
Abra berdiri didepan ruang NICU menatap anak kembarnya dan Zahra dari balik kaca pembatas. Setelah Zahra melhirkan dua Suster mendekatkan kedua anak kembarnya pada Abra untuk di adzani, Abra sempat gugup karena ukuran mereka lebih kecil dari saat pertama kali Abra menggendong Gea dulu. Berat bayi laki-lakinya dua kilo tujuh ons, sedangkan bayi perempuannya dua kilo empat ons.
Dia bisa menemani Zahra melahirkan hingga selesai membuatnya bahagia, meski dia tidak meperhatikan bagimana dokter erna membantu proses persalinan Zahra karena selain Abra merinding, dia juga lebih fokus pada Zahra yang terlihat kesakitan dan berkeringat.
Bahkan kehadiran mereka membuatnya tidak takut lagi berjalan sendiri dirumah sakit, tadi dari ruang inap Zahra dia berjalan ne NICU sendiri penuh dengan perasaan bahagia ingin melihat kedua bayinya.
"Wah ... Ayah beneran nangis."
Mendengar suara Regan, Abra langsung menoleh kesumber suara, ternyara Tari sudah berdiri disampingnya dengan mengangkat hpnya tepat di depan mukanya.
"Ini baru jelas nangisnya" Aslan mengicapkannya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Tadi adzan sambil nangis" kembali Regan mengolok-oloknya.
Abra dengan cepat mengapus air matanya yang tidak dia sadari sudah menetes dipipinya, Aslan dan Regan yang melihatnya berseru heboh penuh kebahagiaan.
Sebenarnya Regan sempat nangis karena khawatir melihat Zahra kesakitan saat akan melahirkan, dia tidak bisa berada disamping Zahra, bahkan sempat mendiami Zahra beberapa saat karena kesal Zahra tidak boleh menghubungi Abra karena Abra sedang rapat penting. Tetapi saat melihat dua adik kembarnya lahir Regan juga menangis bahagia seperti Abra, tetapi Abra tidak tahu.
"Tadi waktu akan dibawa keruang bersalin Zahra video call dengan Regan, diruang persalinan Tante juga melakukan video call dengan Regn dari jauh" Tari menodorkan hp Zahra pada Abra.
"Terima kasih" ucap Abra dengan tulus.
Hp Zahra sudah berada ditangan Abra, Abra merubah pengaturan kamera memakai kamera belakang memperlihatkan dua adik kembar Regan.
"Mereka masih disana, sebentar lagi mau dibawa keruangan Bunda untuk minum ASI" ucap Abra penuh dengan kebahagiaan.
Terdengar keluhan Regan dan Aslan disebrang.
"Mereka masih kecil ya Yah?, Ar tidak mau menggendongnya" Regan mengucapkannya dengan kening mengerut membayangkan sekecil apa adiknya.
Aslan menyenggol lengan Regan, "meskipun kamu mau, si twin mau kamu paketin kesini?."
Regan tertawa kecil tetap memperhatikan layar hpnya menatap dua adik kembarnya, melihatnya Abra tersenyum bahagia, meski pada awalnya Regan protes saat Zahra hamil, melihat mata Regan yang berbinar membuatnya bahagia.
Tari yang masih berdiri disampong Abra tersenyum ikut bahagia melihat Abra akhirnya bisa kembali tersenyum tanpa beban seperti hari ini.
Dua orang suster menghampiri inkubator kedua anak Abra, mereka akan dibawa keruangan Zahra untuk minum Asi.
"Nanti lagi ya, si kembar mau minum Asi"
"Tu ..."
Protes Regan dan Aslan tidak dapat Abra dengan karena Abra sudah memutuskan komunikasi dan berjalan dengan cepat mengikuti dua orang suster didepannya.
*-*
Kebanyakan karyawan kantor akan pulang jam lima sore jika tidak ada rapat atau harus lembur karena pekerjaan belum selesai.
Prabu yang hanya asisten manager marketing pulang jam lima sore tetapi harus kembali kekantor jam sembilan malam dengan terburu-buru setelah menerima panggilan dari atasnnya untuk segera kekantor secepatnya membuatnya lupa berganti baju.
Saat ini penampilan Prabu menjadi pusat perhatian Sam, Malvin dan Sari. Penalpilan Prabu malam ini tidak mencerminkan seorang asisten manager yang merka kagumi.
Bomber, celana jeans dan sneakers dengan rambut yang tidak disisir rapi seperti biasanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Sari tidak mengalihkan tatapan matanya dari Prabu.
"Tadi mau keparty Bu" jawab Prabu dengan nada tegas menutupi dirinya sedang malu kali ini.
