One More Chance

One More Chance
Ganendra


__ADS_3

Zahra dan Regan baru selelsai sholat berjama'ah di masjid mereka berjalan beriringan seperti biasa. Sejak semalam dia berhasil mengusir Abra, Regan langsung masuk kamar dan tidak kelur lagi. Semalaman Zahra tidak tenang dan bertekan berniat hari ini dia ingin menjawab semua yang ditanyakan Regan nanti.


Setelah Regan masuk kedalam kamarnya Zahra membuntinya juga masuk kedalam kamar Regan, duduk di kasur Redan sembari melepas mukenahnya.


Regan sendiri hanya terdiam menatap Bundanya, perlahan dia menghela nafas.


Tangan Bunda memberi isyarat agar Regan duduk di sampingnya namun Regan memilih duduk di kursi belajarnya, diam mematung menatap kosong kedepan.


"Masalah semalam..." Zahra membuka perckapan. "ada yang mau Arz tanyakan?" Tanya Zahra perlahan.


Kepala Regan menggeleng membuat Zahra tercengang.


"Arz...".


Regan membuka laci mengambik buku yang selalu dia bawa beberapa minggu ini. Berdiri dan duduk di sebelah Zahra, Regan meletakkan buku itu ditangan Zahra.


Zahra melirik Regan dan buku itu bergantian. "What is this? this is...".


"semua informasi yang Abang tampung beberap minggu ini" potong Regan. "Aku tidak mau bertanya apapun, kalau Bunda siap silahkan cerita jika tidak informasi itu sudah cukup bagi Abang".


Mata Zahra berkaca-kaca mendengarnya. "kenapa Arz selalu menjadi anak baik gini?" Suara Zahra sedikit serak.


Regan terkekeh memeluk Zahra sayang. "Bunda mau nangis ya?" Godanya mendapatkan pukulan dari Zahra. "Abang mau lari pagi dulu, hari ini toko gak usah buka, biar Arz yang ngubungi mbak Ika".


"Gak bisa kita ada pesanan dari temen pengajian Bunda".


"ya udah" Regan melepas pelukannya. "Bunda keluar aku mau ganti baju jangan ngintip Arz sudah besar ini".


Mendengar perkataan Regan akhirnya Zahra tertawa lepas.


*-*


Keringat Regan sudah bercucuran sejak tadi. Regan dan Gana teman sekelas IPa satu, sedangakan Mila dan Rio beda kelas di IPS dua, namun jika pelajaran olah raga, beberapa minggu ini kelas mereka disatukan karena guru Olah raga kelas IPA sedang sakit.


Pak Avin yang sebagai guru olah raga sekaligus guru karate menjadi wasit kali ini. Olah raga kali ini Basket, Bukan antara kelas IPA dan IPS, Namun empat anggota tim basket melawan Regan, Gana, Rio dan Mila yang kekeh mau ikutan main.


Awal tiga lawan tiga, tetapi Mila yang asalnya dalah tomboy malah marah-marah pada ketiga temannya karena tidak diikutkan.


Gana melirik Regan yang terlihat kelelahan, namun anak itu tetap saja berusaha mendribel dan mencetak angka sendiri sejak tadi. Bahkan mereka bertiga bisa dihitung dengan tangan dan hanya beberapa menit memegang bola.


Meskipun begitu mereka bertiga tetap saja diam, terkadang hanya saling lirik. Mereka selalu bermain Basket, sepak bola, bersepeda bahkan hampir melakukan segala hal bersama selama empat tahun terakhir ini jadi mereka tau jika ada sesuatu yang berbeda diantara mereka.


Pak Avin membunyikan pelut tanda pertandingan selesai. Dengan lirikan mata Rio mereka serempak berjalan mendekati Regan, merangkul lengannya dan membawa Regan pergi kebelakang sekolah tanpa penolakan dari Regan.

__ADS_1


"Sudah lebih berminggu-minggu loh kamu kita biarin gini" Mila bersidekap menatap Regan berang.


Tidak ada tanggapan, Regan hanya menghela nafas dan duduk di batu.


"bukannya mau ikut campur Agan, tapi liat kamu gini males juga" Gana mepuk pundaknya.


