One More Chance

One More Chance
Kembali


__ADS_3

Vira tidak bisa tidur semalam, dia hanya bisa diam menatap kosong kedepan membiarkan kamarnya gelap, berulang kali dia mengingat perkataan Papanya yang membuatnya terenyuh dan tak bisa membuka mulut untuk membantah seperti sebelumnya.


"Papa mohon jadilah putri Papa yang dulu, yang cerdas dan dapat Papa banggakan. Tidak masalah Papa kehilangan perusahaan Papa, asal Papa kembali mendapatkan putri Papa."


Begitu lembut dengan senyum saat mengatakannya, genggaman tangannya juga begitu hanyat, bahkan tatapan matanya masih melekat dalam benak Vira. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan melihat seseorang tersenyum pedanya, dan akhir-akhir ini dia selalu mendapatkan senyum itu, senyum yang berbeda namun dapat menyentug hatinya.


Alaram hpnya berbunyi


Yang dulu?


Vira yang dulu


Putri Papa


Vira berdiri, membuka gorden jendela, berjalan pelan menatap dirinya di pandulan kaca dan tersenyum kecil.


*-*


"Aku masih tidak percaya video live kita tamanku bagikan pada orang lain, dan salah satu dari mereka mengunggahnya di youtube."


Gea tertawa kecil menanggapi Alaric, sudah beberapa Alaric mengatakannya sejak tadi.


"Kenapa kamu tidak buat channel youtube juga?, komentar-komentar mereka positif loh Gea."


"Enggak" Gea menggelengkan kepala, "untuk saat ini aku tidak mau, jadi kapan-kapan saja."


Entah sudah berapa lama Alaric dan Gea duduk di teras depan rumah bersama, mereka berdua tertawa dan tersenyum tanpa tahu mereka berdua sedang membicarakan apa, tetapi interaksi mereka menjadi pusat perhatian dari dalam rumah.


Regan yang melirik pada Javir yang sesekali juga menatap kearah mereka, dan ternyata bukan hanya Regan yang melakujan itu, tetapi Enzo dan Abra juga.


"Malvin sama Sam jadi kesini?" tanya Enzo yang duduk disebelah Abra.


"Tidak tahu"


"Vira iku?"


Abra berdecak kesal menatap Enzo, "aku tidak tahu Enzo?, kenapa kamu bertanya terus?."


Enzo tertawa kecil, menatap kearah Gea dan Alaric. "Bukankah Vira tinggal sendirian di Jakarta?" Enzo masih kembali bertanya.


Abra mengangguk.


"Kenapa kamu tidak kembalikan saja Gea pada Vira?" ucapan Enzo menarik perhatian Abra.


"Gea sudah menjadi anakku."


"Aku tahu, tapi bagaimanapun dia anak kandung Vira. Biarkan Gea bersama Vira, me ..."


"Dan membiarkan Gea dijadikan sapi perah Vira?, atau menjadi perempuan gila kebebasan seperti Vira?" Abra menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan mengizinkannya, lagi pula Vira tidak perduli padanya."


"Tapi bagaimana jika Gea mengatakan ingin tinggal dengan Vira?, apa kamu akan melarangnya?."


Abra terdiam, kembali mengingat apakah Gea peenah mengatakannya atau tidak, dan se ingat Abra Gea tidak pernah mengatakannya.


"Jangan egois Bra" ucap Enzo kembali yang melihat Abra terdiam, "kamu memang orang tua angkatnya, tetapi dia juga punya hak untuk memutuskan, lagi pula kamu bisa mengawasinya dari jauh. Jika aku adalah Regan, aku merasa kamu tidak adli, kamu memperlalukan Gea dan anak kandungmu sendiri berbeda."


"Aku memperlakukan mereka berdua sama" bantah Abra tak terima.


"Oh ya?" tanya Enzo dengan senyum meremehkannya, kalau begitu tanyakan pada Regan" Enzo menunjuk Regan dengan dagunya.


Kening Regan mengkerut tidak suka pembicaraan mereka dari Gea malah beralih padanya. "Apa?" tanyanya mencoba berlaga tidak mengerti.

__ADS_1


"Apa kamu merasa Ayahmu memperlakukanmu dan Gea berbeda?" tanya Enzo dengan suara serius.


Regan menghela nafas "ya aku merasakannya" jawab Regan dengan nada malas, "tapi itu mungkin karena Ayah lebih lama bersama Gea dari pada aku jadi itu hal wajar. Dan lagi kebanyakan seorang Ayah lebih menyayangi anak perempuannya yang menjadikannya cinta pertama."


"Tetapi aku memperlakukan kalian sama" bantah Abra penuh penekanan.


"Itu menurutmu Abra" Enzo menepuk pundak Abra.


"Ar ..."


"Aku tidak cemburu" potong Regan, "dan aku tidak merasa Ayah tidak adil, karena aku tidak ambil pusing Ayah menyanyangiku atau tidak, karena juga sudah terbiasa hidup bersama Bunda." Regan mengatakannya dengan tenang lalu kembali menatap Gea dan Alaric.


Kata-kata Regan membuat Abra terdiam, sedangkan Enzo tersenyum menatap Regan penuh kagum, Alaric sudah becerita padanya tentang Regan yang seorang heacker dan pintar bermain saham, sesuatu yang cukup membuatnya tak percaya selama ini Regan berhasil menyembunyikannya.


