One More Chance

One More Chance
Cek Up


__ADS_3

Abra sudah siap-siap berpakaian mau kekantor, baju, dasi dan segalanya sudah Zahra siapkan di atas kasur yang sudah rapi tetapi tidak seperti biasanya, selain tidak manja-manjaan sepeti sebelumnya Zahra juga tidak membantunya bersiap.


Wanita itu sejak Abra keluar dari kamar mandi terus berputar-putar didepan cermin, terkadang meringis, cemberut, tercengang dan mengelus-elus perutnya sambil tersenyum.


Setelah berpakaian Abra menghampiri Zahra, memeluk Zahra dari belakang mengandarkan dagunya kepundak Zahra dengan dasi yang belum terpasang masih menggantung dilehernya.


"Kenapa sih? sepertinya bahagia banget lalu tiba-tiba cemberut" Abra bertanya sambil menatap pantulan wajah Zahra dicermin.


Zahra menyandarkan kepalanya di dada Abra. "Dulu saat hamil Ar lima bulan perutku tidak sebesar ini" Zahra menarik tangan Abra untuk menyentuh perutnya. "Saat mandi perutku sakit, mereka gerak-gerak" Zahra menceritakannya dengan mata berbinar.


Kepala Abra menoleh menatap wajah Zahra dari samping. "Kita periksa ya, terakhir kamu cek up dua bulan lalu."


"Bula lalu udah kok."


Tangan Abra yang memeluk Zahra langsung melonggar "dengan siapa?, kenapa gak bilang biar aku temenin."


Zahra tersenyum berbalik badan menghadap Abra, tangannya menyentuh rahang Abra. "Aku cek up di rumah sakit, kamu kan gak bisa kerumah sakit. Nanti aku cek up kesana lagi dengan Tante Tari."


Tangan Abra menggenggam tangan Zahra yang menyentuh rahangnya. "Aku bisa temenin kamu, aku juga harus belajar untuk tidak takut rumah sakit, aku gak mau kamu lahiran sendiri lagi tanpa ada aku. Aku juga gak mau kehilangan momen lagi mendampingi kamu berjuang melahirkan anak kita. Ini kesempatan terakhir aku nemenin kamu lahiran, Ar gak akan mau lagi punya adik, kali ini hanya ngambek nanti dia pasti akan marah kalau kamu hamil lagi."


Zahra tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca "tapi aku gak mau lihat kamu tersiksa kayak terakhir kali, kalau kamu maunikut tika ke bisan aja ya kayak di Bali waktu itu."


Kepala Abra menggeleng tegas "aku harus belajar Ara." Tangan Abra mengelus perut Zahra lembut "mereka bentar lagi keluar, aku juga ingin liat mereka gerak-gerak waktu di USG."


"Ya udah kalau ah ...."


Zahra meringis merasakan pergerakan dalam perutnya, sedangakan Abra membulatkan mata tak percaya.


Abra berlutut, dia menempelkan telinganya di perut Zahra "Hai sayang, tahunya Ayah mau lihat kalan?."


Kembali terasa pergerakan kecil, mata Zahra berkaca-kaca sambil menggigit bibirnya.


"Jangan banyak gerak kasihan Bunda, baik-baik ya disana kita ketemu nanti."


Abra menghujami perut Zahra dengan ciuman.


Ini memang kehamilan kedua Zahra, tetapi ini pertama kalinya ada sosok seorang suami yang begitu tidak sabar menanti kelahiran anak mereka dan begitu perhatian saat dia kesakitan. Tanpa bisa dikendalikan air mata Zahra menetes, Zahra mendongakkan kepalanya menahan diri agar tidak semakin menangis.


Semua yang dia alami saat menganduk Regan berputar begitu saja, perasaan yang dulu dia rasakan seakan kembali menguasai dirinya. Saat pertama kali Regan bergerak di dalam perutnya Zahra menangis sendirian, memeluk perutnya merasa bahagia dan sedih disaat bersamaan.


Jika malam hari tidak bisa tidur Zahra hanya bisa menangis sendiri kesal entah pada siapa, saat pagi malas bergerak Zahra hanya rebahan di kasur, kali ini ada Abra yang akan membawakan makanan, menyuapinya.


