
"Dia sedang keritis, kamu ...."
"Jangan menjelaskan apapun," potong Abra.
Tari kembali diam menatap Abra, tatapan kosong Abra yang hanya tertuju pada Kakek Arya di balik kaca yang menghalangi mereka membuatnya terdiam.
Sedangkan Zahra duduk dikursi terdiam memikirkan perkataan Kakek Arya yang tadi beliau katakan.
"Kenapa tidak masuk?" Regan menghampiri Abra, berdiri didekat Abra menatap Kakek Arya juga dari balik kaca. "Tadi aku melihat monitor Elektrokardiogram menunjukkan garis lurus," Regan menoleh pada Tari. "Bukankan itu menunjukkan jika nafas Kakek Arya sudah terhenti?."
Tari mengangguk pelan. "Kami melakukan RJP dan jantung beliau kembali berdetak."
"Meski begitu beliau tidak akan bertahan lama bukan?" Tari kembali mengagguk membenarkan perkataan Regan untuk yang kedua kalinya. "Masuklah, beliau mungkin menunggu anda."
Abra menoleh pada Regan yang telah kembali menatap kedepan, menatap Kakek Arya. "Ayo masuk bersama," ajak Abra.
Merasa jika Abra berbicara padanya, Regan menoleh terdiam sejenak pada Abra lalu pada Zahra, Zahra tersenyum dan menganguk mengizinkan membuat Regan mengangguk mengiyakan ajakan Abra.
Mereka masuk bersama, sengangkan Tari, Ibnu, Malvin, Javir dan Zahra memperhatikan mereka dari balik kaca ruang ICU.
Abra berdiri disisi sebelah kanan dan Regan disebelah kiri kasur Kakek Arya. Tangan Abra mengelus tangan kakek Arya dengan lembut.
"Hai Opa" sapa Abra lirih menahan tangis.
Air mata Kakek Arya mulai mengalir dari sudut matanya, perlahan matanya terbuka menatap Abra dengan tatapan sendu, Abra menepuk tangan Kakek Arya lembut.
"Maaf," begitu lirih hampir tidak terdengar.
Kepala Abra menggeleng. "Jangan meminta maaf pada Abra, Abra yang banyak salah pada Opa."
Air mata Kakek Arya kembali mengalir.
"Opa jangan kepikiran Abra," ucap Abra serak. "Abra pasti baik-baik saja disini. Jika Opa memang sudah mau pergi Abra ikhlas, Opa ... Abra ....." Suara Abra tercekat.
Dia tidak bisa mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Dia sudah tua Kek," Regan menyahut, menggenggam tangan Kakek Arya yang lain. "Jangan khawatirkan dia, dia pasti baik-baik saja."
Senyum terbit di bibir Kakek Arya, air matanya mengalir, tangannya bergerak membalas menggenggam tangan mereka berdua.
"Tidak boleh menangis," Regan menghapus air mata Kakek Arya. "Terima kasih sudah mempertemukan kami," Regan melirik Abra.
Abra menunduk dalam menahan tangisnya.
"Terima kasih juga sudah menjaga aku dan Bunda dari jauh, terima kasih atas semuanya." Regan mencium punggung tangan Kakek Arya. "Kek, kita hanya sebentar bertemu, tetapi aku bisa merasakan kesayangan Kakek buyut untukku. Pergilah dengan tenang, semoga masuk syurga, jangan lupa selalu do'akan kami. Semua disini akan baik-baik saja, ikuti perkataan Regan ya ..."
Regan mendekatkan kepalanya berbisik pelan ditelingan Kakek Arya. "Ashaduallah...," Regan mulai membisikkan kalimat Sahadat.
"Ashaduallah..." Kakek Arya mengikutinya dengan suara lirih.
Abra menggenggam tangan Kakek Arya erat, dia tidak mendengarkan lagi kalimat sahadat selanjutnya yang dibimbing langsung oleh Regan, Dadanya sesak menahan tangis, sedangkan dia tidak boleh menangis didepan Kakek Arya, Abra memaksakan diri agar air matanya tidak mengalir.