"Kami sudah siap"


Akhirnya Zahra, Hanna, Fani, Emma dan si kembar keluar juga dari kamar setelah sibuk berdandan diri dan si kembar juga.


Enzo melirik jam tangannya tertawa kecil lalu kembali menatap mereka, "satu jam empat puluh tiga menit. Apa kalian juga tidur dulu?."


"Enzo" tegur Hanna dengan wajah cemberutnya.


Hari ini mereka berencana jalan-jalan, karena Zahra dan Gea memaksa jadi Abra meminta Enzo menemani mereka.


Mereka keluar dari rumah bersama, dan Zahra menatap kearah lima mobil yang berjejer panjang didepan rumah mereka, dan belasan bahkan mungkin dua puluhan orang berdiri berjejer membuat kening Zahra mengerut.


"Siapa mereka?" tanya Zahra menoleh pada Abra.


"Pengawal Enzo dan Hanna" jawab Abra sekenanya, lagi pula mereka adalah bawahan yang bibawa Enzo untuk melindungi mereka, jadi Abra tidak berbohong sepenuhnya.


"Wah ... berarti Enzo orang penting ya?, sampai harus di kawal pengamal sebanyak ini."


*-*


"Tidak merombak" bantah Prabu, "hanya menata lebih rapi dan nyaman saja."


Malvin tertawa kecil mendengarnya, "Vira tidak masuk atau sudah berhenti bekerja?."


"Aku memecatnya" dengan santainya Prabu mengatakannya.


"Setelah kehilangan ratusan juta hingga hampir satu Milyar kamu baru memecatnya," Malvin kembali tertawa kecil kali mengejek Prab. "Kami sudah memperingatimu bukan?, dan kamu tidak percaya wanita itu bisa melakukan hal gila melebihi ekpektasi kita."


"Ya" ucap Prabu membenarkan, "aku fikir dia hanya anak manja yang memanfaatkan harta orang tua, wanita yang bodoh karena cintai buta pada seorang pria yang telah menyepelekannya."


"Dulu dia tidak seperti itu, dia memang manja tetapi otaknya hampir setara dengan Abra."


Prabu menatap Malvin tidak percaya.


"Dan kamu berhasil membuat otaknya kembali bekerja."


"Aku tidak melakukan apapun!"


"itu menurutmu"


*Tok ...


Tok ...


Tok* ...


Pintu ruangan Prabu diketok dari luar.

__ADS_1


"Masuk" teriak Prabu.


Perlahan pintu terbuka, Vira masuk dan melangkah dengan penuh kepercayaan dri kedalam ruangan Prabu. Malvin memutar kursinya menatap Vira dengan tatapan tidak percaya dan tersenyum kecil.


"Ini berkas dari manager produksi" ucup Vira dengan nada tenang.


Prabu menyandarkan punggungnya, menatap Vira lekat, wanita itu meletakkan map yang dia pegang dan berjalan mundur selangkah sebelum membgangkat wajahnya dan menatap Prabu.


"Kenapa kamu disini?" tanya Prabu dingin.


"Karena saya bekerja"


Malvin mengulum senyumnya mendengar jawaban Vira tang simple.


"Apa kamu tidak oaham dengan apa yang saya katakan semalam?."


"Paham pak."


"Lalu kenapa kamu masih disini?" tanya Prabu mentap Vira nyalang dengan suara yang mulai meninggi.


"Karena HDR tidak memberikan surat pemecatan, jadi saya masih belum secarah sah diberhentikan."


"Aku yang memberhentikanmu" ucap Prabu tegas, "aku CEO, pemilik sham terbesar dan satu-satunya orang yang berhak memutuskan apapun."


Mendengar perkataan Prabu yang penuh tekanan membuat Vira menghela nafas dan memutar bola matanya. "Tanpa bapak pertegas lagi saya juga sudah tahu, tetapi selama tidak ada hitam diatas putih jadi ..."


"Saya akan perintahkan HRD untuk mengeluarkan surat pemecatan kamu sekarang!" potong Prabu dengan nada membentak.


Vira malah tersenyum menatap Prabu tenang, "baik selagi saya menunggu saya akan menyelesaikan tu ..."


"Berikan pada Fatim" kembali Prabu memotong ucapan Vira.


Kepala Vira mengangguk "baik pak, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi?."


"Tidak ada!"


"Kalau begitu saya permisi."


Vira berjalan munduk beberaoa langkah sebelum akhirnya berbalik berjalannkearah pintu dan keluar.


Malvin yang masih tersenyum memperhatikan Vira kembali menoleh pada Prabu, terlihat Prabu sepertinya frustasi menghadapi Vira membuat Malvin terkekeh kecil.


"Cepat keluarkan surat pemecatan dia, karena aku dan Sam berencana akan mengajaknya berlibur menghilangkan setres" Malvir berdiri merapikan penampilannya.


Prabu menatap Malvin penuh curiga, "apa yang akan kalian berdua lakukan?."


"Apa?"Malvin balik bertanya, "kami hanya melakukan hal teman yang baik lakukan. Berusaha menghibur teman kami setelah bercerai, perusahaannya di akuisisi, di pecat dari pekerjaan dan di jahui pria yang muali dia sukai, permisi."


*-*


.


👍Jempol


👍Like


👍di kilik


Jangan lupa 💬 untuk memberi saran dan masukan juga ya 😉


Terima kasih🙏

__ADS_1


Love you😙


Unik Muaaa


__ADS_2