One More Chance

One More Chance
Diakui


__ADS_3

Harum


Lezat


Membuat perut lapar.


Sebenarnya Regan malas untuk bangun, tetapi dia mencium bau lezatnya makanan hingga kedalam kamarnya.


Cacing diperutnya seakan mulai memberontak minta makan, membuat Regan terpaksa duduk dan berjalan perlahan keluar dari kamar, menuruni tangga dan terus melangkah mengikuti aroma lezat.


Regan menghentikan langkahnya dan mengerjabkan mata melihat seseorang berdiri didapur mereka menggunakan apron, dengan Aslan yang menata meja makan.


"Hai Mr Adam and Adam Junior."


Emma, gadis yang menjemputnya semalam berdiri tidak jauh dadi Aslan.


Regan mengerutkan kening tidak paham hingga Abra berjalan melewatinya.


"Good morning Adam Junior" wanita memakai apron melambaikan tangan kearahnya dan meletakkan segelas air minum didepan Abra. "Adam cuci muka" printah manita itu tegas.


"Jangan memanggilku Adam Hana" keluh Abra sebelum meminum airnya.


Hana tersenyum kecil "sudah kebiasaan"


"Kebiasan karena ikut-ikutan suami dan mertuamu memanggilku Adam."


"Who are you Adam?" seorang pria berjalan melewati Regan yang masih berdiri.


Abra berdecak menatap pria yang menghampirinya. "Abraham Add" tegur Abra berdiri memeluk Enzo sebentar. "Jangan memanggilku dengan nama itu, kamu bisa membuatnya bingung."


Tangan Abra memberinisyarat agar Regan mendekat.


"Jadi dia penerus nama Adam atau ..."


"Tidak!" potong Abra tegas. "Aku memberinya nama Adam bukan seperti apa yang ada diotakmu." Abra merangkul pundak Regan "kenalkan dia paman Enzo suami dari Hana, Ayah Emma dan Alaric. Regan dan itu Aslan anakku."


Aslan menatap Abra dalam, Abra menoleh kearahnya dan tersenyum lebar membuat Aslan menghela nafas bahagia.


"Kami sudah berkenalan dengan Aslan" Enzo menepuk pundak Regan. "Bagaimana ka..."


"Hana lapar" Sam menerobos berjalan ditengah-tengah Enzo dan Regan. "Oh ... maag Mr Enzo" Sam mengucapkannya sambil berjalan melirik pada Abra.


*-*


Kedatangan keluarga Romano tadi pagi bukan hanya semata-mata mau menemui Abra dan Sam teman mereka. Tetapi juga memberi tahu jika Aslan dan dirinya sudah diterima si universitas yang mereka incar membuat Aslan ternganga.


Regan pun tidak percaya dengan apa yang terjadi, seorang Abra yang menurutnya pengecut dan kurang tegas, ternyata tidak begitu di hadapan orang lain.


Dia memang belum melihat bagaimana karakter seorang Abraham Ganendra sesungguhnya, dan terbukti dalam dua hari ini. Ketegasan Abra saat menghadapi Alaric dan bawahannya, kewibawaan dan kecekatan Abra saat presntasi didepan kliennya membuat Regan perlahan menatap Abra dengan pandangan berbeda.

__ADS_1


Terlihat jelas seorang Ganendra, tatapan kagum yang pernah Regan rasakan saat melihat Abra diatas panggung memberikan sambuat saat olimpiade karate dulu seakan kembali.


"Apa kalian lapar?" tanya Abra.


Regan membuang muka, dia tidak sadar jika Abra telah selesai dengan rapatnya dan langsung menghampirinya dan Aslan diujung meja ruang rapat.


"Sangat lapar" keluh Aslan berdiri berjalan keluar ruang meeting.


Abra masih berdiri menunggu Regan yang sedang terdiam tetap duduk menatap kedepan.


Terdengar helaan nafas Regan sebelum berdiri menghadap Abra dengan tatapan dingin andalannya. Mereka saling menatap satu sama lain sampai Regan yang terlebih dulu memutuskannya.


"Apa setelah ini anda akan pulang?" tanya Regan dengan nada kurang jelas.


Abra mengerutkan bibirnya menahan senyum agar Regan tidak merasa malu. "Apa kamu tidak mau Ayahmu ini cepat pulang?" yang keluar dari mulut Abra malah nada menggoda Regan.


Membuat Regan brdecak meliriknya sinis.


"Lagi pula apa lagi yang harus diselesaikan?" Abra memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kainnya. "Semua sudah beras karena Remano itu."


"Bukankah anda tadi marah-marah kami diterima diuniversitas itu tanpa tes?."


Kepala Abra mengangguk membenarkan. "Tapi toh sama saja nanti kalian pasti akan diterima juga di universitas itu." Abra tersenyum dengan penuh kepercayaan dia mengatakan "karena aku percaya pada otak yang dimiliki anak-anakku. Lagi pula ingat, I have a chance selama kamu disini, dan aku harus menggukannya sebaik mungkin.


Abra tersenyum lalu berbalik berjalan kearah pintu keluar ruangan setelah merasa berhasil membuat Regan kesal.


"Ayah!."


"Mau chicken wings."


