
Dari balik jendela Regan menatap kearah langit gelap berbintang, malam ini dia tidak bisa tidur gara-gara dari tadi pagi Gea mengirimkan foto dan chat Abra, bahkan tadi sore gadis itu juga mengirimkannya foto Bunda dan Ayahnya tidur disofa.
Sebenarnya Aslan sudah memaksanya untuk menghubungi Zahra sehari sejak dia mengakhiri video call mereka, tetapi Regan bingung mau mengatakan apa.
"Cepat hubungi Bunda Ar, kamu tahu kan gimana Bunda?, hp aku mulai tadi gak berhenti bunyi kecuali disana udah malem. Aku gak mau angkat telfon Bunda karena nanti dia pasti nangis, terima aja punya adik lagi, toh kita jadi banyak saudara."
Itu yang dikatakan Aslan berkali-kali membuat Regan hafal. Regan ikhlas dan bisa menerima, tapi bagaimana cara mengatakannya?, apa benar kata Abra jika gengsi memang sudah mendarah daging di keluarga mereka?.
Mau mengatakan selamat?, pasti Abra akan mengejeknya karena sudah menang berhasil mengikat Zahra. Mau marah karena dia sudah kuliah dan Zahra malah hamil lagi, tidak boleh karena bagaimanapun itu adalah titipan Tuhan.
Lalu Regan harus apa?, dia sudah dua kali menelfon Zahra barusan tetapi tidak juga diangkat, terpaksa Regan mencari nomor Abra dan men dealnya.
"Ya" suara serak Abra terdengar.
"Em ..."
"Sutt ... tidur ...."
Sepertinya Zahra terganggu dengan telfonnya, kembali Regan melirik jam dinding kamarnya, di Indonesia sudah jam setengah empat masuk waktu subuh.
"Disana belum subuh?" tanya Regan lirih.
"Baru selesai adzan, ini siapa?."
Regan diam sejenak sebelum menjawab "Ar."
"Ar?" Abra bertanya seakan memastikan.
"Ar?" suara Zahra yang serak terdengar.
*-*
Jika sudah menyangkut anak Zahra akan melupakannya.
Buru-buru Zahra mengambil hpnya, melepas pelukannya dan duduk seakan tidak lagi membutuhkan Abra sebagai guling.
"Bunda gak mau telfon, Video call saja ya?." Bukan bertanya, tetapi Zahra memutuskannya secara sepihak.
Abra duduk di samping Zahra, lalu menggeser tubuh Zahra unguk duduk di tengah-tengah kakinya, kali ini giliran Abra yang bersikap manja gara-gara kesal Zahra semudah itu mengabaikannya.
"Hai Bun" sapa Abra melambaikan tangan.
Bibir Zahra langsung mengerucut berkaca-kaca dan "hua ..." Zahra menangis lepas.
Abra yang kaget langsung memiringkan tubuh Zahra agar menghadapnya. "Hei kenapa nangis?" Abra panik.
Disebrang Regan hanya menatap Zahra dengan bingung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Tangis Zahra yang menggelegar berhenti seketika, mendorong tubuh Abra dengan wajah yang berubah cemberut menatap Abra kesal.
"Jangan ganggu" gerutanya dengan kening mengerut. "Aku mau bicara sama Ar kamu diem dulu" omelnya membuat Abra tercengang.
Terlihat di layar hp Abra Regan mengulum bibirnya melihat Abra mendapat omelan Zahra membuat Abra memelototkan matanya pada Regan.
"Ar Bunda kangen" ucap Zahra lembut.
Regan menanggapinya dengan senyum.
"Ar gak kangen Bunda?, Ar marah ya Bunda hamil?, Marahnya kenapa lama? Bunda kangen gak ada Ar, tapi Ar malah gak nelfon karena marah sama Bunda ya?. Kalau mau marah sama Ayah saja ya gak papa kok, kan Ayah juga yang salah. Ayah juga gak asik Ar, kadang Bunda serasa ngomong sama patung, muka Ayah sering datar mulu kadang cuma senyum ...."
Abra dan Regan yang mendengarkan celotehan Zahra memberi tanggapan yang berbeda.
Disebrang Rega tersenyum kecil mendengarkan Zahra yang terus saja berbicara tanpa henti.
Sedangkan Abra melolongo kembali tak percaya dengan apa yang dikatakan Zahra pada Regan tentangnya.
