
Gea membuka matanya karena mendengar tangisan si kembar dari luar kamar, tetapi dia tidak langsung turun dari kasur saat melihat Vira yang tertidur disampingnya, Gea terdiam sejenak menatap wajah Vira yang tertidur dengan mata membengkak.
Terdengar lagi tangisan bayi dari luar membuat Gea dengab cepat turun dari kasur dan berjalan keluar kamar menghampiri Fani yang menimang-nimang Chaka yang terus menangis.
"Kenapa?" tanya Gea sambil mengambil Chaka dari gendongan Fani.
"Dia tiba-tiba bangun dan menangis" jelas Fani, "jadi Bi ikut bangun dan tiba-tiba nangis juga."
"Bi dimana?" tanya Gea menoleh keruang tamu dan dapur tidak ada siapapun.
"Di luar dengan bu Hanna"
Gea mengguk menatap depan rumah kearah jari Fani menunjuk, melihat Hanna yang menimang Bi dalam gendongannya.
Gea mengelus rambut Chaka dan menimang-nimangnya pelan, "jangan menangis sayang, Bunda sebentar lagi pulang kok, Chaka tenang ya ... jangan nagis Bi okut nangis tuh ..."
Melihat Chaka menangis Gea ikutan sedih, takut terjadi apa-apa pada Zahra, sehingga dia mendekap Chaka dalam pelukannya menenagkan bayi itu dan juga dirinya
*-*
Zahra kembali membuka matanya, sepertinya dia tertidur setelah menangis menahan nyeri payudanyanya.
Dingin ...
Pada hal tubuh Zahra sudah diselumuti oleh selimut tebal, tetapi dia masih saja merasakan kedinginan.
Breast pad yang Zahra pakai sudah tidak nyaman, Zahra berusaha untuk duduk meski tubuhnya enggan keluar dari selumut karena kedinginan, dibukanya breast pad yang dia pakai meski terasa nyilu. Zahra kembali menangis berteriak dengan suara seraknya
"Abra ..."
Zahra kembali meringkuk masuk kedalam selimut menggenggam breast padnya, kembali menangis menahan kesakitannya.
*-*
Dari jauh dapat dilihat sebuah mansion yang cukup megah tetapi terlihat tidak terurus.
Sam menatap dengan kening mengerut kearah mension itu, "tumben Dorio tidak membawa sandranya ke pabrik atau tengah hutan?."
"Karena dia hanya mau memancing Abra untuk menemuinya" sahut Malvin
Mobil yang ditumpangi Aslan, Alaric dan Regan yang lebih dulu sampai dan berhenti dihalamn depan rumah itu.
Regan tiba-tiva keluar dari dalam mobil dan berlari dengan kencang.
"Ar ..." teriak Abra.
Tetapi Regan tidak mengindahkannya, dia benar-benar mengkhawatirkan Zahra, di otaknya sekarang hanya satu, menemukan Zahra secepat mungkin.
"Bagaimana jika mereka bersenjata?" tanya Sam.
"Mereka tidak akan berani" Abra berlari menyusul Regan diikuti Aslan dibelakangnya.
Abra tidak akan membiarkan Regan dalam bahaya, dia harus melindungi anak itu apapun yang terjadi.
Melihat tiga orang itu telah lebih dulu berlari menerobos masuk, Enzo dan yang lainnya akhirnya juga ikut berlari menyusul.
__ADS_1
Regan berhasil menerjang pintu rumah mengalahkan beberapa penjaga diluar, pintu terbanting terbuka lebar menarik perhatian beberapa orang yang duduk di sofa tepat di dekat pintu, bahkan ada yang berlari dari dalam rumah dan lantai atas..
"BUNDA!" teriak Regan nyaring.
Kaki Regan terus melangkah membuat mereka menghadangnya, Regan mulai melayangkan pukulan dengan Abra yang menyusulnya membantu Regan yang dikeroyok oleh belasan bahkan dua puluh orang anak buah Dorio.
Aslan yang baru sampai berdiri terpaku di ambang pintu menatap mereka berdua tidak percaya, mata mereka sama-sama memerah, rahang mengetat dan begitu fokur melancarkan pukulan-pukulan telak pada lawan.
Enzo dan yang lainnya yang juga baru muncul terdiam menatap Regan dan Abra yang mengamuk bagai banteng kesurupan sedang mengamuk.
"Sepertinya kita tidak dibutuhkan" gumam Sam dengan tatapan yang masih menatap kearah mereka berdua.
Asalan melangkahkan kakinya masuk dalam perkelahian mereka, "Ar cepat cari Bunda" ucap Aslan.
Regan berhenti melayangkan pukulannya menoleh pada Aslan, "yakin melawan mereka?" tanya Regan mengangkat sebelah alisnya meremehkan.
"Kamu meremahkanku?" tanya Aslan sambil melayangkan tendangan menjatuhkan salah satu dari mereka.
"Kamu dan As cepat pergi cari Bunda" perintah Abra berdiri membelakangi Regan dan Aslan. "APA KALIAN MAU MENJADI PENONTON!" teriak Abra sambil menoleh pada rekannya.
Abra sadar sejak beberapa menit lalu Enzo, Sam dan Malvin hanya berdiri menatap kearahnya dan Regan yang melawan anak buah Dorio.
"Tentu tidak" seru Sam dengan senyum kegirangan merenggangkan otot lengannya.
Sam yang terlebih dulu maju berlari bersama Enzo.
