
Berbeda ...
Zia didepannya sangat berbeda dengan Zia yang terakhir kali dia temui di rumah Abra sebelum dia keluar negeri. Meski masih memiliki sifat pemalu, tetapi dia begitu berani menatap Aslan balik.
Tidak ada yang mengalah untuk mengakhiri tautan mata mereka, meski memancarkan perasaan yang sangat jauh berbeda. Zia dengan mata berbinarnya menatap Aslan penuh rindu dan bahagia, tetapi tidak dengan Aslan dia menatap Zia dengan dingin.
"Kamu benar-benar bahagia" ucap Zia lirih, "syukurlah."
Meski beberapa jam bersama mereka, Zia dapat melihat dan merasakan bagaimana bahagianya hidup Aslan dikelilingi mereka, tidak seperti diri yang tidak merasakan kabahagiaan meski dikelilingi banyak orang.
Zia menghela nafas berdiri dari duduknya hendak pergi karena Aslan seakan tidak berniat mau berbicara dengannya.
"Sesering apa keluar masuk club malam?" tanya Aslan dingin.
Terbit seulas senyum dibibir Zia, langkahnya terhenti tetapi dia tidak berani membalikkan badan, takut jika Aslan kembali memilih mendiaminya. "Tidak sering hanya baru empat kali sejak kamu pergi" mengucapkannya dengan menahan nafas.
Tangan Aslan mengerat, menatap tubuh Zia dari belakang yang terlihat begitu kurus, hoodie jaketnya terlihat sangat kebesaran, punggung Zia begitu kecil, dengan ragu Aslan mengangkat tangannya mengukur seberapa jengkal punggung Zia dari jauh tanpa menyentuh dan mengepalkan tangannya.
"Kenapa?" tanyanya mulai terdengar tedapat suatu emosi didalamnya.
Kepala Zia menunduk menggenggam kedua tangannya, "karena kamu pergi tampa pamit," ucapnya serak. "Karena kamu tidak datang saat ulang tahunku bahkan mengirim pesanpun tidak" Zia mengulum bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca, "kita tidak bersama saat tahun baru aku juga tidk bisa melihatmu secara langsung hanya melalui postingamnu" kali ini suara Zia tercekat semakin lirih.
Zia mengembungkan pipinya menengadah menatap langint-langit menahan diri agar air matanya tidak mengalir. "Dan semalam ... karena ... aku benci ... aku benci pada diriku sendiri ... " Zia mengucapkannya dengan tersengal-segal karena dadanya mulai terasa sesak.
"AKU BENCI PADA DIRIKU SENDIRI!" teriaknya mencengkram kerah bajunya sendiri, berbalik menatap Aslan dengan air mata yang mulai mengalir. "KENAPA AKU TIDAK BISA SEBAHAGIA KAMU?" raungnya.
Dengan lengannya Zia menghapus air matanya dengan kasar, "kamu bilang kamu juga cinta, sayang sama Zia, tetapi kenapa kamu terlihat bahagia?, kenapa hanya Zia yang merasa kehilangan, sedirian, a ..."
Tenggerokan Zia semakin tercekik rasanya, Aslan yang mengetahui apa yang akan terjadi jika Zia mencoba menahan tangisnya melangkah dengan cepat, menangkup kedua pipi Zia memaksanya menatap mayanya.
"Hei ... hei ... bernafas ... tenang ... ok ... Zia ... hei ..." ibu jari Aslan mengelus pipi Zia.
Zia mendongak menatap Aslan.
"Menangislah jangan ditahan nanti sesak nafas" bujuk Aslan, "Zia" Aslan beralih mengangkat kedua tangan Zia yang terkepal hingga memutih, "hei Zi jangan diam saja" Aslan mulai panik.
Tangan Aslan menarik tubuh Zia dalam pelukannya, mengelus punggung Zia pelan. Kebiasaan jika Zia sedang menahan tangis dia akan merasa sesak nafas dan kram, hingga terkadang tubuhnya lemas.
"Kuat tidak harus menahan tangis Zi, menagislah berteriak juga ok."
Tangan Zia dengan ragu membalas pelukan Aslan sebelum akhirnya dia menangis meraung meluapkan semua kesedihannya selama ini.
