One More Chance

One More Chance
Anak-Anak


__ADS_3

"Sudah mendingan?" tanya Abra.


Zahra mengangguk lemah.


Abra telah mengeringkan rambut Zahra dan menyisirnya, setelahnitu dia mengelus puncak kepala Zahra sebelum mengendong Zahra ala bridal dan membaringkannya dikasur.


"Lapar?" tanya Abra.


Zahra menggelengkan kepala.


Abra menggenggam keduantangan Zahra dan mencium nya satu persatu, "terakhir kali kamu makan siang sayang, sekarang makan ya?" bujuk Abra.


"Anak-anak?"


"Anak-anak diluar, nanti aku bawa si kembar kalau kamu sudah makan."


"Abang"


"Iya Abang juga tapi makan dulu ya?"


Mata Zahra berkaca-kaca sambil menggelengkan kepala pelan.


Tangan Abra menyentuh pipi Zahra, ibu jarinya mengelus pipi Zahra lembut. "Kamu masih lemas, mereka sekarang lagi aktif-aktifnya. Makan dulu jangan buat aku khawatir, kalau gak mau makan aku buatin susu ya?."


Zahra terdiam sejenak hingga kepalanya mengangguk pelan, Abra menghela nafas lega, mencium kening Zahra cukup lama sebelum akhirnya berdiri untuk mengganti bajunya yang sedikit basah sebelum membuatkan Zahra susu.


*-*


Gea, Chaka, Bilqis, Regan dan Aslan


Mereka berlima tidur berjejer di kasur yang digelar diruang tamu, bahkan Regan dan Aslan belum mandi apa lagi makan mereka berdua sudah tertidur lebih dulu.


Javir yang baru saja turun dari lantai dua setelah mandi menatap mereka berlima, mengeluarkan hpnya dan memotret mereka.


Niat Javir yang ingin makan didapur terhenti karena suasana dapur sepertinya sedang ada perang tatap menatap antara Vira dan seorang pria yang tidak Javir kenal, sedangkan Hanna hanya sesekali melirik mereka dengan dan kembali menyiapkan makanan di atas meja makan.


"Hi Jav" sapa Hanna membuat Prabu dan Vira menoleh pada Javir.


"Hai" balas Javir.


"Makan sini jangan hiraukan mereka" ucap Hanna.


Javir tersenyum kecil, mengambil senwich dan segelas air lalu membawanya keluar dapur, dia tidak suka berada ditengah-tengah para orang tua.


Baru saja Javir duduk ditangga memperhatikan seluaruh ruang tamu yang dipenuhi manusia yang tidur tergeletak begitu saja selain si Kembar, Gea, Regan dan Aslan, Abra keluar dari kamarnya.


Menoleh kekanan kekiri memperhatikan semuanya dan menghela nafas sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa mereka tidur disini?" tanya Abra.


Bagaimana tidak, selain anak-anaknya yang tibur berjejer, Sam masih saja tertidur terlentang di lantai, Malvin di sofa panjang dan Emma tidur duduk menyandar kedindidng didekat pintu.


Javir yang mendengarnya tidak menjawab, dia juga yakin Abra tidak melihatnya yang sedang duduk diatas tangga, hingga Abra berlalu berjalan menuju dapur.


"Kenapa lo disini?" tanya Abra pada Prabu sambil berjalan kearah rak lemari mengambil susu Zahra.

__ADS_1


"Cari dia"


Abra yang tidak melihat isyarat dagu Prabu, berbalik badan menatap Prabu dan Vira dengan kening mengerut. "Apa ada sesuatu terjadi selama kalian kerja satu kantor?, kenapa lo nyusul dia kesini?."


Prabu berdecak menatap Abra tajam, "gue kesini cari kak Hanna sama Alaric, karena di mension mereka gak ada. Siapa juga yabg cari dia?, "tunjuknya pada Vira.


"Ya siapa tahu kalian saling suka atau ..."


"Come on" potong Javir berjalan menghampiri Hanna dan merangkulnya, "meski gue ladykiller tapi gue lebih suka wanita yang berkelas, dia bukan tipe gue."


Vira tersenyum sarkas berdiri menatap Prabu tajam, "dan lo juga bukan tipe gue."


Vira berdiri, menyambar handuknya yang dia letakkan diatas meja, mata Vira melirik pada Abra dan Prabu bergantian lalu pada Hanna dan tersenyum lebar, "gue gak suka pria yang sok garang tapi takut sama wanita."


Setelah mengatakannya Vira pergi begitu saja tidak menghiraukan pelototan mata Prabu dan ketutan kening Abra yang menunjukkan jika dia tidak mengerti apa yang Vira katakan.


"Lo kira gue takut!" bentak Prabu.


"Prabu!" tegur Hanna.


Abra mengangkat gelas yang telah terisi susu, "Ara butuh minuman yang hangat" ucapnya dan berlalu begitu saja.


Akhirnya dia tahu apa yang dimaksud Malvim beberapa hari lalu.


*-*


"Anak-anak mana?" tanya Zahra dengan suara lirih.


"Mereka tidur" jawab Abra duduk disebelah Zahra, "minum dulu."


Abra memberikan segelas susu yang dia bawa untuk Zahra, bukan langsung meminumnya, Zahra masih menggenggam gelas ditangannya menatap Abra dalam.


Hanya dua tegukan Zahra kembali terdiam, Abra menetakkan gelas susu Zahra dimeja dan duduk mendekati istrinya. Tangan Abra mengelus rambut Zahra sembari tersenyum segaris, bahkan saat Zahra mulai meneteskan air mata senyum Abra semakin lebar merasa lega akhirnya melihat Zahra menangis setelah sejak tadi Zahra hanya diam menahan sakit dan ketakutan didepannya dan Regan.