"Jadi saya ganggu kamu?" tanya Sam.
Prabu tersenyum segaris, "tidak pak sebenarnya malas pergi tapi tidak punya alasan untuk menolak."
Malvin berdiri membawa sebuah mab ditangannya, dia berjalan menghampiri Prabu dan menyodorkan map itu. "Sepertinya saya tidak usah menjelaskan lebih ditail lagi, karena pak Abra pasti sudah menjelaskan padamu."
Prabu mengambil map ditangan Malvin dan membukannya, "ini untuk apa pak?."
"Isi pidato yang akan kamu sampaikan, orang-orang yang harus kamu kenali dan kontrak persetujuan kesanggupan yang harus kamu tanda tangani."
"Baik Pak."
Malvin kembali duduk di sofa, "saya mau kamu mentanda tanganinya sebelum masuk kantor besok. Karena lusa kamu ada acara penanda tanganan akuisisi yang akan diliput oleh media, akhir pekan ada pesta pengangkatan semua telah kami atur."
"Tapi jangan pergi ke pesta pengangkatan dengan style mu sekarang ini" Sam menunjuk Prabu dari atas sampai bawah.
"Jum'at kamu ikut saya make over" ucap Sari, "saya jadi ragu kamu pernah menjadi manager diluar negri."
__ADS_1
Prabu menunduk malu, dia benar-benar tidak sadar dengan penampilannya malam ini.
"Ya sudah kamu boleh pulang, jangan ke party lebih baik bersiap-siap untuk pestamu sendiri."
"Baik Pak" ucap Prabu sambil mengulum senyum mendengar sindiran Malvin.
Selepas Prabu pergi mereka bertiga langsung bersikap santai tidak seformal marusan. Sari duduk menyandarkan punggungnya disofa menatap kosong kedepan.
"Apa yang dirasakan Vira sekarang?" tanya Sari lirih.
Malvin dan Sam menoleh pada Sari secara bersamaan tetapi tidak menaggapinya, bagaimanapun mereka pernah bersama, mereka tahu bagaimana kehidupan Vira yang selalu terpenuhi kebutuhannya meski perusahan Vira tidak sebesar perusahaan Abra dan milik Keluarga Malvin.
*-*
"Ah ... gara-gara macet lama bener, Ayah juga bisa-bisanya lupa ngasih tahu Bunda mau melahirkan, kenapa tahunya dari Tante Tari" Gea mengomel sepanjang koridor rumah sakit menuju kamar inap Zahra.
Tadi dijalan menuju rumah sakit ada kecelakaan jadi jalan raya macet membuat mood Gea berubah seratus delaoan puluh derajat, yang tadinya bahagia dan senang berubah seketika, mengomel tidak jelas bahkan Nanda dan Tofa ikut kena imbasnya.
Dret ....
Hp Gea berbunyi, tanpa menghentikan langkahnya Gea mengeluarkan honya dari saku, melihat nama Regan dilayar hpnya mood Gea kembali ceria.
Gea mengangkat panggilan masuk dari Regan "Hai brother" seru Gea riang.
Beberapa orang yang berada dikoridor rumah sakit melirik kearah Gea yang sedang dikawal Nanda dan Tofa.
"Masih kejebak macet?" tanya Regan.
Kepala Gea menggeleng cepat, "enggak udah dirumah sakit."
"Cepetan kekamar inap Bunda, si kembar dibawa kesanah" Regan mengucapkannya dengan nada memerintah. "Ayah matiin hpnya, nelfon hp Bunda gak di angkat."
Gea tertawa kecil, "Ok ... nanti bentar lagi aku telfon baik."
Setalah panggilan terputus bertepatan dengan pintu lift terbuka, Gea berlari dengan cepat keruangan Zahra tanpa perduli jika dia sedang dirumah sakit.
Langkah Gea mulai memelan kala pintu kamar inap Zahra didepannya perlahan Gea membukanya, dua bayi kecil berada dikanan dan kiri Zahra, dengan Abra berdiri disamping kasur Zahra, sedangkan Tari mengambil foto mereka berempat. Senyum Abra begitu lebar membuat Gea itut tersenyum menyaksikan kebahagiaan Ayahnya.
"Hai sayang" sapa Zahra.
Gea tersenyum melangkah mendekati Zahra, menatap penuh takjub dua bayi kecil disamping Zahra.
Zahra tertawa kecil, "boleh ini yang perempuan sayang."
