
Diam menatap hamparan awan, tidak ada niat sedikitpun berbicara dengan Zahra maupun Regan. Mereka sudah ada didalam jet pribadi perusahaan GG company menuju Jakarta.
Yang dirasakan Abra kali ini antara bahagia dan sedih, bahagia karena Zahra dan Regan mau menemui Kakek Arya, sedih karena dia tidak akan bisa bertemu dengan Regan dan Zahra setelah mereka kembali ke Madura.
Abra mengatakaan tidak akan kembali mengnganggu mereka dengan berat hati, karena dia tidak tahu lagi apa yang akan membuat Zahra dan Regan mau ikut dengannya dan mau bertemu dengan Kakek Arya.
Kaki Abra bahkan sangat berat untuk melangkah kan kaki turun dari pesawat. Malvin ikut dengan mereka, melihat Abra yang lebih banyak diam membuatnya tidak tega.
Abra mengirim pesan pada Ibnu jika mereka sudah akan keluar dari bandara, dan belum beberapa detik Ibnu membalasnya,
Opa dirumah sakit
^^^Apa Opa lembali drop?^^^
Abra kembali khawatir, sehingga menghentikan langkahnya.
Tidak, beliau mau kerumah
sakit setelah dapat kabar
mereka ikut
Abra menghela nafas sekaligus sesak juga. Perlahan dia mencoba menghilangkan perasaan sesaknya, setidaknya Kakek Abra mua ke rumah sakit kali ini.
Mobil jemputan mereka sudah tiba, Javir keluar dari dalam Mobil bersalaman pada Malvin, Zahra lalu Abra.
"Hai Om ...," sapanya sambil tersenyum lebar. "Javir anak Papa Malvin." Javir mengenalkan diri.
Abra mengerutkan kening menatap Javir sepertonya tidak asing. "Sepertinya sering ketemu."
Kepala Javir mengangguk cepat. "Saya yang nganter nota tagihan setiap pembaruhan sistem keamanan perusahaan anda, dengan kata lain saya anak sekaligus kaki tangan Papa."
"Kenapa tidak bilang kalau kamu anak Malvin?." Abra bisa menebak jika .....
"Dilarang sama Papa Om," jawab Javir sambil tertawa kecil.
"Dia memang begitu," Abra melirik Malvin sinis. "Sekali bersembunyi, semuanya disembunyikan," sindirnya. "Ya sudah kamu antar mereka saja kerumah sakit, nanti saya kirim alamatnya."
"Om bagaimana?, tidak ikut ?."
"Kenapa gak bareng?," Malvin ikut bertanya.
Abra tersenyum segaris dan menggelengkan kepala lemah. "nanti dijemput sopir, kalian pergi saja."
"Tadi saya nyuruh sopir Om pulangbloh Om, mendingan kita sama-sama ke rumah sakit."
Abra masih diam berfikir menimbang-nimbang, hingga terdengar helaan nafas Regan yang memang sengaja Regan keraskan agar semua menatap kearahnya, dan hal itu berhasil, semua menatap padanya.
Wajah Regan menunjukkan kelelahan menatap Abra. "Jangan buat ribet," keluhnya.
"Arz!," tegur Zahra tegas.
__ADS_1
Regan meringis sambil memaksakan untuk tersenyum meski hasilnya hanya beberapa detik terukir dibibirnya.
Malvin mengangkat kedua alisnya sambil menatap Abra meminta penjelasan.
"Gue gak bisa ke rumah sakit," Abra mengatakannya menatap Malvin sendu meminta pengertian.
Malvin mengerutkan kening sejenak belum mengingat fobia Abra, setelah mengingatnya dia menganggukkan kepala paham.
Bahkan Zahra kembali mengingat apa yang dikatakan Abra dihalaman rumahnya setelah beberapa hari mereka bertemu.
Aku bahkan takut menginjak rumah sakit.
Aku benci rumah sakit.
Aki seakan tercekik setiap menginjak rumah sakit.
Zahra, dia menatap Abra sendu. Melangkahkan kaki berdiri tepat di depan Abra membuat Javir mundur. "Apa yang kamu takutkan?," tanya Zahra lirih.
Bibir Abra berkedut mempertahankan senyumnya, dia tidak sanggup mengatakan kembali bahwa dia fobia.
"Sampai kapan kamu tidak mau memginjakkan kaki dirumah sakit?."
