One More Chance

One More Chance
Anak Dimata Orang Tua


__ADS_3

Jangan ditanya kenapa Zahra jam segini belum tidur, Zahra sebenarnya tadi sudah tertidur tetapi tiba-tiba terbangun jam setengah satu sampai sekarang jam tiga.


Si kembar bergerak dalam perutnya, Zahra sudah sholat malam, mengaji tetapi dia tetap tidak bisa tidur. Zahra tidak tega membangunkan Abra, jadi dia berjalan keluar kamar dan masuk kedalam kamar tamu yang kosong untuk menghubungi Regan dan Aslan.


Zahra duduk dikursi rias, meletakkan hpnya didepan kaca menunggu Regan mengangkat panggilan video callnya.


"Hai Bun ..." sapa Regan mengecek jam sejenak, "kenap belum tidur?, disana pasti sudah malam."


Zahra tersenyum mengangguk membenarkan "Bunda gak bisa tidur, tiba-tiba kebangun mereka gerak" Zahra mengelus perutnya.


"Pasti adik-adik Ar lagi aktif ya?" tanya Regan dengan mata berbinar.


"Iya, kalau yang kiri gerak yang kanan ikut gerak juga."


"Sakit gak Bun?."


"Enggak, gak selalu sakit Ar lebih sering geli" Zahra tertawa kecil mengelus perutnya.


"Ar seneng lihat Bunda bahagia."


Zahra tersenyum menanggapinya.


"Semoga kita selalu bahagia ya Bu."


"Aamin ... semiga kita semua selalu bahagia, dalam lindungan-Nya."


Sejak tadi tangan Zahra tidak lepas dari perutnya, sesekali Zahra bergerak kekanan dan kekiri serasa tidak nyaman tetapi tetap tersenyum.


Regan bahkan ikut tersenyum melihat Zahra bahagia, "sekarang masih gerak-gerak?."


Kepala Zahra menggeleng "udah enggak, mungkin mereka udah tidur."


"Terus kenapa Bunda gak tidur juga?, ini sudah malem Bun."


Bibir Zahra manyun, matanya berkaca-kaca sambil menggelengkan kepala. "Punggung Bunda juga sakit" keluh Zahra lirih.


Regan membenarkan posisi duduknya, "bangunin Ayah minta pijet Bun."


"Bunda kasihan, Ayah besok harus kerja."


Zahra cepat-cepat menghapus air matanya yang mengalis begitu saja tidak bisa dia tahan.


Regan menatap Zahra dalam, "waktu hamil Ar juga gak bisa tidur ya?."


"Kadang"


"Bunda nahan sakit sendirian" sebisa mungkin Regan menahan agar tidak terlarut dalam kesedihan.


Zahra mengangguk menunduk dalam.


Mereka terdiam, Regan menghela nafas berkali-kali, tatapannya tidak lepas dari wajah Zahra yang mengelus perutnya yang membuncit.


Terlihat mata Zahra membulat tersenyum lebar "mereka gerak" Zahra memberi tahu Regan dengan girang.


Sekam semua yang Zahra perlihatkan menular pada Regan meski dari jarak jauh, Regan ikut tersenyum mengelus perul Zahra dari layar hpnya.


"Mereka pasti tahu kalau Bunda barusan mau nangi" Regan mengucapkannya dengan nada lembut.


"Bunda gak mau nangis, punggung Bunda memang sakit, perut bagian bawah juga. Tapi Bunda bahagia, karena nanti akan terbayar dengan kehadiran kalian." Zahra mengatakannya sesekali menatap Regan dan perutnya.

__ADS_1


"Kalau Bunda gak bisa tidur atau sakit Bunda bilang sama Ayah. Di samping Bunda sekarang ada Ayah, Ayah gak akan keberatan Bunda mintain tolong dan gangguin, kalau Ar disana Ar pasti gak keberatan juga. Kalau Bunda bahagia diganghuin mereka kenapa kita enggak."


Zahra kembali terdiam, begitu juga dengan Regan. Tidak ada yang mengatakan apapun selama beberapa menit, hanya saling menatap satu sama lain.


Pintu kamar tamu terbuka pelan, Abra berdiri diambang pintu menatap Zahra dalam dan berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri Zahra, Memeluk Zahra dari belakang dan mencium pelipisnya berkali-kali.


"Saat kamu mengaji aku bangu tetapi tidur lagi, maaf" bisik Abra lirih. "Aku bangun lagi kamu udah gak ada, aku gak tahu kamu gak bisa tidur."


Zahra mengelus kepala Abra yang terbenam di pundak sebelah kanannya, tersenyum menatap Regan yang menghela nafas menatap tingkah Abra.


"Kalau ada apa-apa bagi-bagi, jangan kebahagiaan saja sayang. Aku disini disamping kamu loh Ar, Ar jauh di negri lain kenapa malah Ar yang lebih dulu ..."


"Karena Bunda lebih sayang Ar dari pada Ayah" celetuk Regan memulai perdebatan.


Zahra mulai memejamkan mata menyandarkan kepalanya dipundak Abra pasrah akan mendengarkan perdebatan mereka sebentar lagi.


"Tapi lebih dulu sayang Ayah dari pada Ar" ucap Abra tidak mau kala.


"Yang lebih lama hidup dengan Bunda Ar loh" ledek Regan.


"Tapi yang terpenting Ayah yang lebih dulu dihati Bunda dari pada Ar."


"Halah ... sejak mengandung Ar nama Ayah sudah tergeser, bentar lagi juga sudah tergeser kenomer yang sekian setelah twin lahir."


Abra menoleh pada Zahra, Zahra juga menoleh membalas tatapan Abra. "Beneran bentar laginaku jadi yang kesekian ... sekian ..."


