
"Aku mau kekamar mandi." Gea menarik pergelangan tangan Regan.
Regan menoleh menatap Gea dengan dingin. Gea malah menyengir, membuat Regan hanya bisa pasrah mengikuti langkah Gea yang menariknya kekamar mandi.
"Nunggu disini," Regan berhenti melangkah.
"Ya udah ...."
Gea melambaikan tangan dengan senyumnya masuk kedalam toilet wanita membuat Regan menggelengkan kepala.
Tidak ada yang mengikuti Gea, Regan dan kedua bodyguardnya menunggu diluar toilet.
Tepat saat itu Vira menyelinap masuk kedalam toilet. Dia menunggu Gea keluar dari bilik toilet dengan perasaan tidak tenang.
"Gea" panggil Vira.
Sontak Gea mundur selangkah, baru saja dia keluar dari bilik toilet, Vira sudah berada didepannya.
"Mami kangen," Vira memeluk Gea.
Tangan Gea tidak membalas pelukannya, dia masih belum siap bertemu dengan Vira. Dia tidak mau kelepasan berbicara tentang kekecewaannya atau Zahra dan Regan.
Vira merenggangkan pelukan mereka, "kenapa tidak membalas pelukan Mami?."
Tidak menjawab, Gea malah melepaskan diri dari pelukan Vira. "Bunda kenapa disini?," tanya Gea dingin.
"Mami sudah lama disini, hampir sebulan."
"Tumben udah sampai lama? "
"Iya udah lama tapi Mami gak bisa ketemu kamu. Lagi pula, kalian kenapa tinggal dirumah Opa?. Ditambah ada bodyguard disamping kamu, Mami jadi kelamaan disini."
Yang ditangkap oleh Gea adalah, karena tidak bisa bertemu dengannya Vira lama di indonesia.
"Memangnya siapa yang minta mami tinggal?."
"Ya gak ada, tapi gak bisa dong pergi lagi tanpa bertemu kamu?."
"Kenapa gak bisa?, Mami aja bisa bertahun-tahun pergi gak pulang-pulang, dan kita gak pernah bertemu sedetikpun. Kenapa sekarang gak bisa?."
Suara dengan nada dingin dan ketus Gea membuat membuat Vira menatapnya tidak percaya. "Kenapa ngomong begitu sama Mami?."
"Apanya kenapa?, apa yang salah dari kata-kata Gea?. Mami bahkan tidak perdulu sama Gea, pergi tahunan dan kita hanya bertemu beberapa hari Mami pergi lagi kan?. Jadi biat apa juga Mami sampek bela-belaon mau ketemu Gea ?, mendingan gak usah sekalian."
__ADS_1
"Mami kerja buat kamu?."
Beberapa detik Gea terdiam, tatapannya berangsur-angsur menjadi sinis. "Oh ya ... tapi Mami gak pernah tuh ngasih uang yang cukup buat Gea, selama ini Ayah yang selalu biayain hidup Gea dan bukan Mami."
Vira terdiam didepan Gea, menatap anaknya dengan tidak percaya bahwa anak sekecil Gea sudah berani berkata kasar kepadanya.
"Mendingan Mami kembali pergi deh sana, Gea gak mau disalahkan kalau Mami nanti kelamaan di sini."
"Siapa yang mengajarkanmu bicara seperti ini?," suara Vira mulai meninggi.
Gea menghela nafas dan memilih hendak pergi meninggalkan Vira.
Tangan Vira menarik lengan Gea dengan kasar sehingga punggung Gea menabrak dinding toilet.
"Aw ..." keluah Gea kesakitan.
"Kamu berani ya lancang sama Mami?, Mami ini ibu kamu, siapa yang ngajarin kamu vicara begitu tidak sopa pada Mami?." Vira membentak Gea.
Bukan merasa takut Gea juga menatap Vira dengan mata berkaca-kaca. "Ibu?, memang benar Mami Ibu kandungku, tetapi Ayanh Abra yang bukan Ayah kandungku yang mengurusiku. Jadi, Gea hanya butuh Ayah Arya gak butuh Mami. Silahkan Mami mau kemanapun bertahun-tahun juga gak papa, Gea gak bertemu Mami selamanya juga gak jadi masalah. Jadi jangn buat Gea sebagai alasan Mami lama disini, karena Gea saja gak masalah."
