
Dua kutu buku Regan dan Aslan sedang belajar untuk ujian bulan depan, Alaric ada pemotretan diluar kota, Emma sudah jarang kerumah Regan, jadi malam ini hanya Javir yang duduk di ruang tamu dengan tv menyala tetapi dia sibuk mensecrol layar hpnya.
Javir sedang ngastalker akun IG Gea, tidak ada kata-kata yang menggambarkan kesusaha hanti Gea membay Javir kesal sendiri.
Javir merebahkan tubuhnya disofa, menatap keatap rumah dengan tatapan kosong. Penolakan Gea malam itu membuatnya sulit berkonsentrasi mengerjakan apapun karena mencoba menabak-nebak apa yang sebenarnya membuat gadis itu berubah pikiran.
Dret ...
Hp Javir bergetar Dengan cepat dia meraihnya, tetapi layar hp yang menampilkan warna merah membuatnya menghela nafas. Didepan pagar rumah, Enzo dan lima orang anak buahnya.
Dengan langkah malas Javir berjalan membuka pintu, tatapanya dan Enzo saling bertautan sejenak sebelum Jabir kembali melangkahkan kakinya membuka kinci pintu pagar.
"Selamat datang Mr Miguel Lorenzo Remano" sambut Javir sambil membuka pagar rumah.
Mendengar Javir menyebut nama lengkapnya, tatapan tajam Enzo begitu menusuk, menilai Javir dari atas sampai bawah lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Enzo membuka pintu rumah tanpa permisi, duduk disofa ruang tamu, sedangkan dua orang anak buahnya membawa barang-barang yang mereka bawa kedapur.
Merasa diacuhkan, Javir tidak ambil pusing juga tidak menghiraukan Enzo, dia duduk mengerjakan pekerjaannya yang sempat dia tinggalkan tadi sebelum ngestalk IG Gea, mengitak atik lima jam tangan.
Semua yang dikerjakan Javir tidak luput dari pengamatan Enzo, membuat Enzo tidak tahan bertanya karena penasaran siapa Javir sebenarnya. "Siapa kamu?, kenapa kamu tahu nama saya" tanya Enzo dengan suara beratnya, tetap dengan tatapan mata yang masih memperhatikan tangan Javir yang sibuk mengutak-atik.
Javir mendongak menatap Enzo sejenak sebelum kembali fokus pada pekerjaannya sambil menjawab singkat, "Miguel Lorenzo Remanov, pemimpin Remano salah satu anggota Aase, tidak begitu menonjol tapi yang paling mematikan."
Jawaban Javir membuat Enzo tersenyum kecil menegakkan posisi duduknya mentap Javir dengan tatapan yang semakin penasaran dengan sosok anak muda didepannya. "Dari mana tahu Aase?, karena kami bubar sebelum kamu lahir."
"Saya anak salah satu dari mereka" Javir mengenakan jam tangan yang sejak tadi dia pereteli.
"Sean atau ..." kalimat Enzo menggantung, membungkukkan tubuhnya sedikit ada Javir. "Avin, pasti kamu anak dia" tebaknya penuh keyakinan.
"Yupz."
Enzo tertawa kecil, "pantas saja sangat sulit mencari siapa kamu sebenarnya." Javir melirik tak mengerti, "Alaric memberitahu bagaimana kamu bekerja saat baru datang, dan kami harus memastikan siapa indentitas kamu sebenarnya meski Aslan dan Regan mengenalmu, tetapi kami hanya menemukan hal yang menurutku tidak penting."
Kepala Javir menagngguk-angguk mulai mengerti, "kenapa tidak bertanya langsung?."
"Sangat suling mempercayai seseorang didunia kami nak."
Javir hanya melirik sebentar, sebelum memberekan peralatannya yang berserakan memenuhi meja sofa ruang tamu.
"Hubungi Papamu aku ingin bicara."
Bukan meminta tolong, tetapi nada Enzo lebih memerintah. Kebiasaannya menjadi ketua mafia tidak bisa dia hilangkan, Javir dapat memaklumi hal itunkarena Abra dan Malvil juga terkadang seperti itu.
