dengan cepat Javir menaiki tangga, hendak melewati Aslan tetapi Aslan berdiri tepat didepannya.


"Serius mau ikutan clubing dan balapan?" tanya Aslan.


"Kenapa tidak" jawab Javir santai.


*-*


.


Hai Readers ...


Sadar atau tidak, beberapa komen kalian ada yang sudah Author jabarin dan jawab πŸ˜‰


Terima kasih atas dukungannya


πŸ‘Like dan πŸ’¬komen kalian sangat membatu dalam mendukung karya Author dan kelanjutan ceritanya πŸ˜‡ terkadang jika sedang Writer's Block baca-baca koment kalian jadi punya ide lanjutan One More Chance 😍


Love you 😘 and Thanks πŸ˜‰

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2