One More Chance

One More Chance
Mulai Dewasa


__ADS_3

Kabar Vira kali ini sangat buruk, dia benar-benar terkunci dirumahnya tidak bisa keluar kemanapun membuatnya tampak kurus dan tak terawat.


Setelah mandi seperti biasa, Vira akan turun untuk sarapan bersama Papa dan Mamanya, mereka hanya sekedar sarapan bersama tanpa saling berbicara satu sama lain. Setiap pagi Vira akan melihat wajah Papanya yang terlihat seperti dulu, kuruang tidur karena mengurus perusahaan seharian.


Mencoba memberanikan diri Vira mencoba memulai pembicaraa, "boleh pinjam hp mau menghubungi Gea?" ucap Vira lirih.


Menghentikan semua aktivitas yang dilakukan Pak Jaya dan istrinya.


"Apa kamu bisa menghubungi Gea?" tanya Pak Jaya setelah sekian lama beliau hanya mendiamkannya.


Vira mengangkat kepalanya menatap Papanya yang ternyata berbicara tanpa melihat kearahnya, membuat Vira sedikit sedih meski disisi lain dia bahagia Papanya mau berbicara dengannya.


"Hampir setengah tahun Papa tidak bertemu, biasanya setiap bulan dia akan kekantor membantu Papa merekap keuangan perusahaan." Pak Jaya meminum air dalam gelas disampingnya, mengeluarkan hpnya dan meletakkannya didepan Vira.


Senyum Vira terbit, mencari nomor Gea dengan tidak sabar dan menghubunginya, dia menatap layar hp ditanyannya menunggu Gea mengangkat telfonnya dengan tidak sabar.


"Halo Opa, Assalamu'alaikum" terdengar suara Gea yang begitu lembut disebrang.


Vira semakin tersenyum lebar, "sayang ini Mami" ucap Vira penuh kebahagiaan.


Tidak ada sahutan dari Gea, senyum lebar di wajah Vira mulai memudar.


"Gea" panggil Vira memastikan Gea masih mendengarkannya.


"Ada apa?" tanya Gea dengan suara datar.


Vira kembali tersenyum lebar "Mami kangen, Opa juga kangen Gea, setelah pulang sekolah bisa kerumah Opa?."


Terdengar Gea menghela nafas disebeang, "minta tolong bilang sama Opa, Gea nanti mampir kekantor."


"Kenapa tidak kerumah?, Mami dirumah Opa. Tapi kalau Gea mau ketemu diperusahaan gak papa, Mami nanti bawa masakan yang Mami ...."


"Gak usah" potong Gea lirih, Gea terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan "Gea masih belum bisa ketemu Mami."


Setelah mendengarnya, senyum dibibir Vira menghilang. "Kenapa?" tanya Vira menahan geramannya, "apa Zahra dan Abra tidak mengizinkanmu bertemu Mamimu sendiri?."


Gea tidak langsung menjawab "tidak" bantah Gea tegas, "Gea sendiri yang memang belum bisa bertemu Mami."


"Kenapa?, kenapa Gea tidak bisa bertemu Mami sedangkan dengan Opa bisa?." Vira bertanya dengan siara menggebu menahan amarah.


"Karena Gea belum bisa."

__ADS_1


"Jangan bohong dengan Mami, mereka tidak mengizinkanmu bertemu dengan Mami bukan?. Ini Mamimu sendiri Gea, berikan hpmu pada Abra Mami akan ...."


"Gak ada hubungannya dengan mereka!" seru Gea memotong ucapan Vira yang menggebu dengan nada yang mulai meninggi. "Gea sendiri yang belum bisa bertemu dengan Mami, Gea masih belum bisa menerima semuanya. Gea belum bisa Mi, tolong mengerti."


Nafas Vira memburu "begitu besarkan kamu membenci Mami?, apa setengah tahun ini belum bisa buat kamu menerima masa lalu Mami?."


"Ya" Gea menjawab dengan tegar tanpa ragu atau berfikir seperti sebelumnya. "Apa yang Mami lakukan dulu terjadi pada Gea, baru-baru ini Gea sekan mendapat karma, DARI APA YANG SUDAH MAMI LAKUKAN". Gea menjerit diakhir kalimat sekan menumpahkan apa yang sudah dia pendam.


Terdengar isakan tangis Gea disebrang, bukan hanya isakan Gea bahkan berteriak seakan mengeluarkan sesak dalam dadanya.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Vira, dia tertegun mendengarnya, ini pertama kali dia mendengar Gea menderiakinya, pertema kali mendengar Gea menangis, mereka tidak sedang bertatapan tetapi mampu membuat Vira terdiam menatap kosong kelayar hp didepannya yang menampilkan foto Gea sedang tersenyum bahagia.


Apa yang dirasakan Gea saat ini serasa tersampaikan kepadanya, Vira merasakan sesak didadanya padahal dia tidak tahu apa alasannya.


"Maaf" kembali terdengar suara lirih Gea, "padahal Gea hanya mendengar suara Mami Gea sudah lepas kontrol, maaf. Kita bicara jika Gea sudah siap Mi, Gea tidak mau membentak Mami, maaf."


