One More Chance

One More Chance
Pelampiasan Abra


__ADS_3

Brak ...


Suara benda jatuh dari lantai bawah terdengar hingga lantai atas.


Regan, Aslan, Javir dan Alaric saling pandang tetapi tidak ada yang mengatakan satu katapun.


"Nya nyanya ..." Bilqis kembali berceloteh tidak jelas.


"Kamu cerewet ya?" tanya Aslan menolel-noel pipi Bilqis.


Sore ini mereka diberi tugas menjaga si kembar karena semua sedang sibuk menyiapkan segala hal sebelum mereka pulang nanti malam.


"JIKA BENCI AKU BILANG!"


Terdengar suara teriakan Abra yang cukup nyarinh membuat mereka kembali terdiam. Regan hendak turun dari kasur tetapi Aslan menarik lengannya.


"Ayah tidak akan menyakiti Bunda"


Brak ...


Suara benda berjatuhan kembali terdengar, Regan menepis tangan Aslan dan berjalan dengan cepak keluar kamar.


Langkah Regan terburu-buru menuruni tangga, didalam otak Regan hanya satu Zahra.


Saat sampai dilantai satu Sam, Malvin, Enzo, Vira dan Hanna sudah berada di ruang tamu, tidak ada yang duduk disofa, tas belajaan masih mereka pengang, sepertinya mereka baru sampai dari berbelanja.


Regan hendak berjalan menuju kamar Zahra tetapi Enzo menghadangnya. Regan mencoba melewatinya, Enzo mengikuti setiap langkah Regan, membuat Regan kesal menatap Enzo dengan nyalang.


"Urusan orang tua jangan ikut campur" ucap Enzo tenang dengan suara baritonnya.


"Ayah membentak Bunda, bahkan terde ..."


"Abra melempar barang-barang hanya sebagai pelampiasan" potong Enzo, "bukan membentak tapi berteriak. Dia tidak akan menyakiti Bundamu jadi duduk lah."


Regan tertegun, kata-kata terakhir Enzo seperti yang dikatakan Aslan barusan.


Gea dan Fani membuka pintu kamar sedikit, lalu melangkah keluar setelah melihat semua orang berkumpul di ruang tamu.


Javir, Alaric dan Aslan menghampiri Regan. Javir yang sedang menggendong Bulqis menyerahkannya pada Regan, sedangkan Chaka digendong Aslan.


Pyar ...


Kembali Regan akan melangkahkan kaki, kali ini Malvin yang menyentuh lengannya menahan Regan.


Pintu kamar Abra dan Zahra terbuka.


Abra keluar, berdiri menatap semua orang yang berada diruang tamu. Tatapannya terpaku pada Regan yang sedang menggendong Bilqis, lalu pada Aslan yang menggendong Chaka dan terkekeh kecil sebentar seakan mentertawakan dieinya sendiri.


Kening Abra yang penuh darah membuat Regan menyerahkan Bilqis pada Malvin dan berlari masuk kedalam kamar melewati Abra.


Tawa Abra semakin menggema, berjalan menuju tempat kunci yang tergantung di paku dekat pintu. Tangannya mengambang diudara saat akan mengambil kunci, Abra menatap darah yang terus menetes dari tangannya.


"Ayah" panggil Gea.


Abra masih terdiam.


Malvin menarik tangan Abra pelan, "tangan lo keluar darah."


Enzo melepaskan syalnya, mengelap darah dilengan Abra tetapi darahnya terus saja mengalir.


Semua mulai menghampiri Abra, entah mereka mengatakan apa Abra tidak memperdulikannya, dia hanya diam menatap kosong pada punggung tangannya yang terus mengeluarkan darah.


Langkah kaki dan suara nafas tak beraturan menarik perhatian Abra.

__ADS_1


Regan berlari keluar kamar, menghampiri Abra melangkah dengan cepat, hendak memegang tangan Abra tapi Abra menarik tangannya.


Kembali Regan akan meraihnya, Abra malah mengambil kunci mobil dengan tangan yang lainnya.


Sam merampas kunci mobil dari tangan Abra dan membuangnya kesembarang arah.


Regan meraih lengan tangan Abra yang terluka, Abra hendak menarik tangannya lagi. "DIAMLAH" teriak Regan dengan mata memerah mulai berkaca-kaca menatap Abra nyakang.


Abram terdiam, mata mereka saling tatap hingga Regan yang pertama kali menunduk memperhatikan tangan Abra.


