One More Chance

One More Chance
Shock


__ADS_3

"Mau menginap di hotel atau dirumah Pak Malvin?"


Abra yang sejak tadi hanya duduk menatap kearah lapangan menoleh pada Zahra yang masih berdiri diambang pintu rumah dengan senyum yang perlahan terbit di bibirnya.


Melihat Zahra di depan pintu dengan daster rumahan membuatnya berandai-andai Zahra akan menyambutnya setiap kali dia pulang kerja seperti dulu awal-awal mereka menikah.


"Kenapa malah tersenyum?" tegur Zahra dengan wajah cemberutnya sembari melangkahkan kaki mendekati Abra.


Abra menghena nafas. "Hanya kembali berani berandai-andai dengan banyak hal yang kembali mewarnai hidupku."


Kening Zahra mengerut, dia duduk di kursi tidak jauh dari Abra. "Udah tua jangan sok puitis," gerutu Zahra.


Mendengar gerutuan Zahra, Abra terkekeh kecil. "Ya, bahkan tidak sadar jika mempunyai anak yang beranjak dewasa." Tanpa menatap Zahra malah seakan terpaku pada gelapnya langit malam.


Perkataan Abra menarik perhatian Zahra, dalam diam Zahra menatap Abra. Wajah yang semakin tirus, kantung mata yang terlihat jelas dan mata yang sayu menunjukkan kelelahan.


"Jangan memaksakan diri" ucap Zahra lirih tanpa sadar keluar kata-kata itu dari mulutnya.


Abra tersenyum dan membalas tatapan mata Zahra dalam.


Zahra mengulum bibirnya menyembunyikan gugupnya. "Em ... pasti lelah ya mengurus tiga perusahaan sekaligus?."


Kepala Abra menggeleng. "Tidak" sanggahnya.


Zahra berdecak sambil memutar bola matanya. "Jangan bohong, wajah kamu terlihat tirus, kantung mata itu sudah menandakan kamu berapa hari kurang tidur?."


Senyum Abra semakin berkembang, dia bahagia Zahra memperhatikannya begitu detail seakan beban dipundaknya perlahan terasa ringan.


"Kurang tidur itu sudah biasa untukku."


"Sudah biasa?, Ab ...."


"Tidak ada yang menungguku pulang, jadi tidak ada yang mengingatkaku harus menunda pekerjaan." Potong Abra dengan senyum segarisnya.


Dibawah meja, Zahra menggenggam dasternya. "Gea?, dia pasti selalu menunggumu."


Kepala Abra menggelang. "Gea sudah terbiasa tidur jam delapan, dia hanya membutuhkan kehadiranku saat pagi hari sebelum berangkat sekolah."


Tatapan mereka saling bertautan, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Maka dari itu kami tidak begitu saling mengenal satu sama lain, sampai aku tersadar beberapa hari ini."


Abra yang pertama memutuskan tatapan mereka dan kembali menatap lurus kearah Lapangan yang gelap. "Aku juga tidak tahu bagaimana mengatasinya, aku hanya seorang Ayah namun bukan sosok seorang Ayah yang sesungguhnya."


"Apa ada yang salah pada Gea?," tanya Zahra sambil mencoba mengingat tinggah laku Gea yang sedikit berbeda sejak datang.


Abra melirik Zahra sebentar. "Menurutmu?" Abra balik bertanya pada Zahra.


Kepala Zahra mengangguk.


"Dia menjadi pendiam, ngelamun, tidak seceria dan secerewer dulu."


"Ya" Zahra membenarkan itu. "Dia lebih banyak diam, seakan canggung padaku dan Regan. Banyak menunduk dan dia tidak berdebat dengan Regan sejak datang."


Baru sejam yang lalu Zahra dan Gea bertemu, tetapi Zahra sudah bisa mengetahui banyak perbedaan dari Gea.


Suatu hal yang duli membuat Abra bersyukur, merasa paling bahagia dan suami yang amat sangat beruntung memiliki Zahra, wanita yang pengertian dan perhatian pada dirinya dan orang-orang disekitarnya.


"Jika Regan?" Abra bertanya.


Kening Zahra mengerut beberapa detik kemudian menoleh menatap Abra tajam. "Apa yang salah dengan mereka?."


Berhasil


Abra tersenyum, rencana yang dia mulai jalankan saat melihat Zahra berjalan mendekat dan duduk tidak jauh darinya berhasil.


Dia butuh Zahra untuk menangani dan mengatasi dua orang anak beranjak dewasa mereka, karena jika dia yang menangani mereka akan berujung pada kekecewaan.


Terlebih, Abra tidak pandai bersikap manis dan membujuk anak, itu diluar keahliannya sebagai seorang Ganendra.


