One More Chance

One More Chance
The Chance


__ADS_3

Ar.ZG


Ar hanya jembatan penghubung


Yg memberi jalan adalah Bunda


the chance


That has been given to you


Masih menjadi sebuah misteri


Dia masih mencintai Anda


Tapi bukan menjadi alasan utama


Dia kasihan pada Anda


Juga bukan menjadi alasan utama


Jika dia dendam?


Bunda bukan orang yg seperti itu


Cobalah gunakan ketulusan


Carilah sndri apa alasannya


Aku tdk bs membantu anda


Cinta dan kasihan


Tidak mungkin bisa


menghancurkan tembok


yang sdh Bunda bangun


Berkali-kali dia baca pesan yang Regan kirimkan tempo hari. Gelisa, khawatir dan takut dia rasakan sejak hari itu.


Diliriknya Zahra yang tidur disampingnya berbantalkan lengan Abra, direngkuhnya tubuh Zahra dengan erat, mencium puncak kepala Zahra berkali-kali. Dia mencintai wanita ini, dia mencintainya, dia akan terima jika Zahra akan membalas dendam padanya, asal wanita ini tetap disisinya.


Tubuh Zahra bergerak semakin mendekat dan emmbalas pelukan Abra, membuat Abra tersenyum simpul menciun keningnya lama.


"Good morning Ara" bisik Abra.


Zahra mendongakkan kepalanya menatap Abra."Morning Ayah" balasnya dengan malu dan kembali membenamkan kepalanya didada Abra


Abra tersenyum lebar, mengelus rambut Zahra. "Tumben sudah subuh tidur lagi?."


"Capek, sekarang aja males bangun."


Abra merenggangkan pelukan mereka tetapi Zahra semakin menundukkan membenamkan kepalanya membuat Abra tergelak.


"Kamu kayak orang gila" gerutu Zahra.


Abra akhirnya tertawa kencang, kembali memeluk Zahra dan mengelus rambutnya sayang. "Ya udah kita gak usah keluar kamar."


"Gak gitu juga"


"Why?"


Tubuh Zahra semakin meringsek. "Gea pasti nyariin, lagi pula kamu harus kekantor."


"Gea pasti mengerti Ayahnya masih ingin berdua dengan Bundanya, karena selama ini Ar dan As menjadi pengganggu dan menopolimu."


Zahra tertawa sambil memukul punggung Abra pelan. "Kamu ini" Zahra melepas pelukannya hendak bergeser tetapi Abra kembali menariknya, memeluk Zahra bahkan membelit kakinya. "Ih ... kamu juga harus kekantor."


"Enggak, si suami istri itu pasti mengerti kita juga." Abra kembali menutup matanya, selagi ada kesempatan bisa kenapa harus dia sia-siakan. "Lagi pula nanti malam ada pesta ulang tahun perusahaan temanku, karena kamu kecapean jadi harus bed rest."


"Kamu kira aku sakit parah?" protes Zahra.

__ADS_1


"Sutt... tidur, diluar juga lagi hujan, enak buat tidur peluk kamu gini."


Zahra tersenyum dan perlahan menghilang. Diam-diam dia menghela nafas, membalas pelukan Abra dan menutup mata.


*-*


Regan memperhatikan Aslan yang bermain didalam lapangan basket bersama Alaric dan seseorang yang dia kenal sebagi sahabat, bodyguard sekaligus asisten Alaric.


Melihat Regan yang masih saja duduk diluar lapangan membuat Aslan mendribel bola yang dia pegang lalu mengepassnya pada Alaric sebelum dia berlari kecil menghampiri Regan.


Tangan Regan dengan cepat melempar botol minuman Aslan kearahnya.


"Gak ikut main?" tanya Aslan duduk disamping Regan sambil meminum air.


Kepala Regan menggeleng.


"Kenapa?, Bunda gak nelfon?" tebak Aslan melirih tangan Regan yang sejak tadi memegang hp. "Telfon aja, disana sekarang masih jam delapan Bunda gak mungkin tidur."


Regan menimang-nimang hpnya sebelum akhornya dia mencari nama Bunda di kontak hpnya dan mendiel nomernya.


"Assalamu'alaikum Bunda..."


"Wa'alaikumsalam, VC saja bunda keluar dari ruangan dulu."


Panggilan Regan dimatikan dan beberapa detik setelahnya kembali panggilan video call dari Zahra.


"Hai sayang" terlihat senyum Zahra yang lebar.


"Hai Bunda."


"Hai Beb"


Aslan langsung mendapat pelototan dari Zahra membuatnya tertawa cekikikan.


"Kenapa Bunda gak nelfon, adek kangen Bun."


"As!" desis Regan.


"Sekarang hari Sabtu Bun...."


Aslan masih berbicara dengan Zahra, Sedangkan Regan malah fokus pada seseorang yang baru saja keluar dari gedung tepat dibelakang Bunda.


Dia seorang perempuan kecil mengangkat gaun roknya dan duduk bersila diatas rumput. Regan tersenyum melihatnya, gadis kecil itu menendang-nendang dan menunju-ninju udara hingga gaunnya semakin keatas membuat Regan menutup matanya.