"diem mulu, seyum pelit, jawab singkat-singkat. Masalah kamu berat banget yah?" Rio yang baru datang melepar air gelasan kemasing-masing temannya.


Tangan Mila menangkap air gelasan yang juga Regan lempar padanya. "Cerita Regan, diem aja jadi males mau kumpul. kalau gak mau cerita jangan sok mau ikut kumpul buat suasana awkward kan males, minum dulu" Kebiasaan Regan jika mau minum air gelasan tetapi tidak ada sedotannya, meminta Mila melubangkan dengan jarum pentul kerudungnya.


Regan meremas gelas prastik setelah meminum airnya. "berawal dari beberapa olimpiade yang sudah aku ikuti".


Semua diam siap mendengarkan.


"Yang ternyata disponsori oleh prusahaan yang menawarka beasiswa padaku bulan lalu".


Kepala Rio mengangguk.


Mulut Gana mangap melirik Mila yang masih terdiam menunggu apa yang akan dikatakan Regan selanjutnya.


"GG Company" Regan menunduk. "Ganendra Group Company, Milik keluarga Ganendra, Direktur Arya Ganendra, CEO Abraham Ganendra dan...". Regan melempar gelas pelastik ditangannya, menatap satu persatu temannya dan tertawa kecil. "bisa mingkem gak Mil?" tanyanya mencoba mencairkan suasana.


Mata Mila langsung berkedip beberapa kali. "La...lanjutkan" terbatah-batah.


"kata Bunda kamu sudah menolaknya" Rio bersuara. "lalu masalah apa lagi?".


"Bunda bilang tetep akan mendukung pilihan kamu, memangnya Bunda sekarang gak dukung?" Kata Gana sambil menyodorkan sisa airnya pada Regan.


"familiar ya dengan Nama Ganendra?" Tanya Regan sambil menatap Mila sebelum meminum sisa air Gana.


Mila mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.


"Yupz... you need any reason why...".


"No" Potong Mila serak.


"lah kenapa mewek!" Seru Gana langsung mengelus pundak Mila menenangkan gadis itu.


Regan hanya diam tetap tersenyum menatap Mila yang mulai menangis. Gana dan rio malah kalang kabut mencoba menenangkan Mila.


Ya, hanya Mila yang tau, karena rumah mereka bersebelahan, gadis itu selalu membantu Bunda sehingha dia tahu lebih banyak segala hal tentang dirinya dan Bunda.


Regan yakin Mila sudah pernah bertanya tentang huruf G dibelakang namanya yang juga jarang ditulis atau dibaca di absensi kelas.

__ADS_1


"I don't like Mom meet him, but I don't know how to say about this situation".


Mila menggenggam tanganya Regan agar dia menatapnya. "He told you he is you Daddy?".


"No, But I..." Bahkan Rega belum selesai berbicara.


"Hwaaa.....".


Tangis Mila semakin lencang, mereka semakin kalang kabut di buatnya.


"Why.... you .... don't....don't..." Mila terbatah-batah.


Regan turun dari batu dan memeluknya. "aku kan sudah bilang gak tau mau ngomong gimana?".


"Iya kita juga gak tau mau ngomong gimana, kita mana ngerti" Rio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"pokoknya tadi dia nyebutin Dedi" Gana berkacak pinggang menatap Mila mulai emosi. "si Dedi ngapain kamu?, sini bilang udah nangisnya".


"hwaaa.....".


Tangis Mila semakin jadi, Regan malah tertawa ngakak.


"wah... kayaknya beneran karena si Dedi deh Yo".


"Dedi anak kelas berapa?" Rio juga mulai terpancing emosi.


"mana gue tau yang penting kumpulin semua Dedi yang udah nolak dia".


Buru-buru Mila melepas pelukan Regan dan memukul kepala Gana dan Rio bergantian karena kesal. Matanya yang merah menatap mereka penuh amarah.


Regan mengelus puncak kepala Mila menenangkan gadis itu.


"kenapa sih harus temenan sama mereka?" seru Mila kesal. "terutama KAMU" Mila meneriaki Gana. "Kamu juga ikut ikutan o'on" dan berimbas pada Rio.


*-*


.


.


.


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2