One More Chance

One More Chance
Belasan Tahun Lalu


__ADS_3

"Gea bukan anak kandungku, Ara".


Abra kembali mengulang kalimat itu karena melihat Zahra masih terdiam tak menunjukkan reaksi apapun.


Kedua tangan Abra menggenggam tangan Zahra. "aku ingin mengatakannya pada hari itu, tetapi kamu sudah pergi" Abra mengratkan menggaman tangannya. "dia hamil dengan pacarnya".


Mereka terdiam.


Bahkan Zahra memajamkan mata menenagkan dirinya kembali. "penjelasanmu saat tidak akan merubah apapun, aaat itu akau akan tetap meninggalkanmu karena kamu sudah melanggar janjimu sendiri" ucapnya tegas tanpa keraguan.


Abra Menatapnya dengan putus asa. "Aku sadar aku mengambil keputusan besartanpa meminta pendapatmu, tapi saat itu aku menikahinya hanya demi status ayah di akte kelahiran saja, aku tidak mencintainya lagi. Semua hanya demi memberi status anak itu saja, tidak lebih. "


Kepala Zahra menggeleng tidak habis pikir dengan apa yang katakan Abra, alasan yang konyol demi membenarkan diri.


"kamu pikir status di akta kelahiran sudah cukup untuk anak itu?" Zahra menepis tangan Abra. "apa kamu pikir status nama diakta dapat menyelamatkan masa depan anak itu saat sekolah?, tidak Abra. Seharusnya kamu tidak bercerai dengan cinta pertamamu itu, jika semua demi bayi yang dia kandung, seharusnya kamu terus saja menjadi menyelesaikan kebaikan hatimu itu sampai dia menikah".


Mata Zahra berkaca-kaca. "kebenaran setatusnya sebagai anak siapa di akte tidak akan mengganggu pertumbuhanna, tetapi saat sekolah, anak sebayanya akan bertanya dimana Ayahmu?, kenapa tidak menjemputmu bersama Ibumu?".


Dengan mata berkaca-kaca Zahra menatap Abra, menyentuh rahang Abra lembut. "anak itu akan bertanya padamu untuk menjawab pertanyaan temannya. Dan setiap jawaban yang akan kamu berika pada anakmu, yang akan menentikan bagaimana masa depan mereka".


Terbayang kejadian kala Regan kecil bertanya tentang Ayahnya, Zahra sempat tercekat. Memeluk Regan dan mengatakan Arz anak Bunda, Arz mempunyai Ayah. Tetapi Bunda dan Ayah berpisah, maafkan Bunda tidak bisa mempertemukan Arz dan Ayah. Bubda minta maaf ya... dan Zahra terus menerus mengucapkan kata maaf.


Abra seakan terhanyut dalam tatapan Zahra yang menyiratkan kepiluan yang mendalam. "meskipun anak itu berstatus bukan anak haram sekalipun, yang akan orang-orang pertanyakan kenapa orang tuanya tidak pernah menjempunya bersama?. sehingga menimbulkan asumsi-asumsi yang lain yang akan mempengaruhi anak. Terkadang dia akan bertenya padamu... dengan tatapan polosnya".


Suara Zahra perlahan menghilang, bola mata Abra memerah menatapnya iba, matanya mulai berkaca-kaca menatap Zahra dalam. Dia merasan remasan dalam dadanya.


Apa yang dikatakan Zahra seakan curahan dalam hatinya selama ini. Abra tidak dapat membayangkan apa yang Zahra jawab kala itu, apa seperti di FTV yanga akan mengatakan jika Ayahnya meninggal?.


Dengan gugup Abra kembali menggenggam keduantangan Zahra dan menciumnya. "kamu sendiri... apa yang kamu katakan pada Regan jika bertanya tentangku?".


Zahra hendak menjauh, tepapi kedua tangan Abra menyentuh kedua lengan Zahra membuat Zahra tak berkutik, dan meremasnya memaksanya untuk kembali menatap Abra seperti tadi.


"apa yang kamu katakan pada Regan?, jawab" paksanya dengan suara serak.


"maaf" cicit Zahra, kapala Zahra menunduk dalam sambil memejamkan mata.


Bahu Abra merosot.


"aku meminta maaf padanya, saat dia bertanya dimana Ayahnya aku hanya bisa mengucapkan maaf tidak bisa mempertemukannya dan Ayahnya. aku... aku... ".

__ADS_1


Abra menghela nafas lega, dia terharu, bahagia mendengarnya. Disisi lain dia sadar jika dia benar-benar menyakiti Zahra secara tidak langsung selama bertahun-tahun meski mereka berpisah jauh.


Bukan dirinya sendiri yang tersiska dan menderita karena perpisahan mereka, tetapi Zahra, bahkan Regan juga. Dia sudah melakukan kesalahan tanpa berfikir panjang, tanpa memikirkan dampaknya.


"Maaf" Abra menari tubuh Zahra dalam dekapannya.


Tubuh Zahra melemas seketika membiarkan Abra memeluknya. Zahra menagis dalam pelukan Abra, berulang-ulang Abra mengatakan kata maaf sambil mengelus rambutnya.


