
Canggung
Itu kaya yang tepat untuk Zahra pada Abra. Tadi pagi Abra datang dan meminta waktu bertemu Regan, entah apa yang mereka bicarakan membuat Zahra penasaran karena Abra dan Regan berbicara berdua di dalam kamar Rega.
Yang pastinya membuatnya canggung karena Zahra mengira-gira jika Regan dan Abra sedang membicarakannya.
Kali ini mereka sarapan bersama dengan orang tua Zahra yang masih tinggal bersama Zahra. Kecanggungan itu semakin menjadi saat dia hanya tinggal berdua dengan Zahra setelah semua selesai makan dan duduk diruang tamu.
"Ayah sama Ibu pulang setelah anak-anak berangkat ke luar negri saja" Abra membuka pembicaraan diantara mereka.
Kepala Zahra mengangguk.
"Em ..." Abra kembali mencari topik karena Zahra tidak mengatakan apapun. "Saat mereka berangkat aku dan Sam ikut karena harus memastikan tempat mereka strategis dan dekat dengan kampus."
Tetap tidak ada jawaban, Zahra hanya kembali menggangguk dan berderham sebagai jawab iya.
"Em ... kamu mau ikut?, kalau mau ikut aku ajak Sari atau Gea nanti." Tawar Abra sambil melirik Zahra.
Mendengar kalimat itu tangan Zahra berhenti membereskan meja makan.
Abra yang mengetahui perubahan Zahra mencoba menjelaskannya. "Biar nanti kamu gak sendirian di kamar hotel, anak-anak satu kamar, biar aku sekamar sama Sam, nanti kalau kamu ikut aku ajak Gea atau Sari."
Mereka kembali saling diam seperti tadi setelah selesai mereka makan. Abra bingung mau mengatakan apalagi, sedangkan Zahra hanya diam seakan tidak berniat mengatakan apapun.
Beberapa detik berlalu tidak ada respon dari Zahra, Abra menghela nafas pasrah. "Aku berangkat kekantor dulu." Abra akhirnya berpamitan toh dia bingun mau mengatakan apa lagi agar Zahra mau berbicara dan dia dapat menatap wajah dan berlama-lama berdua dengan Zahra.
Abra berdiri tidak jauh dari Zahra, menatap Zahra yang masih terdiam dan memutuskan untuk berbalik badan hendak pergi hingga langkahnya kembali dia urungkan kala mendengar suara Zahra.
"Hanya ingin mengatakan itu padaku?." tanya Zahra lirih sebelum mengangkat wajahnya menatap punggung Abra yang masih membelakanginya.
"Ya" jawab Abra singkat tanpa berbalik badan.
"Tadi Bicara apa sama Ar?."
__ADS_1
Sura yang terlihat penuh kecurigaan membuat Abra mengulumkan senyum dan akhirnya memilih berbalik badan menatap Zahra dengan senyum seduktif dan percaya diri.
Zahra sendiri yang menyesal sudah bertanya menggigit bibir bawahnya diam-diam membuang muka kelain arah.
"Aslan kapan balik ke Jakarta dan kapan mereka keluar negri."
Wajah Zahra yang tadi sempat bersemu mulai berubah rilex lagi. "Oh..."
"Dan dia bertanya kapan kita akan memperbaharui pernikahan kita?."
Blus....
Wajah Zahra memerah tomat seketika, dia diam menautkan jemarinya dibelakang tubuh agar Abra tidak melihat jika dia sedang gugup. "Lalu?."
"Tidak ada" Abra menghela nafas memasukkan jedua tangannya dalam saku celana sebelum meneruskan perkataannya dia menunggu respon Zahra.
Dan nyatanya Zahra malah kembali menyibukkan dirinya dengan meja makan yang masih berantakan.
Bola mata Abra memperhatikan Zahra yang terus bergerak membereskan meja makan. "Bukan maksud memojokkan, lagi pula aku sudah menukar permohonanku agar kamu memberikanku One more chance dengan kalian mau menemui Opa untuk yang terakhir kalinya."
