
"Cara baginya gimana?" tanya Zahra pada Nanda dan Tofa yang ditugaskan mengawal Zahra kemanapun.
Sekarang sudah jam makan siang Zahra baru sampai di depan perusahaan GG com. Hari ini mereka berniat membagi kue pada para karyawan, untuk memperingati tujuh bulan kehamilan Zahra.
"Bunda, kata Bang Abra bentar lagi dia turun, lebih baik Bunda duduk dulu." Tofa membimbing Zahra duduk di sofa lobby perusahaan.
Lucu memang, semua bawahan Abra di ASG security memanggil Abra dangan panggilan Abang atau Pak, tetapi mereka semua memanggil Zahra Bunda karena Zahra tidak mau jika dipanggil Ibu.
Terlihat Abra yang keluar dari lift eklusif, Abra menoleh segala arah mencari Zahra, dan dengan cepat melangkahkan kakinya dengan lebar mendekat setelah melihat wanitanya.
"Aku sudah bilang jangan ikut Nanda jemput kuenya, kamu pasti capek kena macet, kalau sudah jam makan siang pasti macet, kamu capek?." Abra mengelus lengan Zahra.
Kepala Zahra menggeleng, "tadi gak begitu macet, aku aja yang kelamaan gontaa ganti baju."
Mendengarnya Abra memperhatikan penampilan Zahra yang harinini menggunakan gamis pink dan kerudung senada.
"Memangnya kenapa?, gak ada yang salah kok." Abra berjalan disamping Zahra dengan tangan menunjukkan keposesifannya merangkul pundak Zahra.
"Ada" rengek Zahra kesal Abra tidak memperhatikan apa yang dia kenakan secara ditail, "aku tuh tambah gendutan tahu. Lemaknya tambah bertumpuk bajunya udah banyak yang kekecilan, semua gara-gara kamu yang selalu beli apa yang aku mau secara berlebihan."
Abra tersenyum mendengar omelan Zahra, "meskipun perlebihan juga kamu habisin kan?."
Bibir Zahra langsung mengrucut, "tapi kan aku tambah gendut."
"Meski tambah gendutan aku tetep cinta kamu."
Mata Abra menatap wajah Zahra yang memerah malu membuatnya mengulum senyum, perlahan Zahra melirik kesamping, beberapa karyawan Abra yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri menatap kearahnya dengan bermacam ekpresi, ada yang tersenyum kecil, tertawa sambil menutup mulutnya, bahkan berbisik-bisik cekikikan membuat Zahra semakin malu melangkahkan kakinya mendekati Abra.
"Jangan gombal disini" guma Zahra lirin.
"Memangnya kenapa?" tanya Abra mengerutkan kening tak mengerti.
"Malu" cicit Zahra, "karyawan kamu pada liatin".
Sontak Abra tertawa melihat wajah Zahra yang semakin memerah, dia tidak sadar jika mereka sedang dilobby sekarang.
Meski terhalang perutnya, Zahra menarik jas Abra yang tidak dikancing menutupi wajahnya, menggeleng-gelengkan kepalanya didada Abra membuat Abra semakin tertawa lepas melihat tingkah Zahra.
Sebelah tangan Abra melingkar dipinggang Zahra, sedangkan sebelahnya lagi mengelus kepala Zahra dan mencium puncak kepala Zahra gemas.
Interaksi mereka juga membuat beberapa karyawan wanita yang melihat mereka gemas, bahkan ada yang memotret dan memvideokannya.
Kapan lagi melihat Bossy Bos mereka terlihat sangat manis didepan istrinyan.
"So sweet."
"Ah ... Sweety Bos."
Julukan yang dikatakan salah satu karyawannya membuat Abra semakin tertawa, malah membuat Zahra semakin malu.
"Jangan ketawa ...."
Abra tidak bisa menghentikan tawanya, hingga dia tidak sengaja menoleh kearah depan lobby dan melihat Vira menatap kearah mereka dengan tatapan dingin.
"Vira" ucapnya lirih.
__ADS_1
Zahra mendongak menatap Abra dan mengikuti arah pandang Abra, Vira berdiri disana menatap mereka, melihat penampilannya Zahra melepas genggamannya pada jas Abra dan hendak melangkah menghampiri Vira.
"Sepertinya dia ada perlu dengan kita" ucap Zahra lirih.
Tahu apa yang mau di lakukan Zahra Abra memanggil Nanda dan merangkul pinggang Zahra posesif. "Nanda" panggilnya, "bawa dia keruang saya setelah kami naik" perintah Abra tanpa mengalihkan tatapannya pada Zahra.
Mendengan ucapan Abra, Zahra mendongakkan kepala hendak bertanya tetapi Abra sudah melangkahkan kakinya membuatnya mau tidak mau ikut melangkahkan kaki.