Perasaan yang selama ini Gea pendam seakan keluar semua, tetapi Gea menahan diri untuk tidak mengatakan apapun tentang Abra dan Zahra.
"Mami nyesel ngebuang waktu demi ketemu kamu kalau nyatanya kamu gini," keluh Vira.
Teriakan Gea dari dalam toilet terdengar oleh Regan, sehingg dia menerobos masuk kedalam toilet wanita.
"Ada apa?," tanya Regan khawatir.
Melihat Regan didepannya perasaan Gea campur aduk, dia takut Maminya mengenali Regan, dia tidak mau Maminya kembali mengusik kehidupan Abra dan Zahra.
Gea berjalan dengan cepat kearah Regan "kenapa masuk?."
"Kamu teriak," jawab Regan datar.
Jawaban singkat Regan sejenak membuat Gea lupa diri, hingga dia kembali tersadar karena kembali mendengar suara Vira.
"Dia siapa?," tanya Vira menatap Regan dari atas hingga bawah menilai penampilan serta pakaian yang Regan kenakan.
Regan menatap Gea dengan datar.
"Saya Mami Gea, kamu siapa?, pacarnya?."
Mami?, batin Regan menatap Vira lekat. Didepannya ternyata Vira yang Zahra maksud, sepupu sekaligus cinta pertama Abra.
__ADS_1
Jika dibandingkan dengan penampilan Zahra yang sederhana memang Zahra memiliki perbedaan yang amat jauh dengan Vira yang berpenampilan femini, glamor dan feshionable.
"Kalau kamu masih mau bicara dengan dia aku keluar," ucap Regan tanpa menatap Gea.
"Oh ... jadi dia yang udah buat kamu lancang sama Mami kamu sendiri?," tuding Vira menatap Regan dengan tatapan tidak suka.
Gea kembali berbalik badan menghadap Vira, dia tidak suka dengan nada tinggi Vira. "Dia gak ada hungungannya dengan kita"
"Kenapa tidak?, kamu berubah begini pasti gara-gara ketularan sama pacarmu ini."
"Mami apaan sih!."
Jengkel dengan kelakuan Vira, Gea menarik tangan Regan keluar.
"Jangan pacaran dengan dia," seru Vira membuat langkah Gea dan Regan terhenti.
Gea kembali berbalik badan menatap Vira dengan tatapan nyalang. "Mami memang ibu kandungku, tetapi Mami gak punya hak mengatur hidupku."
"Lihat, kamu saja sudah berani lancang begini sama Mami. Mangkanya jangan bergaul apa lagi pacaran dengan orang yang menengah kebawah, kamu gak pantes dengan mereka, kamu akan keikut tidak berkelas dan kurang adap."
Dada Gea mulai naik turun menahan amarahnya. "Lalu yang seharusnya disalahkan itu bukan orang lain tetapi Mami, tugas seorang ibu itu mendidi jadi terima saja jika ini hasil didikan Mami."
Gea menarik tanga Regan pergi tidak kembali mendengarkan teriakan Vira yang mengatakan apapun.
Regan dapan merasakan kesedihan dari genggaman tangan Gea yang semakin mengerat menggenggam tangannya.
Regan menghentikan langkahnya dan menyentak tangannya dari tangan Gea sehingga membuat Gea berbalik badan menghadapnya.
Mata dan hidung Gea memerah, matanya berkaca-kaca. Tangan Regan terulus menyentuh puncak kepala Gea dan menepuk pelan kepala Gea menenangkan gadis kecil itu.
Gea yang mendapatkan pelakuan seperti itu langsung menangis membuat Regan gelagapan karena dilihat banyak orang.
Regan menarik Gea keluar dari rumah sakit, bukannya berkenti tangis Gea malah semain kencang. Merasa semakin malu, Regan menarik Gea dalam pelukannya dan menenggelamkan wajah Gea didadanya.
Nandan dan Tofa melihat mereka berdua malah tersenyum-senyum sendiri.
*-*
.
.
.
__ADS_1
Unik_Muaaa