One More Chance

One More Chance
Anak = Dunia


__ADS_3

Sabar...


Sabar...


Dan sabar...


Zahra seakan menghipnotis dirinya dengan kata itu sejak tadi.


Kali ini Zahra berada dirumah Vira seperti yang dia mau dan seperti kemauan Regan, mereka berempat akan ikut.


Memang Zahra menyetujuinya dengan syarat mereka tidak boleh ikut campur dan mengatakan apapun, tetapi tatapan tiga orang pria itu seakan-akan siap menerkam Vira sejak tadi.


"Kita duduk di taman belakang saja dan mereka duduk digazebo agar mereka tidak terlalu dekat dan kita bisa bicara tanpa tekanan seperi sekarang" usul Zahra. "Dibelakang masih ada gazebo kan?."


Tiga pasang mata pria itu beralih melirik Zahra, padahal sejak mereka sampai tiga pasang mata pria itu hanya tertuju pada Vira.


Kepala Vira memangguk, berdiri dan berjalan terlebih dahulu di ijuti Zahra, Abra, Regan dan Aslan, sedangkan Gea menghela nafas dan memilih duduk dengan malas di sofa ruang tamu.


Zahra menunjuk gazebo dan tiga pria itu berjalan bersama dengannpatuh duduk di gazebo, Zahra dan Vira duduk di kursi tidak jauh dari gazebo menghadap kearah kolam didepan mereka.


"Aku tidak tahu kenapa kamu melakukannya?" Zahra mengawali pembicaraan merek tanpa melihat Vira, dia menatap air kolam yang tenang. "Maksudku kejadian penculikan itu, bukan kejadian belasan tahun lalu."


"Karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu tetapi mereka melarangku." Jawab Vira dengan nada menindir menatap kearah tiga pria di gazebo itu.


Zahra tersenyum kecil. "Mungin mereka tahu apa yang akan kamu bicarakan, dan aku tidak akan mau membahasnya." Zahra menoleh melihat Vira yang masih menatap kearah gazebo. "Apa aku punya salah padamu?."


Vira menggeleng pelang. "Tidak" Vira tersenyum sinis "Kamu selalu benar dan aku yang selalu salah didepan semua orang, dan dari dulu juga begitu."


Zahra hanya tersenyum menanggapinya, Vira tetap saja mempunyai pemikiran seperti dulu, dari sejak mereka mulai mengelola restaurant Vira bersama.


"Lalu kalau aku tidak mempunyai salah, kenapa melakukan hal itu?" tanya Zahra lirih setenang mungkin.


"Aku sudah katakan mereka tidak mengizinkanku bertamu kamu dan Gea!" suara Vira sedikit meninggi.


"Tapi seharusnya tidak dengan menculikku." Nada suara Zahra mulai berubah dingin.


Nada bicara Vira mulai menyulut emosinya, tatapan mata yang dipancarkan Zahra pun mulai menunjukkan perasaanya, dingin memendam suatu kemarahan.


"Lalu aku harus apa?" Vira beralih membalas tatapan Zahra dengan mata melebar penuh amarah yang tidak bisa disembunyikan. "Awal aku memang ingin meminta maaf atas apa yang terjadi belasan tahun lalu. Lama-kelamaan kalian semakin dekat dan aku ketakutan Zah, Aku takut setelah kalian kembali Gea bagaimana?."


Vira mengatakannya dengan berapi-api, tetapi Zahra malah tersenyum lebar dengan tatapan dinginnya yang dia pertahankan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kamu tidak mau menerima Gea, dan aku juga takut Abra akan kembali padamu dan melepas perusahaan keluargaku. Aku menculikmu untuk memintamu mau menerima Gea dan membujuk Abra untuk tetap mengurus perusahaanku meski kalian kembali." Vira mulai lost control. "Aku tidak punya pilihan lain selain mencilikmu saat itu, aku benar-benar takut Abra lepas tangan dsri perusahaanku, aku tahut Papa dan Mama terpukul jika sampai perusahaan keluarga kembali seperti semula. Aku taku Mama dan Papa tidak ...."


"Jangan membawa Mama dan Papamu apalagi Gea." Abra ternyata sudah berdiri disamping Zahra.


Zahra hendak protes meminta Abra untuk kembali duduk di gazebo, tetapi Abra lebih dulu emnghentikannya dengan menggenggam tangan Zahra erat.


Kepala Abra menunduk kearah Zahra menatap Zahra dalam dengan senyum segarisnya. "Jika aku tahu kamu hanya akan bertanya seperti ini, aku tidak akan mengikuti kemauanmu datang kesini."


"Abra ...."


"Lihat" seru Vira tak terkontrol. "Baru saja kita bicara tidak sampai lima menit dia sudah ...."


"Stop!" desis Abra.


Lirih penuh tekanan namun berhasil membuat Vira bungkam. Perlahan Abra berdiri tegak menatap Vira tajam penuh intimidasi.


"Perusahaan" ucap Abra dingin. "Katakan saja jika untuk perusahaan, jangan muter-muter bahkan membawa nama Gea. Apa kamu kurang puas memanfaatkan Gea sejak dia dalam kandungan?."


Mata Vira tiba-tiba bergerak-gerak tidak tenang, dia memainkan jemarinya menatap kearah gazebo membuat Abra dan Zahra penasaran dan mengikuti arah pandang Vira.


Digazebo, Gea sudah duduk dengan santai menatap kearah mereka bertiga, lebih tepatnya pada Vira. Gadis kecil itu duduk ditengah-tengan Regan dan Aslan menatap tanpa minatbkearahnya.