"Kena ..."
"Diam" potong Abra, "sebelum aku berubah pikiran Ara" desis Abra menatap Zahra tajam.
Zahra mengangguk, meski tanpa berbicara perlahan Abra sudah mengerti akan dirinya dan membuat Zahra tersanjung.ė
*-*
Baru saja turun dari ojek yang mengantarnya ke depan perusahaan GG Com, Vira terdiam menatap apa yang dilihatnya. Abra dan Zahra didepan lobby menjadi pusat tontonan para karyawan.
Abra yang tertawa dan Zahra yang tersenyum menatap Abra dengan pipi bersemu merah membuat Vira mengepalkan tangan menatap mereka kesal, sangat amat kesal.
Dapat dilihat dari penampilan Vira sekarang dia seperti orang yang baru saja kabur dari penjara yang mengurungnya selama beberapa bulan ini. Wajah yang kusut, celana dengan sobekan di kedua lututnya dan terdapat bercak berdarah. Dia baru saja kabur dari rumahnya, otaknya dipenuhi dengan ke khawatiran pada Gea.
Tanpa sengaja Abra melihat Vira yang menatap mereka dengan tatapan dingin, senyum dibibir Abra perlahan menghilang.
Seakan tidak emnghiraukannya Abra kembali menatap Zahra dan membawa Zahra pergi, Vira masih mematung berdiri ditempatbya hingga Nanda menghampirinya.
"Jika ada perlu anda disuruh langsung keruangan Pak Abra" ucap Nanda.
Vira menoleh dan tersenyum kecut, apa maksud Abra?, dia seakan tidak penting sampai meminta Nanda yang menemuinya?.
Dengan tertatih-tatih dan amarah yang siap membuncah, Vira melangkahkan kakinya memasuki perusahaan Abra. Dia tidak suka diremehkan, dan Abra sudah meremehkannya.
Zahra duduk di samping Abra dengan tubuh tegak hingga perut buncitnya menonjol, dan perut Zahra tidak luput dari perhatian Vira membuatnya tersenyum kecut berjalan menhampiri mereka.
"Wah ... sepertinya kalian bahagia diatas penderitaan gue" sindirnya duduk tepat didepan mereka berdua.
"Bahagia diatas penderitaanmu?, apa maksudmu?" tanya Abra membuat Zahra meliriknya.
"Ya, kalian terlihat bahagia bahkan menabur keromantisan kalian didepan umum." Dengan sangat sinis mengucapkannya, "dan waw .... selamat sudah hamil" mengucapkannya bukan dengan ketulusan tentunya.
Abra kembali ingin mengatakan sesuatu tetapi Zahra menghentikannya dengan menepuk paha Abra pelan.
"Apa saat hamil lo masih sempat menyiksa dan membalas dendam lo pada anak gue ?" suara Vira semakin meninggi.
Dan Abra kembali ingin mengatakan sesuatu tetapi Zahra mencegahnya lagi.
"Kalian bahkan melarangnya menemui gue?" ucap Vika menggelegar. "Gue sudah terkurung seakan dipenjara dirumah gue sendiri, gue tidak bisa kemanapun bahkan bertemu suami gue tidak bisa, apa lo belum puas Zahra!" bentakan saat menyebut nama Zahra menbuat Zahra malah tersenyum dan menatap Vira dengan tataoan datar.
"Lo masih bisa tersenyum?" Vira seakan melogo melihat senyum Zahra, "wah lo sepertinya sangat bahagia diatas penderitaan gue ruapanya, tetapi kenapa masih belum puas lo malah membalas dendam pada Gea atas apa yang sudah gue lakukan dulu?, gur sudah menerima karma dari apa yang gue lakukan sama lo, jadi jangan membalas dendam pada Gea."
Tepukan tangan Zahra di pahanya tidak bisa membuat Abra menahan diri, dia hendak berdiri dan mengatakan sesuatu, tetapi Zahra lebih dulu mengucapkan pertanyaan yang membuatnya mengerutkan kening.
"Bahagia, dendam dan karma" ucap Zahra dengan nada santai, dia bahkan menyandarkan punggungnya kesandaran sofa. "Itu yang aku tangkap dari apa yang kamu katakan barusan, ah ... tunggu sebentar posisi dudukku tidak nyaman."
Zahra menarik Abra kembali duduk disampingnya dan menyandarkan punggungnya dengan santai pundak Abra hingga posisi duduk Zahra sedikit menyamping.
__ADS_1
"Begini lebih baik" ucapnya tersenyum lalu menatap Vira dngan tatapan tajam dan senyumnya yang perlahan menghilang, "aku sudah memberikanmu waktu berbicara, sekarang giliranku jadi diam jangan memgatakan apapun."
