
Baru saja Regan merebahkan kepala Zahra dipangkuannya, tubuh Aslan melemas dan terjatuh pingsan.
"As ...."
.
.
.
Sam mendekati tubuh Aslan, tangan Sam menepuk pipi Aslan. "Hei Aslan As ...." Sam terdiam saat tangannya terdapat darah."Dia kenapa?" teriaknya panik.
"Tadi tante Vira memukulnya dengan balok kayu." Regan khawatir pada Aslan tetapi dia tidak bisa meninggalkan Zahra dan keluar dari mobil.
"Bangsat" maki Sam.
Kepala Aslan mengeluarkan darah, bahkan dari perut sebalah kirinya juga mengeluarkan darah. Abra ikut berjongkong memeriksa perut Aslan yang ternyata terdapat jahitan.
Abra dan Sam saling tatap sejenak.
"Dia bisa kehilangan banyak darah" Sam menunjukkan lengan dan kemejanya yang terdapat noda darah Aslan.
Abra berdiri. "Regan dudukkan Bundamu, kamu duduk ditengah" perintah Abra sambil berjalan mengelilingi mobil membuka pintu penumpang disisi lain.
*-*
Jangan bertanya berapa kali dalam sejam Abra mengecek kondisi Zahra melalui Gea dan dua bawahannya Nanda dan Tofa, hampir sepuluh menit sekali bahkah lima menit dalam dua puluh menit terakhir ini Abra seakan gencar bertanya kondisi Zahra.
Abra sekarang berada diruangan tertutup, duduk didepan komputer namun tatapan matanya menatap kaca one way yang memperlihatkan Vira diruangan sebelah sedang duduk mempermainkan jarinya, kebiasaan saat Vira ketakutan.
"Udah belom?" Sam masuk kedalam ruang pengamat introgasi.
Abra kembali mentap layar hpnya, tidak ada notifikasi apapun yang berarti Zahra masih belum sadarkan diri.
Sam melirik pada salah satu bawahan mereka yang duduk disebelah Abra, Yoga. Kepala Yoga menggeleng pelan sambil melirik Abra, takut Abra melihat.
Sam menghela nafas. "Kalau lo gak mau masuk biar gue" usul Sam karena geram melihat Abra hanya diam sejak tadi.
Padahal setelah mereka mengantar Zahra, Aslan dan Regan kerumah sakit, Abra menurunkannya di depan kantor untuk mengurus urusan yang sempat mereka tinggalkan. "Udah satu jam lo duduk doang gini?. Kalau gue jadi lo, gue udah ...."
"Gue nunggu Zahra sadar baru masuk" potong Abra datar.
Dam berdecak kesal. "Mendingan lo cepet kelarin urusan disini lalu nungguin Zahra sadar dirumah sakit."
"Gue gak bisa, bisa-bisa gue meledak-ledak didalem."
Kesal mendengar perkataan Abra, Sam membuka pintu ruang. "Kalau gitu gue ...."
__ADS_1
Abra berjalan menerobos Sam masuk kedalam ruang introgasi dan mebanting pintu hingga tertutup tepat didepan wajah Sam.
"Anajay" maki Sam.
Melihat Abra yang masuk kedalam ruang intrigasi Vira langsung berdiri melangkahkan kai dengan cepat menghampiri Abra namun Abra menghindar dan duduk di kursi tepat didepan kursi tadi Vira duduki.
Dibalik kaca Sam tersenyum melihat Vira yang dikacangi.
Melihat wajah Abra yang mengetatkan rahan semakin membuat Vira gugup ketakutan. Perlahan dia kembali duduk di kursi didepan Abra, diam-diam melirik Abra tidak berani balik menatap Abra.
Dua menit
Lima menit
Tujuh menit
Abra tidak mengatakan apapun membuat Vira semakin menciut.
Sedangkan Sam dan Yoga geram sejak tadi. Sam membuka chatnya dengan Javir yang juga menemani Zahra dirumah sakit, meminta dia untuk mengirim pesan pada Abra jika Zahra sudah sadar.
Dari balik kaca Sam melihat Abra melihat layar hpnya dan menghela nafas. "Dasar, masih aja jaga perasaan cewek munak itu." Sam menggerutu lagi.
Abra mulai mengeluarkan kertas yang terlipat di saku jasnya dan bolpoin, meletakkannya tepat didepan Vira. "Apa segini cukup membuatmu pergi dan tidak kembali ke Indonesia?".
"What!" seru Sam. "Perbesar kamera tiga, tuh anak ngasih uang berapa?."
Diruang introgasi memang terdapat kamera diberbagai sudut dan alat peyadap, jadi ruang pengamat bisa mendengar dan melihat apa yang mereka katakan.
Vira membaca setiap kata yang tertulis diatas kertas didepannya. "Apa maksud kamu ...."
"Jangan bertanya, bukan kah kamu kembali ke Indonesia karena uangmu sudah habis?, usaha kamu gagal lagi?, dicopet?, hilang atau apa lagi alasan kali ini?." Cecar Abra tanpa menatap Vira sibuk dengan hpnya membalas setiap pesan dari Javir.
"Aku gak gitu."
