One More Chance

One More Chance
Kegilaan


__ADS_3

Pusing, Abra benar-benar pusing


Rencananya akan menghabiskan waktu liburannya dengan keluarga gagal total karena Prabu dan Vira.


Seharian Malvin, Sam dan Abra membantu Prabu dan Pak Jaya merombak rencana mereka. Pada awalnya penanda tanganan akuisisi hanya di atas kertas kosong, Malvin harus membuat perjanjian jual beli, hak atas aset, dan segala hal yang bisa dipalsukan agar Vira tidak curiga.


"Ara" panggil Abra pelan.


Zahra tidak menanggapi, tempat tidur mereka berdua tidak lagi berada ditengah ruangan, entah Zahra meminta bantuan pada siapa Abra tidak tahu, sebelah sisi tempat tidur mereka sekarang menempel pada dinding, dengan si kembar ditengah-tengah sedangkan disisi lainnya Zahra tidur memunggunginya menghadap pada si kembar.


Abra naik keatas tempat tidur memeluk Zahra dari melakang, jika Zahra mendorongnya maka Abra yakin dia akan terjatuh.


"Maaf Ara, kamu pasti kelelahan" bisik Abra.


Kita kembali pada kejadian setelah Vira menunjukkan ijasahnya pada Prabu.


.


.


.


Melihat Vira yang terdiam dengan wajah memerah dan rahang mengetat menahan amarah, sudah membuat Abra yakin jika Vira sebentar lagi akan menyerah, karena Prabu sudah menolak dia mentah-mentah.


"Saya bisa memperkerjakanmu, tetapi langsung dibawah pengawasan saya."


Jeder ...


Semua sontak terbelalak dengan apa yang baru saja Prabu katakan, Vira saja hanya bisa diam menatap Prabu dengan mata berkedip-kedip tak percaya.


"Apa maksudmu?" desis Abra.


"Lo gila?" bentak Sam.


"Otakmu masih berfungsi kan?" Mavin menatapnya dengan tajam.


Prabu sendiri menatap Vira dengan senyum lebarnya, mata Vira masih berkedip-kedip menatap Abra, Sam dan Malvin.


"Dengan satu syarat Pak Jaya mengizinkamu bekerja."


Lega, secara bersamaan Abra, Malvin dan Sam merasa lega. Pak Jaya tidak akan membiarkan Vira melakukannya, karena pengakuisisian perusahaan Jaya Indah semata-mata agar menghilangkan jejak Vira.


Abra kembali diam kembali memilih menjadi pengamat saja, karena dia sudah cukup ikut campur dalam urusan keluarga Pak Jaya.


Sedangkan Sam melirik Vira dengan senyum penuh kemenangan.


Mata Vira mendelik pada Sam, "gue akan pastiin Papa setuju."


"Tidak akan, karena jika Pak Jaya menyetujuinya sama saja apa yang dia lakukan akan menjadi sia-sia."


Vira mengetatkan rahangnya, membuang muka menatap Prabu yang menatapanya sejak tadi. "Baik saya akan bekerja mulai besok" ucap Vira dengan bahasa formal dan tersenyum penuh percaya diri.


Membuat Prabu tersenyum kembali, "Baik saya tunggu besok di ..."


"No" teriak Sam tidak setuju memotong ucapan Prabu, "dia anak pemilik Jaya Indah sebelumnya, dia bisa saja menjatuhkan perusahaan yang kamu miliki, dia tidak akan berfikir dua kali untuk menghancurkan kamu meski perusahaan itu dibangun oleh Papanya." Sam mengatakannya dengan suara menggelegar menatap Prabu.


"Dia tidak akan tega membuat puluhan karyawan yang tidak bersalah menderita" Prabu masih saja menatap Vira dalam.


Sam tertawa, "hei bung ... jangan pernah terkecoh dengan wajah cantiknya." Sam menunjuk Vira dengan tangan kirinya, "dia akan menghalalkan segala hal demi kepuasan dirinya, sudah kami peringatkan untuk menjauhinya kenapa kamu malah menariknya mendekat!."


Senyum bahagia yang sempat terukir dibibir Vira menghilang berubah menjadi senyum segaris memperlihatkan kesedihannya menatap Sam dengan sendu.


Sam salah satu diantara Malvin dan Abra yang begitu dekat dengannya dulu, dia yang begitu mengerti watak Vira, dan ternyata mendengar langsung dari mulut orang terdekatnya membuat Vira tersenyum miris, bagitu bencikah mereka padanya sekarang?.

