
Jangan ditanya bagaimana kabar otak Regan setelah memulai kuliah dinegri orang, otaknya harus bekerja dua kali lipat dari biasanya.
Jurusan kedokteran bukan jurusan yang bisa dianggap enteng dia sudah tahu itu, dan dia sudah menyiapkan dirinuntuk konsekuensinya sebelum memutuskan untuk memilih kedokteran.
Tetapi bahasa juga membuatnya tertang-tang, dia selalu membuat rekaman jika dosen pengajar mengajar dan mulai merekam sejak dosen masuk hingga keluar kelas.
Pulang dari rumah dia akan mendengarkan rekaman yang dia peroleh, mendengarkanya perlahan penuh konsentrasi tanpa boleh ada yang mengganggu.
Begitu pula dengan Aslan, dia melakukan apa yang dilakukan Regan. Mereka harus mengejar apa yang diri mereka sendiri targetkan.
Seperti hari ini, jagan ditanya mengapa mereka selalu menonton film, terkadang juga berdiri ditengah-tengah hiruk piruk orang di taman. Bahkan mereka akan mengikuti Alaric ketempat pemotretan atau berkumpul dengan bawahan Ayah Alaric hanya untuk semakin mematangkan bahasa mereka.
Hingga tidak jarang mereka lupa pada hp dan apapun. Target yang mereka targetkan untuk diri sendiri adalah cumlaude, dan itu harus tercapai, kuliah jika bisah kurang dari biasa orang normal selesai. Tidak ada yang memaksa, mereka hanya menantang diri sendiri membuat teman-teman mereka, Zahra dan Abra kesusahan menghubungi mereka berdua.
Jadi saat akun sosial Regan Online langsung ada panggilan video call dari Mila membuat Regan tersenyum tipis lalu menghela nafas larena sudah siap mendengar apa yang akan dikatakan temannya itu.
"Assalamu'alaikum ...."
Jangan sangkah itu bukan salam yang diucapkan secara sopan, lemah lebut khas se orang wanita, tapi teriakan melengking yang Regan yakini dengan urat leher menegang.
"Wa'alaikumsalam" jawab Regan sopan.
Wajah Mila langsung cemberut, tangan kanannya langsung menopang kepalanya menatap Regan dengan mata melirik keatas sinis.
"Otot mata kamu tegang?" goda Regan dengan nada khawatir.
"Regan ..." Mila berterik melengking.
Regan tertawa mendengarnya, dia merindukan menggoda Mila bahkah dia juga merindukan omelan Mila yang panjan.
Panggilan Video call dari Gana masuk, Regan tertawa kecil.
"Kenapa ketawa?" seru Mila jengkel "aku lagi marah!."
Tawa Regan semakin lepas dia mengangkat panggilan Gana membuat panggilan mereka bertiga menyatu.
"Ngapain gabungin sama dia?, aku gak kangen Gana." Mila menggerutu, dia hanya merindukan Regan yang lost kontak berminggu-minggu.
"Aku juga gak kangen sama kamu" Gana berseru tidak kalah jengkel.
"Siapa?" terdengar suara Rio yang mulai mendekat.
"Kenapa kalian gak bisa akur?, pada hal udah pisah tetep aja." Regan menopang kepalanya menatap ketiga sahabatnya. "Hai Yo gimana kuliah hanya berdua dengan Gana?."
Gana dan Rio kuliah di satu universitas tetapi lain jurusan, sedangkan Mila merantau ke Surabaya untuk kuliah jurusan perawat seperti yang dicita-citakannya.
"Gak enak tetep malu-maluin gak ada nabok mulutnya."
"Kamu mau aku sledeng?" ancam Gana menatap Rio berang.
Tanpa perduli dua tangan Rio melambai-lambai dibelakang Gana membuat Gana risih memukul sebelah tangannya. "Wah ... tumben Ar muncul, aku mau gabung Video call juga."
Degan cepat Gana merebut hp Rio. "Kenapa harus Video call juga dodol, sama aku aja kenapa ?, jangan ribet deh."
"Hah ..." Mila menghela nafas berat. "Tuhkan kalau ada mereka kan aku jadi gak konsen mau ngomel."
"Alah lebay" seru Gana "Ngomel aja pakek konsentrasi."
"Memangnya kamu aja yang kangen sama Ar, kita juga." Rio merangkul pundak Gana dan adu jotos.
"Kan bisa kapan-kapan aja."
"Ogah Ar sering gak online" tolak Gana.
Regan hanya menatap mereka dengan senyum lebarnya, dia merindukan ketiga sahabatnya. Kurang lebih tujuh tahun kenal, lima tahun bersama mereka dan sekarang berpisah membuatnya merindukan tingkah konyol mereka.
__ADS_1
Video call dari Gea, membuat Regan tertawa kecil membuat perdebatan mereka bertiga berhenti. Sepertinya tidak sia-sia dia menghidupkan hpnya hari ini.
"Kenapa ketawa lagi ..." Mila berteriak kesal.
"Kamu disana waras kan?." tanya Gana dengan wajah khawatir.
Rio memukul tengkuk Gana "Selalu saja sembarangan."
