
"Pass kesini Regan..." teriak Mila heboh.
Gana menaril ujung kerudung belakang Mila karena gemas. "kebiasaan, jangan berisik atau gak usah ikut" ancam Gana.
"ih..." Mila memukul lengan Gana "iya".
"iya iya mulu tetep aja yang namanya cerek mulutnya cempreng, teriak-teriak Passing yang ada lawan malan jagain kamu. comberan..." setelah mengatakan itu Gana berlari terbirit-birit.
Mila berteriak mengejarnya.
Penonton yang melihat mereka hanya tertawa. Kejadian seperti ini sering terjadi, bukan hanya Gana dan Mila kadang Rio dan Regan pun juga. jika sedang terjadi hal seperti sekarang ini maka dua orang yang lainnya akan terus bermain bersama lawan karena itu hal lumrah yang sering terjadi.
Fokus mendribel bola, Gana yang berada di dekat ring lawan mengangkat tangan memberi tanda untuk Rio mengoper bola padanya.
Rio dengan santai melakukan Passing pada Mila bukan Gana, Mila melempar bola ke arah ring dan Gana meloncat melakukan dunk. Semua bersorak hebok karenanya.
"mereka selalu diluar nalar" guma Malvin (Sebelumnya kita memanggilnya Avin pelatih karate sekaligus guru olah raga).
Mila dan Gana ber tos ria dan berjoged heboh padahal beberapa menit lalu mereka kejar-kejaran satu lapangan basket. Dan menit berikutnya mereka menyetak angka yang tidak terduga.
Peluit berbunyi tanda pertandingan telah selesai, Gana berlari memeluk Regan dan Rio jingkrak-jingkrak tak terkendali. Berteriak-teriak mendapat perhtian dari para siswa, siswi bahkan guru yang menonton mereka di ponggir lapangan.
Malvin berjalan dengan menjinjing kantong keresek menghampiri mereka berempat. "Tangkap..." teriaknya.
Gana reflek melepas pelukannya dan menangkap sepotol teh yang dilempat Malvin kearah mereka.
Mila mukul lengan Gana dan berjalan mengulurkan kedua tangannya pada Malvin meminta sebotol minumnan yang dia bawa. Malvin memberikan keresek yang dia pegang pada Mila membuat gadis itu tersenyum, berbalik dan membagi minumannya pada Regan dan Rio dengan gitang.
"apa kalian gak capek nanti masih belajar dari jam tujuh sampai jam setengah sembilan?, bukannya pulang malah main" tegur Malvin.
Regan menatap Malvin curiga, ketiga tamannya hanya tertawa kecil. Hanya beberapa orang yang tahu jika mereka akan belajar bersama selama satu setengah jam dalam pengawasan Zahra setiap kali ujian.
"biasa pak lagi menikmati detik terakhir sekolah" sahut Gana.
"nanti Bunda Regan marah kalau kalian tidur saat belajar".
"marahnya Bunda gak lama" kata Mila dengan senyumnya.
Ketiga temanya terus berbicara dengan Malvin kecuali Regan yang diam memperhatikannya. ada sesuatu yang membuatnya menganjal tetapi dia diam saja tidak mengatakan apapun.
"kita pulang ya pak Assalamu'alaikum" Mila bersalaman terlebih dahulu di ikuti kedua temannya.
Regan diam menatap Malvin.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Kalian pulang duluan Regan dengan saya".
ketiga teman Regan menghentikan langkah bersama menatap Regan meminta persetujuan. Regan hanya memgangguk dan mereka kembali melangkahkan kaki keluar lapangan basket.
Malvin menepuk pundak Regan dan mengiringnya duduk dibawa pohon rindang samping sekolah.
"sampai kapan mau menjadi green hat hacker?" tanya Malvin to the poin.
Regan menoleh menatapnya sejenak. "saya gak ngerti maksud bapak".
Malvin tertawa kecil. "bukannya kamu berhasil membobol sesuatu bulan lalu?".
Regan diam menatap kelain arah.
"menggagalkan saya menghapus semua data yang berhasil kamu kumpulkan".
Seketika Regan menoleh menatap Malvin, dari postur tubuhnya dia mulai menjaga jarak membuat Malvin terkekeh dan merangkulnya.
"saya memancingmu untuk berkembang tetapi sepertinya kamu tetap saja berada di zonamu".
Tidak ada sahutan Regan tetap diam dia makah berdiri hendak pergi.
Malvin menghalangi jalannya, menjulurkan tangannya pada Regan. "kita berkenalan dari awal, Nama saya sebernya Yones Malvino, panggilan Malvin atau Avin".
Kepala Malvin mengangguk kembali menyimpan tangannya di kedua saku celana. "teman Ayahmu Abraham Ganendra".
Kening Regan mengerut dan melangkah mundur, seakan membuat jarak aman.