Mata Gea berbinar, dia menelus-elus pipi bayi perempuan Zahra penuh antusias. Gea gemas bukannya ingin mengelus-elus dan menoel-noel saja, tapi adik bayinya masih kecil pipinya gak bisa dicubit-cubit.
"Ayo foto sama-sama" Tari sudah siap dengan kameranya.
Gea menoleh berfikir sejenak lalu menggelengkan kepala cepat, "jangan Ayah sama Bunda saja, nati kalau Gea ikut Regan ngambek."
Teri tersenyum kembali menurunkan kameranya.
Ingat dengan janjinya pada Regan, Gea mengeluarkan honya dan mulai melakukan video call dengan Regan.
"Lama banget sih" omel Regan disebrang.
"Ih ... gak tau terima kasih, untung aku inget mau nelfon" Gea balik mengomeli Regan. "Mereka imut-imut gemes, kulitnya lembut ... banget aku ingin ..."
"Udah jangan cerewet" potong Regan, "arahin kameranya sama mereka."
"Kita mau video callan bukan mau liat wajah kamu" Aslan ikut-ikutan tidak sabar menilhat wajah si kembar.
Wajah Gea langsung cemberut mengarahkan kameranya pada si kecil yang didekatnya yang masih memejamkan mata.
"Wah ... mereka masih merah" seru Regan.
"Pipinya tembem" mata Aslan membulat menatap takjub,"ini cewek apa cowok?."
"Menurutmu?"
"Sepertinya cowok"
"Gak mungkin ini cewek lihat bulu matanya panjang" Regan menunjuk-nunjuk.
"Memangnya bulu mata bayi udah kelihatan panjang pendeknya?."
__ADS_1
"Yang teliti dong."
Zahra dan yang lainnya tertawa mendengar celotehan Regan dan Aslan.
Tangan kanan Zahra terangkan hendak mengambil hp Gea, dengan penuh pengertian Ibu Zahra mengambil bayi laki-laki disamping kanan Zahra dan mengendongnya.
"Hai sayang" sapa Zahra dengan senyum penuh kebahagiaannya.
"Hai Bunda" bals Regan.
"Hai sayang" balas Aslan.
"As!" Abra langsung menegurnya.
Regan dan Aslan langsung tertawa ngakak bertos ria membuat Zahra ikut tertawa.
Tawa Regan terhenti kala melihat kelopak mata bayi disamping Zahra bergerak-gerak dan mengeluarkan lidahnya.
"Bagun ... dia bangun Bunda" seru Regan heboh.
Abra mengambil hp Gea dari tangan Zahra memberikan Zahra waktu untuk menimang si kecil. "Suara kalian mengganggu membuat dia bangun" omel Abra.
"Yah ... kenapa malah wajah Ayah" keluh Aslan.
"Ayah" rengek Regan.
Abra malah berjalan menjauh dari Zahra mendekati Ibu mertuanya yang menggendong bayi laki-laki mereka berdua.
"Gantian" Abra mengarahkan kameranya menunjukkan wajah si bayi.
"Dia cowok ya Ayah?" tanya Regan.
"Iya" Abra mengelus kepala bayinya lembut. "Dia yang jagoan, tadi paling banyak minum ASInya mangkanya masih tidur gak keganggu tawa kalian."
"Tuhkan yang tadi cewek" ucap Regan dengan bangga, "adik cewek tadi sekarang minum Asi?."
Kepala Abra menggeleng, "dia lagi di timang-timang Bunda merengek-rengek."
"Nama mereka siapa Ayah?, sudah dikasih nama belum?" tanya Regan.
Abra menggeleng sambil melirik Zahra yang menimang bayi perempuan mereka, dia ingin meniman bayinmereka juga, tetapi Abra takut karena mereka terlalu kecil ditangannya.
"As ada ide" seru Aslan.
Bukan bahagia, Abra langsung mengerutkan kening tak percaya karena Aslan dan Regan selalu membuatnya naik pitam.
"Panggilan dia" Aslan menepuk pundak Regan, "huruf depannya A jadiyang kedua huruf depannya S dan yang ke tiga I, jadi kalau digabungin ASI."
Tuhkan ... tebakan Abra tadi benar, ide Aslan pasti ngaco.
*-*
B&C : Hello Readers ...
B : Salam Kenal
C : Kami sudah lahir
B : Terima kasih atas dukungannya
C : Sabar menunggu kami
B&C : Love you π
.
Bahagia jika yang baca ratusan bahkan ribuan π Alhamdulillah π
Tapi sedih π Like-nya dikit gak sampek seperempat dari pembaca π’
Ayo Readers ...
Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik πLike atau π¬Comment
__ADS_1
Love you π
Unik Muaa