One More Chance

One More Chance
Kakek Arya


__ADS_3

Sudah beberapa hari Abra kurang tidur. Jadwalnya benar-benar padat, seharian dia hanya bisa tidur empat-lima jam saja. Dan satu jam lalu dia baru saja menyelesaikan meeting dengan CEO dan para mamanger yang memegang cabang perusahaannya di Kalimantan.


Niat akan tidur tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, dia yakin jika Sam yang memanggunya seperti biasa. Regan dengan malas berjalan membuka pintu kamar hotelnya, dan ternyata memang Sam yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah serius.


"Hp lo kenapa mati?."


Abra mengsrutkan kening, suara dan ekpresi Sam malam ini tidak seperti dua hari terakhir yang selalu membuatnya jengkel setiap mengganggunya.


"Mati kayaknya, gue juga gak tau ada dimana. Emangnya lo gak bisa kalau gak ganggu gue?," keluh Abra.


Tidak menjawab, Sam hanya memjulurkan hpnya pada Abra. "Gea," ucap Sam memberi tahu siapa yang tersambung.


Abra dengan cepat mengambil hp Sam dan berjalan duduk disofa sebelum berbicara dengan Gea. "Ada apa Gea?," tanya Abra lembut.


Terdengan isakan Gea di sebrang membuat Abra menatap Sam meminta penjelasan. Sam hanya diam tetap berdiri dengan tenang disamping Abra.


"Hp Ayah mati, Gea gak bisa nelfon Ayah dari tadi." Suara Gea serak, dia berusaha berbicara sejelas mungkin ditengah isak tangisnya.


"Hpnya mati, lupa di ces. Gea kenapa nangis?, ada apa ?," tanya Abra lagi.


Terdengar isakan Gea yang semakin menjadi. "Kakek ...."


Dada Abra berdebar, dia tidak merasa tenang seketika. Abra berdiri mulai berjalan mondar-mandir mencoba menenangkan diri. "Kenapa Kakek?," tanya Abra khawatir.


"Tadi pagi pingsan sebentar, saat mau dijemput ambulan Kakek sadar tidak mau di bawa kerumah sakit." Jelas Gea sambil sesugukan


"Lalu kondisi Kakek bagaimana sekarang?."


"Gea gak tau," suara Gea begitu lirih. "Tadi gak sadarkan diri lagi, ada tiga dokter yang nangani. Cepat pulang bujuk Kakek ke rumah sakit, Kakek gak mau di bawah kerumah sakit Ayah."


Suara tangis Gea yang semakin menjadi dan dua kata yang dia tangkap tiga dokter, membuat kepala Abra pening seketika.


"Iya, Ayah pulang sekarang. Gea jangan nagis, Kakek pasti baik-baik saja." Abra masih menenangkan Gea padahal dia sebenarnya juga menenangkan dirinya sendiri.


Abra memutuskan komunikasi, mengembalikan hp Sam dan berjalan mondar-mandir semakin cepat menenangkan diri.


"Apa ada penerbangan ke Jakarta malam ini?." Tanya Abra sambil memegangi kepalanya.


Sam langsung membuka aplikasi di Hpnya. "Ada, nanti jam sebelas malam."

__ADS_1


"Kita pulang malam ini," putus Abra mendapat anggukan dari Sam.


*-*


Kamar utama hanya boleh dimasuki para dokter dan perawat. Kondisi Kakek Arya benar-benar down kali ini.


Tadi pagi setelah makan malam beliau meminta Gea untuk mengantarkannya keruang kerjanya. Dia ingin memantau perusahaan dari layar monitor komputerdiruang kerjanya.


Abra dan Sam pergi mengurus perusahaan cabang di Kalimantan, yang ternyata harus memakan waktu lebih dari lima hari lebih lama dari yang di jadwalkan Sari. Jadi dia mencoba memantau kondisi perusahaan dari balik monitor seperti sebelumnya.


Setelah mengantar Kakek Arya, Gea pergi kedapur mengambil susu Kakek Arya yang masih tersisi separu. Baru diambang pintu Gea melihat Kakek Arya memegangai dada kirinya dan kesusahan bernafas.


"Kakek ...," teriakan Gea menggelegar melihat Kakek Arya memegangi dadanya dan susah bernafas.


Itu terakhir kali Gea melihat wajah Kakek Arya, karena setelahnya dia tidak diperbolehkan masuk.