"Jangan ketakutan gitu" Abra tertawa kecil. "Dia sudah tahu smeuanya bahkan lebih dulu anak-anak dari pada aku."


"Dia tidak mau bertemu denganmu karena sudah tahu semuanya, terlebih setelah tahu jika kamu dalang dibalik penculikan Zahra." Abra memainkan jemari Zahra tanpa sadar. "Perusahaan itu atas nama Gea, tetapi kamu dan Mamamu yang menghabiskan uangnya. Awal aku hanya bisa diam dan membiarkan saja, tetapi setelah tahu kamu lebih mementingkan perusahaan itu dari pada Gea aku benar-benar sangat kecewa."


Tatapan mata Abra beralih pada wajah Zahra. "Ayo pulang, kamu bisa tanyakan apapun padaku. Tidak bahkan pada kami semua, aku, Regan, Gea ... dan Aslan sepertinya juga sedikit tahu."


Zahra tersenyum membalas tatapan mata Abra sejenak dan menatap Vira dingin. "Kamu mengulang-ulang kata perusahaanku, perusahaan keluargaku dan lebih sedikit menyebut nama Gea." Zahra tersenyum lembut abhakan tatapan matanya berubah memancarkan kelembutan.


"Kak" panggil Zahra pada Vira. "Perusahaan bisa mendatangkan uang, tapi anak akan mendatangkan dunia. Aku dapat mempertaruhkan hidupku demi anakku, menukar segala hal deminya." Zahra membalas genggaman tangan Abra. "Aku yang akan merawat Gea dan menjadi ibunya, urus saja perusahaanmu, kami tidak akan mengganggu."


Zahra berdiri merentangkan sebelah tangannya yang tidak Abra genggam kearah Gea. Gadis itu tersenyum dan berlari kecil menghampiri Zahra mendahului Regan dan Aslan.


Gea bukan meraih tangan Zahra tetapi dia memeluk Zahra. "Terima kasih" ucapnya lirih tetapi dapat didengar Vira.


Zahra hanya mengelus rambut Gea sayang dan melangkahkan kaki tanpa keberatan Gea masih memeluknya dengan sebelah tangannya dalam genggaman Abra.


Regan dan Aslan mengikuti langkah mereka setelah menatap Vira yang terdiam menatap Gea dengan mata berkaca-kaca.


Langkah Zahra terhenti, tampa balik badan dia berkata. "Ar minta maaf sudah menyebabkan kerugian pada prusahaan tantemu, dulu memang milik Gea sekarang milik dia."

__ADS_1


Regan berdecak malas balik badan menghadap Vira tanpa mau melangkahkan kakinya menghampiri Vira. "Maaf sudah membuat perusahaan anda merugi." Dan kembali melangkahkan kakinya.


"Sepertinya kalian harus kembali bekerja keras dua sampai tiga bulan ini karena kenakalan kami, permisi."


*-*


Mobil Abra mulai meninggalkan pekarangan rumah Vira.


Zahra duduk di depan disamping Abra yang mengemudi, Gea duduk ditengah-tengah Aslan dan Regan tetapi seakan duduk di tengah-tengan singa yang siap bertengkar beradu taring dan cakar.


Regan menatap Aslan dengan tatapan dinginnya, sedangkan Aslan membalas tatapan Regan dengan kening mengerut tidak mengerti.


"Mau mata kamu aku colok?" ancam Aslan mulai kesal.


"Bisa gak sih jangan sok-sok keren?" tanya Regan dengan nada kurang bersahabat.


Semua terdiam tidak ada yang paham apa yang dikatakan Regan kecuali Aslan yang akhirnya menyegir kuda memperlihatkan deretan giginya.


"Saat Bunda diculik sok keren bilang Regan saja bisa melumpuhkan empat sampai lima preman yang anda sewa, apa lagi saya yang memperkenalkannya pada karate." Regan mengucapkannya dengan nada Aslan. "Jangan lupa aku mengalahkanmu dalam pertandingan secara sah dan mutlak."


Aslan menyengir semakin lebar, Gea tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Regan.


"Barusan masih saja sempat sok-sok keren" Regan menyandarkan punggungnya kesandara kursi mobil dan memejamkan mata. "Sepertinya kalian harus kembali bekerja keras dua sampai tiga bulan ini karena kenakalan kami" Kembali Regan menirukan nada bicara Aslan. "Aku yang kerja sendirian, kamu malah tepar dirumah sakit."


Tawa Gea semakin kencang memenuhi mobil, Aslan juga ikut tertawa karena kesewotan Regan.


Abra tertawa kecil sambil melirik Zahra yang hanya tersenyum memperhatikan ketiga anak itu dibelakang mereka dari kaca spion.


Kata-kata yang tadi Zahra katakan kembali menggetarkan hati Abra. Perusahaan bisa mendatangkan uang, tapi anak akan mendatangkan dunia. Ya, mereka bertiga mampu mendatangkan dunia padanya.


Regan mampu kembali mempersatukan Abra dan Zahra. Gea yang selalu mampu membuatnya merasakan diinginkan setelah kepergian Zahra. Dan ditengah-tengah mereka ada Aslan yang mampu menjadi anak yang penyayang, pelindung, Kakak bagi Gea dan Regan.


Abra beruntung, dan bersyukur memiliki mereka bertiga meski diantaranya bukan anak kandung Abra.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2