Gea menutul panggilannya tanpa mengatakan salam seperti awal.


Satu pertanyaan yang bersarang diotak Vira, "apa yang mereka lakukan pada Gea?."


Vira menatap Papanya dengan mata memerah, "aku harus bertemu dengan Abra dan Zahra, aku harus tahu apa yang mereka lakukan pada anakku" ucapnya menggebu.


"Lalu kalau bukan mereka siapa lagi?, kenapa Gea mengatakan hal seperti itu?" Vira tidak terima Pak Jaya tidak memihaknya.


Pak Jaya yang hampir saja melangkahkan kaki pergi kembali membalikkan badan menatap Vira dengan tatapan tajam, "jika Zahra dan Abra membalas perlakuanmu pada Gea, Papa tidak akan melihat Gea tertawa bersama mereka."


"Siapa ta ..."


"Papa seorang Kakek yang merindukan cucunya" potong Pak Jaya lirih namun tegas. "Papa selalu menunggu Gea didepan sekolah atau memperhatikan Gea dari jauh dimanapun. Jangan berfikiran buruk tentang Abra dan Zahra, jangan lagi memaksa Gea untuk bertemu. Anak itu mulai dewasa, dia juga terlalu baik sampai tidak mau bertemu denganmu karena takut tidak bisa menhandiri dan membentakmu." Pak Jaya tersenyum menatap Vira sayu, "Abra dan Zahra mendidiknya dengan baik, tidak seperti kami."


Setelah mengatakannya Pak Jaya kembali melangkahkan kakinya pergi, Mama Vira berdiri dari duduknya dan ikut pergi menyusul suaminya.


*-*


Saat mendengar Gea berbicara dengan nada tinggi Zahra berhenti melayani Abra yang sedang sarapan, dan berjalan menghampiri Gea untuk memperingatkan gadis itu agar tidak berbicara kasar pada Opanya, tetapi langkahnya terhenti saat Gea mengucapkan memanggil Mami dan mulai berbicara dengan nada lembut lagi.


Zahra tidak mau mengganggu Gea yang sedang berbicara dengan Vira, Zahra hendak berbalik badak kembali ke meja makan, tetapi jeritan Gea dan disusul tangis gadis itu membuatnya bergegas menghampiri Gea.


Tangan Zahra menangkup kedua pipi Gea, tangis gadis itu tambah menjadi. Gea menurunkan hpnya dari telinganya, menjerit dan memeluk Zahra.


"Hei jangan menagis" Zahra berbisik pelan mengurai pelukan Gea, dia menghapus air mata dipipi Gea, "minta maaf bicara yang baik pada Mamimu."

__ADS_1


Gea menggeleng tidak sanggup lagi berbicara pada Vira.


"Bagaimanapun dia ibumu" bujuk Zahra lembut.


Entah sejak kapan Abra sudah berdiri didekat mereka, mengelus rambut Gea "Gea" panggilnya selirih mungkin.


Gea menoleh pada Abra dan kembali mendekatkan hpnya ditelinga. "Maaf" ucap Gea dengan suara lirih, "padahal Gea hanya mendengar suara Mami Gea sudah lepas kontrol, maaf. Kita bicara jika Gea sudah siap Mi, Gea tidak mau membentak Mami, maaf."


Gea menutup telfonnya, Abra menarik Gea dalam pelukannya, mengelus rambut Gea lembut.


"Ayo Gea cuci muka dulu sebelum sekolah, nanti telat loh" Zahra mengelus punggung Gea, "Bunda siapin bekal biar bisa Gea sarapan dimobil, ayo sana cuci muka."


Tampa mengayakan apapun Gea melepas pelukan Abra dan berjalan menuju tangga.


Zahra menghela nafas menatap Gea dengan sedih, "setelah kejadian malam itu dia berubah" ucap Zahra lirih, "sebenarnya apa yang terjadi pada anak gadis kita?" Zahra menoleh pada Abra.


Abra mengelus kepala Zahra yang terbarut kerudung, "kita tidak bisa memaksanya bercerita sayang."


Wajah Zahra langsung murung, "anak-anak kita mulai dewasa ya?, sudah bisa menyelesaikan masalah sendiri sampai kita kayaknya gak dianggap."


"Gak gitu juga Ara."


"Iya, mereka udah gak cerita-cerita lagi, udah gak ngeluh-ngeluh, gak manja-manjaan, Ar dan As juga jarang nelfon."


"Ya, mereka mulai dewasa, sekarang kamu yang selalu minta dimanja."


Zahra langsung menolehkan kepalanya menatap Abra dengan mata memicing, "bukan aku yang manaja" rengek Zahra, "mereka yang manaja" Zahra mengelus perutnya.


Abra tertawa memeluk Zahra dari samping, "ya ya ya ... mereka yang manja Ara enggak."


Senyum Zahra terbit, dia mendongalkan kepala menatap Abra dan menunjuk keningnya meminta Abra menciumnya, membuat Abra semakin tertawa lepas.


*-*


.


.


.


Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2