One More Chance

One More Chance
Menjadi ...


__ADS_3

Sejak dua puluh menit yang lalu Abra memperhatikan sebuah mobil merah yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah Gea.


Sejak kejadian diruangannya dua minggu lalu, beberapa hari setelahnya, Malvin mengirimkannya video Vira membuntuti Gea dari sekolah hingga kerumah Kakek Arya berkali-kali.


Sudah seminggu lebih Gea ditemani Nanda dan Tofa, semakin membuat Vira tidak bisa mendekati Gea di luar rumah Kakek Arya. Gadis kecil itu masih belum mau bertemu dengan Vira, Maminya.


Abra turun dari mobilnya menghampiri mobil merah itu, yang dia yakini jika itu adalah Vira. Jika Vira memaksa bertemu dengan Gea, gadis kecil itu akan menangis nanti.


*Tok ...


Tok ...


Tok* ...


Abra mengetuk kaca mobil di samping pengemudi. "Buka atau aku pecahin," ancam Abra dengan nada dingin.


Perlahan kaca mobil terbuka. Benar dugaan Abra, Vira menatapnya dengan tersenyum lebar.


"Hai Bra!," Sapa Vira ceria.


Tatapan Abra yang dingin kepadanya tidak dia anggap pusing. Vira malah keluar dari mobilnya dan berdiri disamping Abra bergelanyut dilengan kanan Abra membuat Abra risih, melangkah menjauh hingga lengannya terlepas.


"Kenapa sih Bra?," gerutunya.


Abra hanya diam tak menjawab. Dia tidak suka Vira yang sekarang. Tidak, lebih tepatnya setelah Vira memituskan kuliah keluar negri. Sikap Vira semakin manja, membuatnya sedikit risih, atau karena dia sudah hidup dengan Zahra yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengannya.


Hanya beberapa bulan mereka bertemu hingga menikah dan berpisah, wanita itu mampu membalik segala hal akan dirinya.


"Abra, aku mau ketemu Gea," rengeknya manja.


"Silahkan."


Vira memonyongkan bibirnya mendengar suara Abra yang dingin. "Gak bisa, dia pulang kerumah Opa. Kemana-mana selalu di temani dua bodyguard itu, kenapa Opa over sama anakku?."


Abra memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Sekarang masa-masa ujian kelulusan, dari aku kecil Opa selalu bersikap begitu tiap ujian."


"Tetapi kenapa baru sekarang begini pada Gea?."


Abra hanya mengangkat bahunya. "Kalau memang mau bicara dengan Gea kerumah Opa. Dia ujian dan aku sibuk dengan perusahaan, Jadi dia tinggal dirumah Opa sekaligus menemani Opa."


Kepala Vira menggeleng cepat, dia tidak mau bertemu Opa. Masa lalu dengan peria itu membuatnya ketakutan.


"Ya sudah aku juga gak bisa bantu, jika ada bodyguard berarti semua pergerakan Gea akan dipantau Opa, dan aku tidak mau berurusan dengan Opa." Maaf Opa ... batin Abra.


Bukan maksud berbohong, tetapi memang tidak ada cara lain. Gea masih belum mau bertemu Vira, dan orang yang di takuti Vira hanya Kakek Arya, Opa-nya.


Abra sudah mau menikahinya demi Gea, mau merawat Gea, membantu mengurus perusahaan orang tua Vira. Tetapi Vira meminta cerai dan meminta tunjangan begitu tinggi, membuat Kakek Arya marah. Dan pada akhirnya dia sebulan lebih menjadi gelandangan di negeri orang tanpa uang sepeserpun.

__ADS_1


Kata Vira, dia juga pernah menyekap Vira dalam gudang hingga berminggu-minggu. Entah karena apa Vira tidak memberi tahunya.


Yang intinya, hanya Kakek Arya yang Vira takuti. Jadi tidak salah Abra menggunakan nama Kakek Arya demi menjauhi Vira dari Gea.


*-*


Dikamar utama, rumah Kakek Arya.


Sejak tadi Kakek Arya tersenyum lebar hingga mataanya memicing. Dia memutar-mutar video yang dikirim Malvi sudah berkali-kali. Senyum dan tawa Regan menyejukkan hatinya, dia ingin bersama anak itu.


Kali ini dia akan melakukan apapun, agar Zahra dan Regan kembali bersama Abra, agar dia bisa dekat dengan Regan.


"Tari," panggilnya lirih.


Tari yang duduk tidak jauh darinya menghampiri tempat tidur Kakek Arya dan duduk di samping beliau.


