One More Chance

One More Chance
Perawan


__ADS_3

Niat hati ingin sekali dekat dan mengobati rindunya pada Zahra, namun dia pada akhirnya harus terjebak dalam hotel yang jauh dari kata menengah ini karena Regan menutup pintu tepat di depan wajahnya.


"Sebentar lagi mangrib, tidak sopan bertamu terutama laki-laki" teringat Perkataan Regan yang mengusirnya tadi.


Dia masih merindukan Aranya, Sangat merindukan Aranya. Seandainya Abra adalah pria egois, dia akan memeluk Zahra mencurahkan segala kerinduannya pada wanita itu.


Namun, dia tau posisinya, Zahra masih belum memaafkannya meski kejadian itu sudah belasan tahun berlalu, bahkan tanpa wanita itu sadari sudah menghukum diri Abra setiap hari selama belasan tahun terakhir.


Selama ini Abra tidak mampu menginjakkan kaki di rumah sakit hingga detik ini, bayangan kala Zahra memergokinya sekaligus hari terakhir mereka bertemu membuatnya seakan phobia dengan rumah sakit. Kepalanya terasa sakit, dadanya akan sesak dan dengan sendirinya segala hal yang terjadi pada waktu itu kembali berputar dibenaknya.


Selama delapan tahun dia mencari Zahra tiada henti, namu beberapa tahun terakhir kesibukan bisnis membuatnya tidak ada waktu untuk menemui orang suruhannya. Namun setiap hari selalu ada hal yang membuatnya mengingat wanita itu.


Abra menghentikan mobilnya jauh dari rumah Zahra, setelah melihat Zahra dan Regan berjalan beriringan dengan mengenakan mukenah. Tangan Regan merangkul pundak Zahra, sesekali mengelus kepala Zahra sayang. Dulu, kebiasaannya selalu seperti itu jika sedang berdua dengan Zahra. Namun, kali ini posisi itu seakan diganti oleh Regan.


Rumah yang mereka masuki sangat sederhana bahkan terlihat tua, dengan halaman yang tidak begitu luas terdapat beberapa meja yang dikelilingi empat kursi. disamping rumah terdapat toko bertulisan Arzah's Bakery .


Abra turun dari mobil berjalan mendekati rumah Zahra. mengamati dari dekat sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kepekarangan rumah.


"Abang Arz... Makan". Teriakan Zahra sayup-sayup terdengar hingga keluar.


Abra memutuskan untuk duduk di kursi membiarkan mereka makan malam dulu.


*-*


Sejak tadi Regan hanya berbicara seperlunya saja pada Zahra, tidak seperti biasanya. Zahra tahu, banyak pertanyaan yang sedang berkecamuk dalam benak Regan, namun dia belum bisa bercerita membuka cerita masa lalu secara gamblang.


Sadar diperhatikan Regan menghela nafas, meminum air yang telah disediakan Zahra dan meletakkan piring kotor di dapur.


Regan berjalan membuka pintu depan rumah menatap Abra yang terpaku melihatnya. Dia melihat Abra dari dalam kamarmya tadi, sekitar setengah jam Abra duduk diam di depan rumahnya.


Kembali Regan menghampiri Bundanya. "sejak tadi dia disana" kata Regan lirih menunjuk keluar rumah. "Arz tidak akan bertanya Apapun, tapi segera selesaikan apapun masalah kalian".


Terlihat sangat dipaksakan, senyum Zahra terukir dibibirnya. "Arz mau temenin Bunda?, ini juga menyangkut Arz. Bunda tidak bisa bercerita secara langsung pada Arz, jadi...".


Tangan Regan yang menggngnggam tangannya memotong kalimat Zahra, tidak mudah mendelaskan segalanya pada dirinya, Regan tau hal itu.


Regan menarik tangan Zahra berjalan keruang tamu yang ternyata Abra sudah duduk tanpa dipersilahkan, mereka duduk di kursi tidak jauh dari Abra.


"Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya abra merasa risih dengan tatapan Regan yang terkesan dingin padanya.


"apa anda benar-benar tidak tau cara bertamu ?" Sindri Regan.


Mata Abra melotot "apa maksud kamu?, bukannya kamu yg tidak tau cara menyambut tamu?. Tadi sore langsung tutup pintu, barusan melihat saya diluar tidak dipersilahkan masuk".