Ini pertama kali Zia menangis selama setahun ini dia mencoba untuk selalu mencoba tegar, tetapi menatap Aslan meruntuhkan segalanya yang telah dia bendung.
"Gak adil ... kenapa kamu bahagia aku engak?" guma Zia lirih, "aku benci As ... aku benci ... As jahat ..."
"Ya, aku jahat aku minta maaf jangan menagis lagi" bujuk Aslan.
Zia menangis hingga segugukan, entah kapan lagi dia bisa memeluk Aslan seperti sekarang, setidaknya sekarang dia menikmati pelukan yang dia rindukan meski pelukan yang diberikan Aslan bukan pelukan kebahagiaan.
*-*
Ruang tamu disulap menjadi tempat berkumpul keluarga, sofa ruang tamu tersingkir diganti dengan kacur busa dan karpet. Chaka dan Bilkis yang berada ditengah-tengah menjadi pusat perhatian semua orang.
"Chaka no no no ... jangan ditarik"
Chaka menarik rambut Gea yang tergerai dan memainkannya, dengan cepat Javir kedapur mengambil karet gelang berniat mengikat rambut Gea, tetapi setelah dia memengang karet itu Javir terdiam.
__ADS_1
"Gea gigit perutmu nih ya nyam nyam nyam nyam"
Mendemgar suara Gea membuat Javir tersenyum dan kembali menghampiri Gea. Kali ini Gea mengendong Chaka dipangkuannya, tangan Javir terulur memberikan karet gelang.
Zia yang sejak tadi memperhatikan Javir didaput tersenyum kecil, "iket saja rambut Gea Jav, atau kamu gendong Chakanya."
Gea melirik Chaka memberi osyarat oada javir untuk menggendong Chaka, tetapi Javir lebih memilih berdiri dibelakang Gea dan mengikat rambutnya, Zahra tertawa kecil melihat kecanggungan mereka.
Regan dan Abra baru saja amasuk kedalam rumah, Regan berjalan terlebih dahulu menghampiri Zahra yang sedang duduk disamping Bilqis, sedangkan Abra berdiri terdiam menatap mereka dari ambang pintu.
Abra sudah memiliki keluarga, kebahagiaan dan hidupnya dipenuhi orang-orang yang dicintai dam mencintainya. Dia tidak ingin segala sesuatu mengusik kehidupannya yang sempurna untuk saat ini, tatapi jika permintaan Dorio tidak dia tanggapi untuk bertemu dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Dorio, setidaknya dia hanya memintanya untuk bertemu, hanya bertemu saja.
"Ayah jalan-jalan yuk" pinta Gea.
Abra dan Regan saling tatap, bagaimana bisa mereka jalan-jalan jika diluar sana Dorio sudah mengetahui keberadaannya.
"Kenapa?" tanya Zahra, "gak mau ya?."
Kepala Abra menggeleng dan tersenyum segarus sebelummelangkahkan kaki menghampiri mereka.
"Ayah takut uangnya habis Bun" celetuk Regan.
Zahra tertawa mendengarnya, tangan Abra memegang puncak kepala Regan dan memutar-mutarnya.
"Iya, uanga Ayah sedikit lebih banyak uang pemilik Ganendra Group, kenapa tidak memintanya meneraktir kita?" Abra menaik turunkan alisnya.
"Ayah" Regan mengeluh mendengarnya.
Klek ...
Tatapan mereka tertuju pada satu titik yang sama, Aslan keluar dari ruangan tempat Abra mengintrogasi mereka dengan menggendong Zia dalam dekapannya.
"Dia hanya butuh istirahat Bun" jawab Aslan.
"Memangnya kamu ngapain dia?" tanya Alaric yang juga ikut menghampiri Aslan.
Mendengara pertanyaan mencurigakan Alaric membuat Aslan berdecak dan membawa Zia kekamar Emma.
Zahra dan Regan mengikutinya dari belakang, Aslan perlahan membaringkan tubuh Zia. Tangan zia menggenggam tangan Aslan meski matanya masih terpejam.
"Dia pasti nangis ya?" tebak Regan.
Aslan mengangguk tanpa melihat Regan dan Zahra.
"Apa dia terbiasa begitu?"
"Entahlah" jawab Aslan lirih, "ini pertama kali dia menangis hingga pingsan, dia akan baik-baik saja kan ?" kali ini Aslan menoleh pada Regan.