Jam sudah menunjukkan jam dua belas, mata Gea mulai berat karena seharian hanya bisa menangis dan tidak bisa tidur.


"Tidurlah, nanti kalau Abra datang om bangunin." Ibnu mengelus puncak kepala Gea.


Gea mengerjabkan matanya. "Gea tidur disini ya?, nanti kalau Ayah dateng beneran bangunin Gea."


Sejak tadi Ibnu juga khawatir dengan keadaan Kakek Arya, dia juga tidak bisa tidur. Sudah tiga jam dua dokter teman Tari didalam kamar Kakek Arya belum keluar. Kepala Ibnu pusing dia tidak bisa berfikir apapun, dia hanya bisa menemani Gea dan menghiburnya.


Terdengar langkah kaki yang mendekatinya, Ibnu menoleh, ada Tari dan kedua teman dokternya. Ibnu berdiri berjalan perlahan mengiringi mereka untuk keliar dari rumah agar tidak menggnggu tidur Gea.


"Bagimana perkembangannya?," tanya Ibnu setenang mungkin.


"Kami tidak bisa memastikan secara tepat, karena perlu pemeriksaan yang mendetail tetapi Opa tidak mau dibawa kerumah sakit." Tari mengatakannya dengan nada penuh kekhawatiran. "David dan Fani juga udah memeriksanya jantungnya udah stabil, tetapi tetap saja kita harus berjaga-jaga takut ada sesuatu yang tidak memungkunkan."


"Iya mas, secepat mungkin kita harus membawa Pak Arya kerumah sakit." Dokter David mengacak-acak rambutnya geram dengan sifar keras kepala Kakek Arya.


"Meski ada kita dan beberapa suster tetap saja penanganan yang kami berikan kurang tanpa peralatan medis." Bahkan Fani tidak bisa menahan kekesalannya. "Dia bilang hanya mau Regan tidak butuh rumah sakit, memangnya Regan ini siapa?, dokter?, atau siapa?."


Tepat saat itu mobil hitam memasuku pekarangan rumah Kakek Arya. Abra turun dari mobil dan melangkah cepat menghampiri mereka berempat.


Kemejanyang keluar dari celana dan jas yang dijinjing menandakan jika dia benar-benar tidak menghiraukan penampilannya sebagai pemimpin perusahaan besar kali ini.


"Bagaimana Opa?," tanyanya Setelah menormalkan nafasnya.

__ADS_1


"Sekarang beliau tidur, didalam yang menjaga para suster." Tari menanggapibya dengan cepat.


"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?."


"Opamu tidak mau," Ibnu menepuk pundak Abra.


"Kalian bisa memaksanya.".


Kepala Ibnu menggeleng. "sudah, tadi ada ambulan yang menjemput, dia hampir loncat dari bangkar."


"kami sejak tadi membujuknya tetapi dia malam beberapa kali membuka selang oksigen dan infus." Fani menambahi ucapan Ibnu.


Abra mengacak-acak rambutnya, menyerahkan jasnya pada Ibnu berjalan sambil menggulung lengan kemejanya.


Langkahnya terhenti kala melihat Gea tertidur disofa. "Kenapa ...."


"Dia menunggumu," potong Ibnu. "biarkan saja, dia baru tidur satu jam yang lalu."


Abra kembali melangkahkan kakinya memasuki kamar Kakek Arya.


Kakek Arya terbaring lemah, dengan selang oksigen di hidungnya, infus di lengan kanannya dan beberapa plaster di kedua punggung tangan dan pergelangan tangannya.


Abra mengelus pening Kakek Arya. "Kenapa bisa pingsan?," tanya Abra lirih.


Ibnu menjulurkan segelas air pada Abra. "Tidak tahu, dia meminta Gea mengantarnya keruang kerja. Gea kedapur mengambil susu yang belum beliau minum, lalu kami mendengan Gea menjerit. Untung David dan Fani mampir mau memberikan undangan pernikahan, jadi mereka bisa langsung menyelamatkan Opamu."


Sejenak Abra terdiam memandang kondisi Kakek Arya lalu memutuskan untuk keluar dari kamar itu.


Ibnu mengikutinya dari belakang. "Dia bilang tidak butuh rumah sakit, hanya butuh Regan."


Langkah kaki Abra terhenti.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2