
Sepasang mata itu memperhatikan setiap gerak gerik Zahra sejak keluar dari rumah Kakek Arya.
Teringt kembali ucapan yang mengganggunya sejak seminggu yang lalu. "Apa mereka kembali?, jika sampai Abra melepaskan tangan kita akan kembali seperti dulu. Apa kamu tidak membutuhkan uang?, jika Abra melepaskan tangan, kamu yang harus kembali."
Dari tadi dia hanya memperhatikan Zahra, membiarkan dua orang suruhannya yang akan melakukan tugas mereka.
.
.
.
"Kanapa hanya mereka, kanapa aku tidak dibelikan sesuatu?." Aslan menggerutu berjalan disamping Regan.
Hari ini mereka bertiga sedang berbelanja untuk oleh-oleh yang akan dibawa ke Madura.
"Sekarang atau nanti sebelum berangkat keluar negri?," Regan membuka pintu mobil untuk Zahra.
"Kalau nanti beda lagi Ar?, kamu sudah kaya jagan perhitungan."
"Yang kaya bukan aku, cepat ambil sepeda motornya aku tunggu disini."
Aslan mendumel memberikan belanjaan Zahra dan Regan pada supir Abra.
Zahra mengelus lengan Regan."Kenapa sih kalian kalau berdua selalu bertengkar, berisik. Kelau ke orang lain diem, ayem, telinga Bunda gak panas."
Regan tersenyum kecil. "Maaf Bun, Bunda pulang duluan ya, Ar nunggu As ngambil sepeda motor."
"langsung pulang."
"Iya Bun, Ar ngikutin dari belakang."
Akhirnya Zahra masuk kedalam mobil, Regan masih menunggu Aslan.
Tadi Zahra berangkat dengan Gea yang akan berangkat sekolah, karena takut telat akhirnya mereka berangkag lebih dulu membuat Aslan dan Regan menyusul menggunakan sepeda motor meski Ibnu menawarkan akan mengantar mereka.
Aslan dan Regan mengikuri mobil Zahra dibelakang dengan jarak yang agak jauh. Regan dan Aslan sedang membicarakan apa keputusan mereka dan harus bersikap bagaimana dengan persyaratan yang diajukan Abra.
Mata Regan menajam melihat mobil yang ditumpangi Zahra berhenti. Zahra keluar dari mobil, Regan menepuk pundak Aslan untuk mempercepat laju motor, tetapi Aslan malah menghentikan motornya.
"Kenapa malah berhenti sih," tegur Regan.
Sebelum Aslan menjawab mobil menghampiri Zahra, kejadiannya begitu cepat. Mobil itu berhenti sebntar, dua orang keluar dari dalam mobil dan memaksa Zahra masuk kedalam mobil.
"Tolong penculik...."
Supir berteriak meminta tolong, Regan sudah kalang kabut, Aslan kembali menghidupkan motornya menghampiri supir yang masih berteriak.
"Nanti saya telfon," Aslan hanya menyerahkan hpnya pada supir. "Hubungi Pak Abra sekarang."
__ADS_1
"Cepet As!" teriak Regan dengan wajah memerah menahan marah dan khawatir.
"iya, pegangangan" respon Aslan santai.
Tidak seperti tadi awal mereka keluar dari rumah Regan berteriak meminta Aslan memelankan motornya, kali ini dia diam menggenggam ujung jaket Aslan hingga tangannya memutih.
Mobil yang membawa Zahra terkejar, tetapi Aslan menjaga jarak hingga mereka tiba di rumah tua.
Aslan menghentikan motornya tidak jauh dari rumah itu. Zahra keluar di papah oleh dua orang berperawakan seperti pereman.
Regan turun dari motor hendak berlari menghanpiri mereka namun Aslan menarik kerah belakang jaketnya.
"Lepas!" bentak Regan marah.
"Tenang" Aslan turun dari motor dan mencabut kuncinya, merangkul lengan Regan. "Kita harus tahu siapa dalangnya, jaman gini main beginian."
Mendengar ucapan Aslan yang terlewat santai, Regan menepis tangan Aslan yang memegangi kerah belakang jaketnya. "Aku gak bisa tenang As Bunda diculik, gimana ..."
Aslan tanpa izin mengambil hp Regan menghubungi seseorang. "Saya shareloc dan kirim pada pak Abra." Aslan memasukkan kembali hp Regan kesaku jaketnya. "Mari olah raga."
Tatapan Aslan berubah seketika sambil merengangkan tangannya membuat Regan tertegun, tatapan yang terakhir Regan lihat saat mereka memperebutkan juara satu karate tingkat SMA dua tahun lalu.