"Karena tidak baik orang seperti Bunda menerima tamu laki-laki" kata Regan enteng membuang muka.

__ADS_1


"kenapa?, saya suaminya kenapa...".


"Kata siapa?" Potong Regan, dengan suara menantang. "Dia suami Bunda?" Regan bertanya tanpa menoleh pada Zahra.


"Bukan".


Regan tersenyum sarkas, padahal sebenarnya dia ingin tertawa mendengar jawaban Zahra dan wajah Abra yang memerah karenanya.


"Ara..." tegur Abra.


Zahra hanya meliriknya sekilas tidak minat menatap Abra.


"lalu ada keperluan apa lagi anda kemari?, kalau hanya memperjelas status anda, Bunda tidak mengakui anda sebagai suaminya, jadianda bisa pulang".


"Ara" keluh Abra tidak terima dengan perkataan Regan barusan.


"kalau tidak ada....".


"DIA SIAPA SIH!" Bentak Abra kesal menunjuk Regan.


Zahra berdiri menepis tangan Abra kesal "jangan menunjuk" bentaknya tak terima.


"ini masalah kita, dia hanya orang luar dan mengganggu...".


"Saya bukan orang luar saya anak Bunda" potong Regan dengan suara tegas.


"anak kandung!".


"anak kandung dari mana, dia menikah dengan saya belum mempunya anak".


"memang belum, tapi saya memang anak kandung Bunda".


Abra menatap Zahra yang hanya terdiam memperhatikan perdebatan mereka "Ara, beneran dia anak kandung kamu?".


"Ya".


Meski singkat namun jawaban Zahra berhasil membungkam Abra. Otak Abra seakan berputar lima kali lebih cepat, sesekali dia menatap Zahra dan Regan bergantian.


"Ara jangan membohongiku, kalian jangan me...".


"kenapa anda begitu sulit menerima kenyataan?" tatapan Regan semakin dingin dari pertama kali.


Zahra menggenggam sebelah tangan Regan dengan kedua tangannya "dia anakku, benar-benar anak kandung, benar-benar darah dagingku dan aku yang melahirkannya".


"ini tidak masuk akal Ara" seru Abra.

__ADS_1


Zahra beralih menatap Abra yang duduk tidak jauh darinya, menatap lekat wajah Abra "dia benar-benar anakku" ulangnya dengan tegas.


"apa anda butuh akta kelahiran saya?".


Perkataan Regan mendapat tatapan tajam dari Abra "lebih baik kamu diam".


"kenapa harus diam demi kebenaran?".


Abra menghela nafas. "ka...karena ini tidak masuk akal..." Abra tergagap bingung.


Dadanya sesak karena memikirkan segala hal dugaan dalam otaknya. Bahkan dia tidak mampu menatap balik Zahra meski hatinya masih merindukan wajah itu.


"apa yang tidak masuk akal?".


Kali ini Abra menguatkan hatinya menatap Zahra sebelum menjawab pertanyaan Regan. Dia masih ingat betul, dan benar-benar ingat apa yang terjadi diantara mereka beberapa belas tahun lalu. Jadi tidak mingkin Zahra sudah memiliki anak seremaja Regan yang telah duduk dikelas akhir Sekolah Menengah Atas.


Tangannya terulur hendak menyentuh Zahra namun Regan menarik Zahra dalam pelukannya membuat Abra berang "Tidak bisakah kamu tidak ikut campur masalah kami?".


"tidak bisa".


"ini masalah kami".


"masalah Bunda masalahku juga".


"kamu bukan siapa-siapa, kamu hanya anak yang tidak jelas".


Tangan Regan mengepal, Zahra mengelus lengan Regan agar kembali tenang "saya anak kandung Bunda!" desisnya penuh penekanan.


"Tapi saat menikah denganku dia masih perawan, jadi tidak mungkin dia memiliki anak sebelumnya!!!" Abra berteriak berang.


Zahra terbelalak karena mendengar perkataan Abra.


"Ya, bagaimana bisa dia mengaku anak kandungmu, kamu masih perawan saat itu . dia sudah...".


"ABRA!" seru Zahra menghentikan kalimat Abra selanjutnya.


"aku masih ingat Ara" Abra menunjuk pelipisnya "aku ingat waktu itu kamu masih perawan aku yang...".


"ABRAAAAA!!!".


*-*


.


.

__ADS_1


.


Unique_Muaaa


__ADS_2