One More Chance

One More Chance
Swecety Boss


__ADS_3

"Cara baginya gimana?" tanya Zahra pada Nanda dan Tofa yang ditugaskan mengawal Zahra kemanapun.


Sekarang sudah jam makan siang Zahra baru sampai di depan perusahaan GG com. Hari ini mereka berniat membagi kue pada para karyawan, untuk memperingati tujuh bulan kehamilan Zahra.


"Bunda, kata Bang Abra bentar lagi dia turun, lebih baik Bunda duduk dulu." Tofa membimbing Zahra duduk di sofa lobby perusahaan.


Lucu memang, semua bawahan Abra di ASG security memanggil Abra dangan panggilan Abang atau Pak, tetapi mereka semua memanggil Zahra Bunda karena Zahra tidak mau jika dipanggil Ibu.


Terlihat Abra yang keluar dari lift eklusif, Abra menoleh segala arah mencari Zahra, dan dengan cepat melangkahkan kakinya dengan lebar mendekat setelah melihat wanitanya.


"Aku sudah bilang jangan ikut Nanda jemput kuenya, kamu pasti capek kena macet, kalau sudah jam makan siang pasti macet, kamu capek?." Abra mengelus lengan Zahra.


Kepala Zahra menggeleng, "tadi gak begitu macet, aku aja yang kelamaan pakek kerudungnya."


Karena Zahra membicarakan kerudung, membuat Abra memperhatikan kerudung yang sedang dipakai Zahra.


"Memangnya kenapa?, gak ada yang salah kok dengan kerudungnya." Abra berjalan disamping Zahra dengan tangan menunjukkan keposesifannya merangkul pundak Zahra.


"Ada" rengek Zahra kesal Abra tidak memperhatikan kerudung yang dia kenakan secara ditail, "kerudung segi empatnya agak aku lebarin karena kekecilan, gak bisa menutupi susuku. Apa susuku yang semakin membesar, susuku keiyatahan ...."


Abra dengan cepat membungkam mulit Zahra dengan tangan yang merangkul pundaknya membuat suara Zahra diakhir kalimat hanya terdengar gumahan.

__ADS_1


Zahra yang kesal merontak dan menyentak tangan Abra, dia menghadap Abra menatap dengan kening mengerut menahan amarah.


"Malu Ara" bisik Abra.


Bibir Zahra mengerucut, "apanya yang malu?" omel Zahra.


"Kamu gak sadar?."


"Sadar apa?," tanya Zahra dengan nada menunggi, "memangnya ada omonganku yang salah?, kerudungnya memang kekecilan, thuthuchu...."


Abra kembali menutup mulut Zahra, kesal Abra kembali menutup mulutnya Zahra memegang tangan Abra dan menggigitnya.


"Aw ... sakit sayang."


Abra meraup mukanya, mendekaykan wajahnya pada Zahra dan berbisik ditelinga Zahra dengan lirih, "kamu gak sadar bilang susu?" tanya Abra lalu mensejejerkan wajah mereka berhadapan. "kita ada dilobby loh banyak yang denger, kamu suaranya keras."


Mata Abra menatap wajah Zahra yang memerah malu membuatnya mengulum senyum, perlahan Zahra melirik kesamping, beberapa karyawan Abra yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiro menatap kearahnya dengan bermacam ekpresi, ada yang tersenyum kecil, tertawa sambil menutup mulutnya, bahkan berbisik-bisik cekikikan membuat Zahra semakin malu melangkahkan kakinya mendekati Abra.


Meski terhalang perutnya, Zahra menarik jas Abra yang tidak dikancing menutupi wajahnya, menggeleng-gelengkan kepalanya didada Abra membuat Abra tertawa melihat tingkah Zahra.


Sebelh tangan Abra melingkar dipinggang Zahra, sedangkan sebelahnyanlagi mengelus kepala Zahra dan mencium puncak kepala Zahra gemas.

__ADS_1


Interaksi mereka juga membuat beberapa karyawan wanita yang melihat mereka gemas, bahkan ada yang memotret dan memvideokannya.


Kapan lagi melihat Bossy Bos mereka terlihat sangat manis didepan istrinyan.


"So sweet."


"Ah ... Sweety Bos."


Julukan yang dikatakan salah satu karyawannya membuat Abra semakin tertawa, malah membuat Gea malu.


"Jangan ketawa ...."


*-*


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya para Readers yang baik hati 😉


🌟Rate 🔖Vote 🎁Hadiah


💖Favorit 👍Like 💬comment

__ADS_1


Love you 😙


Unik Muaaa


__ADS_2