Perkataan Zahra menarik perhatian Regan dan Javir yang belum tahu apa yang terjadi pada Regan selepas kepergian Zahra belasan tahun lalu.
"Aku disini, dan Opa satu-satunya keluargamu. Kali ini kamunpasti bisa."
Abra menatap mata Zahra sendu sembari membatin dalam hati. 'Ya kamu disini sekarang, tapi tidak selamanya. Lalu apa yang akan terjadi padaku ?, jika rumah sakit juga menjadi tempat kedua kalinya terakhir aku melihatmu. Dan ... opa satu-satunya keluargaku?, kamu saja tidak memgakui kalau kita keluarga, lalu bagaimana bisa aku ...."
Genggaman tangan Zahra membuat dada Abra bergemuruh, berdetak kencang.
Senyum dan genggaman tangan Zahra mampu membuat Abra mengangguk. Zahra melepaskan genggaman tangannya hendak menghampiri Regan, tetapi Abra menahan tangannya.
"Hanya sampai masuk rumah sakit."
*-*
"Opa mana?," tanya Gea pada salah satu pelayan dirumah Kakek Arya.
Gea baru turun dari kamarnya. Jam sepuluh dia bangun, memaksakan diri memastikan kondisi Kakek Arya baik-baik saja meski badan Gea demam semalam, bahkan kepalanya masih saja pusing sehingga Tari memberinya obat dan membuatnya tertidur sejak tadi.
"Opa kerumah sakit Non," jawabnya
Gea langsung merengut, tidak ada yang membangunkan dirinya sejak tadi. "Mas Nanda dan Tofa kemana?."
"Kurang tau Non, mungkin dihalaman depam dengan pak satpam."
"Terima kasih."
Gea berjalan lemar keluar rumah, lebih baik dia kembali kerumah Abra dari pada disini dia tidak kenal dengan para pembantu Kakek Arya.
Tangan Gea melambai pada Nanda dan Tofa yang ternyata duduk di halaman depan rumah.
__ADS_1
"Ada apa?," tanya Nanda.
"Gea mau pulang," ucap Gea sedih. "Disini Gea gak kenal siapapun, Ayah juga pergi gak tau kemana."
Tofa tersenyum. "Ayahmu jemput Regan, tapi langsung kerumah sakit."
Mata Gea terbelalak, dia tahu fobia Abra. Bahkan saat dia lahirpun, Abra tidak pernah ke rumah sakit.
"Gea ganti baju bentar, lalu minta tolong antar ke rumah sakit." Gea berlari cepat.
Setiap kali mau menjenguk Kakek Arya, diperjalanan Abra selalu merasa sesak dan pulang dengan wajah pucat dan dipapah supir.
Saat kaki Gea tidak sengaja menginjak beling Abra tidak mengantar dan menjemputnya, pada saat itu Abra mengaku padanya jika dia mempunyai fobia, tidak bisa melihat apalagi masuk kerumah sakit.
*-*
Zahra duduk ditengah-tengah antara Regan dan Abra, selama Abra menggenggam tangan Zahra, Regan cemberut, menatap Abra geram, Zahra hanya merangkul Regan dan mengelus pundaknya.
Di depan mereka Malvin dan Javir saling pandang, sesekali melihat mereka dari balik kaca spion mobil.
Mobil berhenti diparkiran depan rumah sakit. Sejak tadi mata Abra terpejam hingga tidak sadar jika mobil sudah berhenti.
"Turun," desis Regan mendapat senggolan dan pelototan dari Zahra.
Regan yang ngambek, keluar duluan membiarkan Abra dan Zahra.
Perlahan mata Abra terbuka, menatap Zahra dalam sebelum membuka pintu mobil dan keluar, tetap menggenggam tangan Zahra bahkan lebih erat.
Malvin dan Javir yang pertama kali melangkahkan kaki memasuki rumah sakit langsung menuju kamar Kakek Arya.
Ibnu tersenyum menyambut mereka semua masuk kekamar Kakek Arya bersama, lalu wajahnya berubah tercengang melihat Abra yang juga masuk berjalan dibelakang Zahra sambil menggenggam tangannya.
"Opa," Zahra melepas tangan Abra dan berjalan menghampiri Kakek Arya.
*-*
.
Terima kasih sudah mampirπ
Jangan lupa π andπ
Biar aku semangat nulisnya
Eh... jangn lupa π¬ juga
Aku masih butuh saran dan masukan kalian
Love you...π
Unik_Muaaa
__ADS_1