
"Gea, Kakek perintahkan lihat kakek!." Perintah Kakek Arya tegas.
Gea perlahan menoleh menatap Kakek Arya, belum juga sedetik air mata Gea menetes, tangis gadis kecil itu pecah.
.
.
.
Di sebrang, seluruh teman Regan juga muncul dilayar. Mereka ingin tahu kenapa Gea tiba-tiba menangis sampai segugukan.
Tangan Kakek Arya menepuk-nepuk punggung tangan Gea menenangkan gadis itu. "Ada apa?," tanya Kakek lembut.
Gea menggelengkan kepalanya.
"Gea."
Tangis Gea semakin menjadi. "Maaf ... maaf ...." Gea memeluk Kakek Arya dari samping.
"Kenapa?," kembali Kakek Arya mengulang pertanyaan itu.
"Karena Gea, Bunda jadi pergi dari Ayah. Kakek juga gak bisa ketemu Kak Regan, karena Gea kalian semua ...." Suara Gea semakin tercekit dan tak bisa mengeluarkan suara.
Kakek Arya mengelus pundak Gea. "Sudah jangan nangis, semua sudah terjadi."
"Gea benci Mami, Gea gak mau ketemu Mami."
Suasana menjadi hening hanya terdengar isak tangis Gea dalam dekapan Kakek Arya. Tidak ada yang bersuara semua hanya menatap Gea dalam diam.
Di Madura
Zahra menatap layar hp didepannya tatapan kosong tanpa ekpresi. Gea memeluk Kakek Arya sesekali mengatakan apa yang ada didalam hatinya.
Regan menoleh menatap Zahra, menyentuh tangan Zahra dan menggengamnya erat, membuat Zahra menoleh dan berusaha tersenyum meski hanya segaris mencoba menenangkan Regan.
Regan tidak terparuh dengan itu, dia sangat memahami Bundanya. Perlahan Regan berdiri, menarik lengan Zahra memutuskan untuk pergi masuk kedalam rumah.
Mereka duduk berhadapan diatas kasur kamar Regan. Zahra yang diam membuat Regan menghela nafas, diam Zahra bukan sesuatu yang baik.
__ADS_1
Regan kembali berdiri, membuka lemari bajunya mengambil kotak kecil merah berbludru yang dia sembunyikan dari Zahra. Kotak yang dulunpernah Gea berikan padanya.
Regan kembali duduk didepan Zahra menjulurkan kotak itu. "Ini milik Bunda," ucap Regan lirih.
Zahra menunduk menatap kotak ditangan Regan. Perlahan Regan membuka kotak itu, memperlihatkan cincin yang Zahra kenali.
Tangan kanan Zahra meremas jemari tangan kirinya. "Siapa yang memberikannya?," tanya Zahra dingin.
Regan diam menatap Zahra, menunggu apa yang akan Zahra katakan selanjutnya. Dia yakin, kotak cincin dalam kotak ini mengembalikan ingatan semua kejadian belasan tahun lalu. Itu salah satu alasan dia tidak memberikannya pada Zahra selama ini.
Tak mendapat jawaban Regan Zahra mengalihkan tatapannya pada Regan. Mata mereka saling menatap, perasaan menyesakkan memasuki relung hati Zahra. Tatapan Regan yang menatapnya lembut hanya membuatnya merasa sesak. "Dia yang memberikannya padamu?," tanya Zahta serak.
Kepala Regan menggeleng. "Bukan dia, tetapi Gea." Regan menyerahkan kotak itu ketangan Zahra. "Dia memaksaku memberikannya pada Bunda dulu, tetapi aku menyimpannya karena aku sudah menduga Bunda akan seperti ini. Bunda akan sedih, tetapi tersenyum didepan Arz." Regan tertawa kecil pilu, sebelum melanjutkan "Gea kesini tanpa mengetahui kebenaran ceritanya, sepertinya dia hanya membawa kotak ini untuk menemui Bunda dan minta Bunda kembali pada dia."
Zahra paham siapa dia yang sedang Regan maksud saat ini, tatapi dia hanya bisa diam tidak tau mau mangatakan apa.
"Hari terakhir dia disini, dia ikut Pak Avin melatih karate karena mau berbicara dengan Arz. Saat itu pak Avin memberi tahu semua padanya, dan dia menangis sampai mengganggu konsentrasi kami." Regan tertawa kecil dan merebahkan tubuhnya diatas kasur berbantal paha Zahra.
