
Abra dan Regan benar-benar tepar, mereka berdua tidur disofa ruang tamu. Regan tidur tengkurap di sofa panjang, sedangkan Abra tidur terlentang dengan kaki dibiarkan menggantung karena sofa yang dia tiduri kurang panjang.
Yang mengendarai mobil dari perusahaan PT Indah Jaya adalah supir Pak Jaya karena mata Abra sudah tidak bisa diajak kerja sama.
Turun dari mobil mereka berdua tidak menghiraukan segala macam pertanyaan yang ditujukan padanya, dengan mata yang sudah tidak bisa dipaksa mereka langsung menjatuhkan diri di sofa dan tertidur.
Zahra hanya bisa menyelimuti mereka tidak tega untuk mengusik, bahkan sampai dua jam sebelum keberangkatan mereka, Zahra masih membiarkan mereka berdua tidur hingga Gea yang membangunkan mereka berdua.
Gara-gara Regan yang ketiduran setelah mandi mereka terburu-buru berangkat kebandara. Mata Regan masih mengantuk begitupun dengan Abra, sepanjang perjalanan dari rumah ke bandari mereka tidur didalam mobil.
"Ar buka mata sebentar dulu, pamitan dengan Kakek, nenek dan teman-teman kamu, nanti baru tidur lagi dipesawat." Zahra membuka tudung hoddie Regan.
Regan berdiri menyandar dipilar sambil memejamkan matanya tidak mengayakan apapun, membuat Zahra gemas sendiri.
Dengan lemas Regan berdiri tedmgak menarik Zahra dalam pelukannya. "Kita mau pisah Bunda masih saja cerewet" gerutu Regan.
Zahra membalas pelukan Regan tertawa kecil. "Disana nanti siapa yang mau nyerewetin kamu?" suara Zahra serak mulai menahan tangis.
Regan melepas pelukannya, menoleh pada Aslan yang diam memperhatikan mereka berdua. "Ada dia yang akan jadi pengganti Bunda" tunjuk Regan.
Asaln menepis tangan Regan, gantian dia yang menarik tubuh Zahra dalam pelukannya. "Baru saja kita bertemu harus pisah lagi, terima kasih sudah menganggap As anak Bunda."
"I ... hei ...."
Tubuh Zahra ditarik paksa kebelakang hingga pelukan Aslan terlepas.
Abra berdiri di belakang Zahra dan memeluk tubuh Zahra dari belakang. "Jangn meluk-meluk terus, kalian sudah besar" gerutu Abra sewot.
Zahra tertawa memukul tangan Abra agar melepaskan pelukannya. "Kamu ini sama anak sendiri juga."
"Tetap saja mereka sudah besar Ara" gerutu Abra manja.
"Gak ada yang mau peluk aku?" Gea berdiri ditengah-tengah mereka dengan wajah cemberut.
"Ogah, aku malah bersyukur jauh dari kamu" ledek Aslan.
Wajah Gea semakin memendung, Aslan tertawa kecil memeluk Gea dan mengelus rambut Gea. "Pasti nanti kesepian gak ada yang mau diajak debat ya?."
Gea melepas pelukannya mengangguk membenarkan. "Sering-sering Vc ya" pinta Gea mendapat anggukan dari Aslan.
Gea menghadap Regan dan merentangkan tangannya. "Peluk" pintanya manja.
Regan menatapnya datar.
__ADS_1
"Ih... kak Regan" rengek Gea manja memeluk Regan lebih dulu. "Aku sayang loh sama kak Regan."
"Aku enggak" ucap Regan dingin.
"Ih kok gitu" Gea meregangkan pelukannya.
Regan mendorong kening Gra dengan telapak tangannya membuat Gea melepaskan pelukannya pada tubuh Regan, mundur bebrapa langkah.
"Karena aku gak suka orang yang tidak penurut, sudah aku katakan berulang kali aku tidak suka dipanggil kakak."
Gea menepis tangan Regan dan menyengir kuda.
Regan berdecak kesalnpada Gea lalu meilih pergi menghampiri ketiga temannya yang sejak tadi menunggunya.
Aslan tertegun ditempatnya menatap seseorang yang baru saja turun dari dalam mobil berdiri dengan koper besar disampingnya.
Gadis itu berjalan menunduk sibuk dengan layar hpnya, sedangkan kopernya dibawa oleh seseorang dibelakangnya. Mata Aslan tidak bisa lepas dari gadis itu, hingga gadis itu berjalan melewatinya begitu saja tanpa menoleh atau meliriknya.
"Sepertinya dia ada pemotretan diluar kota."
Seperti biasa, Regan selalu saja muncul tiba-tiba disampingnya. Aslan hanya menghela nafas tidak menghiraukannya.
"Ayo masuk kita harus segera chek in." intruksi Sam.