Dulu dia hanya ditemani anak tetangga saat Zahra menangis, sedih dan termenung diteras rumah kontrakannya sosok anak kecil dengan pipi gembul selalu menghampiriya, dia duduk di samping Zahra mengelus perutnya "Apa adek nakal?" pertanyaan polos itu selalu dia tanyakan.


"Jadi anak baik disana, nanti main sama kakak."


Sekarang anak itu benar-benar bersama Regan, dan yang mengelus perutnya kali ini Abra, Suaminya. Dengan kata-kata yang hampir sama, seakan menarik dirinya kemasa kelam itu.


Tubuh Zahra terguncang karena menahan tangis membuat Abra dengan cepat berdiri, menghapus air mata Zahra yang semakin mengalir deras tanpa bertanya apapun.


*-*


"Bawa pasien ini keruang operasi tiga, panggil dokter Yuki."


Tari berdiri di lobby rumah sakit mengecek para pasien kecelakaan yang baru datang dan harus dilerikan kemana.


Dan pada waktu itu juga Tari terdiam menatap kearah pintu masuk, Abra dan Zahra melangkah bersama memasuki rumah sakit dengan tangan Abra yang terus menggenggam tangan Zahra erat.


Senyum Tari terbit, tadi pagi Zahra menghubunginya untuk mengatur jadwal cek up dengan dokter kandungannya, tetapi Tari tidak tahu jika Abra akan ikut.


"Hai Tan" sapa Abra.


Terlihat Abra begitu tegang, wajahnya memucat, sesekali menahan nafas.

__ADS_1


Zahra menatap Abra khawatir, menghapus keringat dipelipis Abra. "Pulang ya" bujuk Zahra khawatir melihat Abra.


"Enggak ayo dimana ruangan dokternya?" tanya Abra menghembuskan nafas diakhir kalomat.


"Jangan memaksakan diri Bra, kamu bisa masuk kedalam sini itu sudah suatu kemajuan" Tari menepuk lengan Abra pelan.


"Abra baik-baik saja Tan, dimana ruangan dokternya?" Abra bukan hanya menyakinkan Tari dan Zahra tetapi dirinya juga.


"Ya udah ayo, kalau sudah mulai sesak bilang ya."


Kepala Abra mengangguk cepat.


Sepanjang perjalanan Tari dan Zahra sesekali melirih Abra memastikan keadaanya. Abra sendiri terkadang berjalan memejamkan mata beberapa detik, debaran jantungnya berdetak tidak karuan sejak tadi tetapi dia mencoba kuat.


"Silahkan masuk" Tari membuka pintu ruangan. "Mbak Erna keponakanku datang, kali ini sama suami."


Tari menghampiri temannya, berbisik sebentar memberi tahu kondisi Abra.


Dokter Erna tersenyum simpul, "aku tahu solusinya apa" ucapnya melirik Abra yang duduk tetap menggenggam tangan Zahra.


"Untung Tante pengertian dokternya perempuan" celetuk Abra.


Zahra memukul lengan Abra dan memelototinya, sedangkan Tari dan dokter Erna tertawa mendengarnya.


"Udah tenang sekarang?" tanya Zahra bernada ancaman menarik tangannya.


Kepala Abra langsung menggeleng menggenggam sebekah tangan Zahra dengan dua tangannya.


"Haduh ... kalian ini bikin irin saya" tegur dokter Erna. "Gimana bu Zahra sekarang sudah delapan belas minggu ya, pasti sudah adabpergerakan dari si kembar" dokter Erna membuka-buka buku kehamilan Zahra.


"Yang terasa aktifnya sejak tadi pagi dok, agak lama sampai saya kesakitan" jelas Zahra.


Tangan Abra langsung mengelus perut Zahra.


"Memangnya sudah bisa dok?" tanya Abra antusias membuat Tari tersenyum.


"Bisa dong pak, ayo bu Zahra bisa berbaring."


Dokter Erna berdiri menyiapkan peralatan, Zahra akan berdiri juga menarik tangannya dari Abra tetapi Abra menggelengkan kepalanya kuat tidak mau melepas genggaman tangannya.


Zahra berdecak sambil melotot, Abra malah memasang wajah memelas, dia masih takut melepas genggama tangannya dari Zahra.


"Boleh sambil pengangan tangan kok Zah" Tari membimbing Zahra mendekati dokter Erna.


Genggaman tangan Abra secara tidak sadar terlepas membantu Zahra naik keatas kasur, tetapi setelah sadar Abra mencari tangan Zahra dan kembali menggenggamnya.