Selesi Kake Arya membaca sahadat, beliau tersenyum pada Regan. Regan mencium kening Kakek Arya, tepat pada saat itu mesin monitor disamping Kakek Arya berbunyi.
Kaki Abra melemas seketika, Abra terduduk diatas lantai dengan kedua tangan menggenggam tangan Kakek Arya.
Keluar dari ruang ICU kaki Abra semakin berat melangkah, Regan hanya bisa menatapnya datar, Zahra berjalan cepat, meraih kepala Abra dan menyandarkannya dibahunya.
Tangan Zahra menepuk punggu Abra pelan. "Menangislah, jangan ditahan."
Kepala Abra menggeleng lemah. "Aku sudah berjanji aku akan baik-baik saja."
"Ya, kamu pasti akan baik-baik saja. Tidak apa-apa menangis, jangan ditahan nanti kalau kamu sesak, kesakitan, Opa bisa sedih. Menagislah jangan ditahan ...."
Regan melepas rangkulannya pada lengan Abra dan melangkah pergi menghampiri Gea yang menangis dalam pelukan Malvin.
Abra memeluk Zahra begitu erat. "Aku akan baik-baik saja, aku akan baik-baik saja, Opa pergi. Ak ... aku ... aku akan baik-baik saja kan Ara?, aku akan baik-baik saja sendiri tanpa Opa Aku ...."
Zahra mulai merasakan basah dipundaknya, Abra meangis dan terus menerus mengulang kata akan baik-baik saja Zahra hanya bisa menepuk punggungnya dan menyakinkan Abra dengan menjawab Ya.
Semua sedih dengan kepergian kakek Arya, Ibnu yanga menagis dalam diam. hanya terdengar suara tangisan Gea dan Abra dilorong rumah sakit.
__ADS_1
*-*
Kakek Arya mulai dikebumikan, satu-persatu orang yang melayat mulai meninggalkan lokasi pemakaman.
Abra masih duduk terdiam disamping kuburan Kakek Arya, tidak memperdulikan para pelayat yang berpamitan, Ibnu dan Tari yang menggantikan Abra berterima kasih pada mereka.
Sedangkan Zahra dan Regan hanya diam berdiri tidak jauh dari Abra, Zahra memakai masker, menutup sebagian wajahnya karena beberapa klien Abra pasti ada yang mengingat dirinya.
"Abra," suara Vira menarik perhatian semua orang yang berada disana kecuali Abra. "Aku turut berduka atas kepergian Opa."
Abra tertegun sejenak, kesadarannya seakan tertarik dari lamunannya.
Kata Pergi yang diucapkan Vira mengingatkannya akan Zahra yang akan pergi dari hidupnya untuk kedua kalinya setelah ini.
Abra mengelus batu nisan Kakek Arya berdiri menghadap Zahra dan Regan namun tidak menatap kearah mereka berdua.
"Kalau kamu mau pergi sekarang tidak apa-apa," ucap Abra dengan nada yang Zahra tangkap mencoba untuk menegarkan diri. "Sekalian saja perasaan kehilangan ini menjadi satu, terima kasih sudah mau menemui Opa diakhir hidupnya. Sesuai janji ...."
Dua kata terakhir menggantung, karena Abra merasa kesulitan mengatakannya. Dia mengangkat wajahnya menatap Zahra begitu dalam dan mata yang memerah berkaca-kaca menahan diri untuk tidak menagis. "Aku tidak akan mengganggu kalian," nafas Abra tercekat membuatnya harus menghela nafas berat dari mulut dan tersenyum dengan terpaksa. "Semoga bahagia." Abra berbalik badan dan pergi.
Dia melangkah dengan bahu tegap tanpa menundukkan kepalanya dan membiarkan air matanya mengalir tanpa dia hapus. Abra tidak ingin Zahra tahu jika dia mengis.
Hari ini adalah hari terberat bagianya, kehilangam Opa yang merawatnya sejak kedua orang tuanya meninggal, dan kehilangan Zahra dan Regan.
*-*
.
Jangan lupa 💖👍 and 💬
Love you....
.
Unik_Muaaa
__ADS_1