
Apa yang akan kalian lakukan jika melihat suami kalian duduk dengan wanita cantik, sexy dan anggu?, tertawa tanpa canggung terkadang saling menyentuh tengan masing-masing, apa yang akan kalian lakukan saudara-saudara?.
Zahra Renata, menatap dengan nyalang pada Abraham Ganendra dan wanita cantik yang duduk didekatnya.
"Bu ..."
Aslan yang ingin bertanya menjadi bungkam, Zahra memberi isyarat agar Aslan diam, mengkecilkan volume panggilan dan menseting kamera belakang hpnya memperlihatkan apa yang sedang dia lihat saat ini.
"Ayah sama cewek?" terdengar suara Regan.
Tadi Zahra kekantor Abra membawa makan siang agar mereka bisa makan bersama. Sesampai didepan ruangan Abra kata Sari mereka baru selesai meeting dan Abra masih diruang meeting bersama klien mereka.
Saat berjalan menuju ruang rapat video call dari Aslan masuk, ternyata Aslan sedang dengan Regan dan Alaric. Zahra sangat senang berbicara dengan senyum lebarnya sebelum langkahnya terhenti tepat di ambang pintu ruang rapat yang terbuka lebar.
"Bunda" panggil Rega lembut.
Zahra tak merespon panggilannya.
Disebrang sana Regan sudah mulai merasa khawatir dengan ekpresi yang ditunjukkan Zahra. Jika seandainya Zahra sekarang tidak sedang hamil Regan akan bersikap santai saja, dan Zahra pasti juga begitu, tetapi kali ini lain cerita.
Kehamilan Zahra terkadang merubah Zahra berubah menjadi orang lain membuat Regan bingung dan selalu salah menebak bagaimana Zahra akan merespon.
Dengan cepat Regan mengambil hpnya menghubungi Abra berkali-kali meski tidak kunjung Abra angkat Regan tidak menyerah.
Ar
Abra beberapa kali melirik pada hpnya yang bergetar diatas meja "tunggu sebentar aku terima telfon." Abra menerima video call dari Regan. "Hai Boy A ..."
"Bunda dibelakang" potong Regan menunjuk kearak Abra.
Tidak paham Abra hanya mengerutkan kening.
"Berbalik" ucap Regan dengan suara datarnya.
Paham dengan apa yang dikatakan Regan, Abra meletakkan hpya dan berbalik melihat kearah pintu yang terbuka dan benar saja, Zahra sudah berdiri disana dengan senyum lebarnya dan tatapan datarnya.
Seakan kembali mengingatkan kejadian yang dulu, Abra dengan cepat berdiri dari duduknya.
"Maaf mengganggu" ucap Zahra sopan dan melangkah mundur sebelum melangkah dengan lebar pergi.
Tuhkan ... Abra ketar ketir dibuatnya. "Cin kita lanjut kapan-kapan ya, maaf gak bisa ngenalin kalian dia lagi sensi karena hamil, aku duluan."
Abra berlari kecil menyusul Zahra yang sudah menghilang engtah kemana. Ingat jika panggilan video callnya dan Regan belum terputus Abra mengangkat hpnya.
"Bunda kemana?" tanya Abra panik hingga luoa jika Regan sedang berada di negri lain.
Regan menghela nafas "mana aku tahu Ayah."
"Terus tadi kenapa Ar bisa tahu Bunda dibelakang Ayah?."
"As tadi video callan sama Bunda."
"Ya sekarang lihat dilayar hp As Bundamu dimana" perintah Abra "apa kamu gak bisa nenangin Bundamu?."
Semua benar-benar kacau, Abra sampai berbicara ngelantur karena panik.
__ADS_1
Regan melirik layar hp Aslan "bingung mau nenangin Bunda yang sekarang gimana caranya, mood Bunda sering gak jelas."
"Bunda bisa denger loh Ar ..." terdengar suara pantulan teriakan Zahra.
Abra berdecak sambil terus melangkahkan kakinya mencari Zahra. "Ya tenangin Bunda dong Ar, waktu kamu gak nelfon Bunda nangis-nangis mau ketemu kamu diluar negri, Ayah aja bisa nenangin Bunda."
"Lain lah, Ayah kan jago gombal Ar engkak" Regan tertawa kecil. "Bunda sepertinya ada di ruangan Ayah."
Langah Abra terhenti seketika.
Abra mengangkat hpnya tepat didepan wajahnya. "Kenapa gak bilang dari tadi, Ayah sudah ada dilobby Ar ...." teriak Abra meluapkan kekesalan.
Regan tertawa ngakak sebelum memutuskan panggilan mereka.
"Aah ..." Abra kesal sendiri kembali berlari menuju lift.
Beberapa karyawannya menatap Abra tak tanpa berkedip, ini baru pertama kali mereka mendengar Abra berteriak sambil menyebut dirinya Ayah, berlarian tanpa menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin.
*-*
Zahra berdiri didekat pintu ruangan Abra siap menunggu kedatangan Abra dengan senyum lebarnya.
"A ..." hanya satu huruf itu yang bisa keluar dari mulut Abra.