Tiba-tiba Zahra terdiam dan matanya berkaca-kaca, wajahnya juga berubah mendung seketika. "Ar kenapa diam?, Ar masih marah ya?, Bunda kan udah bilang marahnya sama Ayah saja" suara Zahra juga berubah serah.
Zahra yang kembali akan menangis membuat Regan panik.
"Ar jangan hanya diam" tegur Abra dengan suara tegasnya.
Plak ....
"Loh aku cuma ..."
"APA?" serga Zahra.
Abra hanya menghela nafas, membuang muka dan pasrah saja disalahkan.
"Bunda" panggil Regan lembut.
Zahra tersenyum menatap layar hp Abra yang menampilkan wajah Regan.
"Bunda jangan marah-marah, kasihan adik-adiknya nanti terkejut bunda terik gitu." Regan tersenyum melihat Zahra tersenyum lebar menganggukkan kepla dengan senang.
"Ar gak marah Bunda hamil lagi?."
Kepala Regan menggeleng.
Senyum Zahra lembali menghilang berganti dengan wajah cemberutnya. "Terus kenapa video callnya dimatikan dan gak nelfon-nelfon Bunda lagi untuk ngucapan selamat malah ngilang begitu."
"Karena Ar gak tau mau bersikap bagaimana dan mau bilang apa" Regan mengatakannya sambil menundukkan kepala.
Zahra menoleh menatap Abra dengan sisnis membuat Abra mengerutkan kening tak mengerti dengan tatapannya. "Aku kan udah bilang Ar butuh waktu" ucapnya sinis.
__ADS_1
Entahlah ini yang keberapa kalinya Abra melongo dan menghela nafas karena mood Zahra yang berubah-ubah persekian detik.
"Bunda jangan sedih, marah dan ngomel. Kasihan adik-adiknya, Ayah juga kasihan kena marah terus."
Zahra tersenyum kecil, menyandarkan punggungnya pada dada Abra. "Ayah gak akan marah kok, Ayah sayang sama Bunda kayak Ar, Ar gak akan marah sama Bunda karena Ar sayang Bunda."
Tangan Abra mengelus puncak kepala Zahra. "Iya sayang tapi jangan keseringan, kadang ..."
Suara Abra langsung mengambang karena mendapat tatapan Zahra yang sudah siap akan menangis.
Abra menghela nafas menyandarkan kepalanya dipundak Zahra seakan pasrah. "padahal sudah tanya keorang-orang dan diwanti-wanti untuk sabar ngadepin istri hamil yang moodnya up and down tiba-tiba, tapi tetep aja bingung ngadepin kamunya." Abra memeluk Zahra dari belakang dengan erat.
Terdengar tawa Regan membuat Abra diam-diam tersenyum.
"Ya udah kalian sholat sana, kita sambung lain kali, Ar juga udah ngantuk. Dah Bunda ... jaga kesehatan Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah Regan mematikan video call mereka Abra menghujami Zahra dengan ciuman bertubi-tubi diseluruh wajah Zahra membuat Zahra geli berteriak-teriak.
Abra gemas dengan mood Zahra yang membuatnya pusing, bingung kadang ingin mencak-mencak emosi tetapi dilaon sisi dia juga harus sabar.
Ditengah-tengah tangga, Gea menatap mereka berdua dengan senyum lebarnya.
"Mereka lucu, aku kadang sampai gemes" ucap Gea melirik layar hpnya.
"Iya gemesin..." terdengar suara Mila menanggapi.
"Kayak ABG saja" keluh Aslan. "Udah dulu ngantuk mau tidur dada ..."
Saat Zahra menangis kencang, Gea baru selesai sholat mengambil hpnya berlari keluar kamar karena takut terjadi sesuatu pada Zahra dia sudah siap menghubungi rumah sakit.
Ternyata sampai dipertengahan tangga dia malah melihat Zahra mengomeli Ayahnya dan mengangkat hpnya membuat langkah Gea terhenti.
Dengan iseng Gea duduk di pertengahan tangga menghubungi Mila dan Aslan dengan volume hpnya yang dia kecilkan sekecil mungkin.
Anggap saja Gea membagi apa yang dia tonton dan dia rasakan sehari-hari hidup dengan sepasang suami istri yang selalu membuatnya gemas.
*-*
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya para Readers sekalian 😘
.
Unik Muaaa
__ADS_1