One More Chance

One More Chance
Pesta


__ADS_3

Semua sudah siap, berbagai macam makanan dan minuman memenuhi setiap menja di depan rumah. Kali ini tidak ada batasan antara majikan, pelayan, satpan atau bodyguard semua sedang menikmati makanan dan apapun yang sudah disiapkan oleh Abra. Semua orang kenalan mereka datang, bahkan beberapa klien sakaligus teman Abra dan Sam juga datang menghadiri pesta. Pesta kali ini untuk Regan dan Aslan yang akan berangkat keluar negri untuk kulaih tiga hari lagi.


Dari tadi pagi Zahra sudah ngambek tidak mau berbicara dengan Abra, karena pria itu sudah menyiapkan pesta tanpa memberitahukannya.


Zahra tidak mempersiapka apapun, dia ganya sempat membuat asam manis sayap ayam kesuakaan Regan dan Abra, bahkan Gea dan Aslan akhir-akhir ini malah ikutan berebut sayap ayam.


"Jangan ngambek, aku minta maaf." Abra kembali membujuk Zahra yang diam menatap kearah kerumunan orang.


"Ya."


"Ara" rengek Abra.


"Udah deh jangan kayak anak kecil gitu" Zahra risih jika Abra merengek seperti ketiga anak mereka.


"Kamu saja manggil aku Abra, kayak manggil anak-anak." Abra melangkahkan kaki memposisikan Zahra diantara dinding dan dirinya. "Sampai kapan mau panggil aku Abra?, aku gak suka disamakan dengan anak-anak."


"Siapa yang nyamain?" Zahra menatap Abra dengan wajah yang mulai bersemu merah.


Punggung tangan Abra mengelus pipi Zahra. "Kalau gitu panggil Abang."


"Ogah" tolak Zahra tanpa pikir panjang.


"Mas, kayak dulu."


Kepala Zahra menggeleng kuat sambil mengulum bibirnya.


Wajah Abra kegirangan melihat pipi Zahra. "Sayang?."


Kepala Zahra kembali menggeleng.


"Suami?"


Bukan hanya merasa malu, Zahra menahan tawanya menepis tangan Abra dan menutup mulutnya.


Ide jahil Abra mulai muncul. "Panggil Oppa saja kayak orang korea, aku rala" ucapnya disela-sela tawa kecilnya.


Zahra ikut tertawa kecil memukul dada Abra. "Ngaco, minggir malu diliat orang."


"Gak ada yang liatin" Abra menengok kanan dan kiri. "Mereka sibuk sendiri."


Zahra mendorong tubuh Abra dan melangkahkan kaki kesamping membebaskan diri dari kurungan tubuh tinggi Abra dan berniat pergi.


Abra menahan pergelangan tangan Zahra. "Ara" kembali Abra merengek. "Itu panggilan sayang aku loh."


Zahra tertawa lepas, menatap Abra lekat dan perlahan dia berhenti tertawa dan tersenyum lebar. "Iya Ayah."


Sangat lembut dan lirih, Abra menghela nafas tersenyum lebar membalas senyuman Zahra hingga Zahra mencoba melepaskan pergelangan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Abra beralih menggenggam erat jemari Zahra.


"Sepertinya ada tamu, semua orang berkerumun disana."

__ADS_1


Zahra menunjuk kearah tempat para anak muda berkumpul, kali ini bukan hanya Regan, Aslan dan anak yang lain sebaya mereka, tetapi bodyguard dan beberapa istri kliennya ikut berkumpul disana.


*-*


"kenapa diem?" tanya gadis cantik bertubuh seksi berdiri didepan Aslan dan Regan.


Ziana Valery Malik, yang beberpa orang mengenalnya sebagai Zia Valery seorang modeling yang namanya mulai melejid di dunia model setelah menjadi satu-satunya Brand Ambasador yang berhasil membawa brand yang memakai wajahnya menjadi diminati para gadis dan wanita indonesia.


"Jadi beneran mau ...."


"Sebaiknya jangan disini." Regan memotong ucapan Zia, dia menatap Aslan dan berbisik pelan. "Dia model terkenal sekarang, bicara ditaman belakang aku pastikan tidak ada yang menguping apalagi terganggu."


Tanpa banyak bicara Aslan berdiri dan berjalan membelah kerumunan begitu saja, Regan memberi isyarat pada Zia untuk mengikuti Aslan.


Setelah kepergian Aslan dengan celat Regan mengirim pesan pada Nanda untuk berjadi sekitar area taman belakang. Kedatangan Zia tadi benar-benar menarik semua mata para wanita terutama gadis-gadis teman-teman Gea dan Yesi, tidak menutupi terkenal dan seberapah besar lengaruh Zia didunia fashion.


"Itu siapa?" tanya Zahra yang baru saja datang bersama Abra.


"Ziana, si cerewet rambut dikepang" jawab Regan malas.


"Beneran?, dia Ziana?. Kenapa cantik gitu sekarang?, terlihat dewasa dan anggun."


