One More Chance

One More Chance
Mengintai


__ADS_3

Sudah tengah malam, Javir baru saja memarkirkan mobilnya dihalaman rumah, dia tidak langsung turun karena memastikan lampu kamar Regan mati, jika jam dua belas Regan pasti akan tidur.


Regan dan Aslan bukan anak yang kenal dunia malam sepertinya, jadi dia tidak akan mengganggu mereka dengan kedatangannya yang baru saja menikmati dunia malam seperti saat dia di Indonesia sebelum kenal mereka berdua dan Gea.


Kepala Javir mendongak menatap kamar Regan yang ternyata lampunya sudah mati. Baru saja Javir keluar dari mobil bertepatan dengan mobil hitam berjalan pelan melewati rumah mereka dengan plat nomor yang sama yang Javir lihat sebelum berangkat tadi.


Dengan cepat Javir masuk kedalam rumah, duduk diruang tamu mengecek cctv yang tersambung ke hpnya.


"Belum tidur bang?"


suara itu membuat Javir terkaget, saat menoleh pada sumber suara ternyata Alaric yang berjalan menghampirinya dari arah dapur dengan handuk memimit di pinggngnya dan membawa mangkok ditangan.


"Kamu ini aku kira Aslan atau Regan" ucap Javir kembali memperhatikan layar hpnya, "kapan pulang?."


"Baru sampai Bang, aku baru mandi mau makan. Abang dari mana?."


Alaric bertanya pada Javir sambil duduk disebelah Javir, sedangkan Javir sendiri tidak menjawabnya meski sebenarnya dia mendengar apa yang Alaric katakan.


Tidak puas dengan apa yang dia temukan dihpnya Javir mengambil leptop yang dia simpan dibawah meja ruang tamu. Tangannya mulai lincah memencet setiap keyboard leptopnya membuat Alaric meliriknya dengan senyum kecil di bibirnya.


Kening Javir mengerut menatap layar leptopnya, dia melirik Alaric yang dengan santainya makan spageti disampingnya. "Kalian punya masalah dengan Cosmoss?" tanya Javir.


Senyum Alaric semakin lebar, meletakkan mangkok yang dia pegang lalu menyengir menggelengkan kepala. "Mr Adam" jawab Alaric singkat, "tetapi tenang saja mereka tidak akan berani mengganggu kalian karena pasti akan berurusan dengan kami."


"Lalu buat apa mereka selalu disekitat rumah?."


"Hanya mengintai, tidak berani mendekat. Pada kami mereka juga seperti itu."


Javir mengambil kotak dibawah sofa menbukanya dan mengeluarkan empat jam tangan yang sudah dia preteli sejak datang bulan lalu.


"Dua kutu buku itu mulai menonaktifkan ponsel," Javir menghela nafas lalu melirik Alaric sambil menyodorkan salah satu jam tangan di depannya. "Kamu mau?" tawar Javir.


Alaric mengangkat telapak tangan kirinya didepan Javir, "aku tidak butuh" ucapbya penuh keyakinan.


Pada awalnya Javir mengerutkan kening tidak mengerti setelah memperhatikan ibu jari Alaric bergerak-gerak dia paham bahwa diantara ibu jari dan telunjuk Alaric juga ada sesuatu yang tertanam seperti apa yang Javir pasang di jam tangan didepannya.


*-*


Pulang sekolah.


Gea berdiri disamping gerbang sekolah menunggu Zahra dan Abra yang menjemputnya, sesekali dia melirik mobil yang dia kenali, mobil Opa Jaya Papa Maminya yang sesekali terparkir tidak jauh dari gerbang sekolahnya, seperti orang yang mengintai saja. Gea ingin mendekat tetapi ragu, dia takut jika yang didalam.mobil bukan Opanya melainkan Maminya yang menggunakan mobil Opanya.


Mobil Abra berhenti tepat di deoan Gea membuat Gea dengan cepat-cepat masuk kedalam mobil.


"Hai sayang" sapa Zahra, "bagaimana disekolah tadi?."


Gea menghela nafas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, "bulan depan penilaian tengah semester guru-guru sudah mewanti-wanti untuk belajar."


"Wah ... berarti tiga bulan lagi Gea liburan" seru Zahra.


"Tiga bulan lagi lama Bunda ...."


"Maka dari itu, kalau Gea bisa mendapat nilai yang memuaskan Bunda kasih hadia."


"Bener ya?"


"Iya"


Gea bertepuk tangan penuh semangat.


