
Turun dari pesawat saat adzan subuh, Abra langsung menuju kerumah Zahra. Pagar tertutup tanpa digembok, tetapi tintu di kunci, bahkan lampu mati semua.
Abra menggedor pontu beberapa kali dan memanggil nama Zahra dan Regan bergantian namun tidak ada jawaban. Kaki Abra serasa lemas, dia kembali kehilangan Zahra dan Regan untuk kedua kalianya.
Perlahan kaki Abra tidak dapat menipang tubuhnya hingga terduduk didepan pintu. Dia tertawa, mentertawai kebodohannya yang kurang berusaha keras kembali membawa Zahra. Padahal, dia sudahengatakan dengam tegas akan membawa Zahra dengannya saat dia datang menemuinya lagi.
Dulu dia hanya kehilangan Zahra, tetapi sekarang dia serasa kehilangan dua orang bahkan jika Kakek Arya tau Regan dan Zahra menghilang dia yakin beliau akan menghembuskan nafas terakhirnya, maka dia akan kehilangan tiga orang sekaligus.
Tetapi sepertinya Tuhan menyayanginya, saat dia mendengar suara langkah di sampingnya, dia melihat dua pasang kaki yang membuatnya meneteskan air mata.
Zahra dan Regan tidak pergi, Abra memeluk Zahra dengan penuh perasaan legah. Dia bahkan akhirnya membiarkan perasaan lelah menguasainya, membuatnya pingsan di pundak Zahra.
Setelah terbangun dan berdebat dengan Regan, Abra kembali tertidur. Dia merasa lega Zahra dan Regan tidak menghilang, meski Regan masih kekeh mengakui Zahra janda.
"Kita kembali lagi ya Ara," Abra membujuk Zahra. "Beri aku satu kesempatan untuk membahagiakanmu," tetapi di tengah-tengah mereka ada Regan yang membuatnya berhenti membujuk Zahra.
Zahra dan Regan memulai rutinitas harian mereka seperti biasa, Zahra memasak dan Regan menjemur pakaian yang tadi sudah dicuci Zahra saat Regan menemani Abra.
Belum lima belas menit terdengar langkah terburu-buru dari kamar Regan, Abra terbangun dan sadar apa alasan dia menemui mereka.
"Ara ...," panggil Abra berteriak.
"Didapur," jawab Zahra.
Regan yang menjemur pakaian disamping rumah berdecak kesal mendengar teriakan Abra memanggil Bundanya, Ara. Regan tidak suka ....
"Ara bisa gak kita bicara sebentar?," nafas Abra terputus-putus.
"Mandi dulu," perintah Zahra tidak menghiraukan pertanyaan Abra.
"Mandi dulu!," ulang Zahra tegas.
Regan berdiri dipintu belakang menatap penampilan Abra yang acak-acakan. "Gak sadar penampilan ada sekarang seperti siapa?," sindir Regan sarkas.
Abra menoleh, menatap Regan sinis. "Kenapa?, meski bangun tidur saya tetep ganteng." Dia malas jika anak pintar itu kembali ikut berbicara.
"Ganteng tapi belekan?."
Abra gelagapan. "Saya gak bawa baju, lagian ada yang harus saya bicarakan penting."
"Lebih penting hidung Bunda saya, dari pada apapun. Lebih baik anda mandi sebelum Bunda muntah."
Abra mengernyitkan kening, beberapa detik kemudian mengerti apa yang dikatakan Regan dan mengangkat kedua lengannya menciumi keteknya. "Tidak bau-bau banget."
__ADS_1
"Mandi atau keluar dari sini!."
"Saya tidak bawa baju."
"Pakek sarung dan baju saya." Regan berbalik berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Abra hanya mematung menatap Regan kesal.
Anak itu selalu aja mengajaknya ribut, bakhan selalu membantahnya, membuatnya kesal, geram dan ingin mencak-mencak sendiri.
Terpaksa dengan berat hati Abra berjalan mentusul Regan, sambil menghentakkan kaki kesal menyusul Regan.
Baru sampai pintu kamar, Regan menyodorkannya sarung dan baju putih. Abra mengambil baju putih itu dan membolak baliknya, baju yang dia kenal. "Ini baju karate."
Kepala Regan mengangguk. "Memang, Kalau kaos yang biasa gak ada yang masuk sama anda."