"Kamu yang ngajar mereka, aku yang nyelametin Bunda. Ototku sudah kaku lama tidak karate."
Aslan meneput pundak Regan sebelum menerjang pintu masuk.
Dua orang yang mereka lihat tadi keluar menghadang mereka. Asalan tersenyum dengan tenag dan berjalan hendak melewati mereka.
"Beresin gue cari Bunda" dengan tenag Aslan berjalan semakin masuk kedalam rumah.
Beberapa ruangan kosong, Aslan terus membuka satu persatu pintu hingga melihat dua orang pereman menjaga pintu.
"Bunda mana?" Regan sudah menyusulnya dengan nafas ngos-ngosan.
Dengan dagu Aslan memberi isyarat.
Kali ini Regan yang maju terlebih dahulu menghajar dua orang pereman itu tanpa Aslan pinta.
Aslan membuka pintu ruangan, terlihat Zahra yang duduk tak sadarkan diri di kursi kayu membuat rasa khawatir Aslan menguasai dirinya hingga tidak sadar dibelakangnya ada seseorang memegang balok kayu siap memukulnya.
"Bunda"
Buk ...
"Kurang ajar ...." teriak Regan menggelegar dari arah pintu melihat Aslan dipukul dari belakang.
Yang memukul Aslan menoleh dengan balok kayu yang masih dia acungkan.
Melihat orang didepannya membuat amarah Regan semakin menguasainya. Regan menghampiri orang itu dan meloncat tinggi menendang balok kayu itu hingga terlepas dari tangannya.
__ADS_1
Aslan sendiri yang masih bisa berdiri menghampiri Zahra, meski kepalanya berat dan telinganya berdengung sebab pukulan tadi.
"Bunda" panggil Aslan.
Zahra masih tidak sadar meski Aslan terus memanggilnya.
Perasaan khawatir juga menguasai Regan mendekati Zahra. "Bunda" panggilnya.
Aslan membopong tubuh Zahra. "Sepertinya anda akan kembali mengecewakan Gea." Aslan melirik sebelum melangkah pergi. "Dan sepertinya pak Abra akan tahu siapa anda sesungguhnya Tate Vira."
Ya, Vira terduduk dilantai. Saat Regan meloncat dan menendang balok kayu yang dia pegang hingga terlempah kesudut ruangan, tubuh Vira gemetar hingga terduduk dilantai yang kotor.
"Anda mengganggu singa yang tidur" Aslan tersenyum menatap Regan yang sedang menatap Vira dengan mata memerah. "Kita pergi."
Ucapan Aslan berhasil menarik perhatian Regan. Tanpa diperintahkan Regan berjalan terlebih dahulu bersiap melawan para pereman yang akan menghalangi mereka.
Sebelum melangkah keluar dari ruangan penyekapan Aslan berbalik menatap Vira dengan senyum sinisnya. "Apa anda tidak tahu siapa kami?, Regan saja bisa melumpuhkan empat sampai lima pereman yang anda sewa, apa lagi saya yang mengenalkannya pada karate." Aslan kembali melangkahkan kakinya.
Ya, dia yang memperkenalkan Regan pada karate tetapi setelah beberapa tahun kemudian mereka bertemu dan saling lawan, Aslan mengakui Regan sudah berkembang pesat.
Aslan membawa Zahra keluar dari rumah itu, Regan yang baru saja melumpuhkan para preman yang masih berusaha menghalangi mereka berlari menyusul Aslan.
Mobil berhenti tepat didepan gerbang, Abra keluar disusuk dengan Sam.
Di belakang Mobil Abra sebuah mobil juga ikut berhenti, lima sampai tujuh orang berjas hitam masuk berlaian kedalam rumah.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Abra menatap Zahra yang masih Aslan bopong.
"Mereka sepertinya membius Bunda" jawab Aslan sambil memejamkan mata sejenak mencoba mengurangi denyutab dikepalanya.
"Kita bawa kerumah sakit, kita tidak tahu obat bius apa yang mereka pakai." Regan menatap Abra dengan mata berkaca-kaca.
Abra memgangguk membuka pintu mobil membiarkan Regan yang pertama kali naik kedalam mobil.
Baru saja Regan merebahkan kepala Zahra dipangkuannya, tubuh Aslan melemas dan terjatuh pingsan.
"As ...."
*-*
.
*Maaf ya kalau ada TYPO 😢
Author refisi kalau sudah tamat 😌
🙏mohon pengertiannya🙇
Love you*
__ADS_1
Unik_Muaaa