Abra yang menyetir masih melirik pada kaca spion mobilnya, memperhatikan mobil yang terparkir disebrang jalan dekat sekolah Gea, mobil itu pergi setelah Gea masuk kedalam mobil.


"Tadi disebrang jalan mobil Opa Jaya ya ?" tanya Abra sambil melirik Gea sebentar.


Kepala Gea mengangguk dengan ragu, "tapi Gea gak tahu siapa didalam, setiap pulang sekolah kadang hanya lewat atau berhenti disebrang."

__ADS_1


Abra dan Zahra saling lirik satu sama lain.


"Gea yang mau nyamperin takut di dalam Mami" lanjut Gea dengan kepala menunduk.


Melihat Gea yang masih belum bisa menerima Vira membuat Abra menghela nafas.


"Bunda sudah bilang pada Gea, bagaimanapun dan apapun yang dilakukannya dia tetap Mami kamu" Zahra menasehatinya sambil menatap Gea dari kaca spion mobil.


Gea menghela nafas sambil mengangguk paham.


Setelahnya tidak ada yang memulai percakapan, Zahra juga tidak bisa memaksa Gea untuk mau bertemu Vira, begitupun dengan Abra.


Hp Abra berbunyi ada pesan masuk dari Pak Jaya membuat Abra penasaran, tetapi dia tidak dapat membukanya didepan Zahra.


Mobil yang dikendarai Abra masuk ke basement mol, wajah Gea yang tadinya mendung langsung berubah cerah, dia melepas seragamnya dengan terburu-buru, ternyata Gea sudah mengenakan kaos didalamnya.


Abra keluar dari mobil terlebih dahulu untuk membuka pesan dari Pak Jaya sambil berjalan memutari mobil untu membuka pintu disamping kursi penumpang yang diduduki Zahra.


Opa Gea


Bisa kita bertemu?


Ada yang ingin saya bicarakan


Tentang Luis


Langkah Abra sempat terhenti sejenak dan buru-buru mengantongi hpnya saat Gea turun dari mobil. Tidak jauh dari mereka Nanda dan Tofa menghampiri mereka sambil mendorong kursi roda, Zahra yang baru saja keluar dari mobil mulai curiga dengan kursi roda yang didorong Nanda.


Tatapan Zahra langsung memicing menatap Abra tajam, "aku gak mau ya duduk disitu" ucap Zahra tegas.


Abra mengambil alih kursi roda dari Nanda. "Enggak harus duduk, aku sudah konsultasi sama dokter loh Ara" bibir Zahra langsung monyong.


"Kalau banyak jalan Bunda capek, nanti kakinya tambah bengkak gimana" Gea membujuk Zahra.


"Ini demi mereka juga" Abra melirik kearah perut Zahra.


"Banyak yang akan butuhkan untuk si kembar gak cuma baju, kalau gak mau kamu pulang biar aku dan Gea yang belanja."


"Aku mau juga belanja buat si kembar"


"Ok" Gea berdiri diantara Zahra dan Abra, meski mereka selalu membuat Gea iri, gemas dan romanti, jika sudah berdebat maka akan membuat Gea pusing. "Bunda gak harus duduk terus, sekali-kali juga boleh berdiri dan jalan, ok?"


Kepala Zahra mengangguk pelan, "ok" jawabnya singkat lalu berjalan terlebih dahulu.


Gea menghela nafas, "susah banget ngerayu cewek" sindir Gea dan berjalan menyusul Zahra.


Gara-gara pesan dari Pak Jaya barusan, Abra menjadi gelisah seketika, karena Luis ayah kandung Gea bukan orang yang bisa Abra kendalikan.


*-*


Kuliah di luar negri bukan gaya-gayaan atau unjuk gigi, kerjaan Regan dan Aslan adalah menjadi penunggu perpustakaan, jika tidak kemana-mana mereka berdua akan membawa buku kemanapun, jika sedang berkumpul dengan teman bukan jalan-jalan atau having fun, but ... mengerjakan tugas sekolah atau berdiskusi bertukar pikiran dengan yang lainnya.


Dua minggu lagi ujian dan tidak ada kata main PS, bercanda atau apapun sejak satu bulan lalu.


"Hei kutu buku" panggil Javir pada Aslan dan Regan yang baru saja turun dari tangga.


Tangan Javir memberi isyarat agar mereka mendekat, Aslan melihat jam tangannya masih ada waktu jadi dia berjalan terlebih dahulu mendekati Javir.


Baru saja Aslan dan Regan duduk di samping Javir, tangan Javir menyodorkan dua jam tangan pada mereka.