Abra hanya bisa menghela nafas pasrah, mengambil sarung yang masih dipegang Regan dan berjalan gontai menuju kamar mandi.
*-*
"Bisa kita bicara?," tanya Abra pada Regan yang duduk disebelahnya.
"Makan dulu."
"Bicara dulu."
Kali ini Regan yang menghela nafas. "Apa anda tidak lapar?, anda pingsan tadi sepertinya bukan hanya kelelahan."
Zahra meletakkan semangkun bubur ayam didepan Abra. Sedangkan Regan dengan riangnya menyendok nasi dan sayap ayam kecap pedas manis.
"Aku mau itu Zah," Abra menunjuk piring Regan.
Regan mencibir dan mulai menggigit sayap ayam.
"Makan bubur dulu biar perut kamu gak kaget kelaperan dari kemarin."
"Tapi ...."
"Nanti!, Arz baca do'a."
Suara tegas Zahra membuat Abra terdiam dan mulai menyendok bubur ayamnya.
Bubur Ayam Zahra tetap sama seperti dulu, Abra bahkan tidak sadar jika bubur didapan mangkoknya sudah habis.
Abra meminum air dan diam menunggu Zahra dan Regan selesai makan.
__ADS_1
Pintu rumah Zahra ada yang mengetuk, Zahra dengan buru-buru mencuci tangannya berhenti makan.
Regan ikut mencuci tangan dan menyusul Bundanya, membuat Abra juga ikut menyusul Zahra.
"Hai," sapa Malvin.
Malvin dan Zahra sudah duduk diruang tamu. Abra ikut duduk disamping Malvin, karena Regan lebih dulu duduk disamping Zahra.
"Gue mau minta maaf masalh Opa," ucap Malvin menatap Abra dengan tatapan sedihnya.
Abra hanya bisa tersenyum segaris, menautkan kesepuluh jemariny. "Bukan salah lo," begitu lirih menahan kesedihan.
"Opa kenapa?," tanya Zahra spontan.
Abra mengangkat kepalanya menatap Zahra lekat. "Opa sakit setelah mendengan rekaman ...," tatapan Abra beralih pada Regan. "Regan mengajakmu pergi."
Kening regan langsung mengerus, Regan mengeratkan rahan menatap Malvin dengan tajam. "Anda melanggar privasi kami lagi," dia tidak suka pada apa yang dilakukan Malvin.
"Maaf, bukan maksud ingin memantau kalian seperti sebelumnya." Malvin mencoba membela diri. "Saya melihat kotak cincin di dekat tas Gea, saya kira itu dari seseorang jadi saya penasaran."
"Tetapi ...."
Zahra menggenggam tangan Regan menghentikan apa yang akan Regan katakan pada Malvin. "Keadaan Opa bagaiman?," Zahra lebih khawatir pada keadaan Kakek Abra dari pada segala hal.
Tatapan mata Abra menyorotkan kesedihan. "Tidak mau kerumah sakit, semua alat batu dia lepas jika kami mengatakan akan dibawa kerumah sakit. Dia hanya mengatakan tidak butuh rumah sakit, hanya butuh Regan."
Abra kembali menundukkan kepala. "Aku tahu kesalahanku sangat besar tidak bisa kamu maafkan, tapi ...." Abra menghela nafas berat. "Jika kamu tidak mau memberikanku satu kali kesemlatan dan menolak lamaranku tadi ...," Abra menatap Zahra begitu dalam. "Setidaknya temui Opa, sekali saja untuk yang terakhir." Suara Abra mulai serak. "He is miss you and Regan too."
Semua terdiam beberapa saat larut dalam pikiran masing-masih. Tangan Zahra bahkan semakin erat menggenggam tangan Regan sembari membalas tatapan Abra.
"Hanya sekali Ara," bujuk Abra.
Zahra tetap diam.
Abra memutuskan kontak mata mereka mendongakkan kepala mengerjabkan mata mencoba menghilangkan air mata yang telah terbendung siap untuk mengalir. "Aku tidak akan mengganggumu lagi," serak dan begitu lirih.
"I don't want to ask for one more chance." Abra mengatakannya dengan satu kali tarikan nafas. "Asal temui Opa," setetes air matanya mengalir.
*-*
.
.
__ADS_1
.
Unik_Muaaa