Kepala Regan mengangguk.
"Jika dia menahan tangis, dia biasanya hanya akan sesak, kram dan lemas."
Regan menepuk pundak Aslan menenangkan, "dia hanya kelelahan As, Ayah keluar dari ruangan itu satu jam yang lalu dan jika dia selama itu menangis jadi itu hal wajar."
"Kenapa kamu membuatnya nangis As?" tanya Zahra menghampiri Zia dan mengelus keningnya.
Terlihat Zia kembali menangis tanpa mengeluarkan suara dan masih memejamkan matanya. Zahra melirik pada tangan Zia yang begitu erat menggenggam tangan Aslan.
__ADS_1
"Temani dia" ucap Zahra lirih, "ayo Ar keluar."
Zahra menarik tamgan Regan keluar dari kamar, membiarkan Aslan dan Zia berdua.
"Cobalah untuk menikmati hidup Zi, semua pasti akan baik-baik saja."
"Bagaimana kalau tidak baik-baik saja?" ucap Zahra begitu lirih.
Perlahan membuka mata menatap Aslan dengan air mata mengalir, Zia memiringkan tubuhnya menghadap Aslan dan mearik tangan Aslan dalam genggamannya meletakkannya dibawah pipinya.
"Aku sudah mencoba tapi sulit" Zia kembali memejamkan mata, "sejak aku lahir aku sudah melihatmu, kamu selalu disamping aku, selalu ada disampingku melebihi kembaranku sendiri. Tiba-tiba kamu menjauh karena marah padaku, bahkan pergi begitu saja."
Zia kembali menangis pelan, Aslan naik keatas kasur, menarik Zia dalam pelukannya.
"Bagaimana kamu bisa bahagia, baik-baik saja dan tidak memikirkanku tetapi aku tidak?. Aku lelah As ... lelah sangat lelah menahan semuanya, tetapi aku tidak bisa melupaknmu."
Tangan Zia mencengkram baju Askan dan memyembunyikan wajahnya dalam dada Aslan.
Tidak, Aslan tidak sebahagia pemikiran Zia, dia memang bahagia berada ditengah-tengah Ganendra yang menerima kehadirannya, tetapi selalu ada waktu dimana dia memikirkan Zia, dimana dia merindukan gadis dalam pelukannya ini.
Tetapi dia harus ingat statusnya meski sebatas paman angkat Zia. Aslan menyayangi gadis ini, bahkan mencintainya sepenih hati, benar-benar mencintainya dari dulu sampai sekarang.
*-*
Mata Prabu memerah menatap nyalang pada berkas dihadapannya, wanita itu benar-benar akan memulai kegilaannya membuat Prabu terasa hidupnya kembali diwarnai tantangan meski bukan tantangan fisik seperti dulu saat dia tingal dmegan Enzo dan Hanna.
"Aku sudah memperingatinya" guma Malvin.
"Aku juga sudah memperingatinya"
Senyum sinis Prabu terbit, membuat Malvin mengerutkan keningnya.
"Let's play with me Savira" desisnya dengan mata berbinar.
Malvin yang duduk didepannya menghela nafas, "ingat Prabu bagaimanapun dia perempuan."
Prabu tersenyum lebar, menutup berkas didepannya dan menyandarkan punggungnya. "Aku menyukai keberaniannya, kegigihannya dan kali ini aku mulai menyukai otaknya yang mampu melakukan ini semua secara diam-diam."
Malvin menghela nafas mendengarnya, "menyukai atau mencintai?."
Pertanyaan Malvin membuat Prabu tertawa, "kamu bertanya pada orang yang salah, seharusnya kamu bertanya padanya."
"Meski dia tergila-gila pada Luis dan terpaksa bercerai dengannya, kamu kira dia bisa mempertahankan perasaannya saat berhadapan dengan lelaki semacam kamu?."
Tawa Prabu menggema, "aku tidak melakukan apapun."
*-*
.
Nah ... jangan lupa 👍Like dan 💬Commetnya ya ...
Kalau ada yang mau memberi saran dan masukan juga boleh kok ... Author juga perlu saran dan masukan kalian untuk menjadi Author yang lebih baik dan demi One More Chance lebih Waw dan sebelumnya 😇
Semoga selalu bisa menghibur
Love you 😙
__ADS_1
Unik Muaaa