"Kamu sudah aman sayang" Abra menarik tubuh Zahra dalam pelukannya memiarkan Zahra menangis membasahi bajunya.


"Aku ... aku tidak takut ... diculik" ucap Zahra sambil terputus-putus karena tangis, "aku hanya takut mati ... tadi sangat sakit ... mereka gak ***** semalaman ... sakit banget saresa mau mati ..."


Abra menghujami puncak kepala Zahra dnegan ciuman, mengelus punggungnya menenangkan Zahra.


"Aku juga diculik ... terus kalau aku dibunuh gimana ... mereka gimana ... anak-anakku gimana ..." cengkraman tangan Zahra sangat erat.


Mendengar apa yang membuat Zahra ketakutan membuat amarah Abra kembali tersulut.


"Tidak akan" desis Abra dnegan rahan mengetat, :mereka tidak akan berani membunuhmu, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh keluargaku lagi. Aku tidak akan biarkan itu terjadi lagi Ara" saat mengucapkannya mata Abra mengelap.


Zahra perlahan mulai berhenti menangis, mendongakkan kepalanya menatap Abra. "Kenapa mereka gak berani membunuhku?, penculik pasti itu jahat Abra ... apa lagi ini diluar negeri."


Bum ...


Otak Abra seketika blank, sepertinya karena emosi dia sampai tidak bisa mengontrol diri. Pada hal dia sudah berniat untuk tidak membuat Zahra curiga sedikitpun.


"Ya ... karena mereka tidak akan berani" ucap Abra sedikit gugup lalu menggenggam tangan Zahra. "Apa saat diculik kamu hanya memikirkan kalau mati anak-anak bagaimana?," Abra mencoba mengalihkan pembicaraan.


Zahra mengangguk cepat.

__ADS_1


"Apa kamu tidak memikirkanku?" tanya tak percaya.


Kepala Zahra menggeleng.


"Wah ... bagaimana bisa kamu melupakanku?, pertama kehilangmu saja aku hampir gila, kamu diculik Vira aku marah bahkan tadi aku dan Ar mengamuk, apa kamu tidak berfikir gimana aku kalau sampai kamu meninggalkan aku lagi?."


Abra mengucapkannya seakan tanpa bernafas meluapkan kekhawatirannya sejak tahu Zahra diculik.


Sedangkan mata Zahra memicing, menatap Abra penuh curiga. "Aku sempat memikirkanmu" ucap Zahra tiba-tiba begitu tenang membuat Abra mengernyit.


"Apa?"


Zahra tersenyum lebar, "apa kamu mengenal mereka?."


Seratus persen Abra yakin Zahra mulai mencurigai sesuatu dan akan terus mengorek-ngorek informasi entah kepadanya atau kepada orang lain.


Abra fikit tadi dia sudah berhasil mengalihkan pembicaraan, tetapi entah dari kata-katanya yang mana sehingga membuat Zahra kembali bertanya kenapa dia tahu mereka tidak berani membunuhnya.


Dan Abra hanya bisa diam-diam menghela nafas, "tidak" jawabnya mencari jalan aman untuk saat ini.


"Lalu kenapa kamu tahu mereka tidak berani membunuhku?."


Tidak ada cara lain, Abra mengucek-ngucek matanya lalu meraup wajahnya.


"Hahuuwai ..." Abra menguap lalu mengerjap-ngerjabkan matanya, "aku hanya menebak Ara, aku mengantuk ayo tidur."


Tangan Zahra menarik lengan Abra mencegahnya berbaring bersiap tidur, "apa aku diculik karena kamu lagi?."


Kepala Abra yang menghadap kelain arah memudahkannya memejamkan mata, bersiap-siap untuk menghindar dari tatapan mata Zahra."Hems ... kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?" keluah Abra.


Zahra mendorong tubuh Abra hingga Abra hampir terjatuh dari kasur. "Kali ini masalah apa?" suara Zahra mulai tidak enak didengar oleh telinga Abra.


Kepala Abra langsung pusing seketika, dia bingung mau menceritakan dari mana, karena jika salah jawab makah resikonya akan fatal.


"Bisakah kita bicarakan ini lain kali?" Abra mencoba membujuk Zahra dengan sura kecilnya khas orang mengantuk."Aku benar-benar mengantuk, semua sudah tidur, anak-anak kita juga tidur. Kita tidur dulu ya Ara?" bujuknya menarik Zahra agar berbaring disampingnya.


"Jangan peluk" Zahra mendorong tubuh Abra menjauh dan memunggunginya.


Abra kembali bergeser mendekat kembali memeluk Zahra dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Zahra.


"Please biarkan aku tidur nyenyak" pintanya dengan nada memohon.


Zahra akhirnya hanya bisa pasrah saja.


Dan hal itu adalah satu kemenangan yang patut disyukuri untuk Abra, meski hanya sementara entah apa yang akan terjadi setelah mereka bangun nanti.


*-*


*-*


Lop Lop Lop You all 😙


Alhamdulillah masih ada Readers yang setia dan baik hati ngasih ⭐🔖💖🎁👍💬 buat menyuport karya Author One More Chane meski tidak semua Reader Sih 🙊


Jangan lupa jejaknya 😍

__ADS_1


Mohon commentnya demi mengetahui respon kalian 😆 sadar atau tidak kadang tulisan kalian juga Author jadikan bahan untuk next bab One More Chance kok 😆


Love you 😙 Unik Muaaa


__ADS_2