Javir mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan melangkah mendekat, "Regan!" panggil Javir, melempar earphon kecil pada Regan.
Regan menangkapnya lalu berlari semakin memasuki rumah itu diikuti Aslan dibelakangnya.
Tangan Javir menscroll layar hpnya, Malvin tersenyum kecil melihat Javir yang mulai fokus pada layar hpnya sebelum berlari menbantu Abra dan yang lainnya.
Baru saja Regan dan Aslan berlari ke kiri, pintu didekat tangga terbuka, Dorio keluar berjalan menatap kelantai bawah dan tertawa lepas.
Javir mendongakkan kepala menatapnya.
Bahkan tawa Dorio menghentikan layangan pukulan Enzo, Sam dan Malvin bahkan beberpaa anak buahnya juga, tetapi tidak dengan Abra yang benar-benar dibakar api amarah.
"STOP!" teriak Dorio lantang.
Dia berjalan perlahan menuruni tangga, menatap Abra, Malvin, Sam dan Enzo bergantian dengan senyum lebarnya.
"Waw ... Welcome Aase" ucapnya dengan merentangkan tangan. "beautiful morning to see the four of you back together. How are you Sean, Alvin and of course our demon ... Adam."
Senyum bahagia Dorio membuat Enzo tersenyum sarkas, Sam berdecak kesal dan Malvin hanya menghela nafas melirik Abra yang mentatkan rahang dan mengepalkan tangannya hingga memutih.
"What you want" desis Abra melangkah maju menaiki tangga menghampiri Dorio.
Langkah Abra berhenti tepat didua anak tangga dibawah Dorio, tetapi tubuh Abra yang tinggi begitu sejajar dengan tubuh Dorio.
Javir menundukkan kepala kembali menatap layar hpnya memilih tidak memfokuskan pendengarannya pada pembicaraan mereka semua, Dorio dan anak buahnya adalah urusan empat pria itu, lebih baik dia fokus menginteruksi Regan melalui earphonenya menunjukkan jalan dimana Zahra berada.
"Bunda ketemu!" seru Javir sambil berlari menerobos menaiki tangga dengan Alaric dibelakangnya.
Abra menatap Jabir dan Alaric yang melewatinya, tidak berniat mengikuti mereka karena sudah mempercayakannya pada Regan.
__ADS_1
Tatapan Abra kembali beralih pada Dorio didepannya, "what happened to your brother's leg was not because of me, but because of his own fault. I'm still waiting for the right time to meet you but you can't seem to wait." Abra tersenyum sarkas.
Denagn cepat menarik jerah baju Dorio dan mendorong tubuhnya hingga berguling-guling ditangga jatuh kebawah
Cekrek ...
Terdengan suara beberapa orang menarik pelatuk pistol, tetapi Enzo dengan santainya berjongkok didekat Dorio.
"My snipers have surround your house" ucap Enzo dengan senyum mengembangnya.
Dorio menatap salah satu anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka semua.
"About clara" nada suara Abra memgembang menatap Dorio tajam, "ask Romanov especially Enzo, not me."
Saat itu Abra melihat Alaric membopong Zahra, dengan langkah lebar Abra menaiki tangga menghampiri mereka.
Abra menghampiri merka mengambil Zahra dari tangan Alaric, bibir Zahra memucat menggigil, tubuhnya dibelut selimut tebal.
Perlahaan Abra melangkah menuruni tangga, mata Zahra terbuka menatap wajah Abra, dia membenamkan wajahnya didada Abra dan mencengkram baju Abra erat.
"Sakit" sangat lirih tetapi berhsil menghentikan langkah Abra.
Mata Abra menatap tajam pada Dorio yang masih terbaring diatas lantai karena Enzo menekan adanya sejak.
"what did you do to my wife?" desis Abra
"I didn't do anything" ucap Dorio mencoba berdiri tetapi Enzo semakin menekan dadanya hingga dia kembali berbaring diatas lantai, "I just locked her in the room from last night" teriaknya menatap Enzo untuk melepaskannya.
"I don't belive you" ucap Abra kembali melangkah semakin mendekati Dorio.
"You found her too soon, you didn't give me time to do anything to her" Dorio tertawa sekan mengejek Abra.
"Do you think I'm happy, to hear you didn't do anything?" tanya Abra dengan sneyum segarisnya. "No, I'm not."
"Ah ..." Dorio berteriak kesakitan.
Abra dengan sengaja menginjak rangan Dorio sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka.
Baru saja Abra dan yang lainnya keluar kecuali Emma dan Enzo, anak buah Enzo langsung masuk kedalam rumah Dorio menyisakan empat orang yang berjaga didepan pintu.
Tangan Sam menarik tangan Alaric yang hendak mengikuti Abra, Regan dan yang lainnya menuju mobil.
"Kenapa tidak didalam?" tanya Sam.
Alaric hanya tersenyum kecil, "karena aku tidak mau" jawabnya simple.
*-*
๐ฅ
Maafkan jika kurang gereget ๐ง karena takut tidak bisa lulur review ๐ถ
But don't forget ๐Like๐Like๐Like๐Likenya๐Likenya jangan lupa ๐
Setidaknya hargai Author yang muter otak agar bab ini bisa lulus review meski Author sendiri merasa bab ini kurang buat jantung Jedag Jedug Derrrr ...
__ADS_1
Jika sudah ๐ terima kasih
Love you ๐ Unik Muaaa