"Yes you are". Abra memasukkan hpnya kedalam saku jasnya. "Setiap kamu menemui Gea hanya untuk mengambil uang tabungan Gea di ATMnya sesudah itu pergi. Sekarang sampai menculik Zahra karena tidak bisa meminta uang dari Gea dan kamu akan memerasku bunkan?."
"Aku gak gitu!" Vira tetap membantah.
Abra menghela nafas menatap Vira lekat. "Apa alasan kamu kembali ke Indonesi?, apa alasan kamu menculik Zahra?." Suara Abra mulai memberat.
Vira menggigit bibirnya sejenak. "Karena ... karena aku kangen Gea dan kalian gak ngizinin aku bicara sama Gea dan Zahra. Aku bukan bermaksud men...."
"Kangen?" pertanyaan Abra dengan suara dinginnya menghentikan Vira berbicara. "Aku tidak percaya, selaama ini kamu kembali hanya bertemu dengan Gea sebentar, memintanuang pada Gea dan pergi. Lagi pula bukan kita yang tidak mengizinkan kamu bertemu dengan Gea maupun Zahra. Mereka yang tidak mau bertemu apalagi berbicara denganmu.
Seandainya jika Zahra mau, memangnya apa yang akan kamu katakan pada Zahra?. Dia tidak akan mau mendengarkam apapun bahkan dariku saja dia tidak mau."
"Aku ... aku mau meminta maaf Bra, karena aku kalian berpisah. Aku mau minta maaf itu saja."
__ADS_1
"Bukan karenamu" Abra menatap Vira dengan tatapan semakin menajam. "Tetapi aku yang terlalu bodoh perduli pada masa depan anak sahabatku, dari pada perasaan istriku. Meski dia memaafkanmu juga tidak akan berdampak apapun pada gubungan kami?." Abra melirik pada kertas didepan Vira yang amasih belum Vira tanda tangani. "Tanda tangi dan pergi" perintah Abra tegas.
Vira menatap Abra dengan mata berkaca-kaca. "Abra ..."
"Aku tidak punya waktu" potong Abra. "Aku sebenarnya muak menghadapimu begini, Ini terakhir kali aku menemuimu, aku tidak ingin berurusan sekecil apapun denganmu."
Kepala Vira menggeleng cepat, perasaan panik menguasainya. Apa yang diucapkan Mamanya kembali dia ibgat. "Enggak, apa maksud kamu?. Kamu tidak mau berurusan sekecil apapun denganku?, berarti kamu juga akan melepas perusahaan Papaku begitu?. Engak Bra jangan begitu, aku minta maaf aku tahu aku salah aku benar ...."
Abra tidak lagi mendengarkan apa yang dikatakan Vira, Satu pertanyaan Vira mengusiknya.
Sejak tadi Abra menebak jika dia mengatakan tidak ingin berurusan sekecil apapun dengan Vira, mereka akan membicarakan persoalan Gea tetapi Vira malah berbicara tentang perusahaannya. Bahkan Vira terus mengatakan maaf dan penyesalan bahkan mengulang kata Perusahaan Papa membuat Abra terkekeh kecil menangkap apa alasan sebenarnya dari penculikan Zahra.
Kekehan Abra mebghentikan Vira yang sejak tadi berbicara dengan gugup tanpa henti.
"Katakan sebenarnya apa alasan kamu menculik Zahra?" tanya Abra penuh penekanan disetiap katanya, bahkan tatapan mata Abra semakin mengintimidasi begitu tajam menatap Vira.
Tangan Vira mengepal menutupi kegugupannya. "Aku ... aku hanya ingin bi ... bicara dan minta maaf" ucap Vira terbatah-batah.
Abra tersenyum sinis tatapan matanya masih menatap Vira, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. "Sam" panggil Abra.
Sam menoleh pada Yoga tidak langsung berdiri dan menghampiri Abra.
"Siapkan berkas aku mengundurkan diri dari perusaan Papa Vira, surat Vira menyerahkan Gea untuk diadopsinolehku dan Zahra sekarang." Abra berdiri dari duduknya. "Jangan biarkan dia keluar sebelum mentanda tangani surat adopsi dan surat yang aku berikan."
Abra mengatakannya dengan tegas dan tanpa ragu, Vira gela gapan berdiri dari duduknya mencegah Abra yang mulai melangkah.
"Aku membantu perusahaan Papamu demi Gea, tetapi tanpa perusahaan Papamu pun masa depan Gea aku pastikan tidak akan kekurangan uang sepeserpun."
Tidak ada niatan untuk mendengarkan apa yang dikatakan Vira setelahnya. Abra melangkahkan kaki keluar dari ruang introgasi sengan dada bergemuruh menahan emosi.
Melihat Vira yang akan keluar menyusul Abra, Sam dengan cepat mengunci pjntu ruang introgasi.
Mendengar tadi Vira malah khawatir tentang perusaan Papanya dari pada Gea sudah membuktikan jika alasan penculikan Zahra sudah terbukti bukan karena kata Minta Maaf.
*_*
.
Jangan lupa ...
Selalu tinggalkan jejak ๐
๐Like and ๐ฌComment
Demi mendukung karya Author dan menyemangati Author ๐
Love You ๐
__ADS_1
.
Unik_Muaaa