Tanpa ragu Zahra mengangguk membuat Regan ngakak disebrang bahagia dengan tebakannya yang benar.


"Kamu undah besar, bisa ngurus diri sendiri." Zahra mengatakannya dengan tegas.


"Ar, As sama Gea kan juga udah besar Ara" protes Abra.


Mengambek Abra menundukkan kepalanya dan menggesek-gesekkannya di bahu zahra membuat rambut Zahra berantakan.


"Nasib jadi suami harus bagi istri dengan anak-anak" keluh Abra.


"Aku juga gitu, harus bagi suami dengan anak perempuanku. Kamu sudah menjadi cinta pertama Gea, bentar lagi nambah yang menjadikanmu cinta pertamanya." Zahra mengelus pipi Abra lembut.


"Ara, nanti kalau mereka lahir jadiin mereka anak pintar kayak Ar gak papa. Tapi jangan ngeselinnya kayak Ar dan As, bikinpusing."


Tawa lepas Regan yang tadinsudah mereda kbali terdengar, membuat Abra semakin kesal mendengarnya.


"Udahan video callnya tidur aja" telunjuk Abra menjulur.


Zahra menangkap tangan Abra menertawainya, begitu juga dengan Regan yang tertawa.


"Masih ngambek aja sudah tua juga, inget umur." Regan semakin jadi meledek Abra.


Mata Abra melotot "kurang ajar ya sama orang tua" omel Abra.


Regan tertawa berteluk tangan bahagia "tuh kan sadar kalau sudah tua."


Mendengar ledekan Regan pada Abra membuat Zahra ikut tertawa lepas.


"Ara" Abra kembali merajuk.


*-*


Gea menuruni tangga dengan cepat, sekarang masih jam enam pagi, dia yakin Ayah dan Bundanya masih tidur seperti biasanya.

__ADS_1


Semalam dia tertidur saat Aslan dan Regan berdebat dengan Alaric dan Emma, mendengar mereka yang beradu mulut membuat Gea tertidur tanpa sadar.


Jadi saat subuh tadi Gea terbangun dan tidak tudur setelahnya, dia malah mandi dan siap-siap kesekolah sepagi mungkin agar tidak bertemu dengan Abra, tetapi baru saja dia melangkahkan kaki keluar rumah Abra sudah berdiri tidak dihalaman rumah dengan sepatu olah raganya.


"Mau kenapa pagi-pagi?" tanya Abra datar.


Gea langsung menggigit bibir bawah bagian dalamnya "sekolah" jawabnya lirih.


"Jam segini?."


Kepala Gea mengangguk pelan.


"Tanpa sarapan?"


Kembali kepala Gea hanya mengangguk menjawab pertanyaan Abra.


"Kenapa berangkat sekolah sepagi ini tanpa sarapan?" Abra berdiri tepat didepan Gea membuat Gea menundukkan kepala. "Mau menghindari Ayah sama Bunda?, atau mau kabur?."


Lagi-lagi kepala Gea menggeleng.


Abra menyentuh puncak kepala Gea dan mengelusnya "gak terasa Gea udah setinggi telinga Ayah sekarang" nada suara Abra begitu lembut. "Sudah dewasa, bisa mengambil keputusan besar sendiri. Jangan cepat dewasa ya sayang, cukup As dan Ar yang dewasa, Gea jangan dulu, temenin Ayah dan Bunda."


Perlahan Gea mengangkat kepalanya menatap Abra dengan mata berkaca-kaca. "Ayah gak marah?" tanya Gea lirih.


Abra tersenyum "enggak, tepatnya Ayah justru kecewa."


Nafas Gea memburuh hendak menangis.


"Kecewa pada diri Ayah sendiri karena tidak sadar jika anak perempuan Ayah mulai beranjak dewasa, bisa mengambil keputusan dalam hidupnya."


"Pada Gea?."


"Kecewa juga, tapi bagaimanapun semua kembali pada Gea."


Air mata Gea mulai mengalir.


Abra menyentuh kedua pipi memukul-mukulnya pelan. "Lihat Ayah sayang" pintanya, "sedewasa apapun Gea nanti, selama Gea belum menikah, Gea masih tanggung jawab Ayah dan Bunda. Gea memang berhak atas hidup Gea, tapi setidaknya berdiskusi dengan kami dulu untuk mencari solusi yang terbaik. Semalam cara penolakan Gea sesikit kurang sopan, jika keluarga lain mereka akan tersinggung.


Bunda dan Ayah bahagia Gea bisa mengambil keputusan sendiri, tetapi Gea perlu belajar lagi bagaimana cara agar keputusan Gea bisa diterima orang lain, dihargai, yang terpenting tidak menyinggung perasaan orang lain. Tumbuh dewasanya pelan-pelan, dan jangan pernah berfikir Ayah akan marah dan mengusir Gea. Kalau As, Ar dan Gea pergi siapa yang mau nemenin Ayah dan Bunda?, si kembar masih belum lahir, kalau lahir mereka masih kecil, gak bisa Ayah peluk-peluk gini." Abra memeluk Gea, mencium puncak kepala Gea.


"Maaf Ayah" sangat lirih disela tangis Gea.


"Kata Bunda gak ada ceritanya anak sudah besar atau dewasa dimata orang tua. Ayah baru sadar setelah melihat kamu barusan, selama ini Ayah menganggapmu anak manja Ayah yang masih butuh perhatian."


"Gea gak manja lagi, Bunda sekarang yang manaja."


Abra tertawa mendengarnya "ya Bunda sekarang yang manja, As Ar dan Gea padahal udah gak manja."


Gea membalas pelukan Abra erat, perlahan kepalanya yang sejak tadi sakit mulai berangsur-angsur membaik.


*-*


.


.


.


Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2