"Gea barusan manggil, aku gabungin." Regan memberi tahu mereka setelah menggabungkan Gea dalam group Video call.
"Wih rame nih ..." seru Gana semangat.
Aslan baru saja dari dapur membawa sekotak es krim yang ditinggalkan Emma dikulkas mereka, mendekati Regan dan duduk disampingnya "hai semua ..." sapa Aslan.
"Hai Kak Ar As" Gea melambaikan tangan.
"Hai bro" Gana mengangkan sebelah tangannya.
Membuat Rio kesel melihat tingkah lakunya yang sok keren memukul tangannya. "Jangan sok keren deh."
Gana menggerutu dan akhirnya mereka bertengkar saling berteriak.
"Aku pusing" keluh Mila. "TIDAK BISAKAH KALIAN BERHENTI" Mila berteriak kesal.
Aslan dan Regan tertawa begitu pula dengan Gea yang ngakak.
"Gara-gara kalian jadi malu diliatin" Mila mengaduk-aduk tasnya mencari masker.
Dia kali ini duduk didepan minimarket, teriakannya barusan membuat beberapa orang meliriknya membuat Mila malu.
"Ngeliat mereka gitu kangen ya Kak Ar" Gea menatap layar hpnya dengan sedih.
Regan hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aku enggak, deket dengan mereka telingaku bisa tuli."
Regan yang tersadar dibelakang dia dan Aslan ada Alaric dan Emma mendekatkan layar ponselnya pada Alaric dan Emma bergiliran.
"Mereka siapa?" tanya Gea penasaran.
Suara Gea menyadarkan Mila, Gana da Rio.
"Subhanallah" seru Mila lirih.
Regan tersenyum mendengarnya "ini Alaric dan itu Emma" menunjuk mereka bergantian.
"Hai..." Emma dan Alaric melambaikan tangan.
"They are my friends, but this one my sister" Regan menunjuk satu Gea.
Mendengar Regan mengatakan dirinya adalah saudara perempuan Regan membuat Gea berkaca-kaca.
"Cantik" ucap Gana menyengir menatap Emma.
Dengan cepat tangan Rio meraup wajah Gana. "Mereka temen kamu Ar?" tanya Rio dengan mata berbinar.
Kepala Regan menganguk.
"Ar" panggil Mila dengan nada serius, memperbaiki letak maskernya, tidak langsung bicara membuat semua menunggu. "Kalau pulang bawa mereka ke Madura ya, kasih kita kesempatan ketemu bule."
"Wah Mila malu-maluin" dengan heboh Gana mengolok-olok Mila.
"Awas ya kalau Ar beneran bawa mereka kamu gak boleh sok-sok keren sama si Emma." Teriak Mila berang.
Gea dan Rio tertawa ngakak begitu pun dengan Aslan dan Rio. Sedangkan Alaric dan Emma hanya saling tatap tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Dilayar hp Regan kembali muncul panggilan, kali ini dari Zahra.
"Kenapa dengan hari ini?" tanya Aslan menatap Regan dengan alis terangkat.
Regan mengangkat bahu dan menyatukan panggilan Video Zahra dengan semua orang.
"Bunda ...."
"Bun ...."
Sontak Rio, Gana dan Mila kembali heboh.
"What happen?" tanya Alaric menepuk pundak Aslan.
"T**hey are noisy friends" jawab Aslan sekenanya.
Regan tertawa kecil mendengarnya, tidak membantah karena ketiga temannya memang selalu berisik.
"Wah anak-anak Bunda kumpul ...." Zahra berseru kegirangan.
Terlihat Abra yang berjalan di samping Zahra langsung memeluk Zahra dari samping menghentikan Zahra berjingkarak-jingkrak.
"Jangan loncat-loncat ingat kamunlagi hamil."
Sontak semua yang mendengar memberikan respon yang berbeda kecua Gea yang tertawa terpingkal-pongkal melihat respon semua orang.
"What?" Aslan memajukan wajahnya kedepan layar.
"Serius?" Mila yang mendengarnya memekik.
"Wih ... tok cer ..." Gana dan Rio adu jotos.
"Ar punya adek!" Gana bahkan berseru nyaring.
Regan menatapAbra dan Zahra dengan wajah datarnya tidak emmberika respon apapun.
Abra menatap Regan, memeluk Zahra dari belakang. "Iya kita diberi kesematan Tuhan untuk kembali mempunyai anak dan .... kembar."
"KEMBAR?".
Semua kembali memekik.
"Se...."
Ok sambungan terputus, Regan mengakhir semua panggilan video call mereka.
*-*
.
Terima kasih pada Readers yang baik hati sudah mau membaca One More Chance dari awal Episode/Bab π
Bantu Author dong...
Kita lanjut atau pindah ke cerita para anak remaja dalam One More Chance atau dua-duanya jalan π
π mohon bantuan dan masukannya π
πDemi kebahagiaan kita semua π
πVote π Rate π Favorit
πLike π¬Comment
Terima kasih atas dukungannya pada One More Chance selama ini π
__ADS_1
Love You π
Unik Muaaa