"


Karena Abra tidak juga menjawab Zahra bergegas masuk kedalam rumah. "Ar daan Gea ikut Bunda" perintah Zahra tegas masuk kedalam kamar.


Abra mengikuti mereka berbalik sejenak melihat ketiga teman Regan yang duduk menatapnya.


"Masalah keluarga" Mila mengucapkannya sebelum Abra mengeluarkan suara.


"Kami paham" sambung Rio.

__ADS_1


"Tidak akan menguping dan berisik janji" timpal Gana.


Abra tersenyum mengangguk dan menutup pintu kamar Regan setelahnya.


Regan dan Gea duduk dipinggir kasur Regan, sedangkat Zahra duduk di kursi belajar Regan menatap mereka tajam. Abra melangkahkan kakinya berdiri disamping Zahra.


"Kalian ada masalah?" tanya Zahra to the poin.


Secara bersamaan Regan dan Gea menggelengkan kepala.


"Ar" panggil Zahra seperti interuksi Regan untuk mengangkat kepala dan menatapnya. "Jangan berbohong, sudah Bunda katakan Bunda tidak suka kamu melakukan sesuatu dibelakang Bunda tanpa sepengetahuan dan seizin Bunda."


Regan melirik Abra tidak suka. "Iya, Ar minta maaf."


"Jangan melirik-lirik gutu gak sopan" tegur Zahra tegas.


Regan kembali menunduk.


"Kak Regan gak salah kok Bun" Gea membuka suara setelah melihat Regan menundukkan kepala dengan wajah merasa bersalah pada Zahra.


Tatapan mata Zahra dan Abra beralih pada Gea. "Gea yang minta Kak Regan ngehack database perusahaan Opa Gea."


"Ngehack?" Zahra mengerutkan kening tidak mengerti dengan kata itu meski kata itu seakan tidak asing ditelinganya.


"Jadi Gea yang minta Regan buat ngehack?" tanya Abra kembali memastikan.


Gea mengangguk pelan.


"Sejak kapan Gea tahu Regan Hacker?."


"Sejak ...."


"Tunggu!" seru Zahra menghentukan Gea menjawab pertanyaan Abra, Zahra menatap Regan tajam mencoba memastikan sesuatu yang mulai dia ingat. "Ar hacker?" tanya Zahra penuh penekanan.


Regan mengangguk mantap membenarkan.


Bahu Zahra langsung merosot lemas. "Ar, siapa yang ngajarin Ar jadi hacker?, itu pekerjaan yang gak biak."


"Ar white hacker Bun. Tidak, mungkin masih level green."


"Terserah, entah itu white, blue, green atau orange Bunda gak suka Ar jadi Hacker mengerti?." Regan mengangguk pasrah. "Buat apa ngehack perusahaan Opa kamu Gea?."


"Sebenarnya apa yang anda katakan pada Bunda?" tuduh Regan pada Abra.


Abra hanya melipat kedua tangannya diatas dada dan menaik turunkan bahunya.


Gerakan itu yang membuat Regan tersadar masuk kedalam jebakan Abra.


"Jangan salahkan dia" ucap Zahra dengan nada mengomel khasnya. "Kami hanya merasa ada yang salah dengan kalian, jadi Bunda minta kalian berkumpul untuk menyelesaikan masalah diantara kalian, tapi yang Bunda dapat malah ternyata kalian kerja sama. Memangnya buat apa ngehack perusahaan Opa Gea?."


Regan masih menatap Abra tajam, sedangkan Gea melirik Regan menunggu Regan menjawab pertanyaan Zahra.


"Mengambil file proposal mereka dan menjualnya pada perusahaan lawan."


"Apa?."


Karena tidak cepat menjawab dengan santai Abra mengatakannya membuat Zahra terkejut bukan main.


Mata Zahra memelototi Regan dan Gea bergantian, dia tidak habis pikir dengan apa yang dia dengarnya barusan bahkan anak sekecil Regan adalah seorang hacker dan ngehack database perusahaan.


"Kenapa melakukan hal yang ... yang ...."


Zahra tidak dapa mengatakan apa yang ada dalam benaknya, kepalanya mulai berdenyut.


"Berapa kalian jual proposal itu?." Abra bertanya tetap dengan tangan dilipat diatas dada bersiakap difensive.


Regan menghela nafas menbuang muka, dia sudah pasrah Bundanya akan mengetahui semua yang dia coba sembunyikan. Semua gara-gara rencana Abra yang berhasil, membuat Zahra tahu dari mulut mereka sendiri.


"Tujuh puluh lima juta Ayah" jawab Gea dengan suara mencicit takut.