Mata Vira memicing menatap balik Zahra dengan tajam tetapi Zahra tidak menghitaukannya.
"Apa kamu pikir aku bahagia?, bahagia seperti apa yang kamu maksud?" nada suara Zahra penuh kesinisan.
"A ..."
"Aku tidak memintamu menjawab" potong Zahra tegas sebelum Vira membuka mulut. "Bahagia kembali dengannya?" tunjuk Zahra pada Abra tanpa memutuskan tatapannya dengan Vira. "Aku tidak merasa bahagia bisa kembali dengannya, karena aku harus berpisah dengan anakku."
Mendengar perkataan Zahra, Vira melirik pada Abra.
"Dia sudah tahu alasan aku kembali pada dia semata-mata bukan karena cinta" ucapa Zahra santai dengan gaya mengibas tangannya.
Meski sudah tahu, tetap saja Abra merasa sedih pada dirinya sendiri, tangannya mengelus puncak kepala Zahra menenangkan diri.
"Apa menurut kamu aku bahagia hamil?" tanya Zahra lagi.
Kali ini Vira tidak berniat menjawabnya karena tatapan mata Zahra mulai memerah memancarkan kemarahannya.
Sedangkan tangan Abra yang tadinya mengelus puncak kepala Zahra terhenti.
"Aku tidak sepenuhnya bahagia" desis Zahra, "aku selalu dihantui perasaan takut lahir prematur seperti Ar, meski kali ini situasinya berbanding terbalik dengan saat aku hamil Ar. Adanya dia disisiku bahkan tidak menghilangkan perasaan takutku, kamu tidak tahu apa yang aku rasakan saat hamil Ar dan melahirkannya prematur. Setiap saat melihatnya yang hanya sekecil botol minuman satu setengah liter aku selalu merasakan perasaan bersalah, terlebih saat dia sakit dan batuk tulang rusuknya kelihatan ..." nada suara Zahra mengambang, "aku akan menagis dengan dada sesak semalaman, dan sangat menyakitkam melebihi saat aku tahu kalian menikah."
Saat mengatakan semuanya senyum dibibir Zahra tidak menghilang sedetikpun. Zahra memutuskan tautan tatapan mereka, dia menyandarkan tubuhnya sepenuhnua pada dada Abra dan menatap kelangit-langit ruang Abra.
"Jika memang apa yang terjadi padamu adalah karma, aku merasa Tuhan masih kurang adil, karena penderitaan yang kamu alami, dibawah dari apa yang telah aku jalani."
Zahra kembali menatap Vira, kembali duduk tegap tetapi tatapan matanya kali ini penuh dengan kelembutan. "Setelah mengalami bagaimana sakitnya melahirkan, mendidik anak sendiri, dan segala hal yang telah aku lalui berdua dengan Ar, apa menurutmu aku tega membalas dendam pada anak yang juga merasakan apa yang aku rasakan?." Zahra menoleh pada Abra dengan senyum lebarnya, "bahwa dirinya tidaklah penting bagi orang yang dicintainya."
Tatapan mata Zahra membuat Abra membungkam, Vira masih menatapnya dengan tatapan benci.
"Setatus Gea sekarang memang anakku dan Abra" ucap Zahra tegas, "meskipun begitu tidak bisa dipungkiri dia adalah anakmu, jadi kami tidak pernah melarangnya bertemu denganmu atau keluargamu, memangnya apa untungnya bagi kami?."
"Ya mungkin kalian mau membalas dendam de ..."
"Dendan lagi" ucap Zahra terkekeh kecil, "APA LO GAK NGERTI GUE MULAI TADI NGOMONG APA?, LO KIRA GUE GAK BISA NGOMONG SAMBIL MARAH KAYAK LO?, KALAU LO LEBIH NGERTI GUE NGOMONG MARAH GINI BILANG!" Zahra berteriak menggelegar dan membentaknya diakhir kalimat.
Abra yang melihatnya sampai melongo, dia tidak pernah lihat Zahra berteriak penuh marah seperti sekarang.
"seett ..." Zahra tiba-tiba mendesis membuat Abra panik.
"Ara" Abra langsung menyentuh kedua lengan Zahra.
Kepala Zahra yang semula menunduk menatap perutnya beralih menatap sinis pada Vira. "Tuhkan ... gara-gara kamu mereka jadi ketakutan marah nendang-nendang" omel Zahra kesal.
*-*
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya para Readers yang baik hati 😉
🌟Rate 🔖Vote 🎁Hadiah
💖Favorit 👍Like 💬comment
__ADS_1
Love you 😙
Unik Muaaa