Zahra menangis semakin menjadi-jadi sanpai segugukan, seakan mengeluarkan apa yang terpendam selama ini, hingga tubuh Zahra semakin melemas tak kuat berdiri. Membuat Abra semakin mempererat pelukannya agar Zahra tidak terjatuh. Dia semakin membenci dirinya sendiri.


Dibalik pintu kamar Regan, Aslan mendengar semuanya, tadi dia ingin keluar membantu Zahra setelah sholat, tetapi tidak sengaja dia mendengar perdebatan mereka. Tangannya melepas gangang pintu, baru sekarang dia mendengar tangisan pilu Zahra.


^-^


Hp Malvin berbunyi, Ada pesan masuk dari Ibnu.


Malvin menatap Gea yang duduk di atas motornya memperhatikan Regan sejak tadi. Setelah menimbang-nimbang, Malvin menghampiri Gea memutuskan untuk melakukan apa yang diperintahkannnya sekarang juga.


"nanti mau bicara apa sama Regan?" tanya Malvin setelah sampai didepan Gea.


Tangan Gea mendorong tubuh Malvin kesamping yang menghalangi pandangannya memperhatikan Regan melatih adik kelasnya.


Kembali Malvin berdiri tepat di depan Gea. "jawab dulu" kata Malvin tegas.


"om lagi serius".


Bibir Gea langsung mencebik kesal. "mau minta maaf, karena Mami buat Daddy dan Bundanya berpisah" jawab Gea enteng.


"itu bukan salahmu kenapa harus minta maaf?".


"semua karena Mami, dan aku adalah anak Mami".


Malvin menghela nafas. "lalu?".


"meminta dia untuk membujuk Bundanya kembali ke Daddy".


Pemikiran seorang anak memang terlalu simple. "Perasaan tidak bisa di paksakan Gea, kalian tidak bisa ikut campur masalah orang dewasa".


Diam, Gea terdiam sejenak lalu tersenyum. "tapi se enggaknya Gea mau minta maaf, agar orang yang membenci Gea tidak bertambah".

__ADS_1


Tangan Malfin mengelus puncak kepala Gea sayang. "Gak ada yang membencimu kalau kamu menjadi anak baik".


Keduam mata Gea berkaca-kaca menatap Malvin. "ada, meskipun Gea selalu mencoba menjadi anak baik, tetap ada yang membenci dan tidak suka keberadaan Gea disekitar mereka".


"Om tahu... kakek buyut" suara Gea mulai serak. "Dia tidak pernah tersenyum pada Gea, karena yang dia mau, dara daging Ganendra yang berpendidikan tinggi" Gea tersenyum lalu bibirnya bergetar. "aku bukan Ganendra, tapi Daddy menyekolahkanku di sekolah mahal" Air mata Gea mulai menetes. "jadi aku mau membujuknya untuk menerima tawaran Kakek Buyut, agar Kakek Buyut tersenyum setiap melihat Gea meski Gea bukan Cicitnya, meski tidak menyayangi Gea juga, asal Kakek Buyut tidak membenci Gea".


"Gea...".


"kalau... kalau Kak Regan menolaknya, Kakek Buyut pasti meminta Daddy mengembalikan Gea ke Mami dan Kakek Buyut pasti semakin benci Gea".


Melihat Gea menagis membuat Malvin iba padanya. Gea dan Regan seumuran, Regan yang terkesan cuek tetapi diam-diam menggali informasi dan dapat mengontrol diri demgan baik. Tetapi Gea tidak tau apapun, menyalahkan dirinya sendiri karena perbuatan Maminya yang tidak secara keseluruhan dia mengerti.


Ternyata apa yang di perintahkan Kakek Arya seakan sudah beliau tebak apa yang akan dirasakan anak didepannya ini.


Tangan Malvin mengotak atik hpnya. "kamu tidak tahu masalah sebenarnya bukan?" tanyanya tanpa melihat Gea yang menganggukkan kepala. "Om akan memberikan segala informasi yang ingin kamu ketahui, asal janji besok kembali ke Jakarta, karena kamu harus sekolah".


Gea berhenti menangis dan cemberut. "tapi Gea mau bicara sama kak Regan".


"iya, janji akan kembali ke Jakarta, Om kasih tahu apa yang terjadi belasan tahun lalu, kamu bicara dengan Regan , lalu besok balik ke Jakarta. Bagaimana?, deal?".


Gee berfikir sambil mengedip-kedipkan matanya. "ok". angguknya


"good".


Kling...


"Om sudah mengirim apa yang ingin kamu ketahui, dengarkan, baca pelan-pelan dan pahami. kami latihan selesai satu jam lagi".


Gea hanya mengedipkan mata, menatap hpnya yang menampilkan notifikasi.


Kapan aku memberikan nomerku?


Malvin mengirim rekaman pembicaraan Zahra dan Regan, serte beberapa catatan yang di kumpulkan Regan didalam leptopnya yang berhasil dia curi.


*-*


.


.

__ADS_1


.


Unique_Muaaa


__ADS_2