__ADS_1


"Kenali dirimu, kenali musuhmu" sangat santai, Prabu menatap Sam. "Untuk mengetahui Musuh Anda, Anda harus menjadi Musuh Anda" kali ini tatapan Prabu beralih kembali pada Vira, "saya akan memperlihatkan pada anda bagaimana cara saya bekerja, sehingga anda tahu diri seberapa tidak mampunya anda melawan saya."


Abra menemukan tekat dan penuh keyakina dari pancaran tatapan mata Pramu, duduk tegak menatap Prabu penuh kekaguman. Dia menemukan satu orang lagi yang gila bermain kata seperti Regan dan Aslan.


"Kenapa kalian pada diam?" tanya Sam menoleh pada Malvin dan Abra bergantian.


"Apa kamu masih ingat apa yang saya katakan diruangan saya?" Abra bertanya dnegan nada tenang namun penuh dengan penekanan pada Prabu tidak menghiraukan pertanyaan Sam.


Kepala Prabu mengangguk lalu tersenyum menatap Abra penuh keyakinan.


"Ok, kalau begitu terserah Prabu" ucap Abra lalu menatap Vira, "apapun yang terjadi nanti karena keputusanmu hari ini."


"Kamu harus merubah identitasmu kalau begitu" kali ini Malvin yang buka suara, "kalau tidak entah apa yang akan terjadi padamu selaku putri mantan pimpinan merkea." Malvin mengambil map yang di bawa Vira tadi.


"Kenapa kalian malah setuju" protes Sam tak terima.


Vira tersenyum senang lalu melangkah keluar dari ruangan Abra tanpa permisi.


Selepas kepergian Vira semua menghela nafas, Sam melempar korek api didepannya pada Prabu karena kesal.


"Apa kalian pada gila!" bentak Sam sambil berdri berkacak pinggang.


Abra berdiri menatap Prabu sambil menggelengkan kepala, "lo tahu watak Hanna?" Abra melirik Sam sebentar lalu kembali menatap Prabu. "Dia sama gilanya dengan Kakak" ucap Abra dan pergi begitu saja.


Sam menatap Prabu, begitu juga dengan Malvin, Prabu sendiri hanya menghela nafas dan melangkah pergi membuntuti Abra.


"Dia adik Hannanya Enzo?" tanya Sam pada Malvin.


Malvin hanya mengangkat bahu, "mana gue tahu."


"Biasanya lo kan tahu latar belakang orang."


"Lo kira gue database komputer kelurahan?."


*-*


"Entah ini pertengkaran atau perdebatan mereka yang kesekian kalinya" ucap Mami Vira dengan tatapan tertuju pada Pak Jaya dan Vira.


Ibu Zahra yang duduk disebelahnya hanya menggenggam tangannya, Gea hanya bjsa dia sayup-sayup mendengarkan perdebatan mereka.


Abra baru turun dari lantai dua, kala itu Pak Jaya tidak sengaja melihatnya dengan langkah lebar menghampiri Abra membuat Abra menghentikan langkahnya tidak jauh dari tangga.


"Apa maksud dari perkataannya?" tanya Pak Jaya dengan nafas tidak teratur menahan amarah.


Terdengar suara langkah yang berhenti dibelakang Abra, melalui pantulan kaca didekatnya Abra bisa mengetahui bahwa itu adalah Prabu.


"Saya sudah membantu anda tentang pengakuisisan perusahaan Jaya Indah, selebihnya bukan urusan saya" Abra memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya.


Melihat Vira hendak menghampiri mereka Abra berteriak dengan lantang, "Fani!" panggilnya.


Fani yang berada didekat Zahra berlari kecil menghampiri Abra.


"Jangan biarkan dia mendekat!"


Dengan mengangguk hormat, Fani melangkahkan kakinya mendekati Vira dan menghalangi langkahnya untuk menghampiri Abra dan Pak Jaya.


Vira berteriak marah pada Fani melihat halnitu Gea berdiri menghampiri Vira, entah apa yang dia katakan Vira akhirnya memilik mengikuti langkah Gea keluar dari rumah.


"Dia orangmu, apa kamu tidak mengatakan kenapa saya meminta bantuannya?." Pak Jaya menunjuk Prabu.


"Dia bukan lagi orang saya, saya mengatakan masalah yang menyangkut perusahaan yang sedang anda hadapi, apa saya juga harus berjerita secara ditail pada orang luar tentang masalah keluarga anda juga?."


"Tapi setidaknya kamu bisa meminta dia untuk tidak mengikuti ide gila Vira" suara Pak Jaya mulai meninggi.

__ADS_1


Bahkan tangan kiri Pak Jaya juga menunjuk pada Prabu yang masih berdiri dibelakang Abra karengan sungkan untuk berjalan melewati mereka berdua.


