
Matahari masih belum muncul, terdengar suara orang mengaji mengiringi langkah Regan dan Zahra dari masjid setelah sholat subuh.
Pagar rumah yang tidak tertutup semakin memperlebar langkah Regan dan Zahra. Pikiran mereka sudah menebak-nebak jika ada maling yang masuk kedalam rumah saat mereka sholat subuh, karena sebelum berangkat Regan masih menutup pagar rumah.
Langkah Regan yang pertama kali berhenti melangkah melihat seseorang duduk berselonjor dengan kepala tertunduk dalam.
Perlahan orang itu mengangkat kepala menoleh pada Regan dan Zahra. Air matanya kembali mengalir, bibirnya bergetar, susah paya dia berdiri meski hampir terjatuh, berjalan seakan menyeret kakinya yang sulit untuk melangkah dan memelukan Zahra erat.
Hatinya lega melihat Zahra dan Regan yang ternyata tidak pergi. "Syukurlah kamu tidak pergi ... aku ... aku kira kamu pergi lagi ... terima kasih tidak pergi." Abra menangis dipundak Zahra.
Zahra hanya melirik Regan yang terdiam menatap Abra yang menagis.
Perlahan tangis Abra tak terdengar, Bahu Zahra mulai terasa berat. "Abra ... Bra ...."
Tubuh Abra semakin melemas, untung sebelum terjatuh Regan membantu Zahra memegangi tubuh Abra, ternyata Abra pingsang.
Flashback
Beberapa jam sebelumnya.
Abra memijat keningnya duduk di sofa didekat Gea ditemani Ibnu, Tari kembali masuk kekamar Kakek Abra setelah mengantar Fani dan David.
"Seharian Gea dan Saya menelfon kamu tetapi tidak aktif" Ibnu berbicara sambil menyandarkan punggungnya lelah. "Sampai lupa kalau kamu pergi dengan Sam gara-gara panik."
Abra merogoh saku celananya. "Hp mati lupa dices, tadi di pesawat pinjam powerbank Sam tapi lupa lagi yang mau diaktifkan."
Baru saja aktif banyak notifikasi yang masuk, pertama kali Abra membuka WA. ada beberapa pesan yang masuk, dari Ibnu, Gea dan Tari. Diurutan keempat ada nama Malvin namun centang biru, padahal Abra tidak pernah merasa menerima pesan Malvin apalagi membacanya.
"Malvin?, kapan pernah baca?" guma Abra.
Pesan pertama berupa Audio, yang kedua 'lo harus gerak cepat' membuat Abra mengerutkan keningnya dan memutar Audio yang dikirim Malvin.
Awal Abra tersenyum mendengar Suara Regan dan Zahra, begitupun dengan Ibnu yang duduk tidak jauh darinya.
Semakin lama percakapan mereka semakin serius, bahkan tangan Abra sampai meremas hpnya menahan amarah. Ibnu melirik Abra dengan wajah khawatir.
"Ayo kita pergi Bun, tabungan Arz sudah banyak ...."
Abra seakan tidak bisa mendengar kalimat selanjutnya apa yang mereka bicarakan. Perasaan marah, takut dan segala hal memenuhi dadanya.
Pemikiran negatif bahkan memenuhi otanyanya, nafasnya memburuh, dadanya sesak hingga tiba-tiba terpintas ....
"Opa keruang kerja tadi pagi, dan dia ditemukan sesak nafas oleh Gea diruangannya. Apa WAmu terconnect dengan komputer diruang kerja Opa?."
Apa yang terlintas didalam otak Abra lebih dulu diutarakan oleh Ibnu. Ya ... mungkin saja itu terjadi karena pesan Malvin juga sudah centang dua biru.
Mencoba kembali mengingat, sejak dia tinggal dirumah Kakek Arya dia bekerja di ruang kerja Kakek Arya dan dia pernah menyambung WAnya ke komputer Kakek Arya untuk melihat video yang dikirim Malvin dengan jelas
__ADS_1
Abra mengacak-acak rambutnya, ya ... dia ingat sekarang. Semua menjadi satu, khawatir pada Kakek Arya dan rasa takut Zahra dan Regan benar-benar kembali pergi darinya.
"pantas opamu tidak mau dibawa kerumah sakit, dia hanya menangis memanggil nama Regan."
Dada Abra semakin sesak, dia berdiri, meremas rambunya. "Siapakan jet pribadi perusahaan sekarang," pintanya tegas dengan suara menggelegar tidak bisa dikontrol membuat Gea berkeliat merasa terganggu.
Ibnu merdiri menepuk pundak Abra mencoba menenangkannya. "Kamu baru datang, dari matamu menunjukka kamu kurang tidur. Istirahan dulu, besok pagi setelah subuh berangkat."
