
Hai Boy...
Aku bingung mau memanggilmu dengan panggilan apa, kali ini aku akan memanggilmu Ar saja seperti Bunda dan teman dekatmu karena hanya diatas surat, jika secara langsung aku sedikit canggung karena kita tidak sedekat itu meski kamu sudah mengakuiku sebagai Ayah, aku sangat bahagia ... amat sangat bahagia ...
Aku akan menggunakan panggilan Ayah dan Ar saja agar bisa fokus menulis.
Entah ini kertas yang keberapa, sejak tadi Ayah menyobeknya karena merasa kurang tepat atau sebagainya, hingga memutuskan lebih baik Ayah menulis seperti yang sebenarnya ingin Ayah katakan secara langsung.
Maaf, sejak kamu lahir tidak merasakan kemewahan dan mengenal sosok seorang Ayah. Ayah malah menjadi seseorang yang sangat kamu benci karenya menyakiti Bundamu, Ayah sadar perasaanmu sejak pertama kali Ayah ke Madura menemuimu.
Maaf, jika keadaan Ayah dan Bunda sudah memaksamu menjadi anak yang dewasa bukan pada waktunya.
Maaf untuk segala hal yang tidak bisa Ayah sebutkan satu persatu karena Ayah sadar memiliki banyak salah dan dosa padamu dan Bunda.
Ar...
Terima kasih sudah lahir kedunia ini menemani Bunda, menjadi penguat Bunda, menjadi anak penurut, sayang dan melindungin Bunda disaat Ayah tidak disamping Bunda.
Terima kasih sudah memberi kesempatan sekali lagi untuk Ayah bersama Bunda dan Ar.
Sebenarnya awal mau menulis surat ini karen Ayah mau berterima kasih, Ar sudah mau menerima Ayah, meski Ayah adalah seorang Ayah yang banyak mengecewakan Ar sebelumnya. Jika tidak melalui surat ini Ayah tidak tahu kapan akan mengatakannya bahwa Ayah berterima kasih banyak dan sangat bahagia.
Ayah begitu bahagia, sangat amat bahagia saat Ar memanggil AYAH. Ingin menangis dan memelukmu tetapi kamu sadar bukan, Ayah sepertimu, terlalu gengsi untuk melakukannya, entahlah mungkin kita memiliki sifat yang turun temurun βΊ
Ar ...
Apa yang dikatakan Ar saat kita baru sampai memang benar, tapi tidak seperti itu awal mulanya. Ayah ingin membawa Orang tua Bunda, meminta maaf dan meminta restu mereka untuk menikah dengan Bunda lagi, jika tidak berhasil baru akan meminta kalian keluar negri untuk memberi Ayah dan Bunda ruang, karena jujur otak kalian selalu membuat Ayah kelabakan. Tetapi kalian sudah meminta bantuan Ayah terlebih dulu, membuat Ayah berada diatas awan.
Ayah sudah menyerah saat kamu mengatakan Bunda jatuh cinta pada seseorang, ingin rasanya menangis, bersimpuh meminta maaf pada Bundamu dan pernah terbesit membunuh orang itu. Ah ... Ayah sangat merasa bodoh setelah sadar, bahawa secara tidak langsung Ayah dibodohi oleh kepolosanmu.
Memiliki tiga anak seperti kalian Ayah sangat bersyukur, bahagia dan beruntung. Meski terkadang otak kalian membuat Ayah kesal dan geram, tapi otak kalian itu suatu pemberian Tuhan yang harus disyukuri.
Tanpa Ar mungkin Ayah dan Bunda tidak akan kembali bertemu, bahkan jika kami bertemupun tidak akan bersatu secepat ini, terima kasih My Son.
As yang memperkenalkan Ar pada karate, As yang menemani Ar dan Bunda dulu saat Ar masih kecil. Bahkan tanpa sadar dia juga menjadi sosok pelindung, dia begitu menyayangi Bunda dan kamu bahkan dengan cepat dia sudah bisa menjadi sosok seorang kakak bagi Gea.
Mungin permintaan yang saat di rumah sakit itu adalah permintaan yang tidak tahu malu, memintamu menerima Gea menjadi anggota keluarga kita, padahal Gea adalah anak yang menjadi alasan Ayah menikahi Maminya dan membuat Bundamu pergi. Tapi dia sama sepertimu, menjadi anak penguat Ayah saat Ayah merasa tidak ada yang menghiraukan Ayah, bahkan Kakek Arya saat itu menjauhi Ayah karena kebodohan Ayah.