"Ayo makan aku lapar" ucap Zahra tersenyum lembar merangkul lengan Abra.
Tidak bisa berkata-kata, Abra hanya menatap Zahra mengamati dalam diam, membiarkan Zahra menariknya duduk disofa.
Zahra memberikan bekal yang dia bawa pada Abra "aku masak sendiri, habisin ya."
Abra menatap keatas meja, makanan yang Zahra bawa banyak dan bermacam-macam bagaimana dia menghabiskannya?. Apa karena barusan Zahra perhalan mau menghukumnya dengan makan sebanyak ini.
Kepala Zahra menggeleng "niatnya dari rumah gitu, tapi sekarang gak napsu" mengucapkannya dengan senyum lebar yang sejak tadi dipertahankan.
Ok, Abra sadar jika Zahra marah. Abra meletakkan bekal yang Zahra pegang, menggenggam kedua tangan Zahra erat.
"Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu kira Sayang" Abra mencoba menjelaskan dengan pelan dan lembut.
Zahra diam, tersenyum dengan mata yang menatap datar padanya.
Abra menghela nafas memencet tombol angka satu telfon kabel didekatnya. "Sari, bisa minta tolong panggilkan Cinta?."
"Cinta?."
"Iya klien yang barusan meeting dengan kita, cepat ya."
Selesai Abra berbicara dengan Sari dia kembali menatap Zahra yang ternyata sudah menahan tangis.
"Sayang" panggil Abra lembut.
"Jangan panggil sayang, kamu kedia panggil Cinta. Kamu sudah punya anak lima dengan merek" Zahra mengelus perutnya. "Aku pikir kamu gak akan ninggalin aku karena kita sudah punya lima anak, tapi hwa ...."
Zahra menangis sejadi-jadinya, Abra kelabakan menatik Zahra dalam pelukannya.
Meski Zahra mendorongnya menjauh, Abra tetap menarik Zahra dalam pelukannya. Hingga pintu terbuka, wanita cantik tadi masuk tanpa Abra persilahkan duduk di sofa tepat di depan mereka.
__ADS_1
Tangis Zahra langsung berhenti, Zahra menatap nyalang pada wanita ita tanpa ada niatan ditutupi.
"Cinta bantu aww ...."
Perkataan Abra terputus karena Zahra menggigit tangannya.
"Dia namanya sekarang Cinta sayang" jelas Abra kesakitan. "Jelasin ke istri gue kita gak ada apa-apa, dia sedang hamil sekarang."
Cinta melirik pada perut Zahra dan tersenyum lebar. "Iya perutnya buncit, selamat ya sayang jadi ikut bahagia."
Serak, suara Cinta serak tidak lembut bahkan tidak mencerminkan seanggun penampilannya, Zahra mendongakkan kepala menatap Abra.
Abra tersenyum menangkap apa yang membuat Zahra bingung. "Dia transgender Ara, meski aku mau selingkuh ya mikir sama milih-milih juga."
"Gue denger loh Abra" ucap Cinta sewot. "Gur tuh sekarang cewek asli, tinggal suara aja yang belum berubah masih ngumpulin pundi-pundi rupiah. Nanti gue pasti akan cari suami yang lebih tajir ganteng dari lo."
"Emangnya ada?."
"Ada dong yang lebih kaya dari lo, kalau yang lebih ganteng gue harus cari bule dulu. Kalu lo mau gue gak papa jadi yang kedua, asal istri lo ngizinin"
"Ogah, meski dia ngizinin gue gak mau sama lo" tolok Abra tegas.
Zahra mengulum bibirnya menyembunyikan wajahnya didada Abra menahan tawa.
"Ih ... lo ngomongnya keterlaluan" Cinta berdi dari duduknya. "Tahu gini gue gak mau kesini, biarin aja kalian tengkar, permisi."
Jalan Cinta yang gemulai dan anggung membuat Zahra tercengang, dia saja yang notabenya adalah wanita asli sejak dalam kandungan mana bisa berjalan seanggun itu?.
"Dia beneran gitu?" tanya Zahra dengan wajah bodohnya.
Abra mengangguk, kembali memeluk Zahra menghujami keningnya dengan ciuman. "Iya sayang, kamu mau ditukar dengan seratus wanita jadi-jadian kayal dia aku mana mau."
Sontak Zahra tertawa ngakak dalam pelukan Abra.
"Aku Cinta, Sayang dan semuanya sama kamu yang wanita asli pure dari lahir."
Tawa Zahra semakin menggema, membalas pelukan Abra dengan erat.
*-*
.
Hai semua 🙌
Double Up 😉
*Sebagai ucapan**Terima** kasih** atas support yang kalian berikan 😙*
Sempat diepisode belasan hampir nyerah karena 2-3 hari gak ada yang baca apa lagi support 😢
Trima kasih 🙏
Tanpa kalian mungkin author udah nyerah dan si Zahra dan Abra kembali hanya bersarang diotak tanpa bisa dibagi kesiapapun.
Love you Readers 😘😘😘
__ADS_1
.
Unik Muaaa