
D's Coss
Bayangan tulisan itu masih terus Abra ingat dalam benaknya, setelah mengetahui alasan mengapa Zahra menghilang, Abra langsung mengamankan semuanya untuk pulang.
Regan terdiam didalam mobil dengan mata memerah seperti Abra, ya mereka begitu sangat terlihat mirip, mata mereka memerah dengan rahang mengetat menatap kosong.
Tidak ada yang dapat Regan lakukan, hp Bundanya tidak dapat dia lacak, Bundanya juga meninggalkan jam tangan yang diberikan Javir diwestafel. Abra mencoba menghubungi Malvin tidak dapat tersambung sejak tadi.
Si kembar menangis, Fani dan Hanna yang mengurus mereka, untung saja Zahra masih memiliki stok ASI di kulkas jadi mereka tidak membutuhkan susu formula, semoga Zahra cepat ditemukan tidak sampai stok ASI si kembar habis.
Javir masih berusaha mencari Zahra dengan hasil mengeheack cctv restauran tadi, dan beberapa cctv dijalan.
Abra melirik Regan yang masih terdiam berduri didekat jendela, dia berjalan menghampiri Regan, menepuk pundaknya membuat Regan menoleh padanya.
Mata mereka saling tatap, "mau menangis?" tanya Abra lalu merentangkan tangannya lebar.
Regan terdiam menatapnya.
"I'm sorry" ucap Abra begitu lirih.
Regan langsung memeluk Abra, membenamkan wajahnya dalam pelukan Abra, mencengkram baju Abra begitu erat. Regan menangis dalam diam, bahunya terguncang, Abra merasakan dadanya basah, tangan Abra menepuk pundak Regan menenangkannya.
Aslan yang baru saja dari dapur dengan Gea membawa kopi terdiam menatap mereka, Gea melirik sebentar dan kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Javir.
Aslan dan Abra saling tatap tidak emngatakan apapun, tetapi saling memahami jika mereka juga sedih, ingin menangis meluapkannya seperti Regan tetapi mereka harus kuat.
Sedangkan Gea meletakkan kopi didekat Javir membuat Javir menoleh padanya, mata Gea juga memerah, kelopak mata Gea berkedip-kedip sesekali mendongakkan kepala menahan tangis, ini kedua kalinya Zahra diculik.
Pada awalnya Gea tidak secemas sekarang, hingga akhirnya dia mencerna semua pembicaraan yang dia dengar, dan menyimpulkan sesuatu bahwa Zahra diculik oleh penjahat yang mempunyai dendam pada Ayahnya.
Javir melirik Aslan memintanya untuk menghampiri Gea dan menenangkannya, karena dia tidak bisa menenangkan gadis itu sekarang, keselamatan Zahra jauh lebih penting.
"Vira" satu kata itu yang tiba-tiba terucsp oleh Abra.
*-*
Mereka bertiga baru saja keluar dari pesawat.
Sam merentangkan tangannya merasa lega setelah belasan jam duduk didalam pesawat.
"Ini siapa?, hp gue kenapa?" Vira langsung memberikan hpnya pada Malvin.
ini pertama kalinya dia melihat layar hpnya tiba-tiba hitam lalu muncul tulisan-tulisan yang dia tidak mengerti sebelum akhirnya ada panggilan masuk entah dari siapa.
Melihat layar hp Vira membuat Malvin menghela nafas, wanita itu tidak mendengarkan perintahnya untuk mematikan hpnya seperti Sam, karena Malvin mengantuk dan malas mengatur sistem yang dapat ngeblok para heacker dari hp mereka berdua.
"Papa dimana?"
Suara Javir langsung terdengar setelah dia menerima panggilan masuk itu.
"Ada apa?" tanya Malvin masih bersikap santai menyerahkan kopernya pada supir taxi untuk memasukkannya dalam bagasi.
__ADS_1
"Bunda Zahra diculik Cossmoss"
Wajah Malvin langsung berubah serius, dengan cepat dia masuk kedalam taxi, mengeluarkan leptopnya dan kembali mengeluarkan hpnya yang ternyata banyak panggilan masuk dari Abra, Regan, Javir dan Enzo.
Sial gue lupa hp dalam mode diam, batin Malvin.
"Regan tidak bisa melacaknya karena hpnya tidak Bunda bawa, dan jam tangan yang aku berikan dia lepas ditoilet."
"Berikan hpnya pada Abra" perintah Malvin sambil menghidupkan leptopnya.
"Ya"
Terdengar suara Abra yang begitu pelan seakan tanpa semangat sempat menghentikan tangan Malvin yang sedang memencet keybord leptopnya, mengingatkannya saat kakek Arya meninggal.
"Apa Zahra memakai cincin pernikahan kalian dulu?" tanya Malvin, Abra tidak langsung menjawab. "Berlian yang dipakainya berlian palsu, aku belum mengembalikan berlian aslinya."
"Bunda memakai cincin pemberian Gea," terdengar teriakan Regan disebrang. "Om pernah mendengarkan pembicaraan kami melalui itu, pasti juga bisa mengetahui Bunda dimana kan?."