Abra tercengang, mengacak-acak rambuntnya melampiaskan kekesalannya mendengar jawaban Gea barusan. "Tujuh puluh lima juta?, kalian menjual proposal itu hanya seharga segitu?. Ya Tuhan anak-anak ...."


Abra kesal, geram bahkan ingin tertawa karena gemas, sampai menahan diri untuk tidak memukul tembok.


"Jika projek itu sukses, perusahaan bisa mendapatkan keuntungan miliaran." Abra tidak habis pikir dengan kedua anak yang masih beranjak remaja didepannya. "Kenapa kalian gak minta tiga ratus atau lima rutus juta?."


"Kami tidak tau Ayah" sahut Gea.


"Lain kali kalau mau begituan tanya dulu sama Ayah".

__ADS_1


Plak...


Zahra memukul lengan Abra. "Gak ada kata lain kali ya!" ancap Zahra dengan mata melotot penuh peringatan.


"Ya ... ya sapa tahu me ...."


"Gak ada!" potong Zahra tegas.


Abra mengulum bibirnya.


Semua kembali tenang, diam tak berani membalas menatap Zahra hanya beranj melirik Zahra yang menghela nafas entah yang kesekian kalinya.


Zahra memijat keningnya. "Lalu uang sebanyak itu kalian buat apa?."


"Dikasih keyatim piatu sama orang jalanan, sisanya Gea transfer ke Regan". Gea menjawab dengan kepala menunduk dalam.


"Sisanya tinggal berapa?" Zahra bertanya sambil menatap Regan.


Kepala Regan terangkan menatap takut pada Zahra. "Dua puluh tiga juta lebih," jawab Regan.


"Berati semua uang yang ada dibank dengan uang hasil kompetisi dan tabungan Regan sekarang sekitar empat puluh satu juta?."


Regan mengulum bibirnya diam, menundukkan kepala sebelum menjawab "seratus juta lebih."


"Apa?" seru Zahra dengan nada menggelegar.


Abra dan Gea menatap Zahra dan Regan bergantian.


Zahra sendiri masih shock menatap Regan dengan mata terbelalak. "Bulan lalu uang tabungan kamu di bank delapan belas juta, ditambah yang Gea transfer dua puluh tiga juta, seharusnya empat puluh satu juta Ar, kenapa malah hampir seratus?. Kalian bohong ya uangnya tidak dikasih ke yatim piatu?."


Kepala Gea menggeleng cepat. "Enggak Bunda" bantah Gea dengan suara penuh keyakinan. "Gea dan Yesi yang bagikan uangnya kemereka, Gea juga yang tranfer ke rekening Regan dua puluh tiga juta. Karena jika disimpan direkening Gea atau Yesi, Ayah dan om Sam pasti dapat notifikasi dari bank."


Regan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingun mau menjawab bagaimana atau mengaku yang pasti akan kembali membuat Zahra shock untuk yang kesekian kalianya.


"Ar!" panggil Zahra penuh dengan nadabperingatan.


"Ar mahein sahhhaem" Regan menjawab dengan gumahan tidak jelas.


Abra yang menagkap apa yang dikatakan Regan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana menatap Regan dengan tatapan kagum.


"Apa?" tanya Gea membenarkan duduknya menghadap Regan.


"Bunda gak dengar" Zahra samapai mencondongkan tubuhnya kearah Regan.


Abra yang tersenyum menatap Zahra menunggu reaksi Zahra.


"Ar Main Saham Bunda."


Setiap kata penuh tekanan dan pengucapannya dengan sangan jelas.


Zahra terpaku sejenak mengkaji satu persatu kata yang diucapkan Regan hingga setelah otaknya mencernanya tubuh Zahra melemas, hingga Abra yang sejak tadi menatapnya dengan cepat meraih tubuhnya agar punggung Zahra tidak membentur sandaran kursi.


"Bunda" Regan menatap Zahra cemas. "Uangnya untuk orang yang tidak mampu semua kok Bun, Ar gak akan ngambil sepeserpun janji."


Tepat setelah mengatakan kalimat itu Zahra meraung menangis membenamkan wajahnya dalam dekapan Abra.


Entahlah dia harus bersyurkur atau bagaimana mengetahui Regan bukan hanya pintar dalam pelajaran atau seni beladiri.


Abra sendiri malah tertawa menepuk punggung Zahra dan menatap Regan penuh peasaan bangga.


*-*


.


Bab terpanjang 😍


Terima kasih sudah mampir dan baca 📖 ceritaku 😇


Mohon dukungannya 🙏


Jangan lupa klik ❤ 👍 and 💬 agar Author lebih semangat lagi


Author tunggu juga masukannya dari kalian 😇 agar Author bisa memperbaiki diri lebih baik lagi.


Love you 😘


.


Unik_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2