Javir meraih hpnya mengutak atiknya sebentar, "anda bisa menghubunginya sendiri, saya lagi menunggu telfon dari seseorang."
Belum Enze mengatakan jika tidak mempunyai nomor telfon Malvin, satu notifikasi dari nomor tak dikenal masuk membagi nomor kontak dengan mana Master membuat Enzo tertawa kecil.
Hp ditangan Enzo berdering, Hana menelfon membuat wajahnya berubah cerah sekan kegarangan yang tadi Javir lihat luntur.
"Ya Baby?" sangat lembut membuat Javir melongo, "iya sebentar lagi pulang Baby."
'Ternyata ketua mafia bisa jadi bos manis juga' batin Javir menatap Enzo tidak percaya.
__ADS_1
Javir berjalan kedapur mengambil minuman lalu ke taman belakang meninggalkan Enzo diruang tamu. Javir merebahkan tubunya menatap keatap gazebo.
"Butuh refresing otak" gumanya mulai mencari sesuatu di hpnya, "udah cukup jadi anak baik" ucapnya pada diri sendiri tersenyum misterius.
*-*
Gea baru saja turun dari tangga bertepatan dengan Zahra dan Abra yang keluar dari kamar.
"Hai Ayah, Hai Bun" sapa Gea ceria, "hai twins" tangan Gea mengelus perut Zahra.
Terasa tendangan dari dalam perut ditangan Gea membuat Gea menatap perut Zahra takjub.
"Wah ... kalian udah bisa denger sapaan Kakak ya?"
Abra tersenyum melihat tingkah Gea.
"Mereka udah sering gerak ya Bun?" tanya Gea sambil menggenggam tangan Zahra membantunya berjalan kemeja makan.
"Iya, Bunda susah tidur, cepet capek tapi gak bisa tidur. Bunda jadi kasihan sama Ayah kalau Bunda malam-malam mau pipis, harus bangunin Ayah." Zahra mengatakannya sambil tersenyum pada Abra yang sudah menarik kursi untuk dia duduki.
"Aku akan menjadi suami siaga Ara" sahut Abra.
Gea tersenyum, "iya Gea juga Bun, mereka kan juga adek Gea."
"Sepertinya memang harus ikut senam kehamilan seperti anjuran Dokter Ara, diem aku bisa ambil nasi sendiri" Abra mulai menyentong nasi untuk dirinya dan Zahra. "Kalau aku kamu gangguin tiap malem gak masalah, tapi kamu yang kutang tidur yang buat aku khawatir."
"Iya Bun, mata Bunda udah hampir seperti panda." Zahra terkekeh mendengar ucapan Gea, "kalau Ayah gak bisa temenin Bunda, Gea bisa kok sesekali izin tidak masuk sekolah, ujian juga masih lama, ujiannya setelah bulan puasa."
Abra meletakkan sendiknya, "gak boleh ya Gea, Ayah gak mau Gea terlalu menyepelehkan ujian."
"Ayah bisa masuk siang ke kantor, ada Om Sam dan Tante Sari yang bisa hendel."
Wajah Gea langsung cemberut, "ya udah tapi ajak Gea kalau mau belanja perlengkapan bayi ya?, Bunda bentar lagi lahiran tapi gak menyiapkan apapun, Bunda gimana Sih?."
Zahra tertawa mendengar teguran Gea, sudah sejak dia hamil tujuh bulan Abra mengajaknya belanja, tetapi Zahra tidak mau, sehingga Abra mengomel.
"Bunda sudah beli kok beberapa baju dan gedonga mereka secara online, tetapi hanya sedikit yang penting ada. Kalau Gea mau nemenin nanti spulang Gea sekolah bagaimana?."
"Ayah juga ikut" celetuk Abra.
Zahra menanggapinya dengan senyum kecil.
"Gea yang ngedekorin kamar mereka ya Bun" ucap Gea penuh semangat.
"Terserah kaliam, Bunda terima beresnya saja karena akhir-akhir ini Bunda cepat kelelahan."
"Siap..." seru Gea bahagia.