"Ganti jam tangan kalian pakai ini" perintahnya dengan nada dingin.


Setelah kejadian Regan menelfon Gea tanpa sepengetahuannya, Javir sedikit bersikap dingin pada Regan meski dia masih peduli pada keselamatan Regan dan Aslan.


Aslan sudah mengambil salah satu jam tangan yang disodorkan Javir, tetapi tidak dengan Regan yang menatap Javir datar.

__ADS_1


"Kalian sering matiin hp, kalau ada sesuatu gue gak bisa lacak kalian" Javir menjelaskan kembali menyodorkan jam tangan yang dipengangnya.


"Ngapain dilacak?"


Javir berdecak, meraih tangan Regan membuka jam tangan yang Regan kenakan. "Lo tau kan sepak terjang bokap lo dulu gimana, Om Abra minta gue selalu mastiin kalian aman" jelas Javir sambil memasang jam tangan yang diberikannya, "ayo berangkat gue antar."


"Emang lo punya SIM?" tanya Aslan.


"Punya"


"Legal atau ilegal?" tanya Regan memastikan.


Javir memutar bola matanya, "legal cerewet."


Mereka bertiga keluar dari dalam rumah bersama, setelah Aslan dan Regan keluar Javir mengunci pagar dan memencet sesuatu di samping pagar sebelum masuk kedalam mobil.


Dilihat dari kaca spion mobil dia melihat mobil yang sema yang sejak minggu lalu selalu tertangkap cctv yang dia pasang.


"Jangan pernah melepasnya bahkan saat tidurpun" Javir mengatakannya dengan wajah serius, tergas dan rahan mengetat.


Aslan dan Regan hanya saling lirik tidak membantah.


*-*


Alaric memandang keluar jendela kamarnya menatap mobil yang mulai berjalan mengikuti mobil yang dikendarai oleh Javir. Hari ini tidak ada pemotretan, dia sebenarnya ingin pulang ke mension tetapi saat tahu dari Javir bahwa ada yang mengikuti Regan dan As selama seminggu ini membuatnya tidak tenang.


Meski dia anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya dikeluarga Remanov dia malas jika berurusan dengan kelompok lain, tidak seperti Emma yang sampai sekarang menjadi salah satu tangan kanan kepercayaan Daddynya, dia memilih menghindar dari dunia gelap itu dua tahun lalu setelah mengenal pada Dami demi milindungi wanitanya.


Hpnya bergetas, tertera nama Emma yang muncul dilayat hpnya.


"Ada dimana?, kenapa dua minggu ini tidak pulanga ke rumah Regan?" tanyanya to the point tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Apa kamu tidak tahu sebenrat lagi ujian?"


Jawaban Emma disebrang membuat Regan tertawa, "dari kapan perduli dengan ujian?."


"Setelah ada Regan dan Aslan, Daddy menargetkanku harus selesai tepat waktu. Jika ada disana mana bisa pelajaran masuk keotak, yang ada ..."


"You act like *****" potong Alaric.


Disebrang Emma berteriak kesal dan memakinya.


Alaric tertawa kecil menatap layar hpnya, Alaric dan Emma hampir sama seperti Daddy mereka, jika sudah menyukai seseorang akan dikejar sampai dapat.


"Ada apa nelpon tadi?" Emma mengubuah topik pembicaraan.


Membuat Alaric tersenyum paham, "ada yang mengintai Regan dan Aslan. Sebelumnya mereka juga pernah tertangkap cctv tetapi tidak setiap hari, akhir-akhir ini malah dering sampai mengikuti kemana pun perginya Regan dan Aslan."


"Terus?"


"Kenapa kamu santai saja tidak bertindak?."


Disebrang Emma menghela nafas, "Daddy sudah tahu siapa mereka sejak Regan dan Aslan baru sampai, selama tidak melukai Regan dan Aslan tidak masalah. Lagi pula sudah ada Javir, sepertinya pria itu juga memiliki sesuatu yang tidak bisa diremehkan."


Alaric mengangguk-anggukkan kepala, sejak Javir datang, dia dan Emma hanya mengenal Javir adalah anak dari sahabat Abra, selebihnya mereka tidak dapat menemukan identitas Javir secara jelas. "Ya, memang ada sesuatu dengan anak itu."


*-*


.


Mohon dukungannya ya ...😇


Jangan lupa untuk tinghalin jejak 😢


.

__ADS_1


Love you 😙


Unik Muaaa


__ADS_2