Abra tersenyim segaris menguatkan diri. "Aku sudah bersyukur kamu mau tinggal dirumah ini" Abra mengatakannya dengan segenap hati. "Karena kamu masih ada dalam jangkauanku, aku sudah sangat bersyukur. Bersyukur kamu gak pergi dan menghilang lagi, Ara. "
Abra menunduk dalam. "Kata Opa aku harus sadar diri dan tidak berhak memaksamu untuk kembali, dan aku sadar akan hal itu."
"Lalu yang kamu katakan di ruang kerja waktu itu?" Zahra kembali menatap Abra dengan tatapan dinginnya.
Abra tersenyum kecil dan mengangkat wajahnya menatap Zahra dalam. "Hanya demi Regan mau keluar negri."
Mata Zahra melotot. "Waw" Zahra berkacak pinggang menatap Abra penuh amarah. "Lalu untuk apa kamu mengatakan dengan percaya diri ada kamu sebagai suamiku jika Ar pergi keluar negri?."
"Ya ... untuk meyakinkannya bahwa kamu akan baik-baik saja disini. Setatus kita masih suami istri, Regan tidak mau kita bersama sebelum kita memperbaharui pernikahan kita, sedangkan kamu masih belum mau kembali dan menerimaku sepenuhnya dan aku tahu diri aku tidak punya hak lagi untuk ..."
Bung ....
__ADS_1
Satu ekor ikan goreng berhasil melayang dan mengenai jas dan kemeja Abra membuat Abra mengehentikan perkataannya seketika.
Kemeja putihnya kotor, hal yang akan membuat Abra mengomel bahkan marah dan hal itu memang Zahra sengaja.
"Apa?" tantang Zahra lantang berkacak pinggang.
Abra membalas tatapan mata Zahra dengan mata memerah. "Ara" desis Abra. "Kamu tahu aku tidak suka ..."
"Apa?, mau marah?, marah silahkan?." Potong Zahra dengan suara meninggi. "Bukankah sudah cukup bagimu aku ada dalam jangkauanmu?, berarti aku tidak harus pengertian, menghormatimu atau menghargaimu sebagai seorang suami dong?. Perjelas setatus kita sekalian, ceraikan aku sekarang. Yang penting aku sudah ... aw ...."
Abra menyentak lengan Zahra hingga tubuh mereka berdekatan, matanya semakin memerah memancarkan amarah yang mulai tidak bisa dikontrol. "Aku bilang AKU BERSYUKUR bukan berati AKU CUKUP PUAS dengan keadaan kita sekarang." Penuh penekanan.
Mata mereka saling satatap satunsama lain. "Memperjelas?" suara Abra mulai melirih. "Apa dengan bercerai menurutmu hubungan kita akan semakin jelas?, apa menurutmu aku akan membiarkanmu bercerai denganku?, bahkan pergi untuk yang kedua kalinya pun jangan pernah bermimpi." Abra tersenyum mengejek.
Mata Zahra mulai berkaca-kaca, Zahra menarik lengannya untuk lepas dari cengkraman Abra. "Kamu pengecut" ucap Zahra serak. "Kamu selalu mengatakan sadar diri, tidak berhak, keputusan bukan ditanganmu lalu saat aku me mutuskan untuk memperjelas gubungan kita dengan perceraian kamu malah marah begi."
Abra melangkah mundur, menatap Zahra dengan mata yang masih memerah namun mulai berkaca-kaca. "Benar mau kita bercerai?" tanya Abra lirih.
Bibir Zahra bergetar.
"Ulangi satu kali saja aku akan benar-benar mengabulkannya."
Zahra tersentak, dia menatap Abra, tatapan mereka bertautan sejenak hingga Abra yang pertama kali memalingkan muka menengadah menatap kelangit-langit rumah.
*-*
.
.
.
Unik_Muaaa
__ADS_1