"Bunda hpnya arahin kelain arah" kata Regan menjauhkan hpnya.


"Kenapa?" tanya Zahra disebrang sana.


"Kamu kenapa?" tanya Aslan menatap Regan aneh.


"dibelakang Bunda ada anak kecil nendang-nendang roknya keatas."


Disebrang, di Indonesia Zahra menoleh kebelakang kiri dan kanan mencari anak kecil yang dimaksud Regan.


Benar saja tidak jauh darinya anak kecil itu duduk di atas rumput dengan gaun yang suda embggulung di atas paha, untung dia memakai daleman membuat Zahra melangkah cepat menghampirinya.


"Ayn kan yah?" sapah Zahra.


Ternyata anak kecil itu adalah anak sahabat yang tadi Abra kenalkan padanya.


Ayn mengangguk "hai tante Zahra" sapanya sopan masih duduk diatas rumput.


Zahra melirik gaun Ayn, membuat Ayn tersadar cepat-cepat berdiri dan merapikan gaunnya.


"Anak cewek duduk yang anggun, malu dilihat orang. Untung yang lihat anak tante dari jauh."


Kepala Ayn langsung celingak-celinguk mencari anak yang Zahra maksud.


Zahra mengelus kepala Ayn dan mengarahkan layar hpnya memperlihatkan wajah Regan yang menatapnya dingin.


Pipi Ayn langsung bersemu merah. "Hai kak" spanya lirih manahan malu. "Ayn masuk lagi, dada tante."

__ADS_1


Ayn berlari cepat menjingjing sepatunya membuat Zahra tertawa melihatnya.


"Dia lucu" ucap Zahra disela-sela tawanya.


"Dia siapa Bun?" tanya Regan.


"Anak teman Ayahmu, dia sopan dan cantik."


"Sopan dari mana?"


"Sopan loh ka..."


"Lama" keluh Abra tiba-tiba datang memeluk Zahra dari belakang, kepalanya bersandar dibahu kanan Zahra. "Hai Boy" sapanya dengan senyum penuh kemenangan.


Aslan yang mengetahui bau-bau pertengkaran memilih kembali bermain fengan Alaric.


"Kalian ada dimana?" tanya Regan dengannmata penuh selidik.


"Dihotel hotel menikmati hidup tanpa gangguan" Abra menaik turunkan alisnya.


Tatapan Regan langsung berubah tajam. "Bunda kami udah besar loh Bun" ucap Regan penuh peringatan.


Pipi Zahra bersemu malu, membuat Abra geman dan mencium pipi Zahra.


"Udah telat boy, kami udah program kehamilan" Abra mulai mengompori Regan.


Zahra memukul tangan Abra dan memelototinya tajam.


"Kita cita-cita mau punya anak lima, sekarang baru tiga sayang, kurang dua lagi." Abra membujuk Zahra saambil melirik kelayar hpnya pada Regan yang menatap dingin pada mereka. "seprti katamu, The Chance" Abra tersenyum penuh arti. "Aku akan menggunakannya dengan sebaik mungkin" memeluk Zahra dengan erat.


Perlahan apa yang dimaksud Abra mulai Regan pahami, dalam kesempatan ini Abra berencana mengikat Bundanya dengan memiliki anak lagi. Membuat Regan menghela nafas, pasalnya dia sudah lima belas tahun dan umur mereka akan sangat berjauhan nanti.


"Terserah assalamu'alaikum" Regan memutuskan oanggilan mereka.


Zahra menyentak tangan Abra, berbalik badan dan menatap Abra dengan sengit. Bercanda Abra kali ini benar-benar kelewatan.


"Apa?" tanya Abra.


Seakan tidak merasa bersalah malah melangkah semakin mendekat menyentuh pipi Zahra membuat Zahra menepisnya.


"Kenapa ngomong begitu dengan Ar?" protes Zahra sengit.


"Memangnya apa yang salah?, kita sudah bahas ini dulu."


"Tetapi situasi sekarang dan dulu berbeda Ayah."


Abra memasukkan kedua tangannya dam saku menatap Zahra dalam. "Lalu?, kamu keberatan mempunyai anak lagi denganku?. Aku juga ingin menyaksikan tumbuh kembangnya anakku sejak dalam kandungamu. Aku bahkan tidak ada disampingmu saat Ar sanyang."


"Kamu sudah tahu saat Gea masih kecil bagaima..."


"Lain Ara" potong Abra dengan suara lirih menatap Zahra sendu.


Zahra mengjela nafas pasrah. "ok" akhirnya dia mengalah "hanya dua" lanjutnya lirih.


Abra tersenyum memeluk Zahra erat. "Kalau begitu kita bulan madu sekarang" putus Abra sepihak.


"Hei" Zahra ingin protes dan melepas pelukannya tetapi Abra semakin memeluknya erat.


"Kesempatan ini gak boleh disia-siakan Ara."


Abra menghujami kening Zahra dengan ciuman. Membuat Zahra tergerak memukul punggungnya.


*-*


.


.


.


Unik_Muaaa

__ADS_1


*-*


__ADS_2