
Hp Regan berbunyi lagi, Regan menatap tajam layar hpnya. Sudah berkali-kali Asland menelfonnya padahal hampir satu tahun mereka jarang berkomunikasi hanya sekedar tegur sapa disosial media.
"kenapa gak kamu angkat?" bisik Mila yang ternyata sudah berdiri disampingnya. "kalau enggak matikan hpmu, udah tau situasi gini hapmu bunyi terus".
Regan menatap kesegala arah, situasi yang di katakan Mila sekarang ini, kehening rumahnya yang biasanya selalu ramai dengan kedatangan ketiga temannya hening seketika, hanya karena kedatangan tamu yang tak di undang.
Setiap selesai sholat isya' di masjid seminggu sebelum ujian, ketiga temannya akan langsung ikut pulang kerumahnya untuk makan malam lalu belajar bersama sampai jam setengah sembilan dengan pengawasan ketat Zahra.
Gara-gara ada tamu tidak diundang dan rumah Regan sempit jadi mereka akan makan bersama dihalaman rumah.
*-*
Dihalaman depan rumah.
"hanya mau diam terus?" tanya Abra dengan nada dingin dan tatapan tajam mengintimidasi.
Sejak tadi Yesi dan Gea hanya diam membisu tidak mau menjawab dan mengatakan apapun.
Abra dan Sam duduk tepat didepan kedua anak mereka. Yesi menunduk dalam tidak berani menatap mata Abra maupin Sam, Ayahnya. Sedangkan Gea duduk tegap tetapi tatapan matanya mematap kosong kebotol minuman didepannya, bukan tidak berani menatap Abra dia hanya menghindar jika dia menatap Abra, dia yakin akan kembali menangis.
"Gea" panggil Abra.
Gea tetap diam bungkam, tangannya mengepal. suara Abra yang semakin lembut membuat perasaan bersalah pada Regan semakin membesar.
"besok kamu dan Yesi pulang bersama om Sam" putus Abra tegas.
"Enggak".
"Gea harus sekolah".
Gea menggelengkan kepala.
"sebentar lagi ujian kelulusan".
"Gea gak mau pulang".
"Gea!!!".
"Enggak".
Sam penepuk pundak Abra. "jangan menambah beban pikiran Daddymu, tolong mengarti dan ikut om pulang besok" bujuk Sam.
Mata Gea berkaca-kaca. "aku memang beban buat Daddy dari dulu". Kata Gea dengan suara serak.
"kalau Gea gak mau, aku juga enggak" Yesi menatap Gea sedih.
"Yes juga ngapain ikut-ikutan Gea?" Sam menatap putrinya tajam.
Yesi menundukkan kepala. "kasihan Gea kalau sendirian Pa".
"kamu sebagai teman...".
"kenapa Gea bisa berfikir Gea beban Daddy?" perkataan Abra menghentikan Sam yang ingin mengomeli putrinya. "apa Daddy pernah bilang Gea beban Daddy?, gak pernah kan!. Om Sam bilang jangan menambah beban pikiran Daddy, karena Daddy benar-benar banyak masalah yang harus diatasi sayang. Tolong ka...".
"makanya Gea gak mau pulang" suara Gea serak, air matanya menetes perlahan. "Gea mau bantu Daddy nyelesain masalah Daddy juga".
Abra menghela nafas, dia benar-benar lelah. "ini urusan orang dewasa, Gea lebih baik pikirin ujian Gea sendiri, ini...".
__ADS_1
"Daddy..." rajuknya dengan berlinangan air mata.
Abra meraup mukanya, melihat Gea nangis membuat kepalanya semakin munet.
Sebenarnya saat Gea mengatakan dia beban Abra sejak dulu, Zahra sudah berada di ambang pintu, entah kenapa kakinya tiba-tiba berhenti melangkah malah mendengarkan pembicaraan mereka.
Zahra menghela nafas, dia bingung mau bersikap seperti pada Gea, Gea waktunitu masih dalam kandungan, dia tidak bersalah atas apa yang terjadi. Maka dari itu dia selalu menghindar sejak Gea dan Yesi datang.
"bisa tolong jejerkan tiga mejanya jadi satu deret?" Zahra akhirnya keluar membawa dua piring lauk di tangannya.
Sam dan Abra berdiri melakukan apa yang di pinta Zahra. Sedangkan Gea dan Yesi berdiri menatap Zahra.
Zahra tersenyum pada mereka berdua. " bisa bantu Regan dan lainnya didalam?, masih ada beberapa yang harus di bawa keluar".
Gea mengangguk dan masuk kedalam rumah di ikuti Yesi yang mengekor seperti biasa.
"meja makan kami gak cukup untuk semua, jadi kita harus makan di luar seperti ini. Kalau kalian keberatan bisa pergi sekalian bawa anak kalian" Zahra mengatakannya sambil membawa mensejejerkan kursi melingkari meja.
"gak papa" Abra mengambil alih kursi yang dipegang Zahra dan membawanya.
"makanan kami juga sedanya".
"gak masalah".
"sederhana kami kan gak layak untuk kalian".