Abra teringat Regan, dia memberikan hpnya pada Tari setelah menghubungi Regan dengan via video call.


"Ada apa Ayah?" tanya Regan disebrang, suara khas bangun tidur.


"Ayah dan Bunda mau nengokin jenis kelamin si kembar" jawab Abra antusias.


Disebrang Regan langsung bangun, turun dari kasurnya bergegas berjalan menuju kamar Aslan menggoyang-goyangkan tubuh Aslan.


"Apa sih Ar, masih malem ini" grutu Aslan kesal.


"Bunda dan Ayah lagi cek up, mau lihat sikembar sekarang jenis kelaminya apa, kalau gak mau ikut liat aku balik kekamar."


"Apaan sih ngancem-ngancem iya ini bangun."


Dokter Erna dan Tari tersenyum mendengar kegaduhan Regan dan Aslan. Begitu pula dengan Abra dan Zahra yang tersenyum bahagia mendengar mereka juga antusias ingin tahu jenis kelamin saudara mereka.


"Wah ... sepertinya kembar pengantin" dokter Erna menberi tahu.

__ADS_1


Senyum di wajah Zahra semakin lebar, air matanya mengalir dari sudut matanya, Abra mencium pelipis Zahra lalu kembali memperhatikan layar monitor.


"Kembar pengantin apa dok?, mereka manten gitu?" tanya Aslan.


Membuat semua yang berada diruangan itu tertawa karenanya.


"Gak mungkin As, kembar pengantin kayak manten ya dok, cowok cewek?" tebak Regan.


"Iya cowok cewek" Dokter Erna membenarkan. "Nah ... ini kepalanya ... yang ini nih yang cowok lihat tuh burungnya kecil kan ...."


"Iya kecil" suara yang keluar dari mulut Abra bernada serak.


"Kalau yang ini cewek nih malu-malu dia eh ... dia gerak-gerak ya lincah ..."


"Panter yang kiri yang sering gerak" Zahra menatap layat monitor gerus dengan air mata mengalir.


"Ya berarti habat dong ... nah si cowok juga ikutan gerak nih gak mau kalah ..."


Suara isak tangis Zahra semakin terdengar, Abra tersenyum baha gia menghapus air matanya yang mengalir.


"Jangan nagis sayang" Abra mengelus pipi Zahra lembut.


"Tadi Saya ketakutan dok" adu Zahra.


"Kenapa malah ketakutan, mereka gak apa-apa kok semua lengkap tangannya nich .... tangannya .... ini kakinya, telinga dan hidungnya juga ada."


Dokter Erma menunjukkan setiap anggota tubuh yang dia sebutkan.


"Sudah belasan tahun gak hamil jadi parno dok, saya takut apa lagi dua gerakannya kadang habis kanan kiri. Saya baru ngerasain gerakan mereka tadi pagi".


"Kalau bayi kembar biasa begitu, satu gerak pasti yang satunya ngikut."


"Bunda Ar nangis!" teriak Aslan.


"Enggak Bun" bantah Regan, "*Udah ah ... yang penting udah lihat Ar ngantuk nanti sekolah."


"Alasan Bun ...."


"Assalamu'alaikum*."


Ini pertama kali dokter Erna menangani pasien sampai ruangannya ramai, bahkan beliau juga ikut tertawa.


Sesekali Tari melirik Abra yang mencium berkali-kali tangan Zahra yang dia genggam. Tidak ada ketigangan seperti tadi, wajah Abra bahkan tidak pucat, bibirnya tersenyum lebar, sesekali mengucapkan syukur, membuat Tari menikikan air mata mengingat Kakek Arya.


"Semoga selalu bahagia seprti sekarang."


Do'a Tari dalam hati, ikut bahagia menyanksikan kebahagiaan Abra dan Zahra saat in.


"Hasil USGnya minta tolong dicetak ya dok, Gea masuk sekolah jadi gak bisa lihat langsung" Ucap Zahra.


Abra mengelus puncak kepala Zahra yang terbalut kerudung. "Terima kasih" bisik Abra mencium kening Zahra.


*-*


.


*Hai ...


Udah pada tahu jenis kelaminya 😙


Mari berdo'a semoga hidup mereka adem ayem 😏


Love You* Readers 😙

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2