Kepala Abra menggeleng kuat tidak menghiraukan bujukan Ibnu.
Tangannya menjulurkan hpnya sambil berkata "Malvin mengirimkannya kemarin malam, sekarang sudah satu hari, bagaimana jika mereka benar-benar pergi."
"Kamu bisa telfon Malvin untuk memastikan mereka masih disana atau tidak."
"Bagaimana saat Malvin memastikan mereka masih ada, tetapi semenit kemudian menghilang bagaimana?. Aku tidak bisa kehilangan mereka lagi Om aku ...." Abra memukul dadanya serasa semakin sesak.
"Ayah ...."
Gea terbangun dari tidurnya karena suara Abra yang tidak bisa dia kontrol.
Ibnu melirik Gea. "Bawa dia kemar, Om akan menelfon pilot." Ibnu berjalan menjauh.
Flashend
*-*
Regan menatap wajah Abra yang tertidur diatas kasurnya. Sejak tadi tangannya tidak bisa dilepas, saat Regan dan Zahra membaringkan tubuh Abra di kasur Regan, Abra terbangun lalu kembali memejamkan mata sambil menggenggam tangannya erat.
"Sampai kapan Arz dipegangin gini terus?," perotes Regan menatap tangan Abra tidak suka. "Dia juga gak bangun-bangun, sebenarnya pingsan apa tidur?."
Zahra tersenyum kecil. "Dia pasti kelelahan mangkanya sampai pingsan, kebiasaan kalau tenaganya sudah diforsir pasti langsung demam."
"Dasar lemah," Regan mencibir pada Abra.
Zahra tertawa kecil.
"Regan kan mau main sama temen-temen Bun," rajuk Regan.
"Mereka sudah pulang barusan?."
"Kapan?, kenapa Arz gak tau?."
"Tadi ketemu didepan, Bunda suruh masuk tapi gak boleh ramai, Mila masuk duluan lalu mereka pergi."
Regan berdecak, pasti ketiga temannya sudah melihat Abra tidur di kasurnya sambil memegang tangan Regan jadi mereka pergi.
"Telfon Pak Avin Bun, bilang suruh bawa mobil diar dia dibawah kerumah pak Avin."
__ADS_1
"Oh iya ... kanapa lupa."
"Lagian gak baik ada tamu kerumah Janda," sindir Regan dengan nada menggoda Bundanya.
Zahra tertawa kecil mengambil hp Abra diatas meja belajarnya dan menjulurkannya pada Regan. Belum juga Hp itu berpindah ketangan Regan, Abra duduk dan merampas hp Regan.
"Tidak, dia bukan janda, dia masih istri saya!." Tegas dan penuh tekanan meski dengan suara serak.
Regan mengerutkan keningnya menatap Abra tidak terima. "Gak bisa gitu dong, kalian kan sudah berpisah belasan tahun."
"Tapi tidak ada kata cerai ...."
"Sama saja," potong Regan ngeyel.
"Kalau gitu ayo nikah lagi."
Mata Zahra mengerjab, Regan hanya ternganga mendengarnya, bahkan menatap Abra dan Zahra bergantian.
Regan yang lebih dulu tersadar dari rasa terkejutnya karena Abra meremas tangan Refan, membuat Regan menepisnya kasar dan berdiri berjalan kesisi Zahra.
Zahra ikut berdiri, menyentuh kening Abra. "Masih demam, tidurlah."
Abra menangkap tangan Zahra. "Aku serius Zah," ucap Abra.
"Aku akan menganggap kamu mengigau karena demam tinggi."
"Aku gak ngigo," elak Abra.
Zahra hanya bisa menahan nafas. "Tidak!."
"Kita kembali lagi ya Ara," bujuk Abra dengan suara serak. "Beri aku satu kesempatan lagi untuk membahagiakanmu."
Mereaka berdua saling tatap menyelam dalam perasaan masing-masing sampai tidak sadar jika Regan masih berdiri diantara mereka berdua.
Tangan Regan menepis tangan Abra hingga melepas tangan Zahra. Regan menyembunyikan tubuh Zahra dibelakang tubuhnya. "Gak boleh pegangan, eit ...." Regan mengacungkan telunjuknya saat Abra ingin mengatakan sesuatu. "Kembali tidur atau keluar," ancam Regan.
Mata Abra menatap Rega tajam memancarkan kekesalan, tetapi perlahan tubuhnya meringsut kembali terlentang.
"Selimut," pinta Abra.
Regan mendengus mengambil selimut dilemarinya lalu menarik tangan Zahra keluar dari kamarnya.
*-*
.
.
__ADS_1
.
Unik_Muaaa