One More Chance

One More Chance
Kepercayaan


__ADS_3

"Hai bhundha merrthua and Ayah merrthua."


Semua perhatian teralih pada sumber suara itu, bahkan Enzo tercengang begitu pula dengan Hanna.


.


.


.


Ternyata Emma bertanya tentang bahasa indonesia dari father in law dan mother in law beberapa bulan lalu karena ini?, Hana menatap Emma tak percaya.


"What?" tanya Emma dengan senyum lebarnya.


Regan menghela nafas, merangkul Zahra membawanya untuk masuk kedalam rumah dan tidak menghiraukan Emma.


Abra yang akan mengatakan sesuatu terhenti kala Aslan menarik tangannya. "Calon pasangan Ayah ibu masuk" Aslan mengatakannya sambil menoleh sebentar pada Javir dan Gea.


Gea mengulum bibirnya sambil melotot pada Aslan, dia melangkah lebih dulu meninggalkan Javir yang tersenyum karena sempat melihat pipi Gea mulai memerah.


Tangan Zahra memegangi sandaran sofa membuat langkah Regan berhenti lalu menatap Zahra.


"Jawab pertanyaan Bunda tadi" tanya Zahra tegas, "ngapain kamu dikamar sama Emma itu sampai loncat dari balkon?." Zahra melirik Emma yang telah masuk kedalam rumah, "Bunda tidak melarang kami pacara tetapi kamu juga harus tahu batas."


Regam tersenyum lebar, "Bunda percaya Ar tidak?."


Zahra kembali menatap Regan tajam, "Bunda percaya Ar, tetapi sama dia tidak. Sifat seseorang bisa berubah juga Ar."


Regan menghela nafas menghadap Aslan, "jika ada dia, Bunda fikir aku bisa keluar dari garis batasan yang sudah Bunda tanam ke diri Ar?."


Zahra menatap Aslan yang berjalan kearahnya dengan senyum lebarnya.


"Ayo istirahat dulu Bun, bicaranya nanti" Aslan merangkul Zahra berjalan kekamar.


Abra menghampiri Emma yang berdiri didekat pintu, tangan Abra dengan cepat menjitak kenung Emma tanpa takut Enzo atau Hanna keberatan.


"Kamu ini" omel Abra.


Enzo menepuk pundak Emma, "jangan terlalu liar."


"Mami sudah bilang, jadi perempuan yang feminim dan lemah lembut baru kamu bisa deketi Regan" Hanna ikut menimbrung mengomeli Emma.


"Aku serasa terintimidasi" gerutu Emma berjalanndengan cuexnya meninggalkan mereka bertiga.


"Ah ... kenapa Alaric dan Emma jauh berbeda?" gerutu Hanna menatap Enzo.


Tidak tahu mau menjawab apa, Enzo hanya bisa mengangkat bahu.


"Andai sifat penurut mereka tertuar aku sangat bersyukur."


*-*


Disekitar rumah Abra terdapat beberapa mobil, bahkan ada satu mobil yang dulu pernah tertangkap cctv sejak tadi bolak balik memperhatikan rumah itu.


Sedangkan mobil sport merah dengan atap mobil tertutup dikendarai seorang wanita, model terkenal di Indonesia, Zia Valery.


Zia menatap kearah rumah itu, sejak tadi Aslan membuang sampah dia sudah disana memperhatikan Aslan. Melihat dari jauh Aslan tersenyum dengan keluarga yang sudah menganggapnya keluarga mereka seakan menularinya ikut tersenyum, pria itu benar-benar bahagia seperti yang telah dia katakan beberapa hari lalu saat secara tidak sengaja mereka bertemu di studio Robet.

__ADS_1


Flashback


"Aku mau kekamar mandi" pamit Unna berdiri dari tempat duduknya.


"Mau aku temani?" tawar Zia.


Unna menyengir dan mengangguk.


Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari ruangan foto shoot bersama. Dinding Studio yang rata-rata adalah kaca membuat Zia memilih berjalan menatap keluar.


Sejenak langkahnya terhenti, sosok yang dia rindukan keluar dari dalam mobil, Zia menghentikan langkahnya dan melangkah hingga wajahnya begitu dekat dengan kaca mencoba memastikan jika benar-benar dia.


Zia tersenyum dan berlari kecil tanpa menghiraukan panggilan Unna, dia terus berlari dengan senyum yang terukir dibibirnya. Zia tidak percaya bisa kembali bertemu dengan dia tanpa disengaja seperti sekarang, padahal Zia tidak tahu dimana Aslan melanjutkan kuliahnya.


Baru saja dia menginjak lantai satu langkah berhenti, Zia berdiri kaku dengan kedua tangan mengepal.


Bahkan setelah gadis itu pergi melewati Zia, tubuhnya tidak bisa bergerak, tatapan Aslan yang tertuju padanya tidak mampu membuatnya berlari memeluk Aslan seperti yang dia rencanakan.


Tidak ada yang saling mendekat dan menyapa hingga Unna menepuk pundak Zia menyadarkan Zia.


"Hai uncle" sapanya dengan suara yang jelas-jelas tercekat.


"Hai" balas Aslan seakan tidak merasakan apapun.


Tangan Zia semakin mengerat memberanikan diri menghampiri Aslan dengan senyum dia paksa agar terus terukir dibibirnya.


"Sepertinya Uncle bahagian disini" ucap Zia dengan nada menyindir.


"Ya dangat bahagia" Aslan mengiucapkannya dengan bibir yang tersenyum lebar menatapnya dengan mata yang membuak Zia kesal, berbinar memancarkan kebahagiaan.