"Tanyakan pada Ibnu, Regan sudah ujian apa belum."


Tari tersenyum menyentuh punggung tangan Kakek Arya. "Rindu sama cici?," tanya Tari mendapat anggukan dari Kakek Arya.


"Sediakan kamar dirumah sakit, atau saya pura-pura sakit saja disini?. Menurutmu bagaimana?. Kalau dirumah sakit saya bosan nanti, sakit disini saja. Kamu bawa peralatan yang dibutuhkan agar mereka percaya saya sekarat."


Kakek Arya bertanya pendapatnya tetapi dia juga yang memutuskannya sendiri.


Tari terkekeh. "Tidak usah peralatan, bilang anda sudah sakit mereka pasti percaya."


"Saya mengerti, kita pakai oksigen saja, selebihnya percaya sama saya, anda cukup berbaring disini dan bicara lirih."


Mata Kakek Arya memicing tidak yakin itu bisa membuat Regan datang padanya. "Yakin bisa membuat mereka datang?."


"Yakin, anda hanya perlu berbaring, bicara lirih dan menyebut nama Regan saja."


Mata Kakek Arya masih memicing tidak yakin


"Saya akan membantu berbicara dengan Zahra jika dalam dua hari mereka belum datang, anda boleh memecat saya jadi dokter pribadi anda."


Kakek Arya menghela nafas pasrah. "Baik, saya akan menyerahkannya kepadamu." Tangan Kakek Arya menepuk punggung tangan Taru yang masih menyentuh tangannya.


Sejak tari dan Ibnu tinggal dengannya, Kakek Arya sudah menganggap mereka sebagai anak sendiri. Sehingga tidak membuat Tari dan Ibnu canggung pada dirinya.


"Jangan memberi tahu Ibnu, dia tidak akan mendukung."


Tari tertawa di buatnya. "Baik, hanya antara anda dan saya."


"Kapan saya mulai sakit?."


Lagi-lagi Tari tertawa, Kakek Arya benar-benar tidak sabaran. "Dari besok anda jangan mau makan jika dibawakan orang lain, diam-diam saya akan membawakan anda makan."

__ADS_1


Kakek Arya tersenyum kecil. "Saya ingin berkumpul dengan keluarga cucu dan cicit saya."


"Iya, saya mengerti. Serahkan semua pada saya, dan ikuti saran saya."


Kakek Arya mengangguh menatap Tari sayang.


*-*


"Jangan lari Gea," tegur Abra yang melihat Gea lari padanya.


Gea memeluk Abra erat, sudah berhari-hari mereka tidak bertemu. Abra selalu pulang malam, sedangkan Gea dilarang Kakek Arya untuk tidur malam. Saat pagi sebelum berangkat sekolah Abra masih tidur.


"Gea kangen Ayah peluk Gea gin," seru Gea kegirangan.


Abra tertawa membalas pelukan erat Gea, hingga tubuh gadis kecil itu terangkat. "Miss you too."


Gea merenggangkan pelukan mereka. "Gea sudah ujian," ucapnya girang.


"Iya."


Abra melepas pelukannnya dan mengelus kepala Gea.


"Hadiah buat Gea mana Ayah?." Gea menjulurkan kedua telapak tangannya.


Kening Abra mengerut menatap Gea. "Sejak kapan panggilan Daddy jadi berumah Ayah?."


Gea tertawa kecil. "Sejak Kakek Arya bilang kita, bunda Zahra dan kakak Regan akan menjadi satu keluarga."


Abra mengelus puncak kepala Gea. "Ya, kita akan menjadi satu keluarga."


Jika Zahra mau menaafkanku, kita akan menjadi satu keluarga. Semoga saja Zahra sudah memaafkanku. Do'a Abra dalam hatinya.


Gea tersenyum girang. "Ayah janji ya ...," serunya menatap Abra dengan mata berbinar. "Gea gak perlu hadiah deh, cukup kita bisa sama-sama dengan Bunda dan Kak Regan saja. Ayah harus janji ...."


"Iya Ayah janji sayang," Abra menghujami puncak kepala Gea dengan ciuman.


Bersyukur jika Gea bisa menerima Regan dan Zahra. Kali ini dia memikirkan .... Maukah Zahra kembali padanya?, bisakah Zahra dan Regan menerima Gea sebagai salah satu keluarga mereka?.


Dia tidak bisa membiarkan Gea bersama dengan Vira, yang hidup bebas tanpa memikirkan beban. Dia tidak mau hidup Gea hancur karena Vira, karena sebisa mungkin selama ini dia selalu menjaga dan melindungi Gea.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2