"santai saja, selama bertahun-tahun saya memang memata-mataimu tetapi bukan suruhan Abra" Malvin menenangkan Regan. "delapan tahun ini Kakek Buyutmu Opa Arya yang mintaku memantau kalian, itu pun tanpa sepengetahuan Abra".
Ragan tetap diam.
"Bundamu sudah bercerita Awal dan garis besar apa yang terjadi belasan tahun lalu bukan?".
Tatapan mata Regan berubah, dia menatap Malvi dingin tanda tidak suka.
"maaf sebelumnya, karena kamu tidak memberi keputusan untuk menerima beasiswa itu atau tidak. Saya menemui Bundamu dan memasang sesuatu, bukan berniat memguping" Malvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "lebih tepatnya hanya agar Kakek Buyutmu bisa tenang dan kita bisa mengambil tindakan setiap keputusanmu nanti".
Tatapan mata Regan semakin mengintimidasi. "saya tidak suka bapak melanggar privasi orang".
Malvin mengangguk membenarkan. "tapi akhirnya berguna juga, si pengecut itu sekarang jatuh sakit" Malvin menghela nafas.
Menatap Regan menunggu reaksi remaja didepannya, yang ternyata hanya diam sepertinya perkataannya tidak berpengaruh apapun.
__ADS_1
"Beberapa hari ini makannya tidak teratur dan kurang tidur, ditambah semalam saya memberikan rekaman percakapanmu dan Bundamu, tadi pagi kerumah Kakek Buyutmu. Berdebat dan dia terjatuh, nafasnya tidak beraturan, mungkin semua yang dia pendam selama ini menguap. Dia mengap-mengap tidak bisa bernafas, Dokter akhirnya menyulitkan dia obat penenang. Saya mempunyai videonya jika kamu...".
"Tidak!" potong Regan. "terima kasih, permisi".
Regan pergi begitu saja.
Malvin hanya bisa diam menatap punggun Regan yang semakin menjauh.
*-*
Malvin diam menatap layar komputernya, Abra masih tertidur dan Ibnu duduk di sofa diruangan itu menjaga Abra dengan tumpukan berkas diatas meja.
Sejak tadi Abra masih tertidur lelap. Dia benar-benar kurang tidur dan kelelahan hingga tidak bisa mengontrol emosinya seperti biasanya.
Kembali teringat saat Regan menolak dan dan pergi begitu saja, dia mata anak itu tidak ada pancaran ke khawatiran atau apapun. Dia benar-benar anak Zahra dan Abra, kombinasi mereka yang sama-sama pintar menyembunyikan perasaan, keras kepala dan pintar mengintimidasi lawan.
"aku sudah tahu kalau dia tidak akan mau" Malvin meregangkan tangannya. "ah... Ayah dan anak sama saja gengsi dan keras kepala".
Istri Malvin Dinar berdiri dan merangkul suaminya. Dia menatap pada layar komputer suaminya dan menghela nafas. "kita tetep mau jadi penonton yang hanya diem gak ikut campur masalah mereka gini?, sampai kapan?. Bukannya aku mengeluh karena tinggal disini, tetapi melihat mereka aku gereget".
Tangan Malvin merlingkari pinggang istrinya. "si pengecut itu dari dulu selalu bikin pusing, apa aku langsung temu Zahra dan bilang semuanya?".
"gak papa juga, tapi kalau niatmu untuk membantu temanmu membujuk Zahra untuk kembali aku tidak setuju".
*-*
Udara cukup panas, Gea masih saja duduk di tangga teras rumah sejak tadi. Sebelum kembali keperusahaan, Sam mengantarnya pulang, dan sejak itu Gea duduk terdiam mematung tidak menghiraukan para pelayan yang memintanya masuk.
Dia tahu jika dirinya bukan anak kandung Abra, Daddynya. Dia selalu mendengar bisikan orang tentangnya yang sebagai anak angkat. Dia tidak memusingkan itu, dia tidak menghiraukan perkataan orang, karena hanya Daddynya satu-satunya orang yang selalu ada untuknya.
Kakek Buyutnya Arya selalu bersikap dingin dan hampir tidak pernah mengunjungi mereka. Maminya pergi entah kemana, Daddy tidak mau mengatakan apapun. Dia hanya mempunyai Daddy Abratanpa ingin tahu segala hal yang dulu terjadi.
Terlintas sekejap dalam benak Gea, dia berlari menuju ruang kerja Abra. Membuka segala berkas yang berada diatas meja dan juga laci. hingga menemukan map merah di paling bawah tumpukan berkas-berkas.
Nama : Adam Regan Zerous. G
TTL : ......
Gea membaca profil yg dia temuakan, setelah yakin jika profil itu Regan yang Kakek Butut Arya katakan tadi, Gea mengambil hpnya dia harus mempunyai data anak Daddynya.
*-*
Unique_Muaaa
__ADS_1