Tangan Zia terangkat hendak menyeka rambutnya yang menutupi separuh wajahnya. Zia terpaku, tersenyum kecil, mengangkat dua tangannya manatapnya.


Aslan mendekatinya, meraih pergelangan tangan Zia ingin melihat luka di telapak tangan Zia, tetapi Zia menarik tangannya hingga terlepas dari tenggaman tangan Aslan.


Pada awalnya Aslan ingin membentak Zia, tetapi Zia menatapnya dengan senyum lebar namun tatapannya sendu.


"Aku tidak percaya seratus persen kamu sangat bahagia" ucap Zia lirih, "permisi uncle."


Zia berjalan melewati Aslan dengan menahan diri agar tidak memeluknya.


Flashend


"Semoga selalu bahagia As, selalu bahagia"


Mata Zia berkaca-kaca mengucapkannya sebelum akhirnya menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana.


*-*


Gea menatap keluar jendela kamarnya, dia tidur sekamar dengan Emma.


Dia tidak bisa tidur, melihat kearah meja didekat kasurnya tidak ada air akhirnya Gea keluar dari kamar berjalan ke dapur tanpa menyalakan lampu.


"Okay my love, I'm on my way to pick you up"


Tangan Gea terhanti menuangkan Air kedalam gelas, tidak sengaja tangannya meletakkan botol air yang dia pegang secara kasar hingga menimbulkan suaran.


Telinga Javir yang menangkap suara itu dengan cepat melangkah memencet skakel lampu menghidupkan lampu dapur.

__ADS_1


Mata mereka saling tatap, Gea dengan jelas bisa melihat penampilan Javir, dengan cepat dia berbalik kembali membuka kulkan meletakkan botol, Gea berjalan tanpa membawa gelas air diatas meja.


Tangan Javir meraih pergelangan tangan Gea, menghantikan langkah gadis itu. Gea tidak berbalik badan dan tidak menyentak tangnnya dari genggaman Javir.


"Bisa kita bicara?" tanya Javir pelan.


Gea menggelengkan kepala.


"Sampai kapan mendiamkanku?"


Gia diam tidak menjawab.


"Kamu bukan anak kecil lagi, jika ada masalah selesaikan bukan menghindar dan bungkam."


Perlahan Gea berbalik badan menghadap Javir, tatapan mereka kembali bertemu, tangan Gea terulur menyentuh rambut Javir yang menutupi keningnya, dia menatap lensa mata Javir.


"Aku percaya semua yang kamu katakan, bahkan meskipun kamu mengatakan dengan nada bercanda. Karena kamu orang yang selalu jujur, mengatakan segala hal yang ada dibenakmu tanpa mau kamu tutupi." Tangan Gea beralih menyentuh dada Javir, merapikan jaket denim yang dia pakai. "Mengenalmu tiga bulan saja aku bisa mengerti kamu, aku juga bisa tahu kapan kamu berbohong. Aku hidup dengan Ayah belasan tahun, teman laki-laki lebih banyak dari perempuan, mudah bagiku mengerti dan memahami watak kalian."


Javir menggenggam tangan Gea yang akan turun dari dadanya, menggenggamnya dengan erat "apa maksudmu?, jangan membingungkanku."


Gea membalas genggaman tangan Javir, menatap kedua tangan mereka. "Hangat" ungkapna, "kenapa aku bodoh seketika saat mendengar akan bertunangan denganmu?, kenapa aku tidak dapat mengetahui kebohonganmu?." Gea kembali menautkan tatapan mata mereka, begitu pelan dia mengatakan "apa karena aku begitu mencintaimu?."


Pertanyaan terakhir itu membuat Javir terdiam, bahkan detakan jantungnya seakan berhenti beberapa detik. Tatapan matanya semakin tenggelam menatap bola mata Gea yang berkaca-kaca menatapnya dengan penuh sendu.


"Sampai aku buta" suara Gea tercekat.


"Gea a ..."


"Pergilah, pacarmu menunggu" Gea menarik tangannya.


"Gea"


Gea berbalik badan berjalan menuju kamarnya.


"Aku dengan dia hanya teman dekat" Javi berjalan mengejar, "Gea dengarkan dulu kita juga belum selesai bicara Ge ..."


Tangan Javir yang telah menggenggam tangan Gea terlepas karena tepisan tangan Regan, tubuh Gea yang telah berbalik karena sentakan tangan Javir, Regan halangi dengan tubuhnya.


Dengan cepat kedua tangan Regan menarik tubuh Gea mendekatinya, membuat Gea memeluk Regan dan membenamkan wajahnya didada Regan.


"Pergilah"ucap Regan tegas.


Terdengan segugukan Gea, tangan Regan mengelus rambut dan punggung Gea. Javir yang mendengarnya menghela nafas, dan akhirnya mengalah pergi.


Baru saja Javir menutup pintu, suara tangis Gea samar-samar terdengar. Membuat Javir menghela nafas menyandarkan punggungnya pada daun pintu, menatap pada langit malam.


Emma yang mendengar suara Regan tadi terbangun dan keluar dari kamar, melihat Regan memeluk Gea terdiam diambang pintu, Regan bukan hanya memeluk, dia mengelus rambut dan punggung Gea, bahkan berbisik untuk Gea berhenti menangis membuat Emma hanya bisa menghela nafas, Regan tidak pernah seperti itu padanya.


Terlihat Regan memberi jarak diantara mereka, menghapus air mata Gea dan menggenggam tangan Gea menariknya menaiki tangga, kembali membuat Emma tercengang.


*-*


.


Detik detik apa ye 😆


.

__ADS_1


Unik Muaa


__ADS_2