Brak...
Abra meletakkan kursi di dekat Sam sedikit membantingnya hingga menimbulkan suara. Reflek Zahra berjalan cepat dan memukul punggung Abra.
Buk...
"ya... ya maaf...aku reflek tadi" Abra gelagapan karenanya.
"reflek?, kalau tersinggung sama aku, mau marah ya marah luapin pakai mulut" seakan tak bisa direm Zahra terus mengomel.
"aku lagi mumet kamu nyindir, aku gak sadar ngebating kursi".
"kapan emang aku nyindir?, kan emang fakta. kamu sendirikan yang bilang tadi".
"ok aku minta maaf".
"maaf maaf... dari dulu kebiasaan, udah dibilangin kalau mau marah jangan main lempar barang, ngerusak barang tau. memangnya itu kursi punya salah sama kamu?, beli kursi itu pakai uang. Cari uang tuh sulit gak enak metik atau gesek doang. Emangnya kamu kerja cuma duduk otak sama jari aja yang kerja, beli kursi itu buah aku tuh udah mahal, aku tuh ker...".
Napas Zahra seakan tercekat melihat Gea yang berdiri merangkul lengan Abra setelah meletakkan piring diatas meja.
Merasa di perhatikan Zahra berniat membuang muka namun tatapannya bertemu dengan Regan. Regan mengangkat bahu sebentar dan kembali berjalan membawa sebak penuh nasi.
"Ayo makan..." seru Gana dengan membawa dua piring lauk di kedua tangannya.
Zahra merasa diselamatkan oleh teriakan Gana tersenyum dan memilih duduk di kursi yang dekat dengannya.
"Maaf" Regan menarik kursi disebelah kanan Zahra sebelum Abra duduk.
Mata Regan memberi isyarat pada Ketiga temannya dan dengan cekatan mereka langsung mengerti. Mila duduk di sisi kiri Zahra sedangkan Gana dan Rio duduk didepan Zahra dan Mila, tidak memberi kesempatan Abra dekat dengan Zahra.
"bagi tamu silahkan duduk" seru Gana sembari menyentong nasi.
__ADS_1
Tiba-tiba motor berhenti didepan rumah Zahra menarik semua perhatian mereka.
Seseorang berjaket turun dari motor, memberi helm dan uang pada si pengendara. Regan menghela nafas melihat postur tubuh yang dia kenal meski hanya di belakang.
Dia balik badan tercengang sebentar lalu melambaikan tangan. "halo semua Aslan datang..." serunya dengan nada gembira.
"satu tamu tidak diundang datang lagi" guma Regan.
Zahra memelototi Regan.
Abra yang masih didekatnya juga mendengar gumahan Regan hanya diam.
"wah... ada acara apa nih?" tanya Aslan sambil berjalan menghampiri Zahra untuk salaman, tidak lebih tepatnya mencium punggung tangan Zahra. "Assalamu'alaikum Bunda...".
"wa'alaikumsalam..." yang menjawab salamnya dengan kompak Regan dan ketiga temannya.
Aslan terkekeh tidak menghiraukan tatapan dongkol Regan dan temannya, tangannya merangkul pundak Zahra. "sepertinya kita sehati, tahu aja As mau main kesini sampek siapin pesta makan diluar segala".
"gak sehati" Regan menepis rangkulan tangan Aslan. "kita memang sering makan bareng, karena ada tamu gak di undang, kursi didalem gak cukup jadi makan diluar. jangan peluk-peluk Bunda!".
Regan kembali menepis tangan Aslan, Aslan malah memeluk Zahra dari samping tertawa kecil.
Abra menatap Aslan tajam, dia tidak tau siapa pria yang tiba-tiba datang, menciun tangan, merangkul dan memeluk Zahra seenaknya.
Merasa di perhatikan Aslan menatap Abra sejenak lalu menatap Regan, mereka saling tatap sejenak. "mereka siapa?".tanya Aslan menunjuk dengan dagu.
"tamu tak di undang".jawab Regan malas.
"oh... ya udah silah duduk mari makan" Aslan duduk dikiri Zahra menggantikan Mila.
"kamu gak sadar diri ya?" tanya Mila jengkel.
"maksudnya?" Aslan tersenyum melihat Zahra menyentong nasi dan mengisi piring Regan lebih dulu.
"kamu juga tamu tak di undang malah mempersilahkan".
"beda dong".
"apanya yang beda?" kali ini Gana yang ikut menyemprot Aslan.
Aslan tersenyum sambil memperhatikan Zahra, kali ini Zahra sedang mengambil piringnya. "aku memang tamu tak di undang, tapi aku tamu special mereka enggak, ya gak Arz?".
"hemz..." Regan hanya mengguma malas meladeni Aslan.
Tatapan Abra mulai memerah menatap Aslan tidak suka, Zahra sangat perhatian padanya, dari mengambil nasi dan lauk, Zahra seakan melayaninya dengan senang hati.
"Assalamu'alaikum...".
Gana menghela nafas. "ada tamu tak diundang lagi...".
*-*
.
.
.
__ADS_1
Unique_Muaaa