Bilqis dan Chaka menagis mendengar teriakan Regan, Fani mengambil Bilqis dari gendongan Malvin membawanya kekamar, diikuti Hanna yang juga mengambil Chaka yang menangis dari gendongan Javir karena Aslan menghampiri Zahra didalam kamar.


"Ambil kotak P3K" ucap Regan.


"Tidak perlu" tolak Abra.


Regan kembali mengangkat wajahnya menatap mata Abra langsung.


"Bundamu yang menyuruhmu?" tanya Abra dengan datar, "aku tidak butuh."


Abra kembali menarik tangannya dan hendak melangkah pergi.


"Ayah" Regan kali ini menggenggam lengan Abra dengan kedua tangannya, "darah Ayah harus dihentikan."


Abra menatap tangannya yang terluka, dia terdiam cukup lama hingga akhirnya tersenyum menatap Regan, "berapa banyak darah yang harus keluar agar mati?."


"Ayah"


"Abra!"


Semua yang mendengar pertanyaan Abra berteriak marah, sedangkan Regan hanya diam tak mengatakan apapun.


Alaric menghampiri Regan dan menodorkan kotak P3K yang dia bawa.


Semua mata tertuju pada Regan, menatapnya tak percaya dengan apa yang barusan Regan katakan. Bahkan Abra juga menatap Regan dalam.


*-*


Setelah tangan Abra diobati, Regan menarik lengan Abra kekamarnya.


Semua yang masih berada diruang tamu menghela nafas, hanya Gea yang tiba-tiba menangis. Vira menghampirinya dam memeluk Gea, mengelus punggung Gea menenangkan gadis itu.


"Jika Adam marah selalu menyakiti diri sendiri" Enzo duduk di sofa menyandarkan punggungnya dengan lemas, "tetep aja gak berubuah."


"Tapi beberapa tahun ini dia gak pernah kehilangan kontrol" ucap Sam.


"Jika sudah menyangkut Zahra dia pasti menggila, kalian juga begitu" sahut Malvin.


Enzo melempar bantal sofa pada Malvin, "jangan mengungkit masa lalu."


"Hanna melotot pasti ingat waktu kamu menguncinya dikamar, setelah dia tahu kamu anak ..."


Enzo kali ini melempar bantal sofa pada Sam, matanya melirik pada Vira dan Gea yang tidak tahu apa-apa.


"Lebih baik aku yang mengunci Hanna dikamar mencegah dia pergi, dari pada membolehkannya pergi sakit lahir batin."


"Cie ..." Sam memukul lengan Enzo dengan bantal sofa yang dipegangnya, "kata-kata lo lebay."


*-*


Zahra masih menangis, Aslan duduk di samping Zahra menemaninya, tidak mengatakan apapun hanya diam memperhatikan Zahra.


Tatapan Zahra kembali tertuju pada kaca kamar yang pecah, masih ada darah Abra disana. Tangan Zahra meremas bajunya erat hingga tangannya memutih, dia tidak membenci Abra, tetapi Zahra hanya masih butuh waktu untuk menerima semua masa lalu Abra yang membuatnya takut, sedangkan Abra terus saja mengajaknya berbicara seakan tidak terjadi apa-apa membuat Zahra semakin kesal.

__ADS_1


"Apa tangan Ayah sudah di obati?" tanya Zahra dengan suara serak dan kepala menunduk.


"Entahlah, semoga saja Ar bisa membujuk Ayah" jawab Aslan pelan.


Air mata Zahra kembali menetes, "pasti tangannya sakit."


"Ya" Aslan membenarkan, "Ayah lebih memilih melampiaskan kekecewaannya pada Bunda dengan menyakiti diri sendiri."


Kepala Zahra terangkat mentap Aslan, "kecewa?, Ayah kecewa pada Bunda?, seharusnya Bunda yang yang kecewa pada Ayah."


"Bunda kecewa karena apa?, karena Ayah tidak jujur tentang kedekatannya dengan mafia?" Aslan bertanya dengan nada kesal tidak seperti biasa yang selalu lemah lebut pada Zahra. "Semua demi keselamatan Bunda, demi mempertahankan Bunda disampingnya. Lebih kecewa mana dengan Ayah yang mendengar sendiri Bunda berencana membawa anak-anak pergi jauh dari Ayah?."


Mata Zahra menatap Aslan dengan tak percaya.


Tadi Aslan mengikuti Abra yang berjalan-jalan sekitar rumah setelah mengumpulkan semua dikamar Regan. Aslan terus memancing Abra untuk bercerita apa masalah Abra, hingga akhirnya Abra terbuka meski tidak sepenuhnya.


"Bunda tidak pernah bilang akan membawa anak-anak Bunda pergi meninggalkan Ayah" ucap Zahra setelah mencoba-mengingat ingat.