__ADS_1
Gea anak yang tidak diinginkan oleh Maminya, kamu juga tahu bukan?. Jadi bisa kah kamu menerima Gea juga?. Jika tidak, bisakah kamu bersikap seperti sebelumnya meski kalian selalu berdebat?.
Ar...
Satu lagi permintaan Ayah, bisakah Ar merahasiakan dari Bunda jika Ayah kenal dengan mafia?. Ayah tidak ada kerja sama yang serius dengan mereka, perusahaan keamanan kami hanya meminta bantuan pada mereka jika berurusan dengan gang besar selevel mereka, selebihnya tidak.
Ayah tidak mau Bunda shock, dia saja shock saat mengetahui kamu seorang hacker dan bermain saham, apa kabar jika dia tahu masa lalu Ayah?.
Sepertinya surat ini sudah telalu keluar dari niat awal yang ingin Ayah katakan padamu. Disobekpun sudah terlanjur Ayah menulisnya.
Tolong pertimbangkan dua permintaan Ayah pada Ar.
Dan terima kasih Ar
Thank you for giving me
One More Chance
Thank you for calling me Ayah
.
.
.
...Ayahmu:...
^^^Abraham Ganendra^^^
# Katakan pada As, Ayah juga memberinya kesempatan untuk belajar fotografer, asal jangan melupakan tugasnya sebagai Mahasiswa.
__________________________________________
Tidak ada ekpresi apapun yang Regan tunjukkan setelah membaca surat dari Abra.
Sedangkan yang sejak tadi menunggu Regan membaca surat itu menunjukkan ekpresi yang berbeda.
__ADS_1
Aslan tertawa ngakak.
Alaric mengerutkan kening keheranan melihat Regan yang biasa saja.
Sedangkan Emma memutar bola matanya "Ayah dan anak, sama-sama snowmen."
Regan menatap mereka bergantian dengan tatapan datar.
"Hubungan Ayah dan Ibumu seperti cerita novel pada umumnya, kembali lagi meski salah satu diantara mereka sudah menghianati, mengecewakan dan meninggalkan." Emma mengatakannya dengan nada mengejek. "Akhir yang dapat bisa ditebak, dan membosankan."
Regan tersenyum simpul "Memang, ceritanya terlalu klise, dapat ditebak dan membosankan. Tetapi mengambil keputusan untuk kembali bersama dan berdamai dengan masa lalu adalah hal yang tidak gampang dan mudah sepeti kamu membalikkan telapak tangan." Perlahan raut wajah Regan berubah. "Karena banyak yang harus dipertimbangkan, kamu hanyalah orang luar, tau apa tentang kehidupan yang sudah kami lalui?. Maaf jika cerita mereka terlalu klise, dan terima kasih sudah menjadi pengamat."
Begitu dingin dan datar, ini kali kedua Regan tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak sukanya pada seseorang setelah Abra.
Aslan dan Alaric hanya diam memperhatikan apa yang akan terjadi diantara Emma dan Regan selanjutnya.
"Aku memang orang luar" ucap Emma santai namun angkuh. "Tapi aku mengetahui seluruh cerita kalian dari seseorang yang bisa dipercaya."
"Tapi kamu tidak menjalaninya, selain orang luar kamu hanya seorang pengamat." Regan menoleh menatap Aslan. "Aslan pun juga begitu, bahkan aku yang menjalani kehidupan bersama Bunda tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Bundaku, apa alasan Bunda menerimanya. Aku hanya mengetahui bunda masih menyayanginya, tetapi bukan itu yang menjadi alasan utama."
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dirasakan Zahra, tidak ada yang tahu alasan utama apa yang sebenarnya menjadi tombak yang menghancurkan dinding hati yang selama ini Zahra pertahankan. Tidak ada yang tahu, bahkan dirinyapun, Adam Regan Zeroun Ganendra yang merasa sudah mengenal Zahra luar dalam dan sangat sempurna tidak tahu apapun.
Cinta dan sayang bukan alasan utama, rasa kasihan juga bukan, hanya Zahra yang tahu dan Regan hanya bisa diam, ikut menjadi pengamat tetapi memastikan jika Bundanya tidak terjatuh dan menangis.
*-*
.
πHai Readersπ
Terima kasih sudah mampir π
Jangan lupa π Vote π Favorit πLike and π¬ Komen π
.
Unik_Muaaa
__ADS_1