Merasa sekarang Pak Jaya mulai membicarakan dirinya, Prabu berjalan melangkahkan kaki mendekati Abra dan pak Jaya.


"Maaf, jangan menyalahkan Pak Abra" lerai Prabu. "Jika anda mempercayakan saya sebagai CEO Jaya Indah, berarti anda juga mempercayai setiap keputusan saya."


"Tetapi tidak dengan pitriku bekerja diperusahaan."


"Apa yang salah?" tanya Prabu dengan santai, "dia hanya seorang anak pemilik perusahaan yang perusahaannya sekarang diakuisisi oleh orang lain, dan tidak terima ingin merebut perusahaannya kembali."


"Saya memasrahkan Jaya Inda padamu agar dia ..." Pak Jaya terdiam.


Dia melirik pada Abra, seburuk-buruknya seorang anak, orang tua tidak akan tega mengatakan keburukannya pada orang lain.


"Saya kira kamu mengerti perasaan saya sebagai seorang Ayah" ucap Pak Jaya pada Abra dengan nada lirih.


Abra hanya dapat menghela nafas mendongakkan kepala, dia mengerti dengan apa yang Pak Jaya rasakan, tetapi tidak berhak ikut campur dan mengatur kehidupan Vira. Dia hanya bisa membantu perusahaan Jaya Indah, tetapi tidak untuk masalah Vira, kali ini dia harus menjada perasaan Zahra.


Tatapan Abra tertuju pada Zahra yang juga menatapnya, dia memiliki orang-orang yang lebih membutuhkan perhatiannya. Membantu keuangan untuk membayar hutang Vira saja dia merasah sudah ikut campur urusan mereka, seandainya Zahra tidak memintanya membantu mereka, maka Abra memilih tidak membantu kehidupan pribadi mereka.


"Identitas Vira akan rahasiakan."


Malvin yang sejak tadi berdiri ditengah tangga bersama Sam membuka suara. Mereka berdua kembali melangkahkan kaki menuruni tangga menghampiri Prabu, Abra dan Pak Jaya.


"Pada awalnya saya, Sam dan Abra menentang juga. Tetapi saat kembali mengingat kesungguhan Vira waktu mengatakan akan merebut kembali Jaya Indah, keyakinan dia meminta Abra untuk mengajarkannya bisnis lagi, dan menunjukkan ini" Malvin menyerahkan map ditangannya pada Pak Jaya. "Saya kira tidak jadi masalah mempertimbangkannya."


"Meski kita semua tidak tahu ide gila apa yang dia sembunyikan" sambung Sam.


Pak Jaya menatap map ditangannya dengan kepala menunduk, "saya tidak mau dia kembali jatuh dijurang yang sama" ucapnya lirih.


"Jadi biarkan saja dia menggila asal tidak jatuh kejurang yang sama."


Prabu, Abra, Malvin dan Pak Jaya secara bersamaan menatap pada Sam dengan tatapan yang berbeda-beda.


Sam sendiri yang mendapat tatapan darinmereka hanya mengangkat bahu pada Malvin dan Abra laku menatap Pak Jaya dengan tatapan seriusnya. "Saya mengenal watak anak anda darinpada mereka, jadi saya cukup yakin dia memiliki ide gila dibalik kemauannya belerja di Jaya Indah."


*-*


Tangan Zahra menyentuh tangan Abra yang melingkari perutnya. "Tidurlah, kamu pasti juga kelelahan" ucap Zahra dengan suara lirih.


Zahra menelentangkan tubuhnya, menoleh pada Abra dan mengelus pipinya yang mulai kasar.


"Pasti lelah jaga mereka?" Abra mencium kening Zahra.


"Tapi tidak sebesar rasa bahagiaku memiliki mereka."


Abra tersenyum lembut.


"Kenapa tidak tidur di kamar mereka?"


Kepala Zahra menggeleng pelan, "kalau disana Ibu dan Fani pasti nunggu kamu datang baru istirahat, kalau si kembar tidur disini mereka pasti sungkan masuk kekamar kita. Kasihan tadi sudah seharian bantu jaga si kembar" Zahra menatap dua anak kembarnya dengan senyum lebar.


"Kalau begitu sebelum mereka bangun, setidaknya kita tidur meski sebentar. Aku butuh istirahat setelah menghadapi kegilaan hari ini."


Suara Abra semakin lirih hingga akhirnya Zahra mendengar tarikan nafas teratur Abra yang menandakan Abra sudah tertidur, membuat Zahra perlahan juga memejamkan mata.


*-*


.


Jangan Lupa 👍💬


.

__ADS_1


Love you 😙


Unik Muaaa


__ADS_2