
Rambut coklat tergerai dengan topi yang menghiasi kepalanya melindungi wajahnya dari sinar matahari. Namun tidak dengan outfit yang dia pakai celana jeans pendek sepaha, kaos panjang dan sneakers yang Gea pilih untuk dia pakai hari ini.
Berbeda dengan Yesi yang masih terlihat feminim degan rok mini model A-line dan kaos polosnya, tidak ketinggalan sepatu boots kulit yang dia pakai. Saat di Surabaya udara sudah cukup panas, jadi mereka sudah memperkirakannya dan memilih menggunakan baju yang tidak menutup seluruh tubuh mereka agar tidak gerah.
Setelah menitipkan koper kecil mereka dipos satpam sekolah, mereka berdua masuk kedalam sekolah tanpa menghiraukan beberapa siswa yang berada di luar kelas memperhatikan gaya tampilan mereka.
Bertepatan dengan itu, Bell sekolah berbunyi semua siswa langsung berhamburan keluar. Gea memang sengaja datang saat jam pelbelajaran selesai. Dia menarik tangan Yesi dan berdiri di tengah lapangan.
"Gue ada berperlu dengan siswa bernama Regan" teriaknya. "mohon bantuannya" suara Gea terdengar manja membuat Yesi meliriknya tak percaya.
"mohon bantuannya" Yesi berbisi menirukan nada bicara Gea. "kayak cewek centil".
"Bodo' ".
Gea kembali berjalan, terpaksa Yesi kembali mengekorinya. Jika disekolah mereka Gea bersikan seperti sekarang dia akan meiloh meninggalkan Gea sendirian.
Langkah Gea terhenti didepan seorang gadis berkerudung putih. "Hai kak bisa bantu saya ketemu Adam Regan..." Gea lupa nama panjang Regan.
"Bisa ayo ikut" gadis itu dengan sopan berjala di depan Gea.
Mereka memecahkan kerumunan yang mengitari lapangan, bakan lorong sekolah juga penuh dengan para siswa yang tidak langsung pulang. Beberapa guru yang baru keluar dari kelas menatap Gea dan Yesi yang berjalan cuek tang menghitaukan tatapan beratus-ratus pasang mata kearahnya.
Tepat di lorong kelas Tiga IPS Gea melihat Regan dan ketiga temannya sedang berjalan kearahnya. Gea mempercepat langkahnya menghampiri Regan.
Kurang dari lima langkah Gea berhenti tepat didepan Regan membuat Regan juga menghentikan langkahnya di ikuti ketiga temanbya.
Gea mengulum binirnya, tatapan mereka saling bertautan. Dia menatap Regan tajam, dadanya bergemuruh seketika. Regan yang berdiri didepannya berbeda dengn di foto profil yang tampak kucek dan biasa seperti anak desa pada umumnya.
"Hai kak" sapa Gea sedikit gugup namun tersenyum ceria padanya.
Regan menatapnya datar.
"Aku Gea, aku sengaja datang kesini tanpa Daddy. Sebelumnya aku perkenalkan diru dulu kalau aku Angelia Lovita anak A...".
"I know you" potong Regan dengan nada tidak bersahabat.
Regan melirik ke lain arah, banyak para siswa yang sedang memperhatika mereka.
Gea menangkap ketidak nyaman Regan. "Ok, We speak English then" Gea tersenyum kecil seakan meremehkan siswa disana. "You are one of the smart students, so I think you can speak English well".
"why you here?".
Senyum Gea mengembang melangkah maju dengan girang. "just...want to meet my brother".
"who?".
Gea tersenyum lebar "ofcouse you".
"Iam not your brother".
"But I'm your little sister".
"I have no sister" kata Regan penuh penekan dan berjalan melewati Gea.
Gea berdecak melangkah cepat dan menghadang langkah Regan menatapnya tajam tanpa senyum ceria yang dia tunjukkan tadi. "Your step sister".
__ADS_1
Regan kembali berjalan melewatinya, membuat Gea mendengus kesal dan melangkah cepat mencoba mensejajarkan langkah mereka.
Tidak jauh dari mereka Malvin sedang menerima telfon dari Abra. "santai" Malvin memotong perkataan Abra. "dia disana" Malvin mengarahkan kamerenya pada Gea dan Regan yang sedang berjalan seperti kereta api yang di ikuti empat orang teman mereka di belakang.
Saat Regan berhenti Gea juga ikut berhenti, dan itu terjadi berkali-kali membuat Regan kesal dan berbalik menatap ketiga temannya yang hanya mengekor sejak tadi.
Yesi berjalan beriringan dengan Mila, Rio dan Gana mengikuti mereka berdua dibelakang. ah... kenapa kalian ikut-ikutan?, jadi kayak kereta apa gini. Batin Regan sambil melototi ketiga temannya. Yang di pelototi hanya menyengir kuda membalas pelototannya.
Regan menghela nafas kembali berjalan cepat keluar sekolah dan masuk kedalam angkotan umum.
Kaki Gea terhenti bimbang, dia tidak pernah naik angkutan umum selama ini. Tetapi setelah meyakinkan dirinya dia juga masuk kedalam angkot duduk berdempetan dengan Regan.