Melihat kebahagiaan Zahfa dan Gea membuat Abra tersenyum, dia bersyukur hidup dikelilingi dengan anak-anak, istri dan orang-orang yang baik, karena sebelumnya dia tidak jarang merasakan kedamaian dan kebahagiaan seperti sekarang.
Dret....
Hp Abta bergetar, ada telfon masuk dan nama Aslan muncul dilayar hpnya. Sebelum mengangkatnya Abra mengerutkan kening dan menatap Zahra sejenak, karena tidak biasanya Aslan menghubunginya langsung tanpa melalui Zahra.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Abra to the point dengan loudspeaker yang diaktifkan.
"Apa anda ... pernah merekomendasikan saya pada seseorang untuk menjadi asisten, murid atau sebagainya?" tanya Aslan dengan penuh kehati-hatian.
Kembali Abra melirik Zahra sejenak, "memangnya kenapa?" Abra malah balik tanya.
"Apa anda mengenal Robet Calter salah satu fotografer terkenal di negarai ini?."
"Terus kenapa?"
Terdengar helaan nafas Aslan disebrang. "Kenapa anda malah balik tanya sih?, saya benar-benar butuh jawaban" Aslan benar-benar kesal pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan juga oleh Abra.
"Memangnya kalau semua yang kamu tanyakan benar kenapa?" kembalai Abra bertanya.
"Ah ...." Aslan berteriak meluapkan kekesalannya, "Ar ... Ayahmu ngeselin."
Gea yang mendengarnya tertawa.
"Kenapa anda tidak bilang?, liburan semester pertama saya tidak menghiraukan telfon atau chatnya karena saya pikir itu hanya orang iseng." Aslan mengatakannya dalam satu kali tarikan nafas
Zahra tersenyum menopang kepalanya menatap layar hp Abra, dia bisa menebak jika disana Aslan akan mencak-mencak karena kesal.
"Siapa suruh kamu mikir negatif duluan?."
"Karena anda" jawab Aslan tanpa berfikir panjang, "Anda yang bilangkangan jang**an kemanapun kecuali dengan Emma dan Alaric, saya kan anak baik jadi saya mengikuti perintah ANDA ..."
Aslan berteriak saat mengakatan kata 'anda' membuat Zahra akhirnya tertawa lepas sangat yakin jika Aslan benar-benar kesal sekarang ini.
Terdengar keributan disebrang sana, terdengar sahut menyahut antara Alarik dan Aslan yang saling berteriak menggunakan bahasa campuran.
"As mulai gila" kali ini suara Regan yang mengambil alih, "teriakan mereka sangat mengganggu."
"Hai Ar ..." sapa Abra, "bagaimana kabarmu?."
"Tidak bisa belajar gara-gara Alaric dan As teriak-teriak" gerutu Regan. "Tadi Alaric pemotretan dengan Mr Robert itu, dia bercerita tentang fotografer yang dikenalkan padanya. Tetapi saat dia menghubunginya tidak diangkat dan direspon, saat menyebutkan nama Abi Putra ya Alaric tahu kalau itu As, jadi pulang-pulang As kena marah, dia hanya bengok kayak orang bodoh ahahaha ...."
Mendengar cerita Regan sontak Zahra dan Gea ikut tertawa.
Abra hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, "jadi kalian benar-benar mengikuti perintah Ayah?."
"IYA KARENA KAMI ANAK BAIK"
Sambungan telfon terputus, yang terakhir menjawab sambil berteriak adalah Aslan. Sepertinya Aslan benar-benar kesal sehingga dia lepas kontrol berteriak ppada Abra.
Anak Baik
Dua kata itu membuat Abra menatap Gea, perut Zahra dan Zahra yang sedang tertawa.
Tangan Abra terulur mengelus perut Zahra. Semoga anak-anak kami menjadi anak yang baik, soleh dan solehah. Semoga kita semua menjadi keluarga besar yang bahagia. Do'a Abra mencium pelipis Zahra lalu ikut tertawa kecil.
*-*
__ADS_1
Jangan Lupa 👍 Likenya 😢
Unik Muaaa