"Lalu?," tanya Zahra mengelus rambut Regan.
"Regan gak suka orang minta maaf apalagi menangis, jadi sebelum dia mengatakan apapun Regan bilang jangan ikut campur, kita masih kecil."
Zagra tersenyum kecil, kembali terdiam dan hanya mengelus rambut Regan.
"Jangan diem saja Bun, Arz gak suka Bunda sedih. Setiap membicarakan mereka semua, Bunda selalu banyak diam. Arz benci Bunda banyak pikiran, sedih, senyum dipaksa dan diam sepanjang hari. Arz lebih suka Bunda yang ngambekan, cerewet, sering ngomel, marah-marah, uring-uringan didapur gak jelas ...."
"Hei ...," tegur Zahra menghentikan ocehan Regan, lalu mendapat kekehan dari Regan.
Mereka kembali terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Regan baru saja mengatakan jika dia tidak suka melihat Zahra terdiam, tetapi kali ini Zahra tanpa sadar kembali melakukannya.
Regan semakin membenamkan wajahnya diperut Zahra dan memeluk pinggang Zahra erat. "Ayo kita pergi Bun, tabungan Arz sudah banyak hasil menyimpan dari menang beberapa olimpiade, lomba dan lainnya. Arz tidak suka Bunda seperti sekarang, Arz tidak bisa memaksa Bunda kembali kedia. Tetapi Bun, Arz punya hak untuk membahagiakan Bunda kan?, seperti Bunda dulu pergi dari dia demi kebahagiaan Arz."
Regan duduk menatap Zahra dalam. "Ayo pergi Bun."
Kepala Zahra menggeleng. "Arz lebih bahagia disini ...."
"Tapi Bunda enggak!." Potong Regan menatap Zahra tajam. "Arz sudah katakan, Arz gak suka Bunda begini. Lalu Arz harus apa biar Bunda kembali seperti sebelum bertemu mereka lagi?."
Ini pertama kali Regan berbicara dengan penuh tekanan menahan amarah padanya. Bahkan baru pertama kali ini Regan bersikap seperti sekarang ini pada siapapun. Regan selalu saja hilang kontrol jika menyangkut Zahra, Bundanya.
__ADS_1
Sadar dia hampir kehilangan kontrol, Regan kembali tidur dipangkuan Zahra membenamkan wajahnya keperut Zahra dan memeluk pinggang Zahra erat sepertu tadi. Mengatur nafas meredahkan kekesalannya pada semua orang yang nanti akan berimbas pada zahra jika dia tidak bisa mengontrolnya seperti barusan.
"Dia meminta Bunda kembali, aku tahu. Kakek Arya tadi secara tidak langsung juga begitu, dan memberi Arz beasiswa mempunyai maksud yang menjurus kearah itu. Pak Avin juga pernah mencoba membuju Arz. Bahkan Gea juga mengatakan hubungan kalian bisa diselamatkan, dan hanya Arz yang bisa membuat kalian bersama. Tetapi Arz tidak mau memaksa Bunda, Arz bisa memutuskan masa depan Arz sendiri padahal Arz baru empat belas tahun, begitupun dengan Bunda." Regan mengangkat wajahnya menatap Zahra. "Bunda kan sudah tua."
Mata Zahra melotot.
Rega tertawa kecil mendapatkan pototan zahra, Regan malah bahagia. Karena dia mulai berhasil menarik Zahra dari dunianya sendiri.
"Umur Bunda dua kali lipat lebih dari umur Arz, berarti Bunda udah tua Bun."
"Bunda masih tiga puluh lima."
"Tiga puluh lima itu udah tua Bunda, yang muda itu umur belasan."
"Tapi bukan tua juga, Arz ...."
"Terus?."
"Udah ... udah gak muda lagi," jawab Zahra gelagapan mencari perumpamaan lain.
"Sama saja, kata lain gak muda lagi itu ya udah tua Bunda."
"Arz ...."
Regan tertawa melihat Zahra merengek. Bundanya kembali, Bunda yang terkadang membuat Regan geregetan
Sudah Regan katakan bukan, Regan menyukai Zahra yang mengambek, cerewet, mengomel, marah-marah, uring-uringan gak jelas didapur dan berteriak heboh sambil tertawa lepas.
Dan itu juga yang disukai Abra dari Zahra dulu.
*-*
.
.
.
Unik_Muaaa
__ADS_1