Gea melirik kesegala arah. Dapat Regan pastikan jika Gea sedang risih duduk didalam angkotan umum berdesakan, namun apa perdulu Regan?.
*-*
Sesampai didepan rumahnya Regan turun mengeluarkan selembar uang dua ribuan. Gea juga turun menatap uang yang Regan serahkan pada kernet, Gea membuka tasnya dan menyodorkan uang seratus ribu.
"beh... tadhe' sosoknah" kata si kernet. (tidak ada kembaliannya: Bahasa Madura).
Gea melirik Regan, Regan bersikap cuek dan hendak meninggalkannya, Gea menarik lengan Regan. "dia bicara apa?" bisik Gea.
Si kernet tertawa kecil. "gak ada uang kembaliannya, ongkosnya hanya dua ribu".
Gea menggukkan kepala paham. "tapi Gea gak ada uang kecil, ya sudah ini Am...".
Regan menepis tangan Gea yang menjulurkan uang pada kernet dan memberikan uang dua ribunya.
Tangan Regan menepis tangan Gea yang merangkul lengannya. Gea tersenyum pada kernet dan berlari kecil menyusul Regan. "Terima kasaih". ucapnya riang.
"Wa'alaikumsalam...".
Langkah Gea terhenti menatap pagar pendek didepannya, dia mengangkat wajah menatap rumah minimalis yang jauh dari kata sederhana namun cukup layak versi Gea.
Regan menatapnya sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Zahra yang sedang membereskan piring sisa pelanggan.
"dia siapa?". tanya Zahra setelah Regan bersalama.
Regan hanya mengangkat bahu dan mengambil alih piring dari tangan Zahra membawanya masuk kedalam rumah.
"permisi". kata Gea lirih terlihat canggung. "as...salamu'alaikum" lanjutnya menghampiri Zahra.
"Wa'alaikumsalam".
Ragu Gea menjulurkan kedua tangannya sambil menatap Zahra. Dia jarang mengucapkan salam dan bersalaman pada seseorang, hanya pada Abra dia bersalaman itupun hanya terkadang saja.
Zahra tersenyum melihat tingkah Gea menjulurkan tangnnya setelah memastikan bersih dengan celemek yang dia pakai.
"siapa?" tanya Zahra dengan senyum tulusnya.
Gea mengulum bibirnya. "Ge... Gea tante". jawab Gea lirih.
Matanya berkaca-kaca, menatap wajah Zahra yang begitu teduh. Tangan yang kasar namun dapat dilihat kegangatan dan keanggunan dari aura yang Zahra pancarkan.
"teman Regan?" Gea diam tetap menatap Zahra dalam. "Abang Arz...".
__ADS_1
"Bukan" potong Gea menghentikan teriakan Zahra. "aku Agelia Lovita" suara Gea terdengar serak. "anak Savira dan...".
"Bunda" panggil Regan dari depan pintu.
Zahra sudah terdiam mematung, wajahnya berubah menatap Gea datar. Gea Menundukkan kepala dalam.
*-*
"pesan penerbangan yang langsung ke Madura sekarang" perintah Abra.
Pada saat itu Sam masuk kedalam rumah. "ada apa?, mereka dimana?" tanya Sam khawatir.
"Di Madura, cepat urus penerbangan yang langsung ke Madura sekarang".
"kenapa jika pakai jet pribadi perusahaan?" usul Sam.
"Terserah yang penting kita harus cepat sampai kesana".
Sam langsung mengeluarkan hpnya dan berjalan menjauh.
Nanda menghampiri Regan dengan tablet ditangannya. "penarikan uang lima juta dari ATN Gea dan Yesi jam enam pagi, sebelum merek terbang ke Madura".
Abra berjalan menaiki tangga dengan cepat, dia harus mandi dan menggati bajunya di kamar khususnya. Meski sekarang keadaan tengah genting, dia tidak munglin bertemu Zahra dengan penampilan seperti sekarang ini.
Sam sendiri telah selesai menghubungi pihak bandara duduk di depan teras rumah menunggu Abra yang tidak kunjung datang.
"dia bilang cepat tapi belum turun juga" gerutu Sam.
Tepat saat itu Abra keluar dari dalam rumah dengan celana jeans dan kaos pendeknya, jaketnya dia gantung di ransel yang Tofa bawa.
"lo di saat genting gini masih sempat ngurus penampilan lo mau ketemu Zahra?" keritik Sam.
Abra memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "lo sendiri yakin mau ke Madura pakai baju formal gitu?".
Kening Sam mengerut. "kenapa?, sudahlah ayo cepat nungguin lo sejam lebih tapi nyuruh gue cepetan" Sam mengomel sambil berjalam menuju mobil.
"Bang, di Madura bukannya panas ya?" tanya Tofa menyerahkan ransel Abra.
Abra hanya tersenyum dan mengangkat bahunya tidak amb pusing. Lagi pula dia sudah bertanya pada Sam tadi.
*-*
.
Hai Readers...
*Jangan lupa ...
Selalu tinggalkan jejak ๐
๐Like and ๐ฌComment
Demi mendukung karya Author dan menyemangati Author ๐
Love You ๐*
__ADS_1
Unique_Muaa