Malvin menghela nafas, "tenang dulu biarkan Om bekerja sebentar lagi juga sampai sana."
Malvin mematikan sambungan panggilan mereka menyerahkannya hp Vira pada Vira kembali, lalu menatap Sam.
"Apa?" tanya Sam tak mengerti dengan tatapan Malvin.
"Ganti" satu kata dengan lirikan mata, namun dapat membuat Sam tersenyum lebar paham dengan apa yang Malvin katakan.
*-*
"Bunda bisa ditemukan kan?" tanya Gea begitu jelas terdengar ditelinga Javir.
Mata Javir perlahan tebuka dan menoleh tidak langsung menjawabnya karena memastikan jika Gea berbicara dengannya.
Senyum segaris Javir terukir, melihat Gea kembali menatapnya entah kenapa membuat suatu kebahagiaan terssndiri yang dirasakan Javir.
"Ya pasti" jawab Javir penuh keyakinan.
"Syukurlah" ucap Gea dengan kepala menunduk, "setidaknya ada harapan.
"Selalu ada harapan, asal jangan pernah mencoba menyerah." Javir melirik jam dinding yang telah menunjukkan jam setengah dua, dan Gea belum juga tidur. "Tidurlah, jangan memaksakan diri."
Kepala Gea menggeleng, "aku tidak bisa tidur" Gea mengangkat wajahnya menatap Javir, "setidaknya aku bisa membantu sesuatu."
"Dengan kamu tidur itu juga membantu otak aku biar gak khawatirin kamu dan fokus mencari Bunda," Javir duduk dengan tegap. "Kalau kamu kurang tidur terus sakit siapa yang bantu mbak Fani jaga si kembar?."
Lagi-lagi kepala Gea menggeleng sambil menunduk dalam.
"Gea" panggil Javir agar Gea kembali menatapnya, tetapi gadis itu semakin menundukkan kepala.
Abra sejak tadi memperhatikan mereka dalam diam.
Tangan Javir dengan ragu terulur, tetapi hanya mengambang setelah sadar dia tidak disini tidak sedang berdua dengan Gea, akhirnya Javir melirik Abra dan menarik tangannya menjauh.
__ADS_1
Abra memberi isyarat dengan dagunya menunjuk Gea lalu Regan dan Aslan yang duduk disebelah kanan dan kirinya sama-sama menyandarkan kepala dipundak Abra.
Kembali tangan Javir menjulur mengelus kepala Gea lembut membuat Gea kembali mengangkat wajahnya menatap Javir, matanya semakin berkaca-kaca. Javir menggeser duduknya semakin mendekati Gea dan menariknya dalam pelukannya.
Mulai terdengan suara tangisan kecil Gea dalam pelukan Javir.
Aslan menghela nafas mendongak menatap Abra, "Ayah peluk As juga" pinta Aslan.
Abra langsung mengerutkan keningnya.
Aslan mengangkat kepalanya dari pundak Abra, "semua orang yang dapat pelukan menangis, As juga ingin menangis Yah. Atau Ayah juga ingin menangis sini saling peluk."
Plak ...
Tangan Abra langsung menjitak kening Aslan, "jangan bercanda sekarnag Aslan" desis Abra.
Aslan menghela nafas kembali menyandarkan kepalanya pada punggung Abra, "As benar-benar ingin menangis Ayah, As mengkhawatirkan Bunda" uvap Aslan lirih.
Mereka semua terdiam, hingga pintu rumah mereka terbuka.
Enzo, Emma dan Alaric masuk kedalam rumah mereka, diikuti seseorang dari belakang mereka bertiga. Abra berdiri menghampiri Enzo, Emma duduk disamping Regan dengan dengan wajah kelelahannya.
Kepala Enzo menggeleng, "kami tidak menemukan Zahra, anak buahku juga" Enzo melirik seorang pria yang tadi membuntuti mereka.
Merasa pembicaraan mereka akan memakan waktu, Javir menggendong bridal Gea membawanya menuju kamar Javir menudurkan Gea disana karena kamar Emma yang ditempati Gea sedang ditempati Hanna dan Fani untuk menidurkan si kembar.
"Aku tidak tidur" ucap Gea lirih dalam gendongan Javir.
"Ya" jawab Javir sekenanya.
Javir membaringkan Gea dikasurnya, menutupi tubuh Gea dengan selimut dan duduk di dekatnya.
Gea meringsut tidur dipangkuan Javir dan memeluk pinggangnya sebelum kembali menangis. "Janji ya cepat temukan Bunda" pinta Gea.
"Ya" jawab Javir pelan.
Tangannya mengelus rambut Gea agara membuat Gea cepat tertidur, karena dia harus kembali fokus menemukan Zahra setelah Malvin datang sebentar lagi.
*-*
.
Tarik nafas 😤
Buang nafas 😥
Mencoba sabar menghadapi Readers yang tidak klik 👍
Dan banyak-banyak terima kasih buat Readers yang setia selalu memberikan dukungan untuk Author 🙏
Lop 💖Lop 💞 buat kalian semua 😙
__ADS_1
Unik Muaaa