"Tapi Ayah bilang Ayah mendengarnya sendiri saat Bunda mengatakan akan mengajak kami pergi "


Zahra terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat kembali, "Bunda hanya pernah mengatakan ingin mengajak kalian pergi saat Bunda malam-malam kekamar kalian, tapi maksud Bunda pergi dari negara ini."


Aslan kali ini tertawa ngakak mendengarnya, Abra ternyata salah paham dan Zahra mendiamkannya karena kesal sehingga terjadilah pelampiasan amarah Abra yang sembarangan pada kaca yang tak bersalah.


"Bunda sudah beberapa hari mendiamkan Ayah, menghindari Ayah apa Bunda sadar?" tanya Aslan setelahbtawanya reda. "Ayah juga beberapa hari ini kurang tidur karena ketakutan Bunda tiba-tiba menghilang dengan anak-anak, apa Bunda tidak melihat kantong mata Ayah yang menghitam?. Tadi Ar juga berbicara dengan nada menyinggung, jadi As tidak terkejut saat Ayah keluar dengan wajah dan tangan berdarah karena Ayah mungkin sudah tidak bisa memendam semuanya, dan memilih melampiaskan semau dengan menyakiti dirinya."


Zahra terdiam mentapa Aslan.


Tangan Aslan meraih tangan Zahra dan menggenggamnya erat, "saat Bunda mengatakan kembali pada Ayah demi anak, apa-apa demi anak dan mengutamakan anak-anak, Ayah merasa dia tidak berharga untuk Bunda. Bisa dibayangkan bukan bagaimana ketakutannya Ayah saat mendengar Bunda berniat pergi pada hal dia sudah mengatakan tidak bisa kehilangan Bunda lagi?, ya ... meski sebenarnya Ayah hanya salah paham."


Zahra menangis kembali menyesal telah mendiamkan Abra sehingga kesalah pahaman mereka menjadi seperti sekarang, Aslan berdiri didepan Zahra dan membiarkan Zahra memeluknya hingga bajunya basah.


Aslan bukan anak mereka, tetapi mereka sudah begitu baik mau menerima Aslan, menguliahkan Aslan meski bukan jurusan yang Aslan minati, meski begitu Abra juga memberikannya kesempatan belajar fotografi pada ahlinya secara langsung, membuat Aslan bersyukur diterima dan diakui oleh keluarga mereka.


"Bunda hanya butuh waktu untuk menerima semua masa lalu Ayah, sedangkan Ayah terus saja mengajak Bunda berbicara seakan tidak terjadi apa-apa membuat Bunda semakin kesal" ucap Zahra sambil segugukan.


Aslan kembali tertawa mendengarnya, "saat Bunda hanya hidup berdua bersama Regan dan saat Bunda bersama Ayah, sangat jauh berbeda."


Zahra melepas pelukannya, Aslan kembali duduk disamping Zahra, menggenggam tangan Zahra.


"Dulu Bunda tegas, tegar, kuat, gak gampang ngambekan, gak manja, dewasa ..."


"Udah" potong Zahra.


Aslan kembali tertawa, "Bunda sadar gak sih sekarang Bunda berbanding terbalik dengan dulu?."


Kepala Zahra mengangguk pelan, "ya" jawabnya lirih.


Aslan tersenyum, "why?."


Kepala Zahra menggeleng, dia juga tidak tahu kenapa dia manja dan tidak dewasa seperti yang dikatakan Aslan.


"Jika As bertanya sejak kapan?"


Zahra menatap Asalan dalam, kembali menggelengkan kepala.


Aslan tersenyum segaris, "beberapa wanita bersikap seperti itu jika bersama dengan orang yang dia cintai. Gampang ngambekan, gampang nangis, bersikap seakan dia tidak dewasa hanya karena meminta perhatian dari orang yang dia cintai" ucap Abra sebelum melanjutkan dalam hatinya dan Zia juga seperti itu.


Tidak semua wanita, tetapi beberapa diantaranya, dan dua wanita yang Aslan sayang seperti itu.


"As dan Ar merasakan perubahan Bunda, kami yakin Bunda cinta sama Ayah begitu juga sebaliknya" genggaman tangan Aslan mengerat. "Cinta harus dilandasi dengan kepercayaan Bun, jadi percayalah Bun, Ayah sayang pada Bunda dan anak-anak. Ayah tidak akan membiarkan anak-anaknya disakiti, percayalah dan pasrah pada Ayah."


*-*

__ADS_1


Lop you😙 Unik Muaaa


__ADS_2