Tangis yang Abra tahan seakan menguap mendengar chicken wings yang dikatakan Regan dengan nada datarnya.


Abra tertawa mendongakkan kepala menahan air mata yang akan mengalir sekuat mungkin. Bahagia Regan akhirnya mau mengakuinya sebagai seorang Ayah secara langsung meski secara akhirnya malah membuat suasana haru berubah menjadi menggelikan.


*-*


"Jangan menyeret mereka kedunia underground."


Kalimat itu yang pertama kali Abra ucapkan setelah mereka duduk bergabung di dalam ruangan yang cukup luas yang terdapat meja oanjang dipenuhi beberapa orang tetuah yang dia kenal.


Abra duduk dikursi disamping Enzo duduk, di meja ujung dengan kursi berbeda menunjukkan bahwa Enzo adalah pemimpin mereka.


"Hei Adam" seorang pria paruh baya memanggil Abra dengan nama Adam, dia adalah Jhon salah satu tangan kanan Ayah Enzo. "Kita baru saja bertemu dan kamu sudah berbicara dengan nada yang cukup kurang bersahabat."


Abra tersenyum simpul menyandarkan punggungnya kesandaran kursi memengetuk-ketuk meja dengan jemarinya. "Maaf jika aku menyinggungmu Jhon, tapi berkumpulnya kalian disini membuatku bertanya-tanya."


Tawa Jhon menggema. "Wah ... kamu masih mengingatku rupanya."


Abra melirik pada Regan dan berbisik. "Duduk disamping Alaric" perintahnya.

__ADS_1


Aslan yang mendengarnya menarik lengan Regan. Mereka berjalan mundur penuh kewaspadaan, meski mereka sadar jika mereka akan kalah jumlah.


Setelah Regan dan aslan duduk Alaric menoleh tersenyum pada Aslan. "Aku sudah ingat siapa kamu, tapi kita bahas nanti." Dengan suara lirih.


Kembali pada Abra yang menatap satu persatu orang yang duduk melingkari meja panjang ditengah-tengah mereka. Kurang lebih sekitar dua puluh orang yang berada didalam ruangan itu.


"Aku masih ingat Jhon, Frank, Zayn, Drake em ... Emilio and ...." Abra mengatupkan kedua tangannya. "Mr Salvator suatu kehormatan bisa bertemu anda setelah sekian lama. Ada beberapa orang yang aku lupa nama mereka dan lebih banyak anggota baru sepertinya."


Mereka semua tertawa menanggapi Abra yang ternyata masih saja teliti seperti dulu.


"Jadi seperti yang aku katakan tadi" suara tegas Abra meredakan tawa mereka perlagan. "Tujuan mereka kesini untuk kuliah dan menuntut ilmu, jadi jangan membuat mereka masuk kedunia underground."


"Kami berkumpul hanya mau menyambutmu setelah sekian lama tidak mengunjungi kami." Enzo menyalakan rokoknya. "Sekaligus memperkenalkan anakmu pada mereka."


Kening Abra mengerut.


"Bukan untuk menyeretnya ke dunia kami" Emilio menepis pemikiran Abra. "Hanya untuk menjaga mereka tetap aman."


Abra mengangguk-anggukkan kepala. "Tanpa memperkenalkan mereka secara langsung kalian pasti sudah tahu, karena kabar kedatangan kami bahkan lebih cepat dari pada orangnya."


Semua kembali tertawa membenarkan perkataan Abra. Mereka memang menunggu kedatangan Abra dari dulu, jadi saat mereka tahu jika Abra akan datang, kabar itu langsung menyebar luas dikelompok mereka.


"Kamu tahu Adam" Mr Salvator menatap Abra dalam. "Kamu satu-satunya orang luar kepercayaan mendiang Mr Romano, satu-satunya orang yang tidak dipenggal karena menolak Clarisa. Dan para anggota baru penasaran ingin bertemu denganmu secara langsung."


Beberapa orang tertawa dan berseru membenarkan, begitu juga dengan Enzo.


"Sebelum Daddy meninggalpun berpesan bahwa tidak boleh ada yang menyentuhmu, jadi aku melarang mereka menemuimu." Enzo menepuk pundak Abra menunjukkan kebanggannya. "Dia begitu peduli dan melindungimu, mengakui otak dan keterampilanmu dalam bertarung meski tidak mau menyentuh pistol."


Abra tertawa kecil "Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menyelamatkan Clarisa saat itu. "


"Tidak meminta imbalan, tidak takut pada kami dan bahkan tidak melaporkan markas kami." Mr Salvator mengatakannya dengan senyum mengambang. "Melihat anakmu yang sejak tadi penuh kewaspadaan, tidak dapat dipungkiri jika dia hebat sepertimu."


Abra tersenyum lebar. "Aku tidak melarang mereka berteman dengan kalian, asal tidak menyeret mereka ke dunia underground."


"Kami sudah tahu" seru Frank.


"Keteguhan yang tidak bisa dirubah" sahut Jhon.


"Yeah ... dia tetap seorang white Adam."


Terdengar julukan untuknya dulu kembali Abra dengan, dia tertawa kecil berdo'a semoga mereka benar-benar tidak menyeret Aslan dan Regan dalam dunia mereka.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2