*-*
Ya, dia mencari tahu kapan ada jam keberangkatan pesawat kenegara yang akan Aslan tuju, dan ternyata bertepatan dengan hari keberangkatannya untuk photoshoot di Bali.
Dia memeperhatikan Aslan sejak pria itu turun dari mobil, memperhatikan setiap gerak geriknya dan merekam dengan jelas wajah Aslan dalam benaknya, dia akan merindukan wajah itu lagi.
Sebenarnya Zia tidak sedang sibuk dengan hpnya, dia hanya menyibukkan diri agar tidak melihat Aslan dan menghindari tatapan mereka saling bertautan. Zia tidak mau itu terjadi, karena jika sampai hal itu terjadi dia akan berlari memeluk Aslan dan menangis memintanya untuk tetap tinggal.
Bibir Zia tersenyum menatap pesawat yang dia yakini terdapat Aslan didalamnya mulai berjalan lepas landas.
"Selamat jalan, semoga bahagia."
Tangan Zia menyentuh kaca didepannya, tanpa terasa air matanya menetes perlahan.
*-*
"Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini!" ucap Pak Jaya dengan tegas.
"Tapi di sana Luis pasti menunggiku Pa" Vira mengatakannya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Kepala Pak Jaya menggelang. "Dia tidak akan menunggumu, hubungan kalian tidak sehat."
"Hubungan kami sehat, kami sudah menikah."
"Menikah?, apa menurutmu pernikahan kalian sah tanpa restuku?." Pak Jaya memukul dadanya beberapa kali. "Apa kamu tidak sadar dia hanya memanfaatkanmu?, dia tidak akan memaksamu menggugurkan kandunganmu berkali-kali jika dia mencintaimu. Dari pada kamu kembali kepada pria tidak jelas itu lebih baik kalian berpisah dan kamu mengurusi perusahaan. Setidaknya kamu bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat. Papa malu pada Abra dan anaknya, dia yang memberikan kita sistem keamanan, dan dia juga yang menyelamatkan perusahaan kita hari ini, Papa malu Vira."
Vira berdiri menatap tajam balik Pak Jaya tanpa gentar. "Aku hanya melakukan satu kesalah, sebelumnya aku melakukan apa yang kalian mau. Aku menikahi Abra dan melahirkan Gea demi kalian, demi perusahaan aku sudah berkorban banyak!" jeritnya dengan suara melengking.
"Berkorban?" terdengar suara Mama Vira, dia berjalan memasuki ruang kerja Pak Jaya dengan menatap Vira tajam. "Jangan seakan-akan kamu tidak mendapatkan apapun, kata berkorban tidak cocok untukmu. Bukannya kamu iri dengan kehidupan bahagia Zahra dan Abra belasan tahun lalu?, dengan menikahi Abra meski hanya sebentar kamu juga mendapatkan banyak uang, setelah kalian berpisah dan prusahaan kita maju kamu pergi dengan laki-laki tidak bertanggung jawab itu. Kamu juga memanfaatkan Gea, kamu mendapatkan banyak uang dan kebebasan, jadi jangan pernah mengatakan berkorban."
Mata Vira memerah menatap Mamanya yang menatapnya angkuh.
"Kamu hanya terlalu naif, gila pada Luis hingga melakukan apapun demi dia."
Viara tertawa keras sebentar lalu menatap Mamanya dengan mata menunjukkan amarah yang tidak bisa lagi dia pendam. "Ya, aku naif, aku bodoh terhasut perkataan Mama yang ketakutan Abra akan lepas tangan tidak mau mengurus perusahaan kita lagi. AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA JIKA MAMA TIDAK MENAKUT-NAKUTIKU" Vira berteriak menggelegar.
Plak...
Mama Vira menampar pipi Vira dengan keras. "Apa kamu berani berteriak pada Mama?, jika bukan campur tangan Mama, dari dulu kita akan hidup menjadi gelandangan dan kamu tidak akan bisa hidup bebas keluar negri bertemu dengan Luis."
Setiap kata yang baru saja diucapkan oleh Istrinya membuat Pak Jaya tertegun. "Apa?, apa yang telah kalian lakukan tanpa sepengetahuanku?."
Mama Vira menatap Vira dengan tajam membuat tangan Vira mengepal dan memilih pergi keluar dari ruang kerja Papanya.
Dia tidak bisa melawan Mamanya kali ini, karena bisa saja dengan mudah Mamanya menutar balikkan fakta didepan Papanya, jadi Vira memilih pergi dam mengunci pintu kamarnya menghindari kejaran Papanya.
*-*
.
Maaf jika banyak TYPO
Author akan refisi setelah tamat
Mohon dukungannya dengan
Vote, Favorit, Like and Komen
Love you 😙
.
Unik_Muaaa
__ADS_1