"Model ya harus anggun, Ara." Sahut Abra.


Dengan cepat Zahra menoleh pada Abra. "Dia model?" tanya Zahra dengan nada hampir berteriak karena tidak percaya dengan paa yang didengarnya.


*_*


Didalam mobil Tiga orang remaja saling menyalahkan satu sama lain sejak mereka masuk kedalam mobil.


Gana, Rio dan Mila.


Tiga sekawan itu baru pertama kali naik pesawat dan bukan pesawan biasa, mereka langsung dijemput oleh pesawat pribadi milik perusahaan GG com.


Tolong jangan tanya bagaimana kenorakan mereka saat masuk kedalam pesawat hingga holang kesasar dibandara. Maklumilah bagaimana jika orang desa pertama kali naik pesawat dan melebihi dari kemewahan kelas bisnis.


"Ahh... benar-benar deh gara-gara Gana norak kita telaaat!" Mila berteriak entah yang keberapa kali gadis itu meluapkan kekesalannya.


"Gak mungkin telat acaranya pasti baru dimulai" Rio mencoba menenangkan Mila.


"Jangan hanya menyalahkanku terus, salahkan Ayah Regan yang mendadak jemput kita dan harus berangkat tanpa persiapan mental menerima kemewahan." Gana tidka menerima mulai tadi disalahkan.


"Karena kamu terlalu banyak menyiapkan oleh-oleh untuk Bunda dan Regan, jadi mentalmu ketinggalan dicomberan yang dibawa malah ngedesomu." Mila mengomel berapi-api.


Dan mereka saling sahut menyahut, Tofa hanya mampu menatap supir Abra dengan tatapan memeles meminta mengendarai mobil dnegan cepat, dia sudah tidak kuat mendengar kecekcokan mereka bahkan terkadang mereka memakai bahasa yang tidak dia pahami.


"Caremih!" Gana mengeluh menghentak-hentakkan kakinya. (Cerewet : bahasa madura)


"Apa?" tantang Mila. "Korang ajer jiah selah taoh salah gik......" Mila terus mengomel oanjang dalam bahasa madura. (Kurang ajar dia sudah tahu salah... : bahasa madur)


Seandainya ketiga anak dibelakangnya bukan teman-teman Regan dia sudah membentak mereka sejak mereka masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Tofa menghela nafas lega setelah melihat rumah Abra semakin dekat dan mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan pagar.


"Nyampek mas?" tanya Mila memastikan sambil melongo menatap rumah didepannya.


Gana keluar terlebih dahulu dari dalam mobil berdiri berkacak pinggang menatap dengan mata terkagum-kagum.


"Pestanya garden party didepan rumah jadi kalian langsung bi..."


"Mil Garden party apa?" terdengar bisikan Gana yang membuat Tofa berhenti berbicara.


Mila menjawab dengan tatapan mata yang masih menatap rumah mewah didepannya. "Garden kebun, berarti pesta kebun bahasa gaulnya outdoor" ucapnya dengan penuh keyakinan sebelum menoleh bertanya pada Tofa "benerkan mas?."


Tofa hanya bisa mengangguk membenarkan.


Gana mulai tidak sabar kegirangan dan dia lagi yang pertama kali berhalan masuk melewati gerbang.


Munculnya Gana membuat perhatian beberapa orang teralih padanya, karena yang datang sebelum Gana adalah model terkenal jadi saat ada yang kembali datang perhatian mereka langsung tertuju kearahnya.


Perlahan Mila dan Rio masuk berdiri disisi kanan dan kiri Gana. Mereka menatap pada seluruh tamu mencari sosok Regan, Zahra atau Gea yang dia kenal.


"Woy........"


Terdengar teriakan nyaring dari kerumunan gadis-gadis cantik.


Tanpa komando gadis-gadis beranjak remaja itu memberi ruang ketiganya untuk menatap Regan yang berdiri menatap mereka penuh kebahagiaan.


"AR!"


"Regan!"


"Adek!"


Gana, Mila dan Rio memanggil Regan dengan panghilan yang berbeda melambaikan tangan penuh kegirangan.


Regan terkekeh kecil berjalan pelan learah mereka, tetapi mereka malah berlari saling adu kecepatan menghampiri Regan, memeluk Regan erat dan meloncat-loncat kegirangan.


Dari jauh Zahra menatap mereka penuh kebahagiaan lalu beralih menatap Abra yang menatapnya begitu dalam.


"Terima kasih" ucap Zahra tulus dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak ada yang perlu diterima kasihkan" Abra mengelus puncak kepala Zahra.


Teriakan heboh empat sahabat yang baru bertemu itu terdengar sampai ke tempat Zahra dan Abra berdiri.


"Kalau ada mereka baru namanya party" guma Zahra melirik Abra yang pasti kurang mengerti apa yang dia maksud. "B**ecause they are mood booster."


*-*


.